Perhatian malam itu adalah awal dari bergeloranya jiwa Lucas. Hidup di satu atap yang sama dan perlahan mengenalnya membuat pria itu tak tahu arah. Terlebih lagi, dia yang menyaksikan sendiri bagaimana berat tugas Zora sebagai istri ayahnya membuat Lucas tidak tega.
Beberapa hari terakhir Julian pergi ke luar kota, sudah tentu mencari kesenangan di meja judi dan wanita lainnya. Kesempatan itu Lucas gunakan untuk membangun interaksi agar lebih dekat bersama ibu tirinya.
Tidak jarang Lucas membantunya menjemur pakaian walau terkadang kerap dilarang. Lucas yang pembangkang jelas saja bertindak semaunya hingga Zora hanya menggeleng pelan melihat tingkah anak tirinya. Anak tiri? Sungguh miris sekali, takdir menjebaknya dalam hal yang teramat pamit.
Terlahir dari keluarga yang berada tidak membuat Zora bahagia. Sejak kecil dunia mulai tidak berpihak dengan kepergian sang ibu akibat kecelakaan yang dialaminya. Sejak saat itu ayah Zora hilang kendali dan mulai menghabiskan sisa hidupnya untuk menjadi seorang penjudi.
Kekayaan perlahan kian terkikis, uang hasil kerja Zora tak berbekas setiap harinya. Dia sempat mencoba untuk kabur dari kehidupan ayahnya, dan di kali kedua dia mencoba pergi sang ayah justru menjadikannya sebagai taruhan main judi.
Nasib sial tidak berhenti di sana, dalam khayalan Zora dia akan diberikan pada pria muda yang kaya raya. Namun, takdir yang terjadi justru sebaliknya. Zora diberikan cuma-cuma kala sang ayah kalah melawan Julian Gilbert, pria licik yang memang terkenal sebagai penjudi kelas kakap di kotanya.
Kendati demikian, Zora benar-benar rela dan menerima takdirnya tanpa banyak bicara. Tidak ada jalan lain untuk membuat ayahnya berhenti berjudi, lagi pula Julian menikahinya secara baik-baik. Ya, walau pada akhirnya status Zora tidak jauh berbeda seperti seorang budak.
Semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabnya, dan kini Lucas pulang yang benar-benar harus Zora rawat layaknya anak kandung seperti Julian katakan. Namun, berbeda dengan Lucas yang justru menganggap Zora berbeda.
Sejak awal, sama sekali dia tidak menganggap Zora sebagai ibunya. Jika sebagai adik mungkin dia bisa menerima, tapi untuk ibu mana mungkin bisa. Beberapa hari terakhir perdebatan mereka selalu sama, soal panggilan yang tak ada habisnya.
.
.
"Kau lelah?" tanya Lucas menatap keringat Zora yang mengucur di keningnya, selelah itu, tapi mungkin masih dia tahan-tahan saja.
"Mommy, Lucas."
Lucu sekali, dia pikir bayi? Lucas menggeleng pelan setiap kali Zora memintanya memanggil demikian. Tubuh semungil itu, dia bahkan lebih muda delapan tahun dibandingkan Lucas bisa-bisanya memaksa dipanggil Mommy.
"Daddy tidak ada di rumah, jadi biasa saja, Zora."
Zora menghela napas panjang, sudah berapa kali Lucas bersikap begini padanya. Tidakkah Lucas ketahui jika sikapnya yang begini bisa membunuh Zora secara perlahan? Padahal, dua penjaga di depan cukup menyeramkan dan seharusnya Lucas sadar akan hal itu.
"Zora," panggil Lucas pelan, dia mengguncang tubuh wanita itu pelan.
Zora sedikit kaku, tapi Lucas tidak peduli akan hal itu. Bahkan, mungkin saja Zora tidak nyaman dengan sikapnya yang seperti ini. Namun, sekali lagi Lucas tegaskan dia tidak peduli. Hatinya gusar andai tidak berada di dekat Zora, sungguh keputusan sang ayah yang tiba-tiba memperistri seorang wanita polos ini sama saja dengan membuatnya perlahan-lahan ingin gila.
"Bisa berhenti memanggilku begitu, Lucas? Ayahmu akan marah," tutur Zora melemah, fakta lain yang menjadi alasan dia keberatan dengan sikap Lucas adalah kemarahan Julian.
