BAB 11 - Tertata Dengan Sempurna

Satu bulan berlalu, mereka menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Benar-benar tertata dan sangat sempurna. Sejak menjalin hubungan terlarang bersama istri dari ayahnya, Lucas bersikap baik dan begitu penurut bahkan asisten Mike kagum dengan keharmonisan keluarga majikannya.

Zora yang awalnya ragu-ragu, semakin yakin untuk tetap meneruskan hubungan tersebut lantaran Julian tidak lagi semena-mena seperti kala itu. Entah karena Lucas yang meminta, atau ada alasan lain, tapi yang jelas tubuh Zora tidak lagi tersiksa.

Kendati demikian, melunaknya Julian bukan akhir dari segala masalah karena muncul masalah lain. Kecemburuan Lucas, dia tidak rela jika Zora terlalu perhatian pada Julian layaknya pasangan, baik di depan ataupun belakangnya.

Sementara di sisi lain, Zora harus berusaha menjaga agar Julian tidak curiga dengan sikapnya. Sama sekali tidak berlebihan, Zora hanya mempertahankan sikapnya sebelum asmara terlarang itu mereka jalani.

Namun, sikap Lucas yang enggan berbagi membuat Zora sakit kepala juga. Dia bingung harus bagaimana, sementara hendak pergi dari genggaman Julian dan fokus bersama Lucas juga tidak semudah itu, ada ayahnya yang harus Zora lindungi juga.

Terlebih lagi sejak beberapa hari terakhir Julian cukup betah di rumah dan meluangkan banyak waktu bersama istri dan anaknya. Kekhawatiran Lucas jika sang ayah justru memiliki perasaan berbeda dan mulai mempertimbangkan peringatannya untuk menghargai Zora sebagai istri mulai merasuk dalam pikiran Lucas.

Demi apapun dia tidak bisa andai kehilangan wanita itu. Membayangkan jika Zora benar-benar ditakdirkan menjadi ibunya pria itu bahkan sakit hati. Zora terlalu dalam memainkan peran, hingga ketika mendapat pelukan dari Julian juga turut membalas, jelas saja Lucas panas.

.

.

Setelah cukup lama, malam ini Lucas nekat mencuri kesempatan untuk bisa bersama dengan kekasihnya. Yang benar saja, hanya karena ayahnya betah, Lucas dibuat tak karu-karuan dan bingung sendiri. Sudah lebih dari satu minggu dia tidak bisa memeluk kekasihnya sedikit saja.

Tua bangka itu agaknya besar kepala, dia berubah manja dan jelas hal itu membuat Lucas marah. Tanpa mengabari Zora lebih dulu, dia membuka pintu kamar Zora tanpa izin, tidak sia-sia dia mengambil duplikat kunci kamar itu.

Tiba di kamar, Zora yang baru saja hendak tidur jelas saja terkejut dengan kehadiran Lucas yang memperlihatkan wajah kusutnya. Dia menatap tajam Zora, wajah merah padam berpadu antara cemburu dan amarah itu menjadi satu.

"Lucas? Kenap tid_"

"Aku merindukanmu, Zora."

Lucas membungkam wanita itu dengan kecupan lembut di bibirnya. Senyum tipis Lucas seolah menghapuskan amarah menakutkan yang tadi sempat Zora libat di wajahnya.

Sama seperti Lucas, dia juga merindukan kekasihnya. Satu bulan terakhir mereka benar-benar menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi, terlebih lagi beberapa hari terakhir.

Jangankan bisa berciuman, berpegangan tangan dan saling menatap saja mereka tidak bisa. Semua terjadi karena saling melindungi, Lucas melindungi Zora, Zora melindungi Lucas sekaligus ayahnya.

"Aku juga merindukanmu ... apa kau tidak bisa tidur?" tanya Zora lembut, dia mengusap pelan wajah tampan sang kekasih yang kini menatap dirinya begitu lekat.

"Mana bisa, otakku selalu memikirkanmu, Sayang ... apa dia menyakitimu?" tanya Lucas lagi, jika sampai berani menyakiti Zora lagi, Lucas tidak akan pergi dan menghilang sebagaimana ancamannya pada Julian.

"Tidak, tapi kalau menghina masih," ujar Zora tersenyum getir, secara fisik memang berhenti dan tidak selalu meluapkan amarah lagi. Namun, sesekali Julian masih kerap menghinanya dan untuk hal ini Zora sama sekali tidak berbohong.

