Dua belas

Erika tidak tahu bagaimana ia bisa sampai ke sini, ke perusahaan Arvaz. Mungkin ia sedang memastikan tentang perkataan Darel ataukah wanita itu memang sedang putus asa.

Ia sudah menghubungi Arvaz dan bersedia bertemu dengannya setelah menghubunginya sampai ke lima kali. Sebenarnya Erika tidak mempunyai petunjuk tentang apa yang terjadi.

Begitu sampai di depan perusahaan Arvaz, Erika tidak bisa mencegah rasa takut yang muncul begitu ia memasuki lobi dan langsung disambut seorang wanita yang mengantarkannya ke ruang Arvaz.

Ketika ruangan pintu terbuka, langkah Erika membeku sesaat. Tetapi ia terus menyakinkan dirinya sendiri, memberi sedikit dorongan. Ia melihat Arvaz membelakanginya. Punggung pria itu tegak penuh aura yang bisa membuat siapa saja menggigil.

Pria itu menggunakan setelan jas hitam yang sangat cocok dengan tubuhnya. Ketika pria itu berbalik dan mengangkat gelas minumannya dengan alis mencuat, ada sedikit senyum tipis di wajah tampannya.

“Apakah kamu ingin minum?” Tanya Arvaz.

Erika langsung menggeleng, pria itu lantas memberi isyarat pada wanita yang mengantarkan Erika agar pergi. Setelah ruangan itu hanya ada mereka berdua, Erika berusaha menjaga ketenangan ekspresinya.

“Duduklah, sepertinya kita akan membicarakan hal yang menyita waktu.”

Erika mengerjap dan menatap Arvaz yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan angkuh.

“Sudah aku katakan padamu kamu akan memohon padaku dan see?”

Arvaz merasa sangat luar biasa senang karena mampu menggoyahkan ketenangan Erika yang susah wanita itu bangun.

“Apa yang sudah kamu lakukan pada Darel?”

Arvas mengangkat alisnya sedikit menunjukkan sedikit ketenangan yang menyebalkan.

“Dia mendapatkan apa yang layak di dapatkannya.”

“Apakah kamu sedang bermain-main denganku sekarang?”

“Jika cara bicaramu seperti ini, aku takut aku tidak bisa membantumu. Bukankah kamu datang ke sini untuk tujuan itu?”

“Ya, kamu benar. Kamu bisa menolongnya karena kamu yang menjebaknya,” kata-kata Erika semakin pedas dan tinggi. Wanita itu sangat menunjukkan rasa tidak sukanya pada Arvaz.

Arvaz berdiri dengan cepat dan bergerak tepat di depan Erika. “Kamu sedang hamil anakku jadi jaga emosimu.”

Arvaz melihat Erika menarik napas panjang dan menghembuskan napas pelan.

“Kenapa kamu melakukannya?”

Arvaz menyapukan tangannya pada rambut indah milik Erika. “Kenapa katamu?”

Tidakkah, Erika bisa menebaknya meskipun dengan asal.

“Ya, kenapa? Kenapa kamu menjebaknya? Kamu tahu kalau itu tidak benar.”

Arvaz ingin tertawa keras lalu memaki Erika yang naif sambil berkata bahwa pria itu akan sangat senang menonton Darel membusuk dalam penjara. Terkadang ia begitu muak pada Erika tapi tetap saja keinginannya menggebu-gebu untuk mendapatkan wanita itu.

“Aku tidak menjebaknya. Hati-hati dengan apa yang kamu bicarakan, kamu bisa dihukum atas pencemaran nama baik. Aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan kasus Darel. Aku membeli perusahaan ini dan meminta tim audit untuk mengaudit perusahaan dan mereka menemukan sejumlah kecurangan dan Darel terlibat. Apakah itu menjadikanku orang jahat?”

“Darel tidak akan melakukannya?”

“Bukti sudah ada dan mengarah padanya.”

“Kamu harus membantunya.”

“Kenapa aku harus membantunya?”

“Dia temanmu.”

Sudut bibir Arvaz berkedut. “Katakanlah aku bisa menyelamatkannya lalu kenapa aku harus melakukannya? Melihat dia temanku? Itu tidak memberiku banyak motivasi.”

Bibir wanita itu bergetar pelan ketika dia kembali bertanya, “lalu apa yang kamu inginkan?”

Mata Arvaz langsung memancing dan menatap Erika lama, menatapnya hingga Erika resah.

“Tidakkah kamu bisa menebaknya?”

Mata Erika sudah menjawabnya tapi bibir Erika masih saja berbohong. “Tidak.”

Arvaz mengangguk, “Akan aku beritahu. Aku menginginkanmu, Eri. Ceraikan Darel dan menikah lah denganku.”

