Lucas tahu semua karena ulahnya, malam ini Zora menjadi sasaran amarah sang ayah. Dia kembali membuat wanita itu dalam posisi sulit, sama seperti dia yang dahulu kerap membuat ibu dan pengasuhnya terjebak dalam masalah.
Pada dasarnya, Lucas bukan anak baik, dia memang nakal dan kerap memicu perdebatan kedua orang tuanya. Namun, semua itu dia lakukan lantaran kekurangan kasih sayang, dia kerap menyiksa diri dengan mogok makan dan bermain game tanpa henti.
Dibujuk enggan, diperlakukan baik-baik juga tetap tidak mau. Tidak terhitung berapa pengasuh Lucas yang angkat kaki sebelum dipecat, mereka lebih memilih jadi tukang kebun dibandingkan menjadi pengasuh seorang Lucas Gilbert. Selain menguras tenaga, sikapnya juga menguras air mata.
Malam ini, dia sudah dewasa. Bukan lagi Lucas yang membuat onar dan membuat pengasuhnya sakit kepala. Entah karena pengasuhnya kali ini cantik, atau memang rasa kemanusiaan di dalam dirinya tumbuh dengan baik.
Dia meminta Zora duduk manis, sementara dirinya membersihkan ruang makan yang kacau balau itu. Penjaga memang tidak diizinkan untuk masuk, sekalipun dizinkan, Lucas engan menerima bantuan karena menurutnya kegaduhan kali ini diakibatkan oleh dirinya.
"Ya Tuhan, dia begitu nyata ... hatiku benar-benar sakit melihatnya."
Dar kejauhan, Lucas memandangi wanita cantik itu. Wanita yang keras hati dan menempatkan diri sebagai ibu tiri, bahkan kini berusaha terlihat jahat agar dihormati. Dia begitu patuh pada suaminya, padahal sikap Zora yang begitu justru membuat Lucas tersenyum lantaran merasa begitu lucu.
"Kenapa kau melihat ke arahku ... sudah Mommy katakan Mommy saja, masuk kamar sana," titah Zora seraya berkacak pinggang layaknya seorang ibu yang meminta sang putra untuk ke kamar segera.
"Kau pikir seram begitu? Kita tidak sedang di atas panggung ... aktingmu jelek, Zora," sahut Lucas kemudian menggeleng pelan, mau sebesar apapun usahanya aura seorang ibu itu memang tidak ada sama sekali di mata Lucas, sungguh.
Zora hanya mencebik, dia yang mulai bosan menunggu Lucas kini mendekat. Memang salah dirinya percaya akan janji Lucas yang bisa merapikan tempat itu dengan cepat, hanya karena takut kaki Zora luka, pria itu meminta Zora untuk duduk manis menunggunya.
Namun, bukan berarti boleh ditinggal pergi karena pada faktanya hampir tiap saat Lucas memastikan Zora masih berada di sana memerhatikan dirinya. Jika bukan Zora yang jadi ibunya, mana mungkin juga Lucas rela melakukan hal sekonyol ini.
"Jangan begitu cucinya, kalau begini minyak semua," tutur Zora lembut dan mengambil alih spons cuci piring, beberapa benda yang masih terselamatkan masih bisa dia cuci, sisanya hancur lebih karena amukan Julian.
"Begitukah?"
"Hm, begini," jawab Zora lagi, sementara Lucas yang berada di sampingnya tanpa izin memeluk Zora dari belakang.
Adegan semacam ini tidak seharusnya terjadi antara ibu dan anak tiri, tapi pasangan suami istri. Zora tersentak, jujur saja berada di dekat pria setampan Lucas dia juga bergetar, bohong jika tidak sama sekali.
"Apa benar begini caranya, Zora?" tanya Lucas membuat dada Zora berdegub tak karuan, deru napas Lucas yang terasa hangat di pundak Zora.
Begitu manis sebenarnya, sayang Zora tidak pernah mendapatkan hal ini dari figur seorang suami. Seseorang yang seharusnya memperlakukan dia dengan lembut justru menyakiti hampir setiap kali bertatap muka.
Sejenak dia terlena seraya merenungi nasibnya. Hingga, tanpa dia sadari jika Lucas sudah menuntaskan tugas terakhirnya. Memang sudah sedikit, tapi bukan berarti selesai dalam hitungan detik juga.
"Sudah, apa lagi yang harus kulakukan? My Beloved Mommy?" bisik Lucas menyadarkan Zora yang tenggelam dalam lamunan.
Seketika itu juga Zora melepaskan pelukan Lucas dan mejauh beberapa langkah. Wajahnya memerah, sungguh dia dibuat malu kali ini. Apa mungkin terbuai? Zora mengalihkan pandangan dan enggan menatap Lucas yang tersenyum padanya.
