BAB 20 - Usai Kepergian.

Zora pikir dengan kepergian dirinya maka masalah akan mereda. Ya, mereda memang. Tidak ada lagi pertikaian yang terjadi karena kecemburuan akibat Lucas melihat kebersamaan ayah dan ibu tirinya. Namun, yang menjadi masalah kali ini adalah mental Lucas yang justru terpukul dengan kepergiannya.

Begitu tahu Zora menghilang, dia tertekan. Awalnya dia pikir jika Zora tidak diperkenankan keluar seperti kemarin-kemarin. Namun, begitu sadar bahwa sang ayah panik dan meminta semua orang bergerak mencari mencari sang istri, baru Lucas sadar jika Zora benar-benar pergi.

Julian mengerahkan orang-orangnya mencari Zora. Namun, hingga satu minggu berlalu memang tidak ada titik terang. Zora tidak pamit pada Lucas, tapi dia menuliskan pesan di selembar kertas yang dia letakkan di atas nakas.

Harusnya dari secarik kertas itu sudah menjelaskan bahwa Zora bermaksud mengakhiri hubungan yang terlampau rumit itu. Dia tidak ingin dicari, tidak akan pernah kembali dan juga Zora tidak peduli sekalipun Julian akan menghabisi nyawa ayahnya.

Kendati demikian, Julian tidak peduli dan masih terus mencari keberadaan istrinya. Sementara di sisi lain, Lucas juga melakukan hal yang sama dengan caranya sendiri. Meski Zora sama sekali tidak memberikan pesan apapun padanya, tapi tetap saja Lucas beranggapan jika kepergian Zora justru bermaksud menunggunya di tempat yang berbeda.

Tidak ada pertikaian di kediaman Julian, karena keduanya sadar saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Sudah begitu banyak tempat yang Lucas datangi, walau tahu Zora wanita baik-baik, Lucas sempat mendatangi club malam.

Sudah pasti dia memiliki tujuan lainnya. Sebagaimana kesepakatannya bersama Julian, mereka akan menenangkan diri dengan cara masing-masing, berkaca dan saling merenungi kesalahan dengan perginya Zora.

Ya, dia tahu ini adalah salahnya. Dan hal itulah yang menjadi penyebab Lucas semakin gila pasca ditinggal Zora. Pupusnya cita-cita untuk bersatu lebih mudah dengan jalan pintas yang kerap dikatakan teman-temannya, ternyata omong kosong belaka.

"Dia benar-benar pergi ... apa karena pernah kuajari?"

Lucas menatap sendu tembok bisa dia tatap dari balkon kamarnya. Mata pria itu mengembun, membayangkan bagaimana Zora benar-benar melewati tembok itu tanpa bantuan.

Tubuh mungil dan suara indahnya kemarin begitu jelas terbayang, jika tahu dia akan pergi mungkin Lucas sama sekali tidak akan bercerita panjang lebar tentang kisah masa kecilnya.

Kembali, dia meratapi penyesalan dan mengutuk dirinya yang terlambat pulang. Apapun keadaannya, semua adalah salahnya, Lucas beranggapan seperti itu tanpa akhir.

Lucas larut dalam kesedihan, dia mencoba melakukan banyak cara untuk sedikit lebih tenang. Lucas yang dahulu betah di rumah mulai lancang keluar dan merusak tubuhnya secara pelan-pelan.

Semakin hari, kondisinya semakin menjadi dan perubahan Lucas tidak lepas dari pengawasan ayahnya. Sejak satu bulan kepergian Zora, mereka belum pernah lagi makan di satu meja, tepatnya Lucas yang tidak pernah.

Dia lebih memilih kamar sebagai tempat persembunyian, sekalipun keluar dia akan pergi untuk waktu yang lama entah kemana tujuannya. Pergi pagi, pulang juga pagi bahkan berhari-hari tidak pulang.

Dia kacau, persis seperti kala kehilangan ibu dan kekasihnya. Tidak hanya Julian yang menyadari kehancuran sang putra, asisten Mike juga sama. Tidak jarang dia menerima laporan Lucas merenung di trotoar seakan menunggu seseorang.

Tida hanya itu, beberapa kali dia juga kerap tertangkap memeluk wanita yang tidak dia kenal secara tiba-tiba dan berakhir dipukuli. Anehnya, kejadian itu tidak membuat Lucas berhenti, dia akan mengulangi kegiatannya esok hari.

"Ada berita apa, Mike? Tentang Zora?"

