Mba Kunti merasakan tubuhnya terasa sakit karena menabrak pagar gaib, ia sampai kerumah Reno ketika hari sudah mulai pagi.
Mba Kunti di kamarnya meringis kesakitan, ia memegangi bagian tubuhnya yang terkena pagar gaib. terlihat di bagian tubuh tersebut memar-memar layaknya tubuh manusia yang masih hidup.
Tanpa Mba Kunti sadari tubuh aslinya juga mengalami hal yang sama, memar seperti yang di alami dirinya.
"Sebenarnya ada apa dengan rumah tersebut? kenapa aku tidak bisa masuk ke sana? Aduh...." tanyanya bingung kepada dirinya sendiri, sambil masih meringis kesakitan.
"Mba, kamu kenapa?" teriak Reno dari luar kamar, yang mendengar rintihan Mba Kunti.
Mba Kunti terkejut, ia segera menyahut. "Aku tidak apa-apa Ren, cuma kepentok ranjang!"
"Oh... Mba Kunti mau makan gak? Sekalian Reno buatkan," ucap pemuda tersebut lagi.
"Tidak usah Ren, Mbak tadi sudah makan bubur!" elaknya agar Reno tidak terus bertanya.
Reno menggembungkan pipinya. "Mba Kunti beli bubur kok gak aja Reno!" keluh pemuda tersebut sambil merajuk ke dapur.
Mba Kunti yang mendengar suara Reno merajuk, ia menghela napas panjang. Hantu wanita itu yakin kalau Reno pasti sedang cemberut. Namun, ia membiarkannya karena rasa sakit yang didapatnya masih sangat terasa, hingga akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat.
...***...
Ke esokan paginya dikediaman Sanjaya, pelayan yang merawat Elisa dibuat histeris ketika melihat wajah dan tangan Elisa melepuh seperti mengalami luka bakar.
"Nona Elisa!" pelayan tersebut berteriak sambil bergegas berlari keluar.
Ayah dan Ibu Elisa sontak saja terkejut ketika mendengar teriakan pelayan, mereka yang sedang ada di meja makan bergegas ke kamar anaknya.
Pelayan yang sedang berlari dengan cemas, ia tidak memerhatikan jalan hingga menabrak majikannya itu.
"Aduh...." Pelayan jatuh kebelakang ketika menabrak Ayah Elisa.
"Kamu ini kenapa Surti! Pagi-pagi sudah berteriak dan berlarian seperti anak kecil saja!" tegur Ibu Elisa.
"Nyo-Nyonya, Non Elisa...." ucap Surti gugup.
Aris Mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan Elisa, Bi Surti? Coba katakan dengan jelas," tanya Aris mencoba menenangkan pelayan rumahnya itu.
"No-Nona Elisa, tubuhnya melepuh!" jawabnya langsung.
"Apa!" seru keluarga itu bersamaan dan langsung berlari ke kamar Elisa dengan di ikuti Bi Surti.
Benar saja, ketika mereka sampai di kamar Elisa, tangan, wajah hingga badannya melepuh, seperti habis terbakar.
Sulastri, Ibu Elisa langsung menitihkan air mata seketika melihat anaknya yang tiba-tiba seperti itu.
Herman Sanjaya, Ayah Elisa juga terlihat sangat sedih melihat anaknya mengalami penderitaan yang tidak ada habisnya.
"Surti, kenapa Elisa bisa jadi seperti ini?!" tanya Sulastri sambil menangis.
"Saya tidak tahu Nyonya, semalam juga Nona tidak apa-apa, tapi saat saya masuk tadi mau membersihkan tubuhnya, saya terkejut melihat luka Nona Elisa," jawabnya tidak berdaya.
Aris tampak memerhatikan luka Elisa yang biasanya didapatkan dari luka bakar, tapi adiknya itu tidak pernah keluar dari kamar sama sekali. Kemudian ia teringat ketika sedang begadang anjing penjaga menggonggong terus-menerus.
"Ayah, apa ini ada hubungannya dengan anjing penjaga yang semalam menggonggong terus-menerus?" tanya Aris memastikan.
Herman mencerna perkataan anaknya, ia juga mendengar gonggongan anjing penjaga, walaupun hanya sekilas saja.
Sulastri buka suara. "Tuan, kata Paijo dan Seno juga anjing penjaga semalam bertingkah aneh, mereka menggonggong sambil menatap tajam ke arah gerbang!"
"Sial, kenapa kamu tidak bilang dari tadi!" bentak Herman kepada pelayannya itu. "Aris, kamu hubungi Pak Sunardi suruh datang kemari!" lanjutnya panik.
"Baik Ayah!" Aris bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Pak Sunardi yang merupakan orang pintar bekingan keluarga Sanjaya.
Bagi para pebisnis di kota Senja, bekerja sama dengan orang pintar itu sudah biasa, karena saingan mereka biasanya mengirim santet ataupun teluh, mengingat kota tersebut masih kental dengan hal-hal yang berbau mistis.
Pagar Gaib yang mengelilingi rumah tersebut juga yang memasang Pak Sunardi dan bawahannya, mereka melakukan hal tersebut untuk mengantisipasi keluarga Sanjaya terkena kiriman santet di rumah.
Sementara Aris menghubungi Pak Sunardi. Herman bergegas menghubungi kantornya, kalau ia tidak bisa datang ke kantor hari ini kepada asistennya.
Sedangkan Sulastri, masih menangis melihat anak perawan nya yang terus-menerus mendapatkan cobaan hidup.
Tidak butuh waktu yang lama untuk Pak Sunardi dan bawahannya datang ke kediaman keluarga Sanjaya. Pria sepuh tersebut bergegas masuk kedalam rumah tersebut, disambut Aris dan Herman yang sudah menunggunya.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku secepatnya, Herman?!" hardik Pria sepuh tersebut seraya tergesa-gesa ke kamar Elisa.
"Maaf Pak, saya kira tadi malam anjing-anjing tersebut hanya kebetulan menggonggong saja," jawab Herman tidak berdaya.
"Hais kamu ini," Pak Sunardi membuka kamar Elisa, terlihat Sulastri yang masih menangis di samping tubuh lemah anaknya itu.
Sulastri menyingkir dari samping anaknya, agar pria sepuh tersebut bisa menyembuhkan Elisa. Namun, ketika Pak Sunardi memeriksa Elisa, pria sepuh itu mengerutkan keningnya, karena tidak ada santet ataupun teluh yang masuk kedalam tubuh gadis tersebut.
"Ini aneh, tidak ada tanda-tanda serangan yang masuk ke tubuhnya," gumam Pak Sunardi.
"Pak, apa maksudnya?" tanya Herman memastikan.
"Herman, ini bukan serangan dari sainganmu, melainkan luka yang didapatnya sendiri, apa kalian yakin kalau Elisa tidak bangun sama sekali?" tanya pria sepuh tersebut memastikan.
"Bagaimana mau bangun Pak, dia saja tidak pernah menggerakkan tubuhnya walaupun hanya sedikit saja," jawab Sulastri sambil menangis.
Pria sepuh tersebut menghela napas panjang, ia menatap tubuh Elisa yang mengalami luka bakar. Pak Sunardi mencoba lebih intens mendeteksi sebenarnya apa yang telah terjadi dengan putri Herman.
Sayangnya mau ia memeriksanya seperti apa juga tidak mendapatkan petunjuk apapun, pria sepuh itu belum menyadari kalau sejak awal roh Elisa tidak berada dalam tubuhnya.
...***...
Sementara itu siang harinya ketika Reno pulang dari ladang sesudah membereskan ladangnya. Ia seperti biasa mandi terus masak mie instan di tungku buatan neneknya.
"Ren, kamu sudah pulang?" seru Mba Kunti dari dalam kamar.
"Sudah, Mba Kunti dari pagi didalam kamar terus kenapa?" sahut pemuda tersebut dari dapur.
"Mba gak enak badan Ren," jawabnya jujur.
Seketika Reno langsung berlari ke kamar Mba Kunti, terlihat sosok yang beberapa hari ini telah membantunya dalam menjalani kehidupan sedang berbaring tidak berdaya dengan luka bakar yang sama seperti Elisa.
"Astaga, Mba Kunti kepentok ranjang kok bisa seperti ini?" tanya Reno sambil memegang tangan Mba Kunti.
Mba Kunti hanya tersenyum. "Nanti juga sembuh Ren."
Reno bergegas memasak air dan membuatkan air hangat untuk Mba Kunti. Anehnya ketika Reno melakukan hal tersebut, hantu yang seharusnya tidak bisa dikompres atau semacamnya, semua itu bisa dilakukan Reno. Pemuda tersebut merawat Hantu wanita itu layaknya manusia yang masih hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Kardi Kardi
gantian rawatlah kng renooo
2023-05-23
3
Red Ant
👍👍👍hebat juga si koplak bisa berinteraksi dengan kunti👍👍👍
2023-05-16
3