Usai melalui malam panjang itu, Lucas sama sekali tidak berubah, justru semakin hangat. Ketakutan Zora tidak terbukti sama sekali, dia sangat amat manis, bahkan selalu memastikan keadaan Zora baik-baik saja.
"Apa masih sakit?"
Sebelum sarapan Zora dikejutkan dengan kehadiran Lucas yang tiba-tiba ada di belakangnya. Setelah pagi buta dia usir dari kamar, kini dia kembali dengan wajah yang lebih segar, mungkin sudah mandi.
"Sedikit," jawab Zora tersenyum tipis, jika dijawab sangat sakit maka bisa dipastikan Lucas akan kembali memeriksa aset pribadinya seperti tadi pagi.
"Yakin sedikit? Coba lihat cara jalanmu," pinta Lucas kemudian, dia sedikit tidak percaya dengan ucapan Zora, sungguh.
Terlebih lagi, dia yang melihat sendiri bagaimana parahnya. Dia tidak menyangka akan begitu, mungkin karena Zora pertama kali. Namun, wajah Zora sangat meyakinkan, dia juga melangkah sesuai kehendak Lucas, terlihat baik-baik saja karena memang ngilunya dia tahan sendiri.
"Percaya?" tanya Zora dengan tatapan tak terbaca yang biasa dia perlihatkan pada Lucas.
"Syukurlah jika hanya sedikit, maaf aku menyakitimu, Sayang."
Lucas seolah lupa jika mereka adalah pasangan tak seharusnya, dia melingkarkan tangan di pinggang ramping Zora. Suasana sepi di ruang makan benar-benar mendukung kemesraan keduanya, beruntung saja hingga detik ini Julian tidak memiliki keinginan untuk mencari seorang pelayan yang baru, kehabisan uang mungkin.
"Lucas jangan begini, ayahmu keluar sebentar lagi," ucap Zora panik dan meminta Lucas melepaskan pelukannya. Bukannya menurut, dia justru mengikis jarak dan mendaratkan kecupan begitu manisnya.
"Morning Kiss, tadi pagi lupa karena kau usir."
Zora yang tadi panik kembali terbuai setiap kali Lucas bersikap manis, memang benar-benar lemah pendirian. Sungguh, Zora benar-benar mengutuk dirinya soal ini.
"Dasar, sana ... kau ingin susu apa pagi ini?"
Pertanyaan semacam ini sangat biasa, bukan hanya basa-basi, tapi sejak awal Lucas kembali menginjakkan kaki di rumah ini, Julian sudah menegaskan tentang nutrisi dan kesenangan putranya.
"Kau benar-benar bertanya?" tanya Lucas melepas pelukannya, sayang hanya sesaat karena beberapa detik kemudian dia telah merengkuh tubuh Zora begitu erat dari belakang.
"Lucas, aku memintamu lepas bukan pindah posisi," kesal Zora menghela napas panjang, bingung juga bagaimana cara agar pria dapat mengerti.
Sama sekali tidak ada rasa takutnya, padahal sudah tahu hari ini Julian tetap berada di rumah bahkan mungkin sedang dalam perjalanan menuju ruang makan. Sementara dia? Ancaman Zora hanya dia anggap angin lalu.
"Galak sekali, semalam tidak," sindir Lucas kemudian mencuri kecupan di wajahnya, Zora akui pria ini memang benar-benar berani.
"Ck, jawab saja pertanyaanku ... susu yang mana?" tanya Zora sekali lagi, dia tidak mau Lucas drama sewaktu sarapan minta diganti dengan alasan tidak suka seperti kemarin-kemarin.
"Ehm kalau langsung dari sumbernya saja bagaimana?" Bibirnya sesantai itu bicara, sama seperti tangannya yang begitu santai berpindah ke puncak dadanya.
"Kau mau kupukul pakai gelas ini, Lucas?"
Kemarahan Zora membuat Lucas terbahak, sungguh lucu hingga perutnya terasa sedikit sakit. Takkan habis alasan untuk Lucas tersenyum di sisi Zora, bagi Lucas wanita ini begitu berharga, sungguh.
"Pukul saja, apa kau tega? Andai aku terluka kau pasti menyesal, Zora." Dia berani bertaruh, sudah pasti Zora menangis karena dia paham wanita ini teramat takut kehilangan dirinya.
"Zora!! Honey ... kau dimana?"
Mereka terlena, hingga Julian yang terdengar dari tempat yang tidak begitu jauh membuat Zora melepaskan diri segera. Hampir saja ketahuan, jantung Zora berdetak dua kali lebih cepat, sementara Lucas mulai memasang wajah masam sekaligus muak mendengar suara ayahnya.
"Honey ... dia pikir manis sekali, lebih pantas manggil cucu," gerutu Lucas yang terdengar sama oleh Zora, jujur dia ingin tertawa sebenarnya.
"Wah, my big boy sudah lebih dulu ternyata ... kau lapar, Lucas?" tanya sang ayah yang kini menghampiri keduanya, jarak antara Lucas dan Zora yang berjauhan membuat pria itu sama sekali tak curiga.
