Lucas menghempaskan tubuhnya ke sofa. Masih begitu jelas terbayang di benak Lucas bagaimana tatapan sendu Zora. Berkali-kali dia mencoba menyadarkan diri, tapi di bayangannya Zora adalah Giorgina.
Hal itulah yang membuat Lucas secara lantang menegaskan jika dirinya tidak membutuhkan ibu tiri. Tepatnya tidak menerima wanita yang memiliki rupa seperti mendiang kekasihnya itu sebagai pengganti ibu kandungnya.
"Aku tidak bisa menerimanya."
Andai saja yang dipilih ayahnya adalah wanita lain, mungkin Lucas tidak hanya menerima, tapi juga tidak peduli. Terserah apa yang ingin dilakukan ayahnya pada mainannya itu, tapi untuk yang kali ini hati Lucas benar-benar berontak.
Dia marah, benar-benar tak suka dan kebencian pada sang ayah kembali menyapa. Tidak hanya pada ayahnya, tapi Lucas juga membenci ayah dari wanita itu. Bagaimana bisa seorang ayah menjadikan putrinya taruhan judi, semelarat itu sampai tega menyeret gadis polos tak bersalah untuk menjadi mainan Julian Gilbert.
Lebam yang terlihat di sudut bibir wanita itu masih terbayang jelas di mata Lucas. Ayahnya jelas belum berubah, dia memiliki gadis itu hanya untuk kesenangan belaka. Tanpa perlu dijelaskan, Lucas tahu betul apa yang terjadi di belakangnya.
"Kenapa harus seperti dia?"
Hanya itu pertanyaan yang tertanam dalam pikiran Lucas. Di antara seluruh wanita kenapa harus Jenifer Azora, wanita cantik yang begitu mirip dengan mendiang kekasihnya. Apa tidak bisa Julian memilih yang lain? Atau sebenarnya sejak awal sudah diatur untuk menyiksa batinnya? Demi Tuhan, Lucas benar-benar berburuk sangka.
Cukup lama dia berdiam diri di kamar, hingga kepalanya terasa sakit dan pria itu memutuskan untuk membersihkan diri segera. Mungkim dengan cara ini pikirannya sedikit lebih tenang, itu saja.
Sayangnya, dugaan Lucas bahwa dirinya akan tenang setelah mandi salah besar. Baru saja keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya diketuk dari luar. Sedikit sebal, pria itu melangkah untuk membuka pintu masih dengan handuk yang melilit di pinggulnya.
"Kenapa?"
Sedikit terkejut, tapi sebisa mungkin Lucas bersikap tenang kala bertatap muka dengan seorang wanita yang sejak tadi menghiasi kepalanya. Jantung Lucas berdegub tak karuan, senyum tulus wanita itu membuatnya berdesir seketika.
"Waktunya makan malam, daddymu sudah menunggu, Lucas."
Seperti sudah mengenal lama, wanita itu bersikap hangat dan hingga membuat Lucas lupa diri. Agaknya Julian sudah menceritakan banyak hal pada Zora, caranya bicara memang persis pengasuh, Lucas merindukan kelembutan semacam ini.
"I-iya, sebentar lagi."
Lucas mengangguk cepat, sementara Zora segera berlalu dari kamarnya. Kekaguman Lucas sejenak menepi, dia baru sadar jika yang memanggilnya bukan pelayan, tapi Zora sendiri.
Namun, beberapa saat kemudian dia sadar sejak awal dia datang tidak ada asisten rumah tangga di rumahnya, yang ada hanya orang-orang kepercayaan sang ayah. Apa mungkin belum dia lihat saja? Seketika Lucas berharap demikian, entah kenapa firasatnya tidak nyaman saat ini.
"Semoga perasaanku saja."
Sejujurnya Lucas malas untuk bertemu ayahnya di meja makan. Akan tetapi, demi menghargai Zora yang telah meluangkan waktu untuk memanggilnya, Lucas berubah pikiran. Tanpa banyak bicara, pria itu segera berlalu ke ruang makan.
.
.
"Duduklah ... Mommy sudah masak banyak untukmu malam ini."
Menjijikkan, entah kenapa Lucas mual sekali mendengarnya. Bukan pada Zora, tapi ucapan sang ayah yang membuatnya tak suka. Bagi Julian malam ini adalah anugerah, sang putra kembali setelah sembilan tahun lamanya.
Namun, bagi Lucas justru sebaliknya. Demi apapun dia sangat menyesal kembali ke rumah jika tahu akhirnya akan begini. Masakan Zora begitu pas di lidahnya, sangat lezat dan melegakan rasa laparnya. Sayangnya, melihat bagaimana Zora seperti terpaksa harus melayani ayahnya di depan sana membuat naffsu makannya hilang seketika.
