Sejelas itu Lucas mengatakan apa yang dia rasakan. Tanpa basa-basi, pria itu menegaskan jika dia menginginkan Zora untuk menjadi miliknya, bukan sebagai ibu melainkan wanita.
Bukan tidak menyadari, semua yang Lucas berikan selama ini sejelas itu dan Zora sudah cukup dewasa untuk memahami. Namun, di posisinya jelas sulit dan tidak semudah itu bisa mengimbangi Lucas.
Selain itu, dia juga pahami bahwa perasaan itu salah. Zora tidak ingin mencari masalah lagi, cukup dirinya yang terjebak, jangan sampai Lucas juga merasakan hal yang sama.
"Aku tidak mengerti perasaan ini, tapi aku akan meminta sekali lagi ... maukah kau bersamaku, Zora? Sebagai wanitaku," tutur Lucas benar-benar tulus dengan manik indah yang kini tertuju pada wanita cantik itu.
"Lucas ... sudah berapa kali aku katakan, aku istri ayahmu ... mau bagaimanapun kau membantah, hubungan kita memang tidak lebih dari ibu dan anak. Dan kau tahu, aku sudah berjanji memenuhi permintaannya untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk anaknya."
"Aku tidak mau, Mommy-ku hanya satu dan tidak punya rencana untuk menambah Mommy lagi."
Santai sekali dia bicara, tidakkah dia sadari saat ini Zora tengah berada di kandang macan? Setiap detik dia diterkam kekhawatiran, suaminya menggila hanya karena masalah kecil. Malam itu hanya dia marah besar akibat Zora tersenyum pada pria lain, lantas kenapa putranya justru tidak ada takut-takutnya begini.
"Apa hidup harus sesuai dengan rencanamu? Sana pergi ... aku harus tidur karena nanti malam suamiku akan pulang, dan kau jangan berbuat ulah paham?!"
Mau berusaha sekuat apapun, aura ibu-ibu tidak melekat dalam diri Zora. Lucas hanya memutar bola matanya malas, kenapa bisa ayahnya justru lebih dahulu mendapatkan gadis polos yang begitu patuh begini? Sialnya, pria tua itu justru tidak bisa menjaganya dengan benar.
"Okay ... aku akan patuh padamu, tapi Mommy dulu selalu menciumku jika ingin aku tidak berulah."
"Aku tidak bertanya," jawab Zora bersedekap dada, entah apa yang direncanakan pria itu saat ini.
"Hanya bercerita, sebagai referensi ... bukankah kau ingin menjadi Mommy yang baik untukku? Lakukan, aku sangat-sangat merindukan Mommy sebenarnya," lirihnya seakan manusia paling sedih, mudah sekali ekpresinya berubah.
Setelah sebelumnya menekan Zora, menempatkan posisi seakan pria sejati, kini kembali merengek layaknya balita sebagaimana gambaran Julian tentang Lucas. Anak itu manja, tidak bisa lepas dari ibunya dan hanya keberadaan wanita tulus yang membuatnya betah.
Awalnya Zora sempat tidak percaya, tapi begitu melihat Lucas hari ini dia sangat yakin bahwa Julian lebih bisa dipercaya. Wajah Lucas yang mendadak murung tersebut membuat Zora tersentuh, matanya sendu seakan kehilangan harapan.
"Masuklah, aku akan bicara pada Daddy kalau Mommy tidak menyayangiku seperti janjinya ... Mommy tidak ada bedanya seperti Mommy tiri yang ada di dongeng."
Dia mendramatisir keadaan, Zora yang memang memiliki ketakutan pada Julian terpaksa memenuhi keinginan Lucas. Perlahan dia mengikis jarak dan meminta Lucas sedikit menunduk, maklum saja tinggi pria itu memang menjulang dan tidak tergapai olehnya.
Sebagaimana ibu pada anaknya, Zora yang pernah menjadi pengasuh di sebuah yayasan mengecup kedua belah pipi dan kening Lucas bergantian. Meski agak sedikit geli, dia mencoba memberikan kasih sayang seorang ibu pada putra sambungnya ini.
"Mommy dulu ada bunyinya, kalau begini seperti tidak kena."
"Ya, Tuhan," keluh Zora menghela napas perlahan, kembali dia mengulangi kecupan itu sesuai dengan permintaan Lucas, ada suaranya.
"Emuach!!"
Lucas tersenyum tipis, seperti yang dia duga wanita itu benar-benar penurut. Bahkan sangat amat penurut, dia mengulangi kecupannya setulus itu, hingga belum selesai Zora mengecup pipinya, Lucas memalingkan wajah dan membuat bibir keduanya bersentuhan dalam beberapa detik.
"Lucas kau!!"
"Mommy juga di bibir, kenapa sepanik itu," ucapnya kemudian, padahal hal semacam itu tidak pernah dia dapatkan dari ibunya karena memang Lucas lebih peduli pada games semata.
"Masuklah, katamu mau masuk, Zora."
Sudah diberikan kecupan layaknya seorang ibu, Lucas masih memperlakukan Zora seperti wanita. Senyum tengil pria itu terlalu menyebalkan di mata Zora hingga ingin sekali menghantam wajah Lucas dengan bogem mentah.
"Kau mempermainkanku?"
"Ahahaha tidak, masuklah ... atau mau kucium lagi? Hm?" tanya Lucas lembut, tidak lupa dia mengusap bibir Zora dengan jemarinya.
"Jaga sikapmu, kumohon."
"Hm, akan kujaga tidak akan ketahuan, Sayang," sahutnya tanpa dosa, mudah sekali dia bicara.
"Sinting, otakmu perlu dicuci juga sepertinya ... sana!!" pungkas Zora sebelum kemudian masuk kamar dan membuat Lucas terkekeh pelan.
"Bagaimana bisa aku melepaskanmu jika semenggemaskan itu, Zora."
Sama sekali Lucas tidak peduli, sekalipun Zora memposisikan diri sebagai ibu, di mata pria itu Zora adalah wanitanya. Walau saingannya adalah ayah kandung, baginya tidak penting sama sekali.
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
gas poooolll,,lucas
2024-06-17
2
komalia komalia
memang kau lucas
2023-10-28
1
Ita rahmawati
akalmu sungguh luwaaarrr biyasah lucas 😅😅
2023-06-28
1