"Hm, tadi malam aku bermimpi aneh, Dad," jawabnya kemudian kembali berpura-pura seakan tidak ada hal yang perlu dicurigai, Lucas kembali bersikap layaknya anak baik-baik yang menyapa orang tuanya di pagi hari.
"Oh iya? Mimpi apa?" tanya Julian antusias, akhir-akhir ini putranya banyak bicara dan dia berpikir jika Lucas benar-benar sudah berdamai dengannya.
"Aku mendaki gunung dan melewati sebuah rawa-rawa ... pemandangannya sangat indah, tapi sayang aku basah dan terpaksa ganti celana."
"Ck menjijikan!! Apa tidak ada cerita yang lebih pantas untuk kau bawakan di meja makan?"
Lucas terbahak, melihat wajah serius ayahnya yang seketika berubah membuat perutnya sakit. Padahal, yang dia ceritakan adalah kisah nyata, lantas kenapa Julian tidak dapat menangkapnya? Ah iya, mereka beda generasi dan secara pemikiran saja jelas berbeda dan tidak dapat disamakan.
"Daddy bertanya lalu kujawab, kenapa jadi marah?" tanya Lucas mencebikkan bibir, matanya melirik ke arah Zora yang mendelik tajam lantaran mengerti maksud ucapan Lucas.
"Kenapa harus di meja makan? Jika tahu mimpinya begitu bisa kau ceritakan di tempat lain!!"
Suasana sarapan pagi ini tidak hanya hangat, tapi panas lantaran cerita Lucas. Baginya mungkin lucu, tapi bagi Zora dan Julian tidak sama sekali. Dia tertawa sendirian dan merasa lucu sendirian, sementara suami istri itu hanya menatapnya malas.
.
.
Setelah kejadian kemarin, perasaan Zora masih tak karuan. Andai saja Julian tidak memanggil namanya, mungkin mereka akan terjebak dalam bahaya. Semua ini jelas karena Lucas, pria tengil yang benar-benar membuat Zora terjebak dalam masalah.
"Hai, Sayang ... kau masih marah?"
"Astaga kau gila?" gertak Zora kala Lucas kembali berulah dengan menyeretnya ke dalam kamar kosong di dekat gudang. Sejak kemarin Lucas berusaha memintanya untuk bicara, tapi memang Zora selalu menghindarinya.
"Hm anggap saja begitu, aku memang gila ... gila karenamu," ucapnya tersenyum tipis seraya terus menggenggam pergelangan tangan Zora.
"Lucas aku tidak bercanda, kau harus ingat ayahmu selalu berada di dalam rumah ... apa tidak bisa jaga jarak sementara dia pergi?"
"Pergi kemana? Ke alam kubur maskudmu?"
Benar-benar memilukan, sama sekali tidak ada simpati di hati Lucas tentang ayahnya. Sudah kesekian kali Zora mendengar Lucas bicara sembarangan begini, sedalam itu luka yang membekas di hatinya.
"Apa bisa serius sedikit saja?"
"Bisa ... aku merindukanmu, semalam aku tidur sendirian, Sayang." Tanpa dijelaskan Zora juga tahu soal itu, dia sendiri yang meminta agar Lucas jangan menempel padanya lebih dahulu.
"Lalu kau pikir aku beramai-ramai? Aku juga sendiri, bukan kau saja," celetuk Zora mencubit perutnya, kebiasaan sekali menjual kesedihan di hadapan Zora.
"Bukan begitu maskudku ... apa kau tidak mengerti sedikit saja?"
"Apa? Katakan dengan jelas, cucianku menumpuk terutama bajumu!! Kalau tidak beres ayahmu marah, kau yang seharusnya menger_"
"Dia berdiri, tolong tidurkan, Sayang," pinta Lucas sembari menarik tangan Zora menuju benda pusakanya.
"Kenapa jadi aku?"
"Dia begini karena mengingatmu ... aku janji akan selesai lebih cepat, sungguh," bisik Lucas menarik pergelangan tangan Zora begitu lembut, sebuah tindakan yang berhasil membuat Zora bergidik ngeri.
"Aku masih takut, yang kemarin saja belum sembuh sakitnya," tolak Zora dengan wajah panik, berharap sekali Lucas memberinya jeda beberapa hari lagi.
"Tenang, lama-lama akan terbiasa jangan khawatir."
Ya, mereka kembali melakukannya. Lucas tidak dapat melupakan keindahan tubuh Zora malam itu, sementara Zora juga tidak memiliki daya untuk mampu menolak sentuhan pria yang dia cintai ini.
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SEMOGA BENIH LUCAS TOPCER, DN RAHIM ZOYA SUBUR, BIAR CPT BUNTING LUCAS JUNIOR...
2024-01-09
0
Sulaiman Efendy
NYANDU,, NYANDU, LUCAS BASTARD MULAI NYANDU..😘😘😘😘😘
2024-01-09
0
Sulaiman Efendy
SEMOGA LUCAS MMPU LINDUNGI ZORA, DN MMPU MLAWAN AYAHNYA....
2024-01-09
1