Darel sedang mengeluarkan asap dari mulutnya. Tangan yang satunya sedang memegang ponsel yang ia dekatkan dengan telinganya. Pria itu sedang menunggu jawaban dari seberang. Dengan tidak sabar, Darel menendang udara di sekitarnya dengan kesal.
“Erika.”
Suara Darel berat dan serak. Sesaat ia tidak tahu harus berkata apa. Padahal beberapa jam yang lalu ia sudah merancang kalimatnya. Namun setelah panggilannya di terima kalimat yang ia sudah rancang musnah sudah.
“Darel, apakah kamu baik-baik saja?”
“Memangnya kamu peduli padaku?” Suara Darel lagi-lagi kehilangan fokus dan kebingungan. “Apa kamu pernah peduli padaku?”
Suara Darel berimarama di tengah denting gelas dan botol, bunyi percakapan, gerutuan dan gumaman mabuk.
“Darel, kamu mabuk? Apa kamu minum-minum?”
“Aku tidak mabuk.” Bentak Darel.
“Kamu ada di mana? Apakah kamu menyetir sendiri?”
Darel langsung tersenyum miring. “Kenapa Erika?”
“Kamu ada di mana? Aku akan menelepon Adam atau Nick atau siapa pun itu. Kamu sedang mabuk.”
“Sudah aku bilang aku tidak mabuk.” Darel kembali membantah dengan kasar. “Aku hanya ingin tahu Erika!”
“Apa?”
“Kenapa kamu menikahinya?”
Beberapa menit Darel tidak juga mendengar jawaban dari seberang.
“Darel, aku…”
“Apakah karena dia pria berengsek yang kaya, karena itu kamu menjual dirimu padanya? Bahkan kamu mempunyai anak darinya!”
“Darel.”
Darel sudah tidak bisa lagi dihentikan, Darel terus mencerocos seolah alkohol telah menghilangkan batas kesopanan yang selama ini dimilikinya.
“Kamu pikir aku tidak tahu apa yang terjadi? Kamu bersengkokol dengan pria itu untuk menjebakku untuk mempermalukanku. Aku bahkan bisa membayangkannya, Darel yang malang dan bodoh, sementara dia dijebak dan dipenjara, istrinya yang sok polos itu memutuskan untuk menikah dengan temannya sendiri. Menjijikkan!”
“Darel Hansel, kamu seharusnya malu dengan kata-katamu sendiri.”
Ucapan Erika memicu tombol kemarahan Darel. Pria itu nyaris berteriak, sesaat membuat suara-suara latar itu menghilang sebelum bar itu hidup kembali.
“Kamu yang seharusnya malu! Kamu mengkhianatiku, berengsek.”
“Darel, apakah kamu kehilangan akal sehatmu.”
Suara tawa menyedihkan itu sama sekali tidak mirip dengan suara Darel. “Aku tidak akan memaafkanmu, sialan.”
“Pulanglah Darel. Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu sekarang. Aku akan menutup telepon.”
“Tunggu! Jangan tinggalkan aku. Apakah kamu mencintaiku, Erika? Katakan padaku….apakah kamu pernah bersungguh-sungguh mencintaiku?” Darel terdengar nyaris seperti dirinya sendiri sekarang.
Suara Darel semakin mengecil, hampir menghilang di akhir kalimat. Wajahnya sudah menempel di atas meja bar yang dingin. Suara dengkuran halus pun keluar dari mulut Darel.
“Aku mencintaimu, Darel. Tolong jangan mempercayai yang sebaliknya.” Suara Erika terdengar bergetar. “Aku mencintaimu, Darel. Percayalah padaku. Aku akan selalu mencintaimu.”
Erika tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Darel dan mematikan sambungan mereka.
...…...
Pria itu sempat mempertanyakan kewarasannya karena nekad mengambil tindakan sedrastis ini. Apakah Darel seputus asa itu sehingga ia meminta tolong pada Nick untuk menemukan alamat Erika.
Darel sedang melihat-lihat panggilan terakhirnya dan matanya langsung melebar saat nama Erika muncul di nomor pertama. Lalu sekelebat memori memutar di otaknya.
“Aku pasti sudah gila.”
Mata Darel kembali menatap layar ponselnya dan jarinya tiba-tiba kembali menekan layar tersebut. Darel kembali menekan nomor Erika. Ia memastikan apakah memori yang ada di dalam otaknya itu kenyataan atau kah hanya mimpi. Karena jauh dari lubuk hati Darel paling dalam ia sangat menginginkan Erika. Darel ingin Erika kembali padanya.
“Halo, Darel.”
“Apakah kamu mencintaiku?”
“Apa yang kamu katakan?”
“Apakah kamu mencintaiku?” Darel kembali bertanya untuk yang kedua kalinya.
Erika tak kunjung menjawab dan Darel masih bersabar untuk menunggu Erik menjawab, pada menit ke lima Erika masih saja bungkus dan Darel sudah tidak bisa bersabar lagi.
“Baiklah, aku mengerti.”
Darel pun dengan kesal menutup sambungan telepon tersebut. Pria itu lantas melemparkan ponselnya ke ranjangnya dengan asal lalu bangkit dan keluar kamar.
Begitu kakinya menginjak ruang tengah, alisnya bertaut tatkala matanya menangkap sosok pria yang sedang menonton televisi. Pria itu adalah Nick.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” Suara Darel membuat pria bernama Nick untuk menolehkan kepalanya.
“Kamu seharusnya berterima kasih denganku. Karena aku, kamu tidak tidur di jalanan.”
“Apakah aku meneleponmu?”
“Erika yang meneleponku. Dia mengkhawatirkanmu.”
Pria itu tampak menaikkan alisnya dan sudut bibirnya terangkat menciptakan senyum sarkatis.
“Wanita munafik itu.”
“Tentang Erika, jangan terlalu membencinya.”
Darel menghentikan gerakan tangannya dari menjentikkan korek api. Mengigit rokoknya, Darel kembali menjentikkan korek api dan membakar batang rokoknya.
“Mengapa aku merasa bahwa kamu tahu sesuatu tentang Erika?” Darel bertanya penuh selidik.
Sejenak Nick terdiam lalu pria itu menatap manik mata Darel. Ada kekerasan hati yang terkandung di dalam lautan biru tenang itu.
“Hanya merasa bahwa dia wanita yang baik.”
Tiba-tiba Darel tertawa. “Wanita baik? Jika dia wanita baik, dia tidak akan meninggalkanku saat aku merasa terpuruk.”
Malamnya, Darel berdiri di depan jendela besar yang ada di kamarnya. Pria itu berdiri melihat pemandangan luar. Matahari sudah terbenam, langit sudah gelap tanpa bintang dan bulan. Angin berembus dengan kasar
Jemarinya dengan sigap menekan layar yang ada di layar ponselnya. Matanya merah seakan murka melihat nama yang terpampang nyata. Dengan murka jemarinya langsung menekannya.
“Kamu pikir kamu hebat?”
Darel membuka mulutnya yang nyaris bergetar saat sambungan teleponnya terjawab.
“Aku?”
Tubuh Darel menegang. Tangannya yang memegang ponselnya terekepal kuat.
“Kamu pikir kamu menang?”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan?”
Darel mendengus kuat. “Kamu pikir kamu sudah berhasil merebut Erika, bukan? Sayangnya, kamu tidak tahu seperti apa perasaan Erika padaku?”
Di tempat seberang, Arvaz merasa ingin menonjok wajah angkuh Darel dengan sekeras-kerasnya.
“Tidak masalah, aku rasa kami akan mengatasinya. Setelah menyesuaikan dirinya. Aku yakin, Erika akan melupakanmu.”
“Kamu tidak terdengar seyakin itu.”
“Benarkah? Persetan dengan itu.”
“Jangan pikir aku tidak tahu kenapa Erika menikah denganmu. Dia tidak bisa melupakanku karena sebesar itu dia mencintaiku. Aku mengenalnya lebih darimu, Arvaz. Dia akan mencintaiku sampai akhir karena kamu memaksanya membuat pilihan. Kamu mengerti? Kamu tidak akan pernah bisa menggantikanku dan mengalahkanku. Kamu sama sekali tidak pantas memiliki Erika.
Ekspresi Arvaz di seberang langsung tegang. “Jangan lupa, aku yang menempatkanmu di dalam penjara. Aku bisa mengirimmu kembali sewaktu-waktu. Aku bisa menghancurkanmu kapan saja, Darel. Bahkan tanpa, mengotori kedua tanganku.”
Sambungan langsung dimatikan secara sepihak oleh Arvaz. Darel pun langsung mengirim ucapan Erika yang ia rekam. Saat wanita itu mengatakan bahwa dia mencintainya. Kepuasan memenuhi dada Darel. Darel ingin menghancurkan hidup Arvaz.
...…...
Erika kembali mendapatkan panggilan telepon dari Darel. Saat wanita itu baru saja mengangkat ponselnya lalu sesuatu merenggut ponselnya yang menempel di telinganya. Ponselnya lalu terbang menabrak dinding di seberang.
Ia harus mengumpulkan segenap keberaniannya hanya untuk berbalik. Bibir Erika bergetar pelan ketika ia menatap Arvaz yang menjulang dengan segenap amarah yang menggantung di sekeliling tubuhnya yang besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Quenby Unna
Jujur kasihan sih tapi lebih banyak keselnya...
2023-07-10
0
Anis Swari
kadang juga kasihan sama Darel...tapi kalo jiwa psikopatnya kumat ngeselin juga
2023-06-22
0
Fen_Leo
Jadi bingung kan tim yang mana ini😂😂
2023-06-20
0