"Hanya dengan ini permainan kita menemukan titik terang."
Lucas tidak bisa memastikan kapan sandiwara mereka akan berlangsung. Dia yang takut kehilangan sosok Zora hanya berpikir bagaimana cara agar wanita itu menjadi miliknya, itu saja.
Andai pun Zora tidak memiliki ketertarikan untuk bersama ayahnya, tapi Lucas tidak bisa lagi menunggu terlalu lama. Ayahnya memang sudah tua, tapi belum tentu berakhir dalam waktu dekat.
Cukup mudah bagi Lucas untuk meluluhkan pertahanan Zora. Wanita itu tidak pernah diperlakukan lembut oleh laki-laki lain, tangan yang menyentuhnya hanya menyakiti Zora, baik ayah maupun suami tuanya itu.
Melihat Zora yang mulai terbuai, Lucas semakin menjadi dan berkuasa dengan dua buah sintal milik Zora. Wanita itu melenguh, setelah kemarin pertahannya lemah ketika diajak menjalin hubungan, kini perbuatan terlarang yang tidak seharusnya juga turut melemahkan Zora.
"Lucas ... aku takut, kalau ketahuan bagaimana?"
Zora masih bertanya, padahal Lucas dapat merasakan bagian intinya sudah basah terbawa suasana. Zora berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka akibat perbuatan Lucas, tapi percuma juga karena secepat mungkin Lucas menepisnya dengan sengaja.
"Tidak akan ... kau tenang saja," ucap Lucas kembali membungkam Zora dengan cara yang berbeda.
Tidak dengan telapak tangan atau bibirnya, melainkan Zora sendiri yang menutup mulut agar desahannya tak lolos kala jemari Lucas berkuasa di bawah perutnya.
Zora terpedaya, dia terbuai asmara dan tidak dapat berbohong jika dirinya memang menginginkan sentuhan Lucas. Tidak ada yang salah dengan cinta mereka, tapi memang waktu dan keadaannya tidak tepat hingga cara mereka mengungkapkan cintanya sangat salah.
Kendati demikian, Lucas tidak peduli sekalipun cara yang dia lakukan memang salah. Terserah, sama sekali dia tidak minta didukung ataupun dibenarkan. Hidup dia yang menjalani, dan dia tahu apa yang dia butuhkan.
Selama ini dia hanya bisa membayangkan bagaiamana cara ayahnya menyentuh dan memanjakan Zora. Dia tidak bertanya, dan malas bertanya ke arah sana. Yang dia tahu, Zora hanya disakiti, selebihnya Lucas enggan karena takut sakit.
Puas membuat Zora terengah-engah dengan pemanasan yang dia lakukan, pria itu membuka bajunya hingga Zora yang berada di hadapannya tampak tersipu. Padahal, penampilan Lucas yang bertelanjang dada sudah sangat biasa di mata Zora, tapi untuk yang kali ini memang benar-benar terasa berbeda.
"Kau tahu apa yang akan kulakukan setelah ini, Zora?"
Zora mengangguk, dia sudah cukup dewasa untuk menafsirkan keadaan dan dia takkan menolak. Mata Zora kini memandang Lucas sebagai pria yang dia cintai dan mencintainya, tidak sebagai anak tiri yang menjadi tanggung jawabnya setiap hari. Sebagaimana yang Lucas minta, dia akan memberikan pembuktian cinta.
Telanjur, apa yang perlu dia jaga dari seorang pria berstatus suami yang membuatnya seakan tidak ada harga diri. Hanya karena dia didapatkan sebagai taruhan judi, bukan berarti pantas dihina setiap saat, dia juga manusia yang jelas memiliki hati dan perasaan.
Zora sedikit meringis kala merasakan Lucas mencoba menerobos miliknya. Dia yang mengira akan sakit ternyata salah besar, ini bukan hanya sakit, tapi sakit sekali hingga air matanya berurai bersamaan dengan jeritan lolos dari bibirnya.
"Damn it ... dia benar-benar masih perawan? Julian matamu yang salah atau kejantananmu yang tidak berguna?"
Air mata dan kesakitan Zora tidak lepas dari pandangan Lucas. Satu hal yang pasti, dan tidak akan salah ialah Zora benar-benar belum tersentuh. Lucas tidak akan bertanya, dia tidak memiliki cita-cita untuk berhenti di saat permainan belum dimulai.
Tidak tega memang, wanitanya menangis akibat ulahnya. Namun, bukan berarti karena itu dia akan berhenti, tapi mencari cara agar Zora terbuai dan dapat merasakan kenikmatan dari permainan keduanya.
Perlahan, tapi pasti Lucas berhasil membuat jeritan tangis Zora menjadi dessahan pelan dan tenggelam dalam kenyamanan. Malam ini dia berterima kasih banyak pada ayahnya, setelah bertahun-tahun membuatnya sakit, kali ini dia merasa mendapatkan harta karun yang disia-siakan sang ayah, sungguh mengejutkan.
Tak butuh waktu lama, sekalipun Lucas bukan seorang penjelajah wanita, tapi dia sangat pandai membuat wanitanya terbang ke awang-awang. Mata bertemu mata, mata sendu Zora bertautan dengan tatapan penuh damba dari Lucas.
"I love you, Zora."
Tak terhitung berapa kali Lucas mengungkapkan kalimat itu, bahkan kala tubuhnya ambruk usai pelepasan, Lucas masih terus mengulanginya.
Mereka benar-benar melampaui batas pada akhirnya, cinta membutakan Lucas. Persetan, yang jelas Zora telah menjadi miliknya, mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, saling mencintai dan tidak ingin salah-satunya tersakiti. Lantas dimana salahnya? Tidak ada, begitulah pendirian Lucas.
.
.
Sejak awal Lucas sudah begitu mencintainya, dan malam ini cintanya kian bertambah. Menyadari jika dirinya adalah pria pertama bagi Zora, jelas saja dia bahagia.
Beberapa kali Zora mengalihkan pandangan, dan hal itu membuat Lucas gemas sendiri. Padahal, jauh dari bayangan Lucas saat ini Zora berpikir jauh tentang mereka ke depannya, terutama tentang Lucas.
"Lucas, apa kau akan meninggalkanku setelah ini?" tanya Zora pelan, di saat hendak melakukan dan terbuai rayuan Lucas dia merasa sama sekali tak keberatan.
Namun, setelah mahkotanya direnggut sang kekasih, pikiran buruk mulai membelenggu Zora. Dia takut, takut jika Lucas hanya mencari manis dan membuang sepahnya, seperti yang kerap dilakukan Julian pada wanita-wanita bayarannya.
"Tentu saja tidak, kau berpikir apa? Aku semakin mencintaimu, Zora ... percayalah," tutur Lucas begitu lembut, baginya mendapatkan Zora adalah sebuah anugerah, dia tidak peduli sekalipun Zora menganggapnya bencana.
"Takut saja, bukankah pria akan membuang sepah jika sudah dapat manisnya?" tanya Zora dengan manik indah yang berharap Lucas benar-benar tulus padanya.
"Tergantung, pria yang mana dulu ... jangan menilai semua orang sama, aku tidak begitu, Zora."
Lucas merengkuh tubuh mungil Zora, air mukanya menunjukkan sedikit penyesalan, tapi Lucas tidak peduli dan tidak akan bertanya sama sekali. Yang dia pedulikan bagaimana caranya mereka akan bertahan dengan perasaan yang sama.
"Kau berjanji? Tidak akan membuangku seperti ayahku, Lucas?" setakut itu Zora andai seseorang kembali membuangnya bagai sampah tak berguna.
"Tidak akan, andai ada yang membuangmu maka aku orang pertama yang memungutmu, Zora."
Manis sekali ucapan Lucas, entah memang begitu manisnya mulut seorang pria, atau benar ungkapan cinta Lucas untuknya, sungguh Zora agak sedikit ragu malam ini.
"Hanya kau yang kumiliki, kumohon jangan berbohong, Lucas," lirih Zora benar-benar meminta, saat ini dia telah menyerahkan diri pada Lucas sepenuhnya, bagaimana bisa dia baik-baik saja andai seseorang yang dia percayai justru menyakitkan hati.
"Tidak akan, sama sepertimu, aku juga begitu, Zora."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Mattea Bee
mereka yang berbuat kok malah aku yang deg-degan ya/Chuckle/
2024-07-10
0
Yuliana Purnomo
wooow belah duren niih cerita nya
2024-06-17
1
Ani Suwarni
caramu yg salah Lucas..../Casual//CoolGuy/
2024-02-13
0