BAB 04 Pelampiasan

Panggilan itu bak bencana, Zora yang baru merasakan ketenangan selama pria itu pergi kembali harus bersikap seolah benar-benar menantinya, andai tidak, jelas harus menerima akibatnya. Langkahnya tampak tergopoh-gopoh menghampiri pria yang sudah layak masuk tanah itu, sial saja pria itu justru menjadikan Zora sebagai istrinya.

"Hallo, Honey ... manis sekali, kau menungguku?"

"Iya, Tuan, aku menunggumu."

Terpaksa berkhianat, andai jujur maka penderitaannya akan semakin terasa. Seperti hari pertama dia menjadi istri Julian, sebagaimana wanita yang tidak terima pernikahan secara paksa, dia juga begitu.

Dia berontak dan berakhir mendapat pukulan dan hinaan yang keluar dari mulut pria itu. Akibat kesalahan ayahnya yang membuat Julian tersinggung di meja judi, Julian melampiaskan dendamnya pada Zora.

Miris memang, tapi hal itu terpaksa dia jalani demi bertahan hidup. Andai dia menurut dan patuh, maka setidaknya pria tua itu tidak menyakiti ataupun menghilangkan nyawa ayahnya.

Sebenarnya Zora juga tidak mengerti, apa yang terjadi dalam diri pria itu. Apa mungkin menderita penyakit mental hingga membuatnya tidak bisa ditebak, atau terlalu lama sendirian ditinggal keluarga tersayangnya.

Aroma alkohol berpadu parfum wanita menguar dari tubuh pria renta itu. Zora harus terbiasa dihadapkan dengan situasi semacam ini. Sebenarnya dia tidak begitu peduli juga, terserah apa yang akan dilakukan pria itu.

Hendak bermain dengan seribu wanita sekalipun juga tidak masalah, selagi tidak menyentuhnya maka Zora baik-baik saja dijadikan budak ataupun pengasuh semacam ini.

"Anda mabuk, Tuan?"

"Kenapa terus memanggilku, Tuan? Bukankah sudah kukatakan aku suamimu?"

Jujur saja dia mual, sungguh membenci jawaban pria itu. Memang benar secara status dia adalah istri, tapi agaknya seorang istri tidak diperlakukan begini. Lagi pula, lidah Zora sedikit geli jika harus memanggil pria itu dengan panggilan manis seperti yang dilakukannya.

"Ah iya ... nanti malam kau harus menemaniku, pastikan kau terlihat cantik, aku ingin membungkam mulut mereka yang meremehkan kekuasaanku."

Dia berucap santai seraya mengedipkan mata, sentuhan di dagunya membuat Zora merinding. Kendati demikian, mau tidak mau Zora harus mau. Selain dijadikan budak, wanita itu juga tidak ada bedanya persis pajangan yang selalu Julian pamerkan di tempat perjudian.

Kecantikan Zora membuat Julian merasa bangga. Dia hanya ingin menunjukkan jika kekuasaannya memang tiada tandingan. Tidak hanya selesai di sana, Julian juga menjadikan Zora sebagai taruhan di meja judi.

Sebagai umpan tentu saja, mana mungkin dia berani melakukan hal itu andai dia akan kalah. Selain tidak mau kalah, Julian juga teramat licik. Kekayaannya selama ini jelas karena hal itu, dan begitulah caranya bertahan hidup.

Terkait masalah ini Lucas baru mengetahuinya, untuk itu jika ayahnya berada di rumah dia hanya bisa memantau dari kejauhan. Asisten Mike mengatakan bahwa Zora memang kerap dipamerkan, tapi sebagai istri, berbeda dengan wanita yang dahulu kerap Julian sewa.

Istri, satu kata yang berhasil membuat Lucas memutar bola matanya malas. Dia yang sudah mulai berusaha menerima ayahnya kembali murka luar biasa. Namun, melihat Zora yang patuh begitu saja Lucas hanya bisa pasrah.

.

.

Malam menyebalkan itu tiba, Lucas masih menatap mereka dari balkon kamar. Hatinya berdebar, punggung mulus Zora yang terekspos sedikit membuat Lucas tak rela. Pria itu mengepalkan tangan, apa tidak ada pakaian yang lebih sopan untuk diberikan padanya.

Dalam diam, Lucas merutuki keterlambatannya. Andai dia pulang lebih cepat, mungkin tidak akan ada Zora yang masuk dalam keluarganya sebagai ibu tiri. Sungguh, Lucas muak sekali menyadari fakta ini.