“Tidak!” Teriakan wanita sebagai penolakan dan Arvaz langsung bergerak untuk membungkam bibir Erika. Wanita itu menggeliat marah saat ia merasakan Arvaz marah.

“Jangan memaksaku untuk menyakiti Darel. Aku membenci Darel dan tidak ada yang lebih menyenangkan bagiku selain melihatnya menderita dan membusuk di dalam sana.” Arvaz menyunggingkan senyum mengejek.

Erika langsung menggeleng dengan panik.

“Ini adalah kesempatan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Kamu harus menjadi milikku bila kamu tidak ingin melihat Darel kesakitan perlahan-lahan di dalam sana.”

Ancaman pria itu membuat Erika bergidik. Belaian samar di atas kepalanya hanya membuat Erika merasa lebih buruk.

“Eri.”

Ia terkejut karena gerakan mendadak Arvaz. Erika langsung menepis tangan Arvaz.

“Kamu menyuruhku meninggalkannya, aku tidak akan melakukannya.”

“Kamu tidak ingin menyelamatkannya?”

“Kamu tidak benar-benar memiliki bukti untuk memenjarakannya kan?”

Tawa Arvaz langsung terdengar di ruangan itu. Arvaz menggeleng kecil sambil menatap Erika dengan ekspresi yang membuat Erika ingin menerjang dan menancapkan kukunya.

“Bagaimana kamu bisa begitu yakin bahwa aku tidak memiliki banyak bukti untuk menyeret Darel ke jurang yang lebih dalam? Kamu pikir di mana Darel sekarang?”

Pria itu tampak menyakinkan. Jika memang Arvaz adalah orang yang menjebak Darel, pasti pria itu sudah mengantongi lebih banyak bukti rekaan yang tidak ingin Erika pikir lebih lanjut.

Erika jelas tidka ingin Darel masuk penjara tapi di sisi lain ia juga tidka ingin meninggalkan Darel. Ia tidak bisa membebaskan Darel dengan mengkhianati cintanya pada pria itu. Tapi Darel akan mendekam di penjara.

“Apakah kalau aku berlutut memohon padamu sekarang, kamu akan membantu Darel?”

“Berlutut? Memohon padaku?”

“Ya,” Erika menjawab cepat.

“Apa kamu pikir dengan berlutut seperti ini, aku akan membantunya? Sudah ku katakan dengan jelas, harga yang harus kamu bayar untuk kebebasan Darel.”

Erika menelan ludah, tidak berani menjawab. Ia harus menahan diri untuk tidak menutup rapat kedua matanya ketika Arvaz membungkuk semakin rendah di atasnya.

Erika mengepalkan buku jari-jarinya erat. Bagaimana mungkin Erika tidak akan mencoba untuk menolong Darel? Darel pasti paham ia melakukannya demi dirinya. Darel pasti akan memaafkannya, ia yakin.

“Bebaskan Darel sekarang dan aku akan menuruti keinginanmu.” Erika merasa pusing ketika mendengar suaranya sendiri.

Erika memejamkan mata dan mendengar deru napasnya sendiri ketika jari-jemari pria itu bergerak.

“Good girl.”

Senyum langsung muncul di wajah tampannya. Ia bersyukur Erika tidak sedang menatapnya. Ia tidak bisa melepaskan Erika. Apa pun akan dilakukannya sampai Erika berkata ya. Entah itu bujukan, rayuan, pemerasan atau pun ancaman.

Siapa yang tahu? Pada tahap ini, ia tidak akan menerima ungkapan penolakan dari Erika.

“Aku…”

Arvaz sama tenangnya seperti tubuh yang berada dalam dekapannya. Beberapa tahun ang lalu, ia membiarkan lari darinya tapi tidak kali ini, Erika harus menuruti keinginannya.

“Aku akan mengurus surat perceraiannmu selama itu kamu dilarang melihatnya.”

Tatapan Erika terlihat berkilat.

“Tenang saja, di saat kamu sah berpisah dengannya di saat itu pula dia keluar dari penjara.”

Erika kembali menarik napas dan menyakinkan dirinya sendiri.

Aku akan menceraikan Darel dan menikah dengan Arvaz. Tapi aku melakukannya demi Darel. Karena aku mencintai Darel.

Terpopuler

Comments

Rosee

Rosee

aslii makin seruu, semangat thoor

2023-06-23

0

Quenby Unna

Quenby Unna

Redflag dah

2023-06-21

0

Anis Swari

Anis Swari

Mungkin ini sudah takdir Erika...semoga saja dengan bersama Arvaz? Erika bahagia

2023-06-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!