Sepuluh

“Hmm, pemandangan di sini sangat bagus.”

Darel memperpendek jarak diantara mereka dan menyambar lengan wanita itu lalu membalikkannya untuk menatap wajahnya.

Ia memberikan senyum yang tidak bisa dikatakan layaknya senyum. Pria itu menunduk untuk menatap wajah cantik yang dipoles dengan riasan yang begitu tebal.

Matanya berlabuh di bibir tebal dengan lipstik merah menyala.

“Aku tidak membayarmu untuk memuji pemandangan di sini.”

Wanita itu tersenyum untuk menutupi ketakutannya. Dia memang menutupinya dengan baik namun Darel bisa melihatnya.

“Apa kamu takut padaku?” tanyanya. Tangannya membelai pelipis wanita itu pelan.

Yang ditanya terburu untuk menggeleng cepat. Darel langsung meraih dagu wanita itu memaksanya untuk menatap matanya. Ketakutan wanita itu tergambar jelas di matanya.

“Kenapa aku merasa kamu tidak berani menatapku?”

Ekspresi menggoda langsung timbul di wajah wanita itu. Wanita itu memerankan perannya dengan baik dan Darel merasa jijik akan hal itu.

Tangan wanita bergerak untuk menggoda.

“Aku benar-benar menginginkanmu sekarang. Kamu berada di dalamku.”

Tawa pelan meluncur di bibir Darel. Wanita itu munafik dan dimana-mana wanita sama saja. Kumuakkan memenuhi diri Darel dan ia langsung mendorong wanita itu ke ranjang dengan kasar.

“Naikkan gaunmu.”

Wanita itu terkesiap menatapnya dengan mata terbelalak tak percaya dengan ucapan frontal yang ia dengar.

“Apakah kata-kataku tidak cukup jelas?”

Wanita itu langsung menaikkan gaunnya dan meloloskan ****** ********.

“Lebarkan kakimu.”

Bagi seorang wanita panggilan sekali pun, mungkin perlakuan Darel sedikit kasar dan merendahkan. Tapi Darel sama sekali tidak peduli. Dengan sedikit kasar, Darel bergerak maju dan menarik kedua kaki wanita itu lalu menekuknya. Kesiap tajam terdengar di bawahnya saat Darel menunduk di atasnya.

“Kamu...kasar.”

Darel tidak membantah. Ia memang kasar dan liar sebelum memesannya. Sisi predatornya diciptakan oleh istrinya yang berani menyelingkuhinya. Dan kerinduannya terhadap istrinya semakin menjadi karena kebutuhannya. Dan sekarang wanita di depannyalah yang menjadi pelampiasannya.

Tawa tanpa humor meluncur di bibir Darel lalu tangannya bergerilya kemana-mana.

“Sudah berapa pria yang berada di sini?”

Wanita itu tidak menjawab dan lebih memilih untuk membuang muka. Darel tertawa kecil ketika jari-jarinya mulai nakal. Tarikan napas tidak nyaman wanita itu mengganggunya. Ia menengadah dan memperhatikan wajah itu dari samping.

Darel menariknya kasar dan membalikkannya. Ia menekan wanita itu di bawahnya. Ia mengabaikan kepanikan wanita itu ketika ia menekan tubuhnya di bagian belakang yang tidak tertutup.

Napasnya memberat saat gairah prianya muncul. Diangkatnya pinggang wanita itu hingga kedua lutut tersebut menekan kasur.

“Aku akan membuatmu menjerit, Erika.”

Wanita itu berteriak keras saat Darel mengubur dirinya dalam-dalam di tubuh wanita itu. Bergerak tak beraturan.

“Erika, aku benar-benar.”

Sederet nama singkat itu menghentikan gerakan Darel. Pria itu memaki pelan lalu ia menjauhkan tubuhnya dengan cepat.

Sementara wanita itu berusaha berjuang untuk mendapatkan kembali atas dirinya.

Darel mengubah dirinya menjadi duduk di ujung ranjang. Dan menyuruh wanita itu untuk berdiri. Lalu Darel meraih tangannya untuk duduk di bawahnya.

“Lakukan tugasmu.”

Melihat wanita itu hanya terpaku, Darel kembali membentaknya.

“Lakukan sekarang!”

Tangan wanita itu bergetar dan jari-jemarinya terasa kebas. Tangan wanita itu bergetar saat menyentuh Darel. Ia tidak tahan untuk berjungkit dan merasa terpana dalam waktu yang bersamaan.

Wanita itu melakukan pekerjaannya dengan pengalamannya.

Napas Darel berubah cepat dan suara yang keluar saat memerintahnya menjadi parau. Gerakannya menghantarkan getaran di sekujur tubuh Darel.

Darel mulai mendorong dalam sementara wanita itu menggeliat tidak nyaman karena Darel semakin besar dan bengkak.

Erangan terdengar memenuhi udara panas lalu Darel memuntahkan sesuatu yang panas. Setelah mengatur napasnya dan menguasai dirinya sendiri, Darel melemparkan tatapan dinginnya. “Pergi!”

“Apa-apaan...”

Wanita itu masih linglung di tempatnya dan Darel menyeret wanita itu dengan cepat. Wanita itu menggerekkan lengannya dengan kasar. Wanita itu antara bingung dan marah dengan perlakuan Darel.

“Lepaskan aku. Celanaku masih di lantai.”

Darel langsung melepaskan wanita itu. Wanita itu langsung berlari untuk memungut celananya dan memakainya.

Saat wanita itu melewatinya, Darel buru-buru menarik sebagian besar uangnya dari dompet dan menjejalkannya ke belahan dada tersebut sebelum bergerak menghempaskan pintu hingga tertutup di depan wajah yang masih berdiri tercengang memandangnya.

Darel langsung menuju ke kamar mandi. Dibantingnya pintu itu dengan kasar. Saat berada di bawah pancuran air dingin. Ia memikirkan bagaimana bisa ia membayangkan Erika lah yang berada di bawah tubuhnya?

“Sial!”

Darel membiarkan air dingin memadamkan api yang menyala dalam dirinya. Ia sungguh menyedihkan. Gairahnya terikat begitu kuat dengan Erika.

Pria mematikan keran shower dan mengangkat wajahnya yang basah. Wajahnya meneteskan air, untuk sesaat ia mematung di sana.

“Dasar berengsek!”

Darel kembali memaki lirih.

..........

“Apa yang kamu...”

Arvaz membungkam Erika dengan kasar dan mencuri napas dari wanita itu. Ia membenamkan bibirnya dalam-dalam untuk mencium Erika.

Arvaz menatap Erika ketika ia memisahkan diri.

“Aku menginginkanmu. Hiduplah bersamaku bersama anak kita. Aku berjanji akan membahagiakanmu.”

Erika terlihat terkejut dan tidak percaya bahwa Arvaz bisa masuk ke dalam penthousenya.

“Aku sudah menikah, Arvaz dengan temanmu.”

“Kamu pasti akan datang padaku dengan suka rela.”

Setelah melontarkan pernyataan itu, Arvaz melenggang pergi begitu saja. Erika sempat berpikir, apakah pria itu sedang mabuk sehingga otaknya tidak pada tempatnya?

“Apa yang dibicarakan Arvaz?”

Erika menggeleng untuk menghilangkan gema suara itu dan menggosok wajahnya.

Erika menghela napas panjangnya. Ia bergerak dari ranjangnya dan berjalan menuju ke jendela. Ia menyibakkan tirai dan melihat ke arah luar.

“Kenapa dia belum kembali?”

Erika memandang halaman depan rumahnya berharap mendengar dan melihat mobil Darel.

Erika langsung membuka jendela dan disambut oleh angin tengah malam. Ia memandang bulan sabit yang bertengger di langit.

“Kamu lihat bulan itu, sangat indah bukan?”

Tangan Erika perlahan mengelus perutnya, mengantarkan kehangatan yang ditimbulkan oleh tangannya.

Erika menghela napas panjangnya. Tidak mengerti dengan takdir yang ia jalani. Ia berusaha tersenyum dan tegar meski hidupnya membuatnya untuk bercanda.

“Ibu bisa menjalani semua ini asal ada dirimu, jadi bertahanlah.”

Setelah mengatakan itu, Erika menutup jendelanya dan menutup tirainya kembali. Erika berjalan menuju ranjangnya dan menyelinap di balik selimutnya yang tebal.

Ia melihat jam kecil yang berada di atas nakasnya. Jam sudah menunjukkan jam dua dini hari.

Erika berbaring menyamping dan mengeratkan selimutnya. Membungkus tubuhnya dengan erat. Perlahan matanya menutup, saat matanya menutup setetes air mata lolos di kedua kelopak matanya.

Ia berharap besok akan ada hari indah yang menyambutnya. Harinya akan dipenuhi dengan suka cita tanpa cela.

Hidupnya akan bahagia.

Terpopuler

Comments

Quenby Unna

Quenby Unna

Aku berharap Nasha bahagia

2023-06-21

0

Anis Swari

Anis Swari

dua pria yang sangat2 membuat hidup Erika serba salah

2023-06-21

0

Vincar

Vincar

1 iklan mendarat 😄

2023-06-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!