Ibu penjual pakaian mengamati sekitar Reno, tapi walaupun banyak orang berlalu lalang tidak ada sama sekali seseorang yang tampak sedang ngobrol dengannya.
"Jadi Mas pilih yang mana?" tanya Ibu penjual pakaian lagi.
Reno menoleh ke arah Mba Kunti, sosok tersebut yang tidak ingin Reno di sebut orang gila, ia menunjuk dua baju dan dua celana jeans yang ada didepannya.
Reno mengangguk mengerti. "Aku ambil ini sama ini, Bu," ucapnya menunjuk apa yang ditunjuk Mba Kunti.
Ibu penjual pakaian melirik kearah yang dilihat Reno, tapi ia benar-benar tidak melihat siapapun di sana, sehingga wanita paruh baya itu hanya bisa menghela napas tidak berdaya.
"Ini Bu uangnya," Reno menyerahkan dua lembar uang limpa puluh ribu perak.
"Mas, harga satu Jeans saja seratus ribu perak, masnya beli dua jeans sama dua baju, jadi jumlahnya tiga ratus ribu perak," ucap Ibu penjual pakaian menegaskan.
"Eh... jadi kurang yah, Bu?" Reno bergegas mengambil uang lagi dikantong kreseknya, ia mengambil tiga lembar uang seratus ribu perak dan menyerahkan semuanya ke Ibu penjual pakaian.
Ibu penjual pakaian menghela napas. Ia mengembalikan seratus ribu kepada Reno. "Mas, kalau tidak bisa menghitung lebih baik ajak seseorang untuk membantu Mas, kalau penjualnya tidak jujur, uang Masnya bisa habis loh," tegur wanita paruh baya itu dengan bijaksana.
"Reno juga sama se...." tiba-tiba Reno terdiam ketika Mba Kunti membekap mulutnya.
"Sudah jangan banyak bicara, ayo kita pulang!" bisik Mba Kunti.
Reno mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ibu penjual pakaian lagi-lagi dibuat bingung oleh sikap Reno yang terlihat aneh. Namun, ia membiarkannya, yang penting Reno membayar belanjaannya.
Reno dan Mba Kunti pun pergi dari sana, mereka berdua keluar dari pasar, dengan Reno yang membawa begitu banyak barang belanjaan.
Ketika mereka keluar dari pasar, tukang bentor menghampiri Reno. "Mas, mau naik bentor ku?" tawarnya sopan.
"Jangan, ini milik Reno!" pemuda tersebut terlihat memeluk semua belanjaannya.
Tukang bentor mengernyitkan dahi. "Iya Mas, aku juga tahu itu milik kamu, Masnya mau naik bentor ku tidak?"
Mba Kunti bergegas berbisik kepada Reno. "Dia hanya mau membantu, sudah ikut saja."
Reno menatap tukang bentor tersebut. "Kamu tidak jahat kan? Kata Nenek, aku harus hati-hati dengan orang baru," ucapnya pongah.
"Astaga Mas, mana ada aku jahat? Memangnya tampang aku seperti kriminal?" tanyanya memastikan.
"Kriminal itu apa?" jawab Reno pongah.
"Astaga, Masnya hidup dimana sih? Kriminal saja tidak tahu, jadi mau ikut bentor ku tidak?!" tawar pria itu lagi sedikit kesal.
Mba Kunti memegang kepala Reno dan menganggukkannya, pemuda tersebut kesal, ia menoleh ke Mba Kunti, tapi sosok tersebut melotot padanya, sehingga membuat nyalinya langsung menciut.
Tukang bentor dengan semangat menaikkan belanjaan Reno ke bentor nya. "Ayo Masnya Naik!"
Reno melihat Mba Kunti, hantu tersebut mengangguk, pemuda itu pun naik Bentor. Setelah semua barangnya sudah naik, mereka pun langsung meninggalkan pasar kota Senja.
Tukang bentor menanyakan rumah Reno dimana, walaupun dengan jawaban yang tidak jelas, tapi dengan sabar tukang bentor akhirnya tahu kalau Reno merupakan warga kampung Seronok.
Melihat Reno yang pulang dengan membawa berbagai belanjaan, warga yang melihatnya sontak saja terheran-heran, pasalnya mereka tidak pernah lihat pemuda tersebut memiliki uang, apalagi sampai ke pasar.
"Eh... lihat itu bukannya si Koplak?!" seru salah satu warga.
"Lah iya, itu si koplak! Dia sudah waras bisa belanja?" timpal temannya.
"Bener juga yah, emangnya dia sudah tidak idiot lagi?"
Kedua warga yang melihat Reno, mereka semua jelas saja bingung, karena selama ini tidak ada yang pernah melihat Reno keluar dari rumah selain ke ladang atau kuburan Neneknya. Mereka semua bertanya-tanya apakah Reno sudah sembuh dari keterbelakangan mentalnya atau tidak.
Para warga tidak tahu saja kalau ada sosok yang membantunya selama ia pergi berbelanja. Mereka yang penasaran mengikuti Reno yang pulang dengan berbagai belanjaan kebutuhan pokok.
Setelah sampai didepan rumah Reno, bentor berhenti kemudian Reno dan tukang bentor menurunkan semua belanjaan pemuda tersebut.
"Terimakasih Mang!" ucap Reno seraya masuk kedalam rumah tanpa memberikan ongkos sama sekali.
Tukang bentor tersenyum, ia mengira kalau Reno masuk kedalam mau mengambilkan ongkos, tapi setelah menunggu lama pria tersebut tidak kunjung keluar juga.
Mba Kunti yang langsung masuk ke dalam kamar, karena memikirkan sepotong ingatan yang dilihatnya ketika di pasar, ia lupa memberitahu Reno suruh memberikan ongkos kepada tukang bentor tersebut.
"Mas Woi! Kamu sedang boker apa ngapain, lama amat?!" teriak tukang bentor.
Mba Kunti yang mendengar teriakan tukang bentor mengerutkan keningnya, ia bergegas keluar dari kamar. Hantu tersebut kebingungan saat melihat tukang bentor yang tampak mulai geram.
"Astaga, jangan-jangan Reno belum memberinya ongkos?" gumamnya lirih sambil bergegas mencari Reno yang sedang berada di dapur sedang menyalakan api di tungku.
"Reno, kamu belum bayar ongkos tukang bentor?!" tegur Mba Kunti.
Pemuda polos itu menggelengkan kepalanya. "Memangnya harus yah, Mba?" tanyanya pongah.
Mba Kunti menghela napas tidak berdaya, ia langsung merasuki Reno untuk mengurus kesalahpahaman tersebut.
Sosok tersebut membawa uang lima puluh ribu perak ditangannya. "Maaf mang lama, tadi aku kebelet banget, itu buat mamang semuanya saja."
Tukang bentor yang melihat uang lima puluh ribu perak, ia mau marah tidak jadi, malah tersenyum simpul. "Tidak apa-apa mas, terimakasih Mas!" jawabnya sambil berlalu pergi meninggalkan rumah Reno dan membawa bentor nya.
Dua warga yang sedang mengawasi Reno tentu saja terkejut, mereka berdua tidak percaya Reno terlihat seperti orang normal saja.
Mba Kunti yang melihat kedua orang tersebut ia tersenyum dan menghampirinya. "Apa lihat-lihat? Ada yang salah denganku?!" hardiknya dengan suara tegas.
Kedua orang itu menganga lebar, menatap tidak percaya kalau pria idiot yang selama ini mereka kenal ternyata sudah sembuh, pikir mereka dalam hati.
"Ti-Tidak Koplak, aku hanya kebetulan lewat!" pria tersebut langsung lari tunggang langgang, begitu juga dengan pria satunya.
"Hahahaha... dasar-dasar orang-orang gak tahu malu!" dengus Mba Kunti sambil berjalan masuk ke rumah.
Selagi ia masih merasuki Reno, Mba Kunti memasakkan Reno Mie rebus di campur telur dengan ukuran jumbo, karena ia tahu porsi makan Reno besar.
Setelah selesai ia keluar dari tubuh Reno dan mempersilahkannya untuk makan Mie rebus buatannya.
"Tuh sudah aku masakkan, kamu makan," perintah Mba Kunti yang berlalu ke kamar kembali.
"Mba Kunti tidak makan?" teriak Reno karena sosok tersebut sudah masuk dalam kamar.
"Aku sudah makan, buat kamu saja!" sahutnya dari kamar.
Reno dengan lahap memakan mie rebus tersebut. Sementara Mba Kunti masih sibuk memikirkan potongan ingatan yang di lihatnya.
"Lebih baik nanti malam aku ke sana lagi, untuk mencari tahu siapa aku sebenarnya!" gumam Mba Kunti yakin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Kardi Kardi
mangan no. mangan kang renooooo
2023-05-23
3
arya saputra
thur..sblmnya ktanya mbk kunti gak bisa pegang cuma bisa ngerakin benda di skitar dgan fokus..tpi di bab ni kok bisa masakin mi rebus bwat koplak za..☺☺☺☺
2023-05-17
3
Miptah Grab
lanjut lah thor java system gk ada jg gk apa tpi si koplak lanjutkan
2023-05-16
5