Ketika Mba Kunti sedang duduk diatas pohon, arwah Nenek Reno yang belum genap empat puluh hari muncul didekatnya dan duduk di sampingnya.
"Terimakasih sudah mau menghibur cucuku," ucapnya lembut.
Mba Kunti menggendikkan bahu. "Aku cuma kebetulan melihatnya saja, kenapa anda tidak menghiburnya sendiri, bukankah anda masih memiliki waktu beberapa hari lagi sebelum ke alam Barzah?" tanyanya memastikan.
Sang Nenek terdengar menghela napas berat. "Dia tidak seperti orang pada umumnya, jika aku muncul lagi yang ada dia malah tidak akan bisa melupakan ku. Sebentar lagi aku sepenuhnya pergi dari kehidupannya, entah bagaimana nasib dia nanti tanpa diriku," ucapnya sedih.
"Memangnya Reno tidak memiliki siapapun lagi di rumah?" tanya Mba Kunti penasaran.
Sang Nenek menggelengkan kepalanya. "Tidak ada siapa-siapa lagi yang menjaganya, sementara dia masih seperti anak kecil."
Mba Kunti entah kenapa ikut sedih mendengar cerita dari Nenek Reno, padahal tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.
Nenek Reno menceritakan semua tentang anak itu, bagaimana kebiasaan ketika sedang bermanja dengannya, bertingkah sok kuat, hingga saat Reno yang sesekali terlihat dewasa.
Mba Kunti yang sudah lama tidak bertukar cerita dengan orang lain, ia cukup senang bisa mengobrol dengan Nenek Reno.
"Bisa kah kamu bantu Nenek untuk menjaga Reno? Aku lihat kamu tidak seperti kami yang setelah empat puluh hari dipanggil ke alam Barzah," mohonnya lembut sambil memegang tangannya.
"Tapi Nek... saya cuma hantu, apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?" tanyanya bingung.
Sang Nenek tersenyum. "Cukup menghiburnya saja saat dia sedang sedih, itu sudah cukup buatnya," jawabnya lembut.
Mba Kunti menghela napas. "Iya nanti aku coba, daripada tinggal di sini juga, lebih baik tingga di rumah Nenek."
"Terimakasihnya banyak, tolong jaga cucuku baik-baik," ucap sang Nenek seraya meninggalkan Mba Kunti seorang diri.
Mba Kunti hanya bisa memandang roh wanita tua itu pergi dari sampingnya dan masuk kembali ke makamnya.
Roh Mba Kunti dan Nenek Reno itu berbeda. Mba Kunti tidak tahu dimana jasadnya berada karena itulah ia tidak bisa pulang dan pergi ke alam Barzah, bisa disebut juga dengan hantu penasaran.
Sedangkan Nenek Reno merupakan roh yang sudah di takdirkan untuk menghadap yang maha kuasa, karena itulah beliau bisa pergi ke alam Barzah.
...***...
Sementara itu di rumah Reno, pemuda tersebut sedang menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Reno sangat senang karena ini pertama kalinya ia memiliki teman, sehingga tidak bisa tidur seperti biasanya. Pemuda tersebut sangat bersemangat dan berharap agar cepat siang untuk menemui Mba Kunti lagi.
Ketika Reno sedang menatap langit-langit, tiba-tiba terlihat Mba Kunti yang sedang duduk di atas lemari.
"Mba Kunti? Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya pongah sambil bergegas duduk.
Mba Kunti tersenyum. "Aku mau tinggal di rumah kamu saja, apa boleh?" tanyanya lembut.
"Eh... ti-tidak boleh! Kata Nenek, lelaki dan perempuan itu tidak boleh tinggal bersama sebelum menikah!" jawabnya percaya diri.
Mba Kunti tersenyum kecut. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi saja dan kita tidak usah berteman."
"Eh, jangan dong! Oke, Mba Kunti boleh tinggal di sini, tapi Mba Kunti pakai kamar Nenek, bagaimana?" usulnya mantap.
Mba Kunti tersenyum simpul, ia menganggukkan kepalanya.
Reno sangat bersemangat. Pemuda tersebut menyuruh Mba Kunti turun dari lemari dan membawanya ke kamar Neneknya, walaupun memiliki keterbelakangan mental, tapi untuk masalah merawat rumah Reno ahlinya, karena itulah rumahnya yang sederhana itu tampak sangat bersih.
"Mba Kunti tidur di sini, kalau siang jangan keluar rumah, nanti di kiranya Reno macam-macam dengan Mba Kunti," ucap pemuda tersebut mengingatkan.
"Iya, aku tahu itu, tapi kita macam-macam juga boleh," goda Mba Kunti sambil menaik turunkan alisnya.
"Tidak!" Reno seketika berlari dari kamar tersebut dan kembali ke kamarnya.
Mba Kunti terkikik geli melihat Reno yang lari ketakutan. Hantu wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh arti.
"Setidaknya sekarang aku tidak nangkring diatas pohon terus, Ah... sudah lama banget aku tidak merasakan rebahan di kasur," ucapnya sambil membaringkan tubuhnya di kasur bekas Nenek Reno.
Sementara itu dikamar Reno, pemuda itu juga sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memeluk guling, sebelum akhirnya ia terlelap di kamarnya.
...***...
Ke esokan harinya....
Reno yang sudah biasa bangun pagi ia sudah mandi dan mencuci pakaiannya, karena kebiasaan itu yang selalu di ajari Neneknya. Setelah itu ia langsung memasak ketela yang yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.
"Kamu cuma makan ini?" tanya Mba Kunti yang tiba-tiba muncul di dapur.
"Hehehe... Iya, aku gak punya duit, jadi kata Nenek makan ketela juga bagus," jawabnya enteng.
Mba Kunti seketika langsung sedih, ia merasa kalau hidup pemuda yang ia jaga tersebut terlalu menyedihkan, sudah hidup sebatang kara hari-hari hanya makan ketela yang ada di kampungnya.
Tok... Tok....
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat Reno dan Mba Kunti menoleh seketika.
"Koplak, buka pintunya!" teriak orang yang mengetuk pintu.
Seketika wajah Reno memucat, ia langsung duduk sambil memegangi kakinya dengan tubuh gemetaran.
Mba Kunti yang melihat itu mengerutkan keningnya, karena tiba-tiba saja Reno yang tadi tampak bahagia sangat ketakutan.
"Kamu kenapa Reno?" tanya Mba Kunti penasaran.
"Orang itu jahat, dia mau mengambil ladang Nenek," ucapnya masih dengan ketakutan.
Mba Kunti terkejut dengan perkataan Reno, ternyata ada juga orang yang berani memanfaatkan kondisinya yang seperti sekarang.
"Koplak, jangan pura-pura tuli kamu! Cepat buka pintunya!" teriak orang tersebut lagi lantang.
Mba Kunti menyeringai. "Kamu tetap di sini, biar aku yang menghadapi mereka," ucapnya percaya diri.
Mba Kunti langsung terbang ke pintu depan, sementaranya Reno bergegas bersembunyi sambil mengintip dari celah-celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu tersebut. Walaupun takut ia juga ingin melihat apa yang akan dilakukan Mba Kunti.
"Koplak buka pin...."
Krieettt
Orang tersebut belum selesai bicara, pintu sudah terbuka. Ia menyeringai karena menurutnya Reno sudah menyerah kepadanya, sehingga berani membuka pintu.
"Akhirnya kamu mau mengerti juga Koplak, cepat berikan berkas ladang Nenek kamu, nanti aku berikan kamu uang," ucapnya percaya diri sambil memasuk ke dalam rumah.
Tidak ada suara sama sekali yang menyahut dari dalam rumah, sehingga membuat pria tersebut mengernyitkan dahi.
Angin dingin tiba-tiba berhembus, membuat bulu kuduk orang tersebut merinding.
Braakk
Pintu tertutup sendiri dengan keras. Pria tersebut tersentak kaget, ia menatap ke arah Pintu sambil menelan ludah. Rasa percaya dirinya yang tadi menggebu-gebu kini berubah menjadi rasa takut yang mulai menyelimuti tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
wkwkwk mbak kunti nya agresif
2023-08-31
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
kazian ya ama mbak kunti, seperti kehilangan arah
2023-08-31
0
wahyu wibowo
preman takut hantuuu🤣🤣🤣🤣
2023-06-04
1