"Berpaling kepadaku aku tidak ingin kau tersiksa lagi, Zora."
Kembali Lucas mengutarakan keinginannya. Sebuah pernyataan yang membuat Zora terdiam, dia bungkam dan bingung sendiri. Di sisi lain dia begitu menyadari posisinya, tapi di sisi lain dia juga lelah dengan perlakuan buruk Julian yang kerap menjadikannya pelampiasan amarah.
Dia dilema, di saat dirinya kacau balau Lucas justru datang dan menjadikan Zora seakan wanita paling berharga. Hendak bagaimana lagi, dia juga wanita yang punya hati dan perasaan. Namun, kembali dia mengingat nasib ayahnya yang tetap terkecik dan bisa berakhir kapan saja jika Julian sudah berkehendak.
"Luc_"
"Kau dengar, berapa banyak dia menyakitimu? Hm? Jangan terlalu patuh, Mommy meninggal dunia karena terlalu penurut dan setia hanya karena statusnya sebagai istri ... sekarang aku tanya padamu, istri apa yang diperlakukan seburuk tadi?"
Lucas benar, istri mana yang diperlakukan seperti dia. Mungkin hanya dia saja yang menganggap pernikahan itu ada dan nyata, tidak dengan Julian. Selama ini dia selalu berpikir tentang peran sebagai istri dan ibu yang baik, tapi nyatanya Julian justru menekan Zora sebagai budah yang patuh dan setia bahkan menatap pria lain saja dianggap sebuah dosa.
"Cih, jika aku jadi dirimu jelas tidak akan diam saja ... balas perbuatannya dengan cara lain, Zora."
Hatinya mulai goyah, dia seakan terbang di awang-awang. Keteguhan hati yang telah tanamkan agaknya mulai runtuh, terlebih lagi kala dia mengingat bagaimana perlakuan Julian. Cacian, hinaan dan makian adalah makanan sehari-hari, setiap kali bertemu dan Zora tidak dapat menerka kapan pria itu kumat.
Dahulu mungkin dia bisa pasrah dan menerima begitu saja. Namun, kali ini sudah berbeda sejak kehadiran Lucas di hadapannya. Sosok pria yang begitu berbeda, bahkan Zora bingung kenapa tidak ada kesamaan di antara mereka.
.
.
Lama Zora menimbang, otaknya berpikir liar tak terarah. Dendam, kemarahan dan sakit hati berpadu, terlebih lagi usai Lucas mengungkit sikap Julian padanya. "Zora, aku masih menunggu jawabanmu."
Terlalu lama Zora menjawab hingga Lucas sampai menagih jawaban wanita itu. Sejak tadi dia setia menunggu, bertopang dagu dan menatap Zora selekat itu. Agaknya, wanita itu benar-benar bingung dan berada di antara persimpangan dilema.
"Aku t_"
"Shuut ... jangan dijawab jika masih menolak, Zora. Aku hanya akan mendengar jika kau sudah bilang iya." Tepatnya dia tidak menerima penolakan, Lucas hanya ingin Zora menerimanya tanpa khawatir memikirkan banyak hal, itu saja.
Zora menghela napas panjang, dia belum usai dan tiba-tiba Lucas memotong pembicaraannya. Sedikit kesal, Zora berdecak seraya memandangi Lucas yang kini terpejam, dia tahu pria itu sama sekali tidak tidur.
"Aku takut ayahmu tahu ... mungkin jika hanya aku tidak masalah, aku bisa pergi dari sisi ayahmu setelah dia membuangku. Sementara kau? Apa kau tidak berpikir ke arah sana, Lucas?"
"Kau memikirkan aku?"
Mata Lucas yang sejak tadi terpejam kini membulat dengan sempurna. Tidak penting kemana arah tujuan Zora, tapi yang jelas dari jawabannya, Lucas bisa menyimpulkan jika Zora peduli padanya.
"Tentu saja."
Sakit hati yang sejak dahulu terpendam akibat hinaan dan terus direndahkan Julian membuat akal sehat Zora mulai hilang. Dia yang kemarin begitu tegas menolak Lucas, kini berubah pikiran dan justru termakan hasutan Lucas.
"Jangan khawatirkan soal aku, kita bisa bermain halus tanpa membuatnya curiga sedikitpun ... kau ingat Zora, pria tua itu hanya peduli tentangku. Ketika aku baik-baik saja maka dia akan tenang, dan caramu membuatku baik-baik saja sudah cukup jelas, cukup kau ada di sisiku sebagai seorang wanita, sederhana bukan?"
