Ketika Erika memasuki ruang makan, ia menemukan Darel sudah duduk di sana. Beberapa hari pria itu tidak pulang dan untuk pertama kalinya selama tiga hari, akhirnya ia bisa melihat Darel kembali. Ia menarik kursi tepat di depan Darel.
Pria itu mengabaikan Erika, menganggap Erika seolah tidak ada. Wanita menatap Darel dan menangkap banyak perubahan atas penampilannya.
“Kamu tampak berantakkan, makan yang banyak.” Erika mengambilkan lauk untuk Darel.
Darel langsung menatap ke arah Erika dan wanita itu sedang menampilkan senyum terbaiknya. Darel sempat goyah karena senyum itu.
Darel langsung mengalihkan pandangannya pada makanan yang baru saja diambilkan oleh Erika. Darel mengambil itu dan membuangnya.
Erika yang melihat itu langsung terlihat sedih namun ia berusaha mengubah ekspresinya kembali.
“Ada masalah di kantor?” tanya Erika.
“Bukan urusanmu.”
Erika tidak tampak tersinggung. Beberapa menit kemudian, Darel membanting serbet ke meja dan berdiri seketika.
Darel mendorong kursi ke belakang. Matanya menatap nyalang ke arah Erika. Erika menegang tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Ketika Darel bergerak meninggalkan ruangan tanpa pamit, Erika menahan keinginannya untuk mengejarnya.
Ia menggenggam garpunya lebih erat dan berusaha menabahkan hati.
Mungkin seharusnya, Erika langsung mengejar Darel. Karena lima jam kemudian ia mendapatkan panggilan dari Nick.
Suara mendesak pria itu berhasil menyita seluruh perhatian Erika.
“Erika, kamu ada di mana?”
“Di rumah, ada apa?”
“Aku akan ke rumahmu.”
“Ada apa Nick? Kamu membuatku takut. Semua baik-baik saja?”
Erika bisa membayangkan Nick yang terdiam mencari kata-kata dan suara pria itu agak tercekat ketika dia kembali melanjutkan, “Darel dalam masalah. Masalah besar, aku rasa. Dua orang polisi menjemputnya di kantor.”
^^^...^^^
Arvaz menghembuskan asap rokoknya dan menatap langit di ujung seberang. Angin sore yang hangat menyapu wajahnya dan ia menyunggingkan senyum kecil ketika memikirkan runtutan kejadian hari ini.
Darel yang pucat dan kelabakan, Darel yang tampak panik ketika dia dijemput paksa, Darel yang tidak tahu apa-apa.
“Dia pantas mendapatkannya,” ucap Arvaz.
Ia menoleh ketika mendengar bunyi pintu belakang yang dibuka dan sosok mungil itu muncul. Arvaz membuang rokoknya cepat memadamkannya.
Sementara matanya mengawasi sosok yang tiba-tiba terdiam mematung.
“Aku bersimpati. Aku tidak menyangka akan terjadi begini.” Suara dalam terdengar penuh penyesalan seolah ia memang sedang bersimpati.
Mungkin ia benar-benar terdengar meyakinkan atau bisa jadi Erika terguncang sehingga menurunkan kewaspadaannya pada Arvaz.
Arvaz melihat bahu Erika yang berguncang pelan. Arvaz mengepalkan tinjunya. Betapa ia ingin menjulurkan tangan dan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Nick yang sedari tadi diam di samping Arvaz tiba-tiba menyerukan suaranya.
“Kami akan membantu sebisa kami,” ucap Nick.
Arvaz mendekat.
“Apa kamu sudah menghubungi Darel?”
Erika langsung menggeleng.
“Kamu belum bisa berbicara dengannya. Mereka tidak membiarkan kami berbicara dengannya.”
Sudut mulut Arvaz berdenyut. Darel boleh meringkuk di penjara dan melihat bagaimana Arvaz merebut Erika dan menjadikan Erika miliknya. Itu seharusnya membuat Arvaz lebih banyak motivasi.
Nick pamit untuk pulang sementara Arvaz masih di sana. Di dalam penthouse bersama Erika.
“Apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan? Aku bisa saja membantu?”
Kepala mungil Erika kembali menggeleng.
“Biarkan aku membantumu,” bujuk Arvaz lagi.
Erika mendongak dan menatapnya dan masih menggeleng.
“Apakah kamu pikir aku tidak bisa melakukannya?
Menurutmu aku tidak bisa menolong Darel?”
Kemarahan yang liar yang berusaha ia pendam kini naik kembali dalam tingkat level penuh.
“Aku sudah tidak tahan lagi.”
Arvaz langsung mendatangi Erika yang duduk di seberangnya. Bibirnya menyerang Erika yang tidak siap. Ketika ia mencium wanita itu dengan kasar.