Bukan sekali dua kali Zora menjadi sasaran kemarahan akibat penjaga menatapnya secara tidak sengaja. Padahal, Zora sama sekali tidak meminta dan dia khawatir sikap Lucas justru sampai ke telinga Julian dan keduanya bisa mati seketika.
"Hahaha tidak bisa, aku suka memanggilmu begitu ... Zora-Zora-Zora-Zora-Zora."
Pantang dilarang, dia semakin menjadi dan membuat Zora bingung sendiri. Senyum tengil dan mata berbinarnya tidak bisa membuat Zora marah, mungkin benar kata Julian jika Lucas kekurangan kasih sayang seorang ibu.
Namun, untuk sikapnya yang kali ini agaknya berbeda. Lucas bukan sekadar tidak rela, tapi kini hasrat untuk merebut ibu tirinya mulai menggelora. Dia terpesona dengan wanita yang begitu mirip mendiang Giorgina, susah payah sembuh pasca hampir gila, kini di matanya kembali hadir sosok yang dia yakini sebagai rumah.
"Kau, aku istri ayahmu!! Sopan sedikit."
"I don't care, yang jelas namamu Zora," ucap Lucas tak terbantah, dia benar-benar jatuh pada wanita itu.
.
.
Lucas tak segan mengikutinya kemanapun, tanpa peduli meski penjaga yang dipercaya oleh Julian akan menangkap basah mereka. Bahkan CCTV yang terpasang di beberapa sudut ruangan sengaja Lucas rusak, hingga menciptakan sedikit ruang untuk dia bisa bersama Zora walau hanya beberapa saat.
"Menjauhlah, aku harus merapikan pakaian ini."
"Pekerjaanmu melelahkan sekali, apa tidak bisa rayu suamimu itu untuk mengembalikan semua pelayan di rumah ini?"
Lucas pernah membahas soal ini pada ayahnya. Namun, jawaban Julian justru terdengar menyebalkan dan membuat hati Lucas perih mendengarnya. Sejahat itu ayahnya jika sudah bertindak, hanya karena dendam pada ayah Zora, dia melakukan segala cara untuk menarik Zora menjadi istrinya.
Setelah itu, semua tugas yang seharusnya dilakukan oleh tiga orang pelayan dilimpahkan untuk Zora semua. Sebagai pria, dia merasa bersalah dan seolah kecewa pada dirinya, Zora yang malang dan Lucas bingung bagaimana cara menyelesaikannya.
"Zora," panggil Lucas masih terus memandangi wajah cantik ibu tirinya yang tampak lelah itu, sigap sekali dia merapikan pakaian di sana.
Zora diam, dia tidak akan menjawab jika Lucas terus memanggilnya demikian. Pria yang menikahi Zora sudah begitu tua, bahkan putranya sudah berusia 30 tahun. Namun, saat ini Zora tengah merasa dinikahi duda dengan anak balita yang merepotkan dan selalu mengikuti dirinya.
"Zora," panggil Lucas lagi, ingin sekali dia cubit wajah Zora yang kini cemberut.
"Baiklah ... Mommy." Sehalus itu dia memanggil, Zora hanya menatapnya sekilas sebagai isyarat jika dia mendengar panggilan Lucas.
"Apa lagi?"
"Bersama Daddy terlalu melelahkan, kenapa kau tidak bersamaku saja? Aku bisa memberikan apapun yang kau minta," tutur Lucas kembali tidak terlihat seperti anak, tapi pria dewasa yang tengah mengutarakan niatnya.
"Lucas ak_"
"Nyonya!!"
Baru saja hendak bicara, penjaga menyebalkan itu berteriak menghampiri Zora. Terpaksa wanita itu menghentikan pekerjaannya lebih dulu. Raut wajah Lucas mulai berubah, dia benar-benar tidak ikhlas dengan kepergian Zora saat ini.
"Apa apa?"
"Tuan besar pulang, mohon disambut kedatangannya, Nyonya."
Tidak rela, benci dan muak menyatu kala Zora benar-benar meninggalkannya demi pria lain, mirisnya pria itu adalah ayah kandungnya.
"Kau milikku, Zora!!"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
LIBRA GIRL⚖️
saking pahitnya sampai jadi pamit ya Thor😅
2025-02-14
0
Yuliana Purnomo
hahahaha,,rebut dr ayah mu kalau berani,,lucas
2024-06-17
2
Nabil Az Zahra
ayo tikung luc,,gpp kali ini aku di pihak pebinor.🤣🤣🤣
2023-12-18
2