Sembilan

Darel sebenarnya sedari tadi memikirkan Erika. Wanita itu pasti pergi ke rumah sakit sendirian.

Darel langsung meletekkan pulpennya yang ia pegang. Ia langsung berdiri dari kursinya dan mengambil jasnya yang ia selampitkan di kursinya.

Hal pertama yang ia temui saat kembali ke rumah adalah wanita itu. Erika sudah berada di sana, di ruang tamu rumahnya yang luas terlihat cantik dengan gaun berwarna babypink.

“Darel, kamu sudah pulang?”

Pria itu membeku di ruangan, otaknya mengosong untuk sesaat, ketika ia melihat senyum indah terlukis di wajah mungilnya yang cantik.

Ketika tangan Erika terjulur ke arahnya, Darel begitu kaget sehingga ia menepisnya dengan kuat dan refleks bergerak mundur.

“Apa yang kamu lakukan?”

Erika terlihat tampak terkejut atas penolakan Darel. “Aku hanya ingin membawakan jasmu.”

“Cukup!”

Ia menarik bahu Erika dengan tangannya dan mengguncang pelan wanita itu.

“Bisakah kamu berhenti memainkan peranmu sebagai istri yang baik? Kamu membuatku muak!”

“Darel...”

Darel mendorong Erika keras hingga wanita itu terhuyung. Matanya menatap kejam pada satu-satunya orang yang bisa membuatnya gila.

“Kamu wanita menjijikkan.”

“Kamu tahu apa yang kamu katakan?”

Senyum jahat terlukis di bibir Darel dan memanjang hingga berubah menjadi tawa yang mendirikan bulu roma Erika.

Ia tidak mengerti kenapa Darel mengatakan bahwa dia menjijikkan. Wajahnya uang berkerut karena sedih kini terlihat tegang.

Erika mendongak tak berdaya menatap wajah Darel yang sedang menunduk di atasnya. Panas napas itu membuatnya sesak, seolah udara terserap habis.

“Kamu tidak semurni apa yang aku pikir. Kamu adalah wanita sampah. Berani sekali kamu mengkhianatiku!”

“Aku...”

“Diam! Raungan Darel sukses membungkamnya. Pria itu terus menatapnya dengan mata yang berkilat oleh amarah. Lalu perlahan wajah itu berubah.

Ada senyum jahat muncul di sudut bibirnya. Pria itu mendekatkan wajah mereka dan Erika berharap tidak pingsan saat rasa takut menguasainya.

“Kamu akan menyesalinya Erika, kamu akan menyesalinya karena sudah mengkhianatiku bahkan berbohong dengan kehamilanmu. Anak itu bukan darah dagingku. Anak haram itu, aku bahkan ingin membunuhnya sebelum dia lahir.”

Erika menahan napas dan tetap bungkam. Ia memejamkan matanya saat mulut pria itu menelusuri daun telinganya.

Bisikkan parau Darel menyusulnya, “Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Aku sama sekali tidak berniat menceraikanmu karena aku akan menyakitimu setiap kali aku menginginkannya. Aku akan membuatmu menangis. Aku akan membuat hidupmu seperti neraka.”

Denyut di kepala Erika kini kian terasa. Ancaman Darel menimbulkan getar yang merinding di sepanjang tulang punggungnya.

“Darel, maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Aku tidak butuh penjelasan apa pun dari mulutmu.”

“Darel, aku tahu ada banyak amarah di dalam dirimu. Tapi tolong maafkan aku.”

“Tidak semudah itu.”

Setelah itu pria itu meninggalkan Erika yang masih membeku di ranjangnya. Pria itu menutup pintu dengan keras dan mengunci pintu kamar dari luar.

Erika tahu Darel sangat marah besar padanya namun kata-kata kasar pria itu masih terngiang di kepalanya dan membuatnya sedih.

Wanita itu menghela napasnya dan air matanya mulai menetes. Isak tangisnya mulai terdengar nyaring di ruang yang sunyi.

Tangannya secara instingtif kembali diletakkan di atas perutnya. Tangannya bergetar hebat karena rasa terhina kuat di dalam dirinya.

“Jangan benci ayahmu. Ini kesalahan ibu.”

Erika memarahi dirinya sendiri, tentu saja. Wanita itu merasa bersalah dengan Darel dan bayinya. Erika akan berusaha menahan kebenciannya. Dia akan membuat Gideon kembali mencintainya seperti dulu.

Di tempat lain, Darel berbaring nyalang dengan pikiran yang memenuhi benaknya. Ada satu hal yang memenuhi terlalu banyak bagian di dalam otaknya.

Jemarinya saling mengepal. Keinginannya untuk membuat Erika ketakutan sepertinya berhasil. Dari sorot matanya Darel bisa menebaknya.

Pria itu lantas tertawa kecil lalu berlanjut ia tertawa terbahak-bahak dan detik berikutnya ia berhenti karena merasa hampa di hatinya.

“Sial!”

Perasaannya kembali bergejolak marah. Darel langsung berderap meninggalkan ruangan. Emosi yang menyesakkan memenuhi dadanya.

“Terkutuklah wanita itu! Aku tidak akan pernah memaafkannya.”

Darel memacu mobilnya dengan kecepatan gila saat meninggalkan penthousenya. Ia membutuhkan sesuatu untuk melepaskan semua emosinya yang menumpuk.

Darel tidak bisa lagi menamakan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Bukan hanya sekedar marah, benci atau kesal. Mungkin campuran dan semuanya dan bisa jadi lebih buruk lagi.

Darel menekan pedal gas dan melaju cepat menerobos jalan, berseliweran dari jalur ke jalur dengan bunyi klakson yang mengikutinya dari segala arahku.

Ia menerjang lampu merah. Bunyi klakson yang memekakkan telinga serta sorot lampu tajam yang menembus kaca depan mobilnya nyaris membuat tangan Darel membeku di setir.

Untungnya ia sempat membanting setirnya dalam sepersekian detik. Ia menginjak rem tepat pada waktunya, berhenti hanya beberapa senti di depan sebuah tiang listrik yang menjulang.

Darel merasa tuli seketika. Saat kesadarannya pulih, ia baru menyadari kekacauan yang ditimbulkannya.

Klakson berbunyi bersahutan diikuti decitan ban dengan aspal dan sumpah serapah. Darel tidak berhenti lama untuk mendengarkan.

Pria itu memindahkan persnelingnya mobilnya dan memutar setir, mengarahkan mobilnya ke jalanan kembali. Ia menambahkan kecepatan dan melesat pergi.

Tanpa memelankan laju mobilnya, Darel mengetikkan sesuatu di ponselnya. Selang beberapa detik, denting pelan menandakan bahwa ada pesan yang baru masuk ke ponselnya.

Mobil Darel menuju ke hotel.

Darel mungkin seharusnya melakukan hal ini dari sejak ia tahu Erika mengkhianatinya. Ia sangat frustrasi dan menjadi gila.

Ia heran kenapa baru terpikirkan olehnya untuk mencari pelampiasannya di tempat lain. Ia hanya butuh membalaskan dendam.

Ia hanya butuh tubuh untuk menghangatkannya. Ia hanya perlu lubang untuk menghangatkannya, yang bisa melepaskan gairah di dalam dirinya.

Darel menatap bangunan menjulang tinggi dengan nama lain hotel. Pria itu langsung ke meja resepsionis untuk memesan sebuah kamar.

Setelah mendapatkan kunci kamar, Darel langsung menuju kamarnya. Begitu sampai pria itu langsung berdiri di depan jendela yang sengaja tirainya dibiarkan terbuka.

Pria itu lantas menyulut sebuah rokok. Asap mengepul langsung mengelilinginya. Pria itu berdiri di sana. Layaknya pria otoriter.

Pikirannya ia buang entah ke mana. Malam ini, ia ingin melupakannya. Malam ini ia, ingin membuang semua emosinya.

Bunyi ketukan pelan membuatnya memutar tubuhnya secara otomatis. Darel langsung memutar tubuhnya, mematikan rokoknya di asbak.

Lalu pria itu bergerak pelan ke lorong kecil itu untuk membuka pintu bagi tamunya. Langkahnya mantap.

Sosok yang berdiri di depannya terlihat sedikit kaget ketika mendapati siapa orang yang sedang menunggunya.

Berbanding terbalik dengan Darel. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresinya sama sekali sehingga sulit ditebak. Apakah pria itu sedang senang, sedih atau kecewa.

Darel menatap wanita di depannya tanpa berbicara. Hanya menatapnya tajam dan itu sukses membuat aura yang begitu menakutkan di sekitarnya.

Terpopuler

Comments

R.F

R.F

waduh buset

2023-06-22

0

Anis Swari

Anis Swari

mulutnya nggak pernah disekolahin ya???

2023-06-21

0

Vincar

Vincar

kata-katanya pedas kali...

2023-06-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!