BAB 10 - Ibu Rasa Pacar

Pagi menjelang, malam panjang itu berlalu baik-baik saja. Zora mengerjap pelan, tidak seperti biasa dia terbangun dalam kesendirian, pagi ini dia disambut pemandangan indah nan menyejukkan. Menurut beberapa artikel, memandang pria tampan dapat meningkatkan kebahagiaan.

Ya, begitulah yang saat ini Zora lakukan. Dia memandangi Lucas begitu lama, pria tampan yang sejak tadi malam menjadi kekasihnya. Satu kata yang menggambarkan Lucas di mata Zora, yaitu sempurna. Sungguh, sama sekali tidak berbohong ketampanan pria itu memang memikat hatinya sebagai seorang wanita.

Sedetik kemudian Zora tersadar, siapa pria yang kini dia tatap. Zora tersenyum miris, akan berakhir bagaimana hubungan semacam ini. Bagaimana andai nanti dia harus meninggalkan Lucas, atau sebaliknya. Entahlah, belum saatnya berpikir terlalu jauh, toh Julian tidak begitu peduli tentangnya.

"Morning, Honey ... kau sudah bangun?"

Suara Lucas masih begitu serak, dia benar-benar nyenyak malam ini. Tanpa kekhawatiran Zora disakiti atau sedang digauli, tidur di sisi Zora benar-benar menyenangkan baginya.

"Morning ... bangunlah, kita kesiangan hari ini."

Bukan hanya Lucas yang merasa tidurnya terlalu nyenyak, Zora juga demikian. Kehangatan Lucas yang memeluknya mungkin menjadi alasan. Tidak bisa dipungkiri pria itu benar-benar membuatnya melayang sebagai wanita.

"Biarkan saja, kita hanya di rumah dan Daddy tidak akan pulang ... kenapa harus bingung," tutur Lucas tersenyum simpul, agaknya Zora memang masih ragu-ragu menjalani hubungan ini, tepatnya belum terbiasa.

"Nanti siang dia pulang, Lucas ... aku tetap harus bersiap-siap, nanti marah lagi," ujar Zora mencoba memberikan pengertian, akan tetapi memang Lucas pada dasarnya keras kepala dan tidak begitu peduli dengan kemarahan ayahnya.

"Tidak akan, tadi malam adalah terakhir kali dia marah padamu."

Bukannya beranjak bangun, Lucas kembali menarik Zora dalam pelukan. Layaknya pasangan kekasih, bahkan mungkin suami istri yang enggan berpisah dengan tempat tidur. Lucas mengunci tubuh Zora dalam dekapan, jantung Zora sama sekali tidak aman dengan posisi semacam ini.

Telanjur basah, Zora tidak akan berontak. Lagi pula Lucas mengutarakan perasaannya sebagai kekasih, bukankah seharusnya dia merasa bangga memiliki pasangan yang begitu menghargai dirinya.

Cukup lama mereka berdiam diri di kamar, hingga menjelang siang Zora terpaksa meminta Lucas melepaskan dirinya. Jelas pria itu menolak pada awalnya, Lucas menatap kecewa meski pada akhirnya mengalah, itu pun karena Zora khawatir ketahuan Julian yang tidak lama lagi akan tiba.

.

.

Pada dasarnya, Lucas tidak bisa marah terlalu lama. Setelah sempat kecewa karena Zora menolak kala dia masih ingin bermalas-masalan, saat ini Lucas kembali menempel di sisi Zora usai mandi dan berganti pakaian, jujur saja terlihat semakin tampan hingga Zora tanpa sengaja menarik sudut bibirnya.

"Kenapa? Baru sadar kekasihmu ini tampan?"

"Cih terlalu percaya diri ... rambutmu masih basah, apa salahnya keringkan lebih dahulu," omel Zora kembali seperti yang telah lalu, omelan kala dia berusaha menempatkan diri sebagai seorang ibu.

"Tolong keringkan, Sayang ... tanganku sakit," keluh Lucas seakan paling menderita sedunia, padahal dia sendiri yang meminta Zora menjadikan lengannya sebagai bantal kemarin.

Zora menghela napas panjang, drama tangan keram belum usai ternyata. Jika tahu akhirnya begini, Zora tidak akan menerima tawarannya semalam.

Kendati demikian, Zora tetap menuruti kemauan Lucas pada akhirnya. Mengeringkan rambut Lucas dengan penuh kehati-hatian, walau sudah menjadi kekasihnya bukan berarti Zora bisa semena-mena.