Lucas mencebik, kasihan sekali kekasihnya ini. Sayangnya, ajakan Lucas untuk pergi belum bisa menggerakkan hati Zora sama sekali, entah bagaimana Julian menekannya hingga membuat Zora setakut itu pada ancamannya.

"Dia benar-benar cari masalah sepertinya, apa kau mau aku menghabisinya, Sayang?"

Zora menggeleng, dia tidak pernah berharap Lucas semakin membenci ayahnya setelah semua ini terjadi. Tidak pula dia berharap Lucas semakin jauh, sungguh sama sekali tidak.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Lucas kemudian, selalu saja Zora menolak setiap Lucas ingin bergerak.

"Jangan begini ... bagaimanapun juga dia tetap ayahmu," tutur Zora begitu pelan, dia mengerti sakit yang membekas dalam diri Lucas terlampau dalam hingga dirinya tertutup dendam.

"Kau menyayanginya, Zora?" tanya Lucas menghela napas kasar, lama-lama dia muak juga.

"Bukan begitu, Lucas, berkali-kali sudah kukatakan bagaimanapun keadaannya jangan pernah menjadi jahat untuk ayahmu hanya karena orang lain, paham?" Zora benar-benar khawatir di bagian ini, ketakutan jika Lucas benar-benar nekat semakin besar saja.

Beberapa kali Lucas sempat mengutarakan niat untuk menghabisi nyawa ayahnya agar dunia sedikit lebih tentram. Akan tetapi, kala kalimat itu terucap dari mulut Lucas, Zora adalah orang pertama yang menentang kehendak Lucas.

"Tapi dia menyakiti hatimu dan aku tidak rela itu terjadi," ungkapnya kemudian menenggelamkan wajah di ceruk leher Zora, hingga detik ini aroma tubuh pasangannya lah yang menjadi penenang utama.

"Aku tidak sakit, selagi kau baik-baik saja ... aku juga begitu, Lucas."

Sebuah asmara terlarang yang sejak awal Zora tolak nyatanya membuat dirinya terjebak. Zora tenggelam, mendengar bagaimana kesendirian Lucas sebagai anak membuat wanita itu tersentuh.

Zora tidak mengerti sejak kapan dan karena apa dia mencintai pria ini, tapi yang jelas setiap mengingat namanya yang ada dalam benak Zora hanya ketakutan.

Sekalipun hubungan mereka terkuak, Zora merasa tidak masalah andai dia dipancung sekalipun. Akan tetapi, yang dia pikirkan adalah Lucas, dia sangat takut pria itu menjadi sasaran kemarahan Julian yang kerap gila dalam setiap keadaan.

"Aku mencintaimu, Zora sungguh."

Lucas yang tadi hanya menenggelamkan wajah di ceruk lehernya, kini sedikit nakal dan memberikan gigitan kecil di sana. Zora yang merasa geli sontak berusaha menjauhkan wajah Lucas dari lehernya, dan tentu saja raut kecewa yang dia perlihatkan saat ini.

"Kau tidak mencintaiku?" tanya Lucas mengerutkan dahi, dari rahangnya saja sudah menjelaskan jika dia marah dengan reaksi Zora.

"Cinta, aku juga mencintaimu," jawab Zora bergetar, sorot tajam Lucas selalu berhasil membuat Zora takluk.

"Buktikan, sebesar apa rasa cintamu," pinta Lucas tak terbantahkan, wajah Zora seketika memerah dan dia mengerti kemana arah pembicaraan Lucas.

"Lucas a-aku ...."

"Aku apa? Hm? Cinta butuh pengorbanan, Zora dan aku sudah berkorban rela membagi dirimu meski hatiku sakit luar biasa, sekarang saatnya kau menunjukkan sebesar apa cintamu padaku," bisik Lucas dengan tangan yang kini menelusup ke dalam bra dan mencari titik kelemahan wanita, dia yakin Zora akan sama.

"Lucas ... ja_"

Lucas tahu wanita itu hendak menolaknya, tapi kali ini tidak akan dia biarkan dan secepat mungkin Lucas membungkamnya dengan ciuman panas hingga dadanya terasa sesak. Bertubi-tubi Lucas lakukan tanpa ampun, tak peduli seberapa kuat Zora mendorong tubuhnya.

"Hanya dengan ini permainan kita menemukan titik terang."

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Susi Andriani

Susi Andriani

lucas yg nekat aku yg ketar ketir

2024-11-04

2

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

beeehhh nekad banget Abang Lucas

2024-06-17

1

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

BETUL LUCAS, SETUBUHI DN HAMILI ZORA..

2024-01-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!