Pria itu tidak lembut tapi Erika merasakan gairah di dalam ciumannya. Ia ******* dengan rakus. Perlahan tapi pasti, ciuman itu merembet sampai ke leher Erika. Lalu membenamkan di bagian yang paling sensitif. Menciumi jalur di tengahnya sementara tangan yang lain meremas.
Erika membiarkan pria itu melakukannya karena berpikir bahwa Darel sudah kembali. Erika tidak menemukan sesuatu yang aneh atau tidak biasa.
Tangan pria itu sudah menanggalkan pakaian Erika dan juga pakaiannya sendiri. Tangan irtu juga yang membimbing bagian tubuhnya yang keras dan panjang dan mulai menghunjam.
Tubuh Erika langsung melenting kaku dan semua sistem saraf di dalam tubuhnya menjerit. Namun wanita itu tidak melawan. Erika merasakan napas yang terdengar mendengus ketika dia mencengkeram kakinya dan menekannya lalu kembali menekannya dan kembali berusaha menerobos ke dalam.
Rasa penuh dan sesak kembali ia rasakan.
Sepanjang malam itu, Arvaz telah menghunjam ke dalamnya berulang kali.
“Oh,” gerangan itu keluar dari mulut Erika begitu ia menyadari apa yang baru saja ditinggalkan di dalam dirinya.
Arvaz jatuh di atas Erika, panas dan basah. Napasnya berat dan cepat, Irma jantungnya berkejaran. Tapi dia sudah pulih dengan cepat. Arvaz menatap wajah Erika. Jelas pria itu terlihat senang.
Arvaz mendaratkan kecupan ringan di dahi Erika lalu pria itu mengambil bajunya yang berceceran di lantai dan memakainya. Setelah itu, Arvaz mengambil ponsel milik Erika. Ia sengaja memasang perangkat lunak rahasia di sana sebelum pergi.
Arvaz meninggalkan kediaman Darel dengan senang karena rencananya sukses besar. Ia kan berkunjung sepanjang malam sampai Erika hamil dan membuat Darel terus sibuk dengan pekerjaannya. Sementara itu, Darel baru saja sadar.
“Sepertinya aku kelelahan sampai tidur di kantor.”
Tidak merasakan ada yang aneh, Darel langsung menyuruh asistennya untuk segera membawanya pulang. Mobil lantas melaju perlahan menuju ke rumahnya. Mungkin karena lelah juga, Darel bersandar di mobilnya dan matanya kembali menutup.
“Pak Darel, kita sudah sampai.”
“Apakah kita sudah di rumah?”
“Ya, pak.”
“Jam berapa sekarang?”
“Jam tiga pagi.”
Darel lantas segera keluar dari mobilnya. Berjalan tidak stabil menuju rumahnya. Ia berjalan dan langsung menuju ke kamarnya. Ia melihat Erika yang berbaring di sana. Senyum langsung mengembang.
Darel langsung melepaskan dasinya diikuti jasnya lalu kemejanya. Pria itutu lantas berbaring di samping Erika. Tangannya terulur untuk memeluk Erika dari belakang.
Matahari yang semula bersembunyi, kini mulai merangkak naik dan memperlihatkan sinarnya. Namun tidak ada tanda-tanda dari Darel maupun Erika yang bangun. Sampai seorang pelayan mulai mengetuk pintu karena jam sudah menunjukkan sepuluh pagi dan karena ada tamu juga.
Darel bangun dan mulai mencari kemejanya lalu melangkah untuk membuka pintu lebar.
“Hai,” sapa seseorang yang bernama Vero.
“Apakah kamu baru saja bangun? Wah pengantin baru,” ucap Nick.
Darel yang awalnya setengah sedar begitu mendengar suara dari teman-temannya langsung tersadar seratus persen.
“Sayang, suara ribut-ribut apa di sana?”
Erika yang baru saja terbangun, duduk perlahan dengan mata menyipit.
Darel langsung menoleh ke belakang dan begitu terkejut melihat penampilan Erika saat ini. Selimutnya sepertinya akan merosot dan keadaan itu membuat tubuh Erika terekspos.
Darel langsung menatap ke arah Vero dan Nick yang rupanya sedari tadi matanya tidka lepas melihat istrinya.
Darel buru-buru berlari menuju ke ranjangnya. Menarik selimut itu sampai menutupi semua tubuh Erika termasuk wajahnya.