Jawaban asisten Mike masih sama, dia menggeleng pelan dan menyerahkan foto-foto dari seseorang yang diminta mengikuti Lucas. Pria itu menghela napas perlahan, sungguh membingungkan.

"Anak ini ... apa tidak sebaiknya kita masukkan ke rumah sakit jiwa saja, Mike?" tanya Julian melirik asisten pribadi yang begitu setia bersamanya selama bertahun-tahun.

"Tuan muda tidak gila, Tuan, dia hanya tertekan karena kehilangan nona Zora, terlebih lagi ada anak di dalam kan_"

"Tidak perlu kau jelaskan, aku tahu itu," jawabnya sembari memerhatikan foto-foto Lucas, sembilan tahun berlalu dan dia kembali seperti dahulu.

"Atau tidak datangkan psikiater atau semacamnya, otak anak itu tidak beres sepertinya," ujar Julian kemudian mengembalikan semua foto yang baru saja asisten Mike dapatkan.

"Saya rasa ... dia hanya membutuhkan nona Zora, Tuan."

"Ck, anak itu benar-benar membuatku sakit kepala ... kenapa juga bisa tertarik pada istriku," gerutu Julian yang membuat asisten Mike memutar bola matanya malas.

"Istri Tuan secantik itu, bagaimana dia tid_ ah maaf, Tuan."

Sedikit lancang, tapi asisten Mike hanya mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Zora memang cantik, mustahil jika Lucas tidak tertarik. Terlabih lagi wanita itu lebih muda dari Lucas, jelas saja dia terpikat.

"Aku tahu, maka dari itu aku memilih Zora agar Lucas betah."

"Berarti Tuan paham resikonya, kenapa bisa Tuan izinkan?" tanya asisten Mike bingung sendiri, layaknya seekor kucing dihidangkan ikan, jelas saja diterkam.

"Aku tidak mengira Lucas akan sejauh itu dalam bertindak, Mike ... sampai hamil, dan mirisnya Zora juga menerima Lucas."

Untuk masalah itu sejak awal asisten Mike sudah menduga hal semacam itu akan terjadi. Lambat laun pasti, hanya saja ketika asisten Mike membahas masalah itu, Julian seakan menolak dan meminta agar asisten Mike tidak berpikir macam-macam.

.

.

Ayahnya mulai berpikir mencari seorang psikiater yang bisa menolong Lucas. Sementara kini, seseorang yang dianggap gila bahkan hendak dimasukan ke rumah sakit jiwa itu sama sekali tidak merasa jika dirinya gila.

Tidak, dia sangat baik-baik saja menurutnya. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah Zora dan anaknya, Lucas yang selalu tenggelam dalam lamunan ketika berada di atas tempat tidur itu kembali menangis dengan mata terpejamnya.

"Kembalilah, Zora ... mau kau bawa kemana anak kita." Hanya itu kata yang Lucas ulang-ulang, hampir setiap menit.

Perlahan Lucas merogoh ponselnya, berharap akan ada kabar baik setelah di sana. Dia tersenyum miris, bagaimana bisa dia mendapatkan kabar baik, jika ponsel Zora saja tertinggal di kamar ayahnya.

Setega itu Zora jika sudah bertindak, mungkin tengah membalas keegoisannya yang membuat Zora terperosok ke dalam lubang petaka. Sejak awal Zora sudah menolaknya, tapi Lucas yang memiliki kepercayaan diri akan mampu membawanya pergi dari gerbang neraka, nyatanya justru mendorong Zora semakin dalam.

"Bagaimana kabarmu? Sayangku Zora ... jangan lupa makan ya, bayi kita butuh nutrisi."

Lucas tersenyum simpul usai mengirim pesan suara untuk Zora, tanpa balasan, bahkan Lucas tidak tahu dibuka atau tidak yang jelas dia mengirimkan pesan itu hampir setiap hari.

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾

◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾

lucas jangan terlalu terpuruk gitu. nanti zora sedih

2023-06-17

3

Nci

Nci

Kamu pergi dibawa kemana sama dewa penolongmu Zora. Semoga kehamilanmu berlanjut dan baik-baik aja..
Lucas sangat terpuruk kamu tinggalkan sama halnya ketika pacar sebelumnya meninggalkan untuk selamanya karena kecelakaan.

2023-06-07

2

👁️‍🗨️eHa🦄

👁️‍🗨️eHa🦄

😭😭😭😭😭😭😭😭😭

2023-06-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!