Dentingan sendok mendominasi ruang makan, mata Lucas memang terlihat tanpa arah, tapi yang menjadi perhatiannya adalah Zora. Miris sekaligus kesal juga, dia merasa ayahnya baik-baik saja. Lalu kenapa harus disuapi begitu? Apa tidak bisa makan sendiri? Dalam hati Lucas menggerutu, dadanya benar-benar panas.
Dia tidak mengerti perasaan apa yang sebenarnya tengah merasuk dalam dirinya. Jika hanya merasa jijik, harusnya cukup dengan berhenti memandangi. Anehnya, Lucas justru terus menerus mencuri pandang ke arah mereka, tepatnya Zora.
Dadanya panas, semua makanan kini terasa tawar. Gelagatnya kini dicurigai ayahnya, mungkin karena denting sendok yang dia hasilkan mulai tak biasa. Caranya meletakkan gelas juga sedikit gila bahkan membuat Julian terperanjat.
"Ada apa denganmu, Lucas?"
"Haus, Dad," jawab Lucas sekenanya, perutnya mungkin sudah kembung karena air. Heran juga kenapa bisa tenggorokannya seakan tidak lega juga.
"Jangan dibiasakan, tidak sopan."
Cih, tahu apa soal kesopanan. Lucas berdecih dan tersenyum miring mendengar ucapan sang ayah. Sedikit menjengkelkan, kriminal berdarah biru seperti dirinya bicara soal etika, agaknya sedikit lucu saja.
Usai makan malam, Lucas kembali ke kamar dan melupakan hari ini dengan tidur segera. Sayangnya, akibat terlalu bodoh meluapkan kekesalan pada sang ayah, belum sampai satu jam perut Lucas terasa sakit bahkan sesak ketika bernapas.
.
.
"Ya Tuhan ... ada apa denganku?" Dia meringis dan menekan perutnya, sakit yang dia rasakan tidak biasa.
Pria itu berpikir mungkin karena perjalanan jauh membuat tubuhnya bermasalah. Akan tetapi, rasa sakit itu kian menjadi dan membuatnya nekat keluar kamar. Entah pada siapa dia meminta pertolongan, yang jelas saat ini dia tidak bisa sendiri.
"Aaaawwh, siallan!! Apa aku salah makan?" gumam Lucas seakan tidak sadar diri jika semua itu akibat ulahnya sendiri.
Dia meringis, hingga tiba di dapur dia terduduk lemas di atas lantai. Entah dirinya sedang beruntung atau bagaimana, di tengah kebingungannya Zora menghampiri pria itu dengan wajah panik.
"Lucas, are you okay?" tanya Zora memastikan, dia khawatir sekali pada keadaan pria itu.
Pria yang menjadi putra tirinya, Julian mengatakan jika Lucas adalah harta paling berharga yang dia punya. Untuk itu, sejak awal pernikahan sudah Julian jelaskan bahwa yang menjadi tanggung jawab Zora bukan hanya suami dan pekerjaan rumah saja, tapi juga Lucas, putra tirinya.
"Perutku sakit," keluh Lucas sama sekali tidak berbohong.
Melihat bagaimana penderitaan Lucas, tanpa pikir panjang Zora menyiapkan air panas. Zora meminta pria itu untuk duduk menunggu, setelah menunggu beberapa lama Zora mengompres perut Lucas dengan air hangat.
Tidak hanya sampai di sana, Zora juga memijat perut Lucas sebagai salah-satu cara untuk menyembuhkan rasa sakit di perut Lucas. Tanpa dia ketahui jika sikapnya semacam itu membuat Lucas terbuai dan semakin berpikir macam-macam.
Dia menatap lekat Zora yang masih berusaha menjalankan peran sebagai ibu senagaimana tuntutan Julian. "Apa tugasmu di sini?"
"Bukankah ayahmu sudah menjelaskan siapa aku? Aku ibumu, Lucas."
"Iya tahu, tapi bukankah hal semacam ini adalah tugas pelayan?" tanya Lucas kemudian, dia bingung sejak tadi memang rumahnya tampak sepi.
"Hanya aku di sini, tidak ada pelayan," jawab Zora tersenyum getir yang seketika berhasil membuat Lucas terluka.
"Apa Daddy menjadikannya budak? Dasar tidak berhati ... aku benar-benar membencimu."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
heeemm tipe manusia super kejam gak ada hati niiih Julian
2024-06-17
1
Nanik Kusno
Mungkin Daddy Lucas punya tujuan lain
2024-06-16
1
💫R𝓮𝓪lme🦋💞
masih penasaran sebenerny Zora ibu tirinya Lucas bukan
2024-02-26
0