"Kenapa? Apa suamimu tidak pernah bersikap manis seperti tadi? Hahaha dia kuno mana bisa memahami bahasa cinta anak muda ... suamimu terlalu tua, Zora," ejek Lucas seakan sama sekali tidak peduli andai terkena karma akibat menghina ayah kandungnya.
"Kau tahu, salah-satu adegan romantis yang paling kunantikan saat bersama istriku adalah melakukan pekerjaan rumah bersama, seperti yang tadi kita lakukan contohnya," ucap Lucas menatap lekat wajah cantik Zora, dia tidak sedang bercanda, memang fakta dia menantikan masa-masa itu bersama wanita impiannya.
"Lalu kenapa kau praktikan padaku?" kesal Zora tiba-tiba, seketika dia merasa bahwa Lucas tengah mengejek rumah tanganya.
"Tidak apa-apa, hanya ingin saja."
Lucas tertawa sumbang, tanpa Zora jelaskan raut wajah wanita itu sudah menggambarkan apa yang Zora rasakan. Perlakuan suaminya tidak layak disebut manusia, jangankan manis, bahkan untuk kata pahit rasanya belum pas juga, terlampau pahit dan pedih sebenarnya.
.
.
Cukup lama keduanya bersama malam ini. Setelah Zora usir ke kamarnya, Lucas justru memilih untuk masuk ke kamar Zora. Dia beralasan ingin memastikan luka yang kemarin, padahal sudah tidak begitu terasa.
"Kenapa tubuhmu lebam semua, apa Daddy yang melakukannya?"
Tadinya Lucas hanya ingin memastikan luka yang kemarin sempat dia rawat. Namun, dia tidak sengaja melihat sedikit lebam di bagian lengan atas Zora.
Berawal dari lebam itu, Lucas memeriksa bagian tubuh yang lain. Meski dengan sedikit memaksa, pada akhirnya dia berhasil mendapatkan lebam di titik lainnya.
Pundak, pinggang dan bagian dada serta perut juga ada. Seluruh tubuh hingga Lucas merah padam melihatnya. Sementara Zora yang mendapatkan perlakuan semacam ini, tiba-tiba tersentuh hingga meneteskan air mata.
"Ya, Tuhan, Zora ... kenapa ditahan sendirian? Daddy pulang hanya sebentar dan begini yang kau dapatkan?"
Lucas tidak tahu apa mereka tidur bersama atau tidak, tapi yang jelas beberapa kali memang dia kerap melihat Zora masuk ke kamar utama, tapi keesokan harinya dia keluar dari kamar kecil yang Julian sediakan untuknya.
Jika dugaan Lucas benar, dan Zora hanya masuk untuk dijadikan pelampiasan amarah, demi apapun Lucas benar-benar tidak terima. Tatapan Lucas tertuju pada bagian dada Zora yang begitu menyedihkan, bukan tanda kepemilikan seperti yang kerap tertera di dada pengantin baru, melainkan cap kekerasan di sana.
"Jangan lakukan apapun, cukup kau tahu saja, Lucas ... aku tidak ingin kau ikut terseret dalam masalah," pinta Zora melemah, dia tidak ingin masalahnya kian membesar sebenarnya, itu saja.
"Aku tidak rela, Zora, kenapa bisa setega ini," tutur Lucas mengusap pelan beberapa lebam yang terlihat, selembut itu cara Lucas hingga membuat Zora pasrah dan tidak menyentuhnya.
Sikapnya yang berbanding terbalik dari Julian membuatnya benar-benar luluh. Dia bahkan diam saja kala Lucas kembali memasangkan baju dan menyelimuti tubuhnya, sejenak Zora seakan lupa sekeras apa dia menegaskan jika dirinya tidak lebih dari ibu tiri untuk Lucas.
"Lucas, kenapa masih di sini?" tanya Zora terkejut kala menyadari Lucas justru turut berbaring di sisinya, tidak segera keluar seperti yang dia perintahkan.
"Tidur, apalagi," jawab Lucas santai, tanpa pikir panjang dia menoleh ke arah Zora yang terlihat lelah sekali, mungkin lelah karena menghadapi dirinya juga.
"Kenapa di kamarku, kamarmu ada."
"Tidak suka, kamar itu suram ... aku tidak nyenyak sama sekali," jawabnya kemudian, padahal alasan tidak nyenyak yang sesungguhnya adalah Zora sendiri.
"Dasar anak nakal," gumam Zora tanpa sadar mencubit lengannya, fakta memang dia sedikit nakal.
"Sampai kapan kau terus bersikap begitu padaku ... oh iya, tawaranku sebelumnya masih berlaku, apa tidak kau pertimbangkan sedikit saja?"
Tawaran soal apa?"
"Berpaling kepadaku aku tidak ingin kau tersiksa lagi, Zora."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
komalia komalia
anak nakal
2023-10-28
1
Nci
Lucas si anak nakal, masa Mommy_mu mau kamu jadikan istri yah 🫢
2023-06-06
1
miss you
d posisi zora bner2 sulit skali...
2023-05-23
1