Tiga Belas

Fokus Arvaz sepenuhnya berpusat pada wajah Erika yang tegang. Mata hitamnya sepenuhnya berkilat ketika ia melihat wanita itu mengenakan gaun berwarna putih tulang untuk kedua kalinya.

“Kamu sangat cantik.”

Erika menatap nyalang ke arah Arvaz. Pria itu tahu, bahwa Erika sangat ingin memukulinya. Namun saat ini tidak ada yang bisa dia lalukan selain patuh berdiri di sampingnya.

Arvaz memegang semua kartu kemenangan.

Kemenangannya ini benar-benar sebuah keberhasilan atau ironi semata, mengetahui kenyataan bahwa ia hanya bisa mendapatkan Erika dengan permainan curang ini.

Kelegaan memenuhinya seketika saat mereka berdua akhirnya dinyatakan sebagai suami istri.

Di sisi lain, Erika gagal mengidentifikasi kumpulan emosi yang kini memenuhi dadanya. Ia sulit mengenali rasa dengan jelas.

Sudah ada kemarahan, rasa sedih, kekecewaan dan perasaan sakit.

Erika merasa senyumnya telah berubah kaku bahkan tangannya sudah mati rasa. Erika juga menyadari bahwa orang-orang menatap Arvaz lebih lama dan melemparkan komentar-komentar bersifat memancing dan pria itu tidak terlalu menanggapinya.

Erika ingin sekali melepaskan rengkuhan lengan Arvaz di pinggangnya tetapi pada akhirnya ia membiarkan pria itu merapatkan pinggul mereka.

Setelah acara selesai, Erika langsung membanting pintu kamarnya dengan keras. Wanita itu langsung beringsut di ranjangnya.

Erika segera menoleh begitu mendengar pintu kamarnya kembali membuka dan Arvaz menyusup masuk sebelum mengunci pintu di belakangnya.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Keluar!”

“Apakah kamu lupa? Aku sudah menjadi suamimu. Kamu ingin mengusir suamimu sendiri?”

Erika memejamkan mata sejenak, sebagian untuk menghindari tatapan Arvaz dan sebagian lagi untuk mengontrol air matanya sendiri namun ia kalah. Air matanya merembes dari kelopak matanya.

“Dia sudah keluar. Pria tak berguna yang kamu gila-gilai itu sudah bebas. Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan dan kamu harus melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan.”

Setelah itu Arvaz meninggalkan Erika yang masih menangis di kamarnya.

Hari-hari demi hari Arvaz memperlakukannya dengan baik bahkan jauh lebih baik dari pada Darel. Pria itu memperhatikan setiap detail yang diperlukan Erika. Sehingga membuat Erika merasa muak. Karena Erika pikir ia telah dimanfaatkan oleh pria itu untuk menghancurkan Darel.

“Apa yang kamu inginkan dariku, Arvaz? Kenapa tidak kamu perjelas saja?”

“Aku menginginkanmu karena aku menginginkanmu.”

“Pembohong.”

“Terserah apa yang kamu pikirkan tentangku dengan otak cantikmu itu.”

“Menginginkanku?”

“Hem.”

Erika tertawa. Keras dan singkat.

“Kamu begitu menginginkanku? Kamu begitu menginginkanku sehingga kamu rela menikahi wanita yang jelas-jelas mencintai pria lain? Aku mencintai Darel. Pernikahan yang kamu paksakan tidak lantas mengubah fakta tersebut!”

Erika terkesiap begitu wajah pria itu turun mendekat padanya.

“Kamu mencintai Darel, katamu?”

“Apakah kamu lupa? Aku menikahimu karena aku mencintai dia.”

Jeritan pelan terlepas dari mulut Erika begitu ia diseret oleh Arvaz. Pria itu langsung menggendong Erika dan berjalan menuju kamar mereka.

Ranjang yang lembut terasa di bawah punggungnya dan ketika Erika menyadarinya, Arvaz sudah menjulang tinggi di atasnya.

“Aku sungguh terlalu baik padamu. Aku sudah memperlakukanmu dengan lembut akhir-akhir ini tapi kamu semakin berani. Haruskah aku memperlakukanmu dengan kasar?”

Tubuh Erika langsung menegang.

“Aku tidak akan menutupi kenyataan bahwa aku adalah pria yang posesif. Lain kali jangan pernah menyebut nama pria lain di hadapanku, untuk alasan apa pun. Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan kalau aku terbakar cemburu.”

“Aduh!”

Erika mengaduh sakit saat bahunya mati rasa karena kesakitan saat Arvaz menggigitnya.

“Arvaz lepaskan aku.”