Aroma maskulin menguar dari tubuh pria itu, benar-benar menunjukkan sisi kejantanannya, dan Zora suka. Terbiasa berhadapan dengan Julian yang terkadang menguarkan bau tak sedap, kini dia mendapatkan sosok pria tampan nan wangi yang membuat Zora merasa beruntung sebagai seorang wanita.

"Lucas, ini bekas apa?" tanya Zora pelan kala melihat garis kecil di belakang kepala Lucas yang tidak ditumbuhi rambut itu, mirip bekas luka.

"Luka, aku lupa kejadiannya kapan ... kata Mommy penculikan, tapi tidak tahu juga jelasnya," jawab Lucas seadanya, bibirnya bercerita, tapi mata pria itu kini fokus pada majalah dewasa yang ada di tangannya.

"Sepertinya parah sampai kau lupa."

"Iya, kata Mommy aku sempat koma waktu itu ... sewaktu aku berumur 14 tahun mungkin," jawabnya lagi masih terus membolak-balikan halaman majalah yang sama sekali tidak menarik di matanya, tubuh para model yang terpampang di sana tidak indah sama sekali.

Zora tidak lagi menjawab, dia menyelesaikan tugasnya merapikan rambut Lucas. Baru saja hendak pergi, Lucas kembali menarik pergelangan tangannya dan menarik Zora agar duduk di atas pangkuannya.

"Aku belum masak untuk makan siang, Lucas."

"Aku sudah minta asisten Mike membawa makanan untuk kita, jadi tidak perlu masak," ucapnya mengusap pelan wajah Zora, dia menyayangi wanita ini, mana mungkin Lucas sudi dia diperlakukan layaknya seorang pembantu.

"Kalau Daddy-mu marah bagaimana?"

"Kau tenang saja, sudah kukatakan tadi malam terakhir kali dia marah bukan?"

Seorang Lucas tidak akan mengingkari janjinya, Zora hanya perlu patuh dan mengikuti cara Lucas bermain, maka semua akan aman-aman saja. Kelemahan Julian adalah Lucas sendiri, pria itu bahkan lebih patuh pada Lucas dibandingkan istrinya, untuk itu Lucas menggunakan kelemahan Julian untuk memperdaya pria itu.

.

.

Awalnya Zora ragu dengan ucapan Lucas, akan tetapi setelah Julian pulang benar-benar terbukti pria itu justru begitu berbeda. Lucas yang memperlihatkan kebahagiaan membuat pria itu salah menduga, sengaja Lucas meminta makanan kesukaannya sewaktu masih sekolah dengan alasan sudah merindukannya.

"Kau suka, Lucas?" tanya Julian yang sejak tadi memandangi putranya, sementara Zora mengatupkan bibir karena masih khawatir suaminya akan marah lantaran tidak menyiapkan makanan siang ini.

"Tentu saja, Dad aku benar-benar menyukainya," jawab Lucas dengan mata berbinar layaknya seorang yang dikabulkan keinginannya.

"Hm, Zora tolong kau pelajari cara memasaknya agar gizi putraku terjaga," ucap Julian tiba-tiba, seperti biasa dia seakan lupa jika sudah menyakiti Zora hingga ke urat nadi.

"Benar, Mom ... aku pasti betah di meja makan berjam-jam jika Mommy berhasil masak ini."

Sedikit geli, tapi dia memang menunggu Julian mengatakan hal itu. Sebelumnya dia sempat menghubungi Julian lewat pesan singkat, Lucas dengan besar hati meminta maaf atas ulahnya semalam dan berjanji akan menjalin hubungan baik-baik dengan ibu tirinya seperti yang Julian minta.

Sementara Zora yang tidak tahu apa-apa, hanya mendelik tajam ke arah Lucas usai pria itu berpura-pura seakan anak yang begitu patuh pada orang tua, pandai sekali dia bersilat lidah. Permainan api ini agaknya dipimpin Lucas sebagai seseorang yang menaruh kebencian paling dalam pada ayahnya.

"Sebagaimana kau bermain api dan membalikkan fakta hingga membuat Mommy meninggal dunia, kau juga akan merasakan hal yang sama, Dad."

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

HAMILI ZOYA BIAR JULIAN LEPASKN..

2024-01-09

1

komalia komalia

komalia komalia

waah musuh dalam selimut itu nyata musuh dan ini anak nya yang menikam dari belakang

2023-10-28

2

Ita rahmawati

Ita rahmawati

sebenci it ya lucas sm daddyny ...kandungkan tuh daddy 🤔🤔

2023-06-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!