"Dia pikir romantis begitu? Menjijikan ... kenapa bisa aku ditakdirkan sebagai putranya," gumam Lucas memandangi sang ayah yang tampak bersikap layaknya pasangan sebelum kemudian berlalu pergi.

Muak terhadap sang ayah, Lucas memilih tidur dengan harapan bisa sedikit lebih tenang. Bukannya tenang, dia semakin tak karu-karuan dan gusar sendiri. Firasatnya tak nyaman, Lucas keluar dari kamar setelah empat jam berusaha tidur dengan segala cara.

Tenggorokannya terasa kering, mungkin terlalu banyak mengumpat hingga masalah semacam ini terjadi. Selang beberapa lama, Lucas menyadari kedatangan ayahnya.

Cepat sekali, bukankah kalau berjudi biasanya pulang hampir pagi. Begitulah yang Lucas ingat tentang ayahnya, dia sedikit curiga dan mendadak penasaran apa alasan sang ayah pulang cepat.

"Wanita siallan!! Kenapa kau tersenyum padanya? Pengkhianat!! Apa kau ingin ayahmu mati detik ini juga?"

Samar terdengar teriakan ayahnya berpadu dengan isak tangis seorang wanita yang Lucas duga adalah Zora. Drama apalagi ini, apa yang kini Lucas saksikan adalah kekerasan dalam rumah tangga? Sungguh, ayahnya benar-benar tidak berubah.

Zora bersimpuh di bawah kakinya, tepatnya tidak punya tenaga karena Julian seret dari mobil. Hanya karena dia tersenyum setelah dipuji cantik oleh rekan sang suami, Zora berakhir tersiksa sejak perjalanan baru dimulai.

Pria itu menarik rambut Zora seakan tidak punya belas kasih. Kemarahan membuat Julian buta dan berakhir menyakiti Zora tanpa sisa. Teriakan dan permohonan ampun dari Zora seakan tidak dia dengar sama sekali.

"Julian stop!!"

Teriakan Lucas yang menggema menyadarkan Julian hingga melepaskan Zora dengan sekasar itu. Dia lupa jika putranya sudah pulang, dan kini Lucas berani meneriakinya dengan memanggil nama. Jelas Julian mengerutkan dahi, dengan dada yang masih naik turun tatapan tajamnya beralih pada Lucas.

"Kau memanggil Daddy apa, Lucas?"

"Tidak penting, Dad ... Daddy keterlaluan, kenapa harus disiksa separah itu?" tanya Lucas layaknya seorang pria yang tidak terima melihat wanitanya terluka.

"Dia membuat kesalahan, jadi harus dihukum."

"Cih, belum berubah juga ternyata ... Daddy lupa penyebab Mommy meninggal dunia karena apa? Karena emosi dan keegoisanmu!! Jika hanya berniat menyakitinya kenapa harus dinikahi?"

Lucas menatapnya penuh amarah, dia tahu memang sang ayah menikahinya dengan tujuan tidak baik. Namun, jika sudah begini Lucas tidak bisa terima dan merasa perlu memberikan Zora perlindungan.

"Terserah!! Kau memang tidak bisa memahami Daddy!! Dan kau, Zora!! Yang tadi adalah kali terakhir ... Mike kita pergi lagi."

Usai mengantarkan Zora dalam keadaan begitu, Julian kembali dan besar kemungkinan tidak akan pulang hingga esok pagi. Tinggallah kini Lucas bersama Zora yang mulai bangkit, kakinya terasa sakit hingga membuat Lucas bergerak cepat.

"Aku akan membantumu."

"Jangan, ayahmu semakin marah nanti."

"Kau terluka, jangan banyak bicara," tegas Lucas membopong Zora ke kamarnya, kamar kecil yang Julian berikan untuk Zora dengan alasan tidak ingin menghapus kenangan bersama istri pertama.

Asisten Mike berbohong, jika sudah begini adanya Zora tidak diperlakukan layaknya seorang istri, melainkan mainan. Jelas saja dia semakin marah, seketika keinginan untuk merebut istri ayahnya semakin kuat saja.

"Tunggu di sini, aku akan mengobati luka-lukamu," ucap Lucas menatap iba beberapa titik di tubuh Zora terluka.

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

LIBRA GIRL⚖️

LIBRA GIRL⚖️

bawa kabur aj udh emak tiri lo

2025-02-14

1

LIBRA GIRL⚖️

LIBRA GIRL⚖️

kasih obat tidur ajah,dosis tinggi 😅

2025-02-14

0

suyetno

suyetno

kalau km suka bawah kabur aja

2025-03-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!