Arvaz merasakan dorongan pada dadanya, gerakan tak terkendali dari Erika yang menyuruh menjauhinya.
Arvaz menggigit bibir Erika sebelum ia mengangkat kepala untuk menatap Erika dengan senyum tersungging di wajah. Senyumnya membeku ketika telapak wanita itu mendarat di pipinya, menyentak pelan kepala Arvaz.
“Seharunya aku melakukannya sejak dulu!”
“Kamu akan menyesalinya,” desis Arvaz pelan.
Arvaz menampilkan senyum kecilnya ketika tangannya bergerak untuk mengelus pipinya yang terasa tersengat.
“Kamu akan menyesal karena tidak menerima tawaranku. Lain kain, bantuanku mungkin tidak akan gratis. Kamu mungkin akan memohon pada diriku. Siapa yang tahu?”
.........
Erika langsung menemui Darel, begitu ia diizinkan. Jujur saja, Erika tidak tahu apa yang harus dirasakannya.
Ia sudah menangis hingga mungkin bengkak di matanya tak lagi menjadi pemandangan yang mengherankan bagi dirinya sendiri.
Ada secercah kelegaan ketika akhirnya Erika duduk di sini menunggu pria itu datang. Setidaknya, ia akan mendapatkan penjelasan atas apa yang terjadi.
Erika mengenal Darel. Ia tabu alasan apa pun yang membuat pria itu berada di balik jeruji penahanan. Semua itu pasti merupakan sebuah kesalahan.
Erika menarik napasnya dalam-dalam kemudian membuangnya gugup, jantungnya berdentum keras sementara telapak tangannya membasah.
Suara pintu yang membuka membuat Erika melonjak keras. Darel pun melangkah masuk.
Erika mengepalkan buku tangan sembari menahan keinginan untuk melonjak berdiri dan berlari ke dalam pelukan Darel.
Pria itu terlihat berantakannya. Darel masih mengenakan kemeja putihnya. Rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat kusut dengan lingkaran hitam di kedua kantong matanya.
Darel tampak menderita dan hati Erika terkoyak lebih dalam.
“Darel...”
Erika ingin menangis di depan Darel tapi suaranya bergetar tidak bisa menyembunyikan tangis yang ia berusaha ditahan olehnya.
“Apakah kamu senang sekarang?”
Senyum getir pria itu membuat Erika mendongak sedih.
“Sekarang tidak ada yang bisa menghalangi kalian untuk bersama. Kamu pasti senang bisa hidup dengannya,” ucap Darel.
“Darel, apa yang kamu katakan? Aku tidak akan senang jika kamu berada di sini. Saat ini, tidak ada yang lebih penting selain mengeluarkanmu di sini.”
“Erika...”
“Apa yang terjadi? Katakan padaku supaya kita bisa mencari jalan untuk mengeluarkanmu.” Erika bertanya. Polisi pasti sudah membuat kesalahan fatal.
Pelipis pria itu berdenyut pelan. Ia menggunakan tangannya untuk menggosok wajahnya yang kusut.
“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, aku di bawa ke sini atas tuduhan telah melakukan penggelapan uang perusahaan.”
“Tapi kamu tidak melakukannya! Polisi itu salah! Mereka salah! Mereka tidak bisa menahanmu. Kamu bisa menuntut mereka.”
Darel mendesah berat dan Erika bisa merasakan beratnya beban pria itu.
“Mereka memiliki segalanya. Para penyidik itu, mereka memaparkan bukti-bukti keterlibatanku dan aku dipaksa untuk membuat pengakuan.”
Kepala Erika langsung pusing. Ruangan terlihat berputar. Ia menahan gejolak asam yang berusaha melompat naik.
“Kamu bilang tidak melakukannya?”
“Seseorang menjebakku.”
“Siapa yang terpikir olehmu yang memiliki alasan dan kesempatan untuk melakukan semua ini?”
Darel menatap Erika dan mengerang sesaat kemudian.
“Arvaz.”
Erika mengerjapkan kosong.
“Arvaz jelas terlibat. Dia jelas merupakan alasan aku berada di sini sekarang.”
“Bagaimana bisa?”
Darel menjelaskan sementara Erika hanya bisa menatap kosong pada Darel. Telinganya menangkap kalimat Darel yang tumpah tindih dan berebut masuk ke dalam benaknya yang sesak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Anis Swari
aku bukan tim arvaz maupun darel. aku tim author
2023-06-21
0
Vincar
Darel sabar dulu yah. Coba tarik nafas dalam-dalam
2023-06-16
0
Fen_Leo
Pusing jadi Erika. 😂😂😂
2023-06-15
0