“Yakk aku tidak bisa bernapas,” keluh Erika berusaha melepas selimut dari tubuhnya.
“Tetap di dalam sana.”
“Aku tidak bisa bernapas.”
“Darel, kamu membuat istrimu tidak bisa bernapas.”
Mendengar suara itu, Erika yang tadinya berusaha keluar dari selimut. Kini tubuhnya membeku seketika. Sementara Darel langsung menatap tajam ke arah temannya dan menyuruh mereka untuk menutup pintu dan segera pergi.
...…...
Erika tidak berani keluar dari kamarnya karena ada tamu Darel yang melihatnya dengan memalukan. Namun suara perutnya terus memberontak ditambah lagi energinya yang terkuras karena malam yang begitu panas kemarin.
Dia harus keluar kamar sekarang dan menuju ke dapur untuk mengisi energinya.
Jantung Erika masih sedikit berdebar ketika ia meraih pegangan pintu lalu memutarnya perlahan. Bayangan untuk duduk di meja makan dengan makanan kesukaannya membuatnya mendekatkan tekadnya.
Betapa legalnya Erika begitu melihat Darel di lorong yang mengarah ke lantai bawah.
“Darel.”
Erika mendekati Darel dengan cepat dan bergerak untuk memeluk pria itu. Darela langsung menempelkan bibirnya di atas bibir Erika lalu tersenyum.
“Apakah teman-temanmu sudah pulang?”
“Ya, aku sudah mengusirnya.”
Darel menyapukan tangan ke belaian rambur Erika. “Apakah kamu ingin sarapan?”
“Ya.”
“Segera sarapan sementara aku akan bersiap ke kantor.”
“Sekarang? Kamu belum sarapan kan? Kita sarapan bersama.”
“Aku ingin, tapi mereka tidak membiarkanmu tenang. Mereka tidak akan berhenti mengontakku sampai aku tiba di kantor. Aku akan sarapan di jalan.”
“Tapi…”
Darel langsung menarik Erika dalam pelukannya.
“Kamu akan bekerja lembur lagi?”
“Aku akan membereskan masalah ini dan secepat mungkin akan pulang.”
“Kamu sudah berjanji padaku.”
Seperti biasa, malam ini lagi-lagi Erika menunggu kedatangan Darel. Ia sedari tadi menekan tombol remote televisi dengan random berharap ada acara yang mengisi kebosanannya. Hidup di rumah sebesar ini dan hanya ada pelayan membuat Erika seakan mati kutu.
Begitu mendengar suara pesan yang masuk di ponselnya, Erika segera mengambil ponselnya yang terletak di meja. Ia mendapatkan pesan dari Darel. Pria itu menyuruhnya untuk berdandan cantik karena mereka akan malam di luar.
“Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba? Tahu begini, aku akan bersiap dari tadi.” Ucap Erika.
Wanita itu lantas berlari ke kamarnya dan membuka semua lemarinya. Memilih baju yang menurutnya bagus untuk di pakai. Erika membongkar semua pakaiannya. Ia mencoba satu persatu yang menurutnya pantas.
“Kenapa semua tidak ada yang bagus,” ucap Erika saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Itu adalah baju ke lima yang ia coba pakai.
Lalu sekelabat memori muncul diingatnya. Ia baru sadar kemarin Erika baru membeli baju baru. Erika kembali berlari menuju ke lemari dan mulai mencari baju yang baru kemarin ia beli.
“Ketemu.”
Setelah memakai baju dan juga memakai riasan yang tipis namun terlihat memukau. Erika pada akhirnya menuju ke tempat yang sudah ditentukan oleh Darel.
Berdiri di depan pintu kamar pribadi, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Erika memeriksa penampilannya kembali sebelum ia membuka pintu itu dengan kunci kartu. Seorang resepsionis tadi memberinya kunci kartu.
Mendorong pintu terbuka dengan lembut, ia mendapati bahwa ruangan itu gelap gulita. Berpikir itu adalah kejutan yang disiapkan oleh Darel, Erika mendorong pintu sampai terbuka dan masuk di dalamnya.
Saat pintu tertutup, tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan menyentuhnya .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Catastrovhy
sumpah jahat banget lu arvaz😡😔
2023-06-14
0
Quenby Unna
Di luar nurul ini mah....
2023-06-07
0
Anis Swari
Rencana Arvaz sungguh di luar prediksi BMKG
2023-06-07
0