BAB 05 - Sama Saja

Lucas memperlakukan Zora begitu lembut, jauh berbeda dengan Julian yang tidak dapat ditebak suasana hatinya. Semalam saja dia bahkan memastikan Zora tidur lebih dulu, baru berani keluar kamar.

Sesuai dugaan Lucas, sang ayah benar-benar tidak pulang hingga keesokan hari. Sudah jelas bagi mereka berdua ini sebuah anugerah, setidaknya bisa tenang dan bagi Lucas kesempatan semacam ini tidak berbeda dengan sebuah keberuntungan.

"Kau baik-baik saja?"

Hanya karena tadi malam Lucas begitu peduli dengannya, bukan berarti Zora membiarkan putra suaminya ini lupa apa yang tengah terjadi. Semalam saja Zora takut sebenarnya, Lucas ternyata tetap berada di kamar dan hal itu jelas nenbuatnya khawatir tercium oleh Julian, sang suami.

"Menyebalkan sekali, are you okay, Mommy?"

Lucas merubah nama bicaranya seperti anak kecil seolah tengah mengejek Zora yang benar-benar berusaha menempatkan dirinya sebagai ibu. Ya, meski memang benar perlakuan Zora membuat Lucas teringat akan kehadiran mendiang ibunya, tapi bukan berarti Lucas menerima Zora sebagai ibu yang sesungguhnya.

"Iya, aku baik-baik saja," jawab Zora tanpa sengaja tersenyum tipis, cara Lucas bicara terlihat lucu.

"Baguslah jika begitu ... Oh iya, tua bangka itu tidak pulang hari ini?"

"Maksudku Daddy," lanjut Lucas kala mendapati tatapan tajam Zora yang seakan tak suka jika Julian dipanggil tua bangka, padahal memang iya.

Zora mengangguk, beberapa saat lalu asisten Mike sempat mengatakan jika Julian ingin menenangkan diri. Tindakan Lucas semalam ternyata membuat pria itu tergores, mungkin mengingat mendiang istrinya.

"Wah jadi hanya kita berdua di rumah ini? Menyenangkan sekali ... tidakkah kau menyukainya, Zora?"

Selain keras kepala, Lucas juga teguh pendirian. Tidak bisa dilarang, dia akan tetap mengulang lagi. Zora tidak ingin berdebat lagi, yang jelas perutnya lapar pagi ini. Sama halnya seperti Lucas yang terlihat menikmati, menikmati wajah Zora tepatnya.

"Lucas ... bisa berhenti melihat ke arahku?"

"Tidak bisa, salahmu kenapa duduk di hadapanku," ucap Lucas enteng seraya menarik sudut bibirnya tipis.

Sama seperti ayahnya yang tidak mau kalah dan dianggap salah, Lucas juga demikian. Padahal, yang duduk di tempat ini lebih dulu adalah Zora, bukan dirinya.

Zora yang tidak ingin cari perkara pindah tempat duduk, jujur saja tatapan semacam itu sedikit membuatnya tidak nyaman. Tatapan khas lelaki yang mendambakan wanitanya, bukan terlalu percaya diri atau bagