Reno masih menangis terisak karena semua ketela nya ada yang memanen, karena itu semua cadangan makan untuknya, mengingat pemuda tersebut tidak bisa bekerja selain menanam ketela.
Dari kejauhan, terlihat ada tiga orang yang sedang tertawa senang melihat Reno menangis.
"Hehehe... Koplak pasti tidak akan tahu kalau kita yang melakukannya, lumayan hasilnya buat maen Slot," ucap Pria botak.
"Jelas dia tidak akan tahu sama sekali, mana ada orang idiot sepertinya bisa mencari tahu, untuk berpikir saja lemot! Hahahaha...." timpal pria cungkring sambil tertawa senang.
"Benar itu, lebih baik kita pergi dari sini, dan habiskan uang ini, hahahaha...." pria bertubuh gempal ikut tertawa.
Mereka bertiga pun pergi dari tempat tersebut, mereka tidak menyadari ada sosok yang mengawasi mereka.
Mba Kunti yang merasa janggal dengan kerusakan ladang Reno, ia mencari tahu siapa yang telah melakukannya dan benar saja sosok tersebut menemukan ketiga orang tersebut yang sedang menertawakan Reno.
"Tubuh saja manusia, tapi hati kalian melebihi binatang! Awas saja akan kuberikan kalian pelajaran karena telah berani membuat Reno menangis!" gumam Mba Kunti kesal, sambil terbang kembali ke Reno.
Pemuda keterbelakangan mental tersebut masih menangis sambil mengumpulkan batang-batang ketela ke satu tempat.
Melihat Reno yang seperti itu, Mba Kunti benar-benar merasakan sakit seperti apa yang Pemuda tersebut rasakan.
Mba Kunti tidak seperti hantu penasaran pada umumnya yang seharusnya tidak memiliki perasaan lagi kepada dunia. Sosok tersebut layaknya orang yang masih hidup, bisa merasakan sedih dan bahagia orang yang masih hidup.
Sebab itulah Mba Kunti sangat memahami perasaan Reno, entah itu semua karena apa, mungkinkah karena sosok tersebut masih mencari jasadnya?
Tangis Reno mulai mereda, walaupun masih sedikit sesenggukan, ia tetap bekerja untuk menanam kembali batang ketela setelah memotongnya sekitar tiga puluh sentimeter, ia menyangkut tanah dan menanami semua lahan tersebut.
Mba Kunti hanya menghiburnya dengan kata-kata manis yang biasa digunakan untuk menyenangkan seorang bocah.
"Kamu ini pandai sekali bertani Ren," puji Mba Kunti.
"Iya dong, ini berkat Nenek yang mengajari Reno agar bisa bertani untuk bertahan hidup," jawabnya sambil menanam batang-batang ketela ditanah uang sudah ia cangkul.
"Ren, kenapa kamu tidak lapor masalah ini ke Pak RT, atau tetangga kamu?" tanya Mba Kunti lagi.
Reno langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, mereka semua jahat, pasti mereka malah mengejek Reno," jawabnya tidak berdaya.
Mba Kunti menghela napas tidak berdaya, ternyata begitu nista kehidupan Reno.
Sudah tidak memiliki siapa-siapa, bahkan sosok pejabat desa yang seharusnya membantu orang-orang seperti Reno malah mengabaikannya begitu saja. Mba Kunti kini sadar kalau orang-orang seperti Reno memang sulit mendapat perlindungan jika bukan dari mereka yang tulus ingin membantunya.
"Ren, kita pulang yuk," ajak Mba Kunti ketika sinar mentari mulai sangat terik, menandakan kalau hari sudah siang.
"Sebentar lagi Mba, ini tanggung," jawabnya sopan.
Mba Kunti hanya bisa melihat tangannya yang transparan, ia mencoba memegang batang ketela, tapi tidak bisa juga.
Sosok tersebut padahal ingin membantu Reno, tapi boro-boro bisa membantunya, memegang benda saja ia tidak bisa.
"Kenapa aku harus bertemu dengannya, kalau aku tidak bisa membantunya sama sekali?" gerutu Mba Kunti kesal dengan dirinya sendiri.
"Mba Kunti, aku sudah selesai, ayo kita pulang!" ajak Reno sambil tersenyum.
Mba Kunti mengangguk, mereka berdua pulang ke rumah, lewat pintu belakang, karena Reno tidak mau bertemu dengan warga lainnya, takut di olok-olok oleh mereka lagi.
...***...
"Ren, nanti kamu makan apa kalau ketela nya habis?" tanya Mba Kunti memastikan, ketika pemuda tersebut sedang berganti pakaian sesudah mandi.
"Tidak tahu Mba, nanti aku cari buah-buahan di hutan kayaknya," jawab Reno tidak pasti.
"Hutan? Bukankah itu bahaya?" cecar Mba Kunti.
Reno keluar dari kamarnya sambil tersenyum pongah. "Asal bisa makan dan hidup sampai aku mewujudkan cita-cita ku, tidak apa bahaya juga," jawabnya percaya diri.
Mba Kunti tersenyum getir, ia sangat yakin kalau Reno pasti tidak tahu bagaimana bahayanya didalam hutan.
Sosok tersebut menatap Reno yang menghampiri dapur, kemudian kembali menyantap ketela yang ia masak tadi pagi.
Melihat Reno yang memakan itu terus menerus, hantu wanita itu merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ren, aku pergi dulu mau kerja yah," pamit Mba Kunti.
"Kerja? Oh... Mba Kunti kerja di kantor yah, makanya berangkat siang?" tanyanya pongah.
Hantu tersebut menghela napas berat. "Iya, kamu di rumah saja, tutup semua pintu sampai aku kembali!"
Reno hanya mengangguk patuh, sosok tersebut kemudian terbang meninggalkan rumah sederhana pemuda tersebut.
Mba Kunti bermaksud mencari ketiga orang yang telah mencuri Ketela di ladang Reno, ia bersumpah akan memberikan mereka pelajaran.
...***...
Tidak butuh waktu lama, Mba Kunti sampai ditempat ketiga orang tersebut yang sedang berada disebuah gudang tempat para penjudi berkumpul di sana.
"Tempat kotor seperti ini harusnya dibersihkan!" gerutu Mba Kunti ketika sampai di sana.
Namun, ketika ia melihat ada beberapa pejabat kampung tersebut juga ikut berjudi sambil memakai seragamnya. Sosok hantu wanita itu tampak sangat geram.
Pantas saja jika Reno terus dirundung warga kampung Seronok, pejabatnya saja tidak mencerminkan seorang yang bertanggung jawab.
Ketika Mba Kunti sangat marah, tiba-tiba lampu yang menyinari tempat tersebut berkedip-kedip. Tempat yang seharusnya tidak ada angin besar masuk, tiba-tiba saja ada hembusan angin besar di sana, membuat semua kartu dan uang judi berhamburan.
"Ada apa ini?" tanya salah satu dari mereka sambil memegangi uangnya.
"Sial, padahal tadi pagi aku sudah ditakuti jurig, masa lagi sih?" gerutu pejabat yang tadi pagi masuk ke rumah Reno
"Apa maksudmu Warno?" tanya rekannya.
Bruak
Arghh
Ketika salah satu pejabat bertanya kepada Warno, pejabat yang tadi pagi ke rumah Aditya. Tiba-tiba saja pria botak pencuri ketela Reno terhempas hingga menabrak dinding.
Sontak saja hal tersebut membuat semua orang yang ada didalam sana terkejut, karena pria botak seolah didorong dengan sangat kuat.
Duak
Aduh
Pria cungkring tertampar oleh sebuah kursi yang tiba-tiba terbang ke arahnya, pelipisnya pun langsung bocor, hingga darah menutupi sebagian wajahnya.
Salah satu dari mereka bergegas ke pintu, berusaha untuk melarikan diri, tapi sayangnya Mba Kunti langsung menyerang mereka yang pergi ke arah pintu.
Sosok hantu tersebut baru menyadari kalau dirinya bisa menggerakkan benda apapun yang ia mau jika sedang marah menggunakan pikirannya, lebih tepatnya energi spiritual yang meluap keluar dari dalam tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ikawati Ikawati
kayaknya si kunti koma deh, makanya g ingat sudah mati apa blm, suka ceritanya thor
2023-08-12
0
Surya Yudhi
cermin di kehidupan nyata
2023-08-11
0
Laila Zayn
sampai sini bacanya sya suka..... tata bhsanya bagus dan cpt dimengerti. good author 👍🏻
lanjut baca aaahh......
2023-06-18
3