Lucas berbisik, padahal mereka hanya berdua saja. Zora menelaah kata-kata Lucas begitu teliti, jika dia pikir kembali semua itu memang ada benarnya. Salah-satu hal yang membuat Julian tenang adalah putranya, dan Lucas secara jelas mengutarakan jika caranya baik-baik saja adalah dengan kehadiran Zora sebagai kekasih, bukan ibunya.
"Tapi kalau ketahuan bagaimana? Aku takut sekali ... ayahmu benar-benar gila jika marah, Lucas."
Tanpa dia sadari, detik ini juga Zora sudah memutuskan untuk berkhianat. Dia mengkhianati sang suami dan terpikat dengan pesona anak tirinya. Bukan tanpa alasan, siapapun yang berada di posisinya jelas tertekan. Dipaksa menerima takdir sebagai istri dari pria yang lebih tua dari ayahnya, menanggung hutang sang ayah dan kini harus menjalani hidup seakan dirinya tidak termasuk manusia lagi.
"Tenang, ikuti saja permainanku, selama kita menjaga sikap semua akan aman-aman saja."
Jawaban Zora sudah Lucas anggap sebagai lampu hijau. Dia takut ketahuan, itu artinya dia menempatkan posisi sebagai kekasih Lucas dan khawatir hubungan mereka akan tercium nantinya.
"Aku tidak yakin, Lucas, bukankah rumah ini dikelilingi CCTV di beberapa sudut?"
"Daddy tidak peduli soal itu, aku sudah merusaknya beberapa dan dia bahkan tidak sadar sama sekali," ucap Lucas tertawa pelan, memiliki seorang ayah yang begitu sibuk dengan kesenangan dirinya sendiri memang sedikit menyakitkan, tapi ketika dia dewasa jelas saja hal itu teramat menguntungkan.
Kembali, dia tetap terlihat ragu, tapi secepat itu Lucas mendekat dan menariknya dalam pelukan. Dia ingin memastikan dan membuat Zora berdebar ketika bersamanya, berbeda jika berada di dekat Julian yang justru keringat dingin.
"Percayalah padaku, Zora ... mana mungkin aku mengajakmu dalam kesulitan, lagi pula percuma kau bersama Daddy. Dia menganggapmu istri hanya di meja makan, selebihnya tidak."
Tepat sekali, Lucas benar-benar memahami kehidupan Zora tanpa perlu dijelaskan. Sikap Lucas yang begini semakin membuatnya luluh lantak, Zora lemah dan tidak kuasa menahan gejolak asmaranya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu malam ini," bisik Lucas seyakin itu, sama sekali tidak takut andai ayahnya tiba-tiba pulang dan memergoki mereka.
Lucas memintanya untuk tidur, tapi mata Zora masih begitu terjaga dan menatap cincin di jemarinya. Sebuah simbol yang diberikan Julian sebagai pertanda bahwa dia adalah milik pria itu sepenuhnya. Namun, sayang untuk kali ini Zora memilih untuk menjadi jahat dan turut membalas perbuatan Julian.
Beberapa kali kerap dihina dan dianggap sengaja tebar pesona karena ingin berpaling dan menggoda yang lebih muda, kini Zora benar-benar memutuskan untuk memenuhi tuduhan buruk Julian padanya. Salah-satu di antara yang paling sakit ialah dituduh mencari mangsa yang rela membelinya lebih mahal dan dicap murahan.
"Maaf sekali tuan Julian ... sepertinya aku akan benar-benar memenuhi semua tuduhanmu," batin Zora kemudian dan membalas pelukan Lucas sedikit ragu. Dia bukan ragu menerima Lucas, tapi ragu Lucas tidak akan terseret masalah andai nanti dia dibuang oleh sang suami.
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
lily
wuuu Lucas gk brani ngomong langsung k bapaknya ,, kurang gentle hahaha harusnya ngomong kalo dia suka ibu tirinya hahaha gimana reaksi Julian yaaa
2023-12-05
1
komalia komalia
cocok judul nya selingkuhan ku anak tiri ku
2023-10-28
0
Ita rahmawati
uhuy anak tiriku selingkuhanku 🤣🤣🤣
2023-06-28
1