Kemarahan Arvaz terus meningkat dalam dirinya. Tangan Arvaz langsung mencengkeram kedua pergelangan tangan Erika dan mengangkatnya ke atas. Tangan lainnya melonggarkan dasi di lehernya yang kemudian dia lilitkan di pergelangan tangan Erika untuk menahannya.

“Arvaz. Apakah kamu tidak pergi ke kantor? Lepaskan aku!”

“Kamu yang mencoba menahanku.”

Tanpa awal peringatan dan pemanasan sebelumnya. Arvaz langsung melakukannya.

“Kamu sungguh membuatku lebih muak denganmu.”

“Baiklah, jika pendekatan lembutku padamu tidak berhasil, setidaknya aku bisa bersenang-senang.”

...♡♡♡...

“Kamu akan pergi sekarang, Tuan Benedict?” itu suara Sandra, pengurus rumah setengah bayanya.

Arvaz mengangguk muram. Wanita itu lantas mengedik dan bergumam. “Nyonya Benedict, sepertinya tidak senang.”

Arvaz memaksakan senyum masam. Ia berjalan mendahului wanita itu, menuju tempat Erika berdiri di depan jendela lebar.

“Eri, aku harus pergi selama beberapa hari.”

“Hm,” jawab singkat Erika. Bahkan ia tidak mau repot-repot bertanya ke mana Arvaz akan pergi.

“Ada pekerjaan mendesak di Inggris.”

“Tidak masalah.”

Ekspresi Erika, nada suaranya, semuanya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak ambil pusing.

“Sementara aku tidak ada, Sandra akan membantumu.”

Arvaz langsung meraih Erika dan mengecup Erika keras di bibir. Tubuh wanita itu langsung menegang dalam pelukannya ketika Arvaz berbisik, “Aku akan segera kembali jadi jangan macam-macam. “ Arvaz kembali berbisik namun kali ini tepat di depan perut Erika. “ Bersikaplah baik pada ibumu, jagoan ayah.”

Arvaz lalu melepaskan Erika dengan cepat dan berbalik. Ia masih sempat memberi perintah pada sang pengurus rumah sebelum berjalan kembali ke pintu depan.

Setelah kepergian Arvaz, Erika nyaris tergoda untuk bertanya pada Sandra, apa sebenarnya yang dikerjakan Arvaz di Kanada?

Pada akhirnya, Erika merasa seharusnya lega. Selanjutnya, Erika benar-benar tidak ingat bagaimana ia menghabiskan tiga hari ke depan di dalam rumah sebesar itu, dikelilingi para pelayan yang membuat Erika merasa gerah sekaligus tidak nyaman.

Ia tidur, bangun dibuatkan sarapan berkeliaran di rumah, itu mendatangi setiap sudut rumah kecuali ruang kerja Arvaz yang selalu terkunci dan kembali makan siang dan seterusnya hingga ia berakhir kembali di kamar tidur untuk menutup harinya yang membosankan.

Namun di pagi ke lima, telepon dari Arvaz mengubah suasana hatinya. Erika tidak pernah berpikir bahwa ia akan pernah merasa senang mendengar suara pria itu.

“Bagaimana kabarnya?”

“Kabarnya?”

“Kabar anakku. Apakah dia membuat masalah?”

“Tidak! Anakmu anteng di dalam perutku.”

Astaga, apakah Erika sekarang mengakui bahwa ayah dari anaknya adalah Arvaz.

Dan untuk pertama kalinya, hari itu tidak berlalu dengan terlalu membosankan karena Arvaz selalu meneleponnya meskipun pada akhirnya membuatnya merasa jengkel.

Erika kembali ke kamar tepat setelah makan malam dan menemukan bahwa ponselnya berdering. Sesaat langkahnya membeku dan jantungnya ikut berpacu pelan.

“Apakah itu Arvaz?”

Erika memaksa maju untuk meraih benda itu. Namun ketika melihat nama yang muncul di sana membuat jantung Erika memukul lebih kuat.

Di tempat lain, sosok laki-laki sedang mengeluarkan asap dari mulutnya. Tangan yang satunya sedang memegang ponselnya yang ia dekatkan dengan telinganya.

Pria itu sedang menunggu jawaban dari seberang. Dengan tidak sabar, pria itu menendang udara di sekitarnya dengan kesal karena menunggu jawaban panggilannya.

Terpopuler

Comments

Quenby Unna

Quenby Unna

Jangan2 Darel

2023-06-21

0

Anis Swari

Anis Swari

posesif, overprotektif, idaman banget kalau di fiksi

2023-06-21

0

Fen_Leo

Fen_Leo

Arvaz harus lebih slow nih😂😂

2023-06-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!