Tujuh Belas

Arvaz tahu bahwa ada sesuatu yang salah ketika ia memasuki rumahnya. Tempat itu terlalu tenang, nyaris sunyi seolah hampir mati karena ditinggalkan penghuninya. Ketika ia bergegas menuju kamarnya dan mendapati tempat tersebut kosong, Arvaz tahu bahwa firasatnya terbukti benar. Erika menghilang.

Ia langsung mengecek lemari pakaian wanita itu dan merasa lega ketika menemukan barang-barang Erika masih tersusun rapi di tempatnya. Setidaknya, ia tahu wanita itu tidak melarikan diri. Namun menyelinap keluar diam-diam juga bukan merupakan perbuatan yang akan ditoleransi oleh Arvaz.

Ia berjalan ke arah ranjang dan meraih ponsel Erika yang tergeletak jelas di atasnya. Benda itu seolah ditinggalkan oleh pemiliknya. Dengan perasaan marah, ia melemparkan benda itu ke seberang kamar.

Pikirannya teralihkan ketika bunyi ponsel memecah konsentrasinya. Ia meraih ke dalam saku celana dan mengeluarkan benda itu, sejenak memeriksa siapa yang sedang mencoba menghubunginya.

“Ada apa?” Suaranya kasar mengalir untuk menjawab panggilan.

Pria di seberang saluran sepertinya juga tidak sedang berbasa-basi. “Erika sepertinya dalam keadaan bahaya. Darel membawanya.”

Arvaz menahan diri untuk tidak memaki. “Dimana pria itu membawanya.”

“Aku akan mengirim lewat pesan.”

Begitu Arvaz menerima pesan dari Nick, segera Arvaz menaiki mobilnya.

Di tempat lain, Erika berusaha membuka matanya pekan, tidak yakin apa yang membuatnya terbangun. Ia mengerang pelan lalu memejamkan matanya kembali ketika kepalanya berdentam berat dan sisi lehernya terasa pedih ketika digerakkan.

Wanita itu terbatuk dan merasakan tenggorokannya luar biasa kering. Ia menggelengkan kepalanya pelan, merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang kaku. Matanya terbuka seketika saat semua ingatan menyerbu otaknya.

“Kamu sudah bangun?”

Suara lembut itu tak berhasil menipu Erika. “Darel, apa yang kamu lakukan padaku? Lepaskan aku.”

“Apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak melepaskanmu?”

Rasa takut merayapi tulang belakang punggung Erika, menciptakan sensasi yang mengocok perutnya dan membuat seluruh tubuhnya melemas. Keringat menembus pori-porinya dan pelan mengalir keluar. Namun ia sekuat tenaga untuk bersikap tenang.

“Aku akan membencimu seumur hidupku.”

Tawa keras langsung mendengung di ruang itu. Darel tertawa dengan keras.

Erika mencoba untuk berbalik ke samping tetapi tidak berhasil ketika Darel memegang erat tubuhnya. Menyadari Erika berusaha berjuang, Darel begitu tidak senang.

“Mengapa? Kamu bahkan tidak membiarkanku memelukmu?”

“Tidak.”

“Tapi aku khawatir kamu tidak punya pilihan. Apa yang akan kamu lakukan untuk menghentikanku?”

Erika langsung berhenti bergerak, apalagi dengan tangannya yang diikat.

“Darel, apa yang merasukimu? Kenapa kamu menjadi seperti ini?”

Darel menunduk dan berbisik halus di telinga Erika. “Kamu yang mengubahku, Erika.”

Erika dipenuhi kepanikan dan kegelisahan. Ia merasakan bahwa Darel banyak berubah. Pria itu bukanlah pria yang ia kenal.

Sementara itu, Arvaz mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Mobilnya meliuk dengan ganas di jalan. Begitu ia mendapatkan ponselnya berdering, alisnya sedikit berkerut karena nomor yang memanggilnya adalah nomor yang tidak dikenal.

Arvaz lantas buru-buru mengangkatnya.

“Hai, Arvaz.”

“Apa yang kamu inginkan?”

“Aku akan membunuhmu.”

“Kalau begitu hadapi aku dengan jantan.”

Arvaz mencapai tempat itu tepat waktu. Arvaz menambahkan kecepatannya ketika memasuki area estat tersebut. Arvaz membuka pintu mobil dan turun dengan gesit. Ia hanya melihat sekelilingnya sekilas lalu berkahi menuju satu-satunya bangunan di depannya.

Bangunan berlantai dua itu besar dan berdinding abu-abu. Bangunan besar di tengah hutan yang memberikan efek suram. Arvaz berjalan mendekati teras rumah, mulai menaiki tangga kayu yang berbunyi berderit.

Tangannya langsung memutar pegangan pintu tanpa ragu setelah itu ia langsung masuk. Ketika menutup pintu di belakangnya, Arvaz nyaris tidak bisa melihat apa pun karena semua jendela tertutup tirai.

Arvaz mencari petunjuk antara menaiki tanga atau mengelilingi dasar. Namun sebuah pintu yang dibiarkan terbuka menarik perhatian Arvaz. Arvaz langsung menuju ke sana dan langsung melebarkan pintu tersebut.

“Selamat datang…”

Arvaz mendengar kalimat Darel terdengar girang dan bersemangat tapi ia tidak benar-benar memfokuskan perhatiannya ke sana. Ia hanya menatap Erika lekat-lekat, membawa ketakutan di wajah wanita itu. Arvaz langsung menyipitkan matanya ketika ujung pistol sedang menekan keras pelipis lembut Erika.

Erika berjengit ketika gerakan senjata itu menekan pelipisnya semakin kuat, membuat Arvaz ikut meloncat karenanya. “Aku sedang bicara denganmu, apakah kamu mendengarkanmu?”

“Aku mendengarkanmu.”

Dorrrr!

Teriakan itu mengagetkan baik Arvaz maupun Erika. Ia berani bersumpah wajah itu bertambah pucat dan ia khawatir Darel akan membuat Erika lema karena lengan pria itu begitu kuat menekan leher Erika.

Arvaz menggertakkan giginya menahan rasa geram ketika ia bahkan tidak berani maju untuk melepaskan Erika. Karena satu saja gerakkan salah, Darel paru akan meletuskan moncong benda itu.

“Tetap di sana,” ucap Darel seketika melihat pergerakan kecil Arvaz.

“Tidak selangkah pun.”

“Aku ingin menawarkan kesepakatan,” ucap Darel.

“Apa itu?

“Beri aku saham 20% dan ceraikan Erika.”

“Jika aku tidak mau.”

“Kamu akan melihatnya mati di tanganku. Karena tidak akan ada yang memilikinya.”

Terdengar dengusan kasar. “Benarkah kamu berani melakukan itu? Seharusnya kamu tidak bertindak senekat ini. Kita bisa bicarakan sambil meminum kopi karena kita mempunyai kesamaan, menyukai wanita yang sama.”

“Berengsek kamu Arvaz. Kamu menghancurkan hidupku.”

Arvaz bergerak maju tapi tidak cukup cepat dan dekat untuk menerjang Darel.

“Aku akan meledekkan kepalanya kalau kamu berani maju selangkah saja.”

“Kamu yakin kamu berani? Kamu cuma pria kesepian yang selalu mendambakan seseorang untuk kamu cintai. Ketika kamu berpikir kamu sudah nyaris bahagia memiliki segalanya, wanita yang kamu cintai mengandung anakku.”

Darel terlihat rapuh sejenak. Arvaz memperhatikan pegangannya pada Erika meregang. Arvaz nyaris lega ketika Darel mengangkat pistolnya dan mengacungkan ke arahnya. Mata pria itu berkilat oleh kemarahan dan kegilaan. Kemurkaan dan keputusasaan.

“Arvaz!!!!”

Jeritan Erika membuatnya bergeming. Ia hanya berharap wanita itu bisa mengikuti permainan Arvaz dan menyelamatkan dirinya begitu fokus Darel terarah padanya. Ia melirik Erika agar wanita itu bisa membaca apa yang direncanakannya.

Arvaz menyerang tanpa ampu untuk mendapatkan perhatian Darel. Semakin dia marah, dia akan melupakan Erika dan meluapkan kemarahannya.

“Bahkan istrimu menceraikanmu dan lebih memilih diriku.”

Darel melepaskan Erika dengan kasar, setengah mendorong wanita itu menjauh lalu bergerak maju.

“Lari, Eri!”

Setelah mengatakan itu sesuatu yang pnsa dan menyakitkan menembus dan merobek kulitnya. Pria itu terjengkang jatuh ke lantai bersamaan teriakan Erika.

“Arvaz!!!”

Erika merasa jantungnya ke bawah kakinya ketika Arvaz jatuh di hadapannya. Ia tahu Arvaz menciptakakan kesempatan, mengalihkan perhatian Darel sehingga ia bisa melarikan diri. Tapi Erika tidak bisa melakukan itu.

Erika menoleh untuk menatap Darel yang sudah kembali mengarahkan pistolnya pada Arvaz. Tubuhnya bergerak tanpa dikomando ketika ia menerjang ke tengah dan menghalangi sasaran Darel. Alasan kegilaan Darel adalah dirinya.

“Darel,” ucap Erika lembut.

Darel langsung mengarahkan pistolnya ke arah jantung Erika.

“Apa kamu tidak ingin membalasnya? Membuatnya merasakan sakit karena kehilangan istri dan calon anaknya? Kita akan pergi bersama-sama. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Erika memberanikan diri ketika ia menjulurkan tangannya menyentuh lengan Darel dengan lembut. Ia menatap Darel lekat-lekat dan berdoa agar matanya tidak menetes.

Wanita itu nyaris tidak bisa menahan napas legalnya ketika Darel menurunkan senjatanya dan menarik Erika mendekat. Menariknya menjauh memutari Arvaz yang menggerung marah.

“Kamu tidak akan pernah melihat mereka lagi!”

Terpopuler

Comments

Quenby Unna

Quenby Unna

bab ini sangat mengangkan

2023-07-12

0

Anis Swari

Anis Swari

Jadi psikopat nih Darel

2023-07-09

0

Fen_Leo

Fen_Leo

Hallo kak. Udah lama gak mampir saya😂. Lagi males sama Ntun.. Semangat ya kak. Ceritanya semakin menarik.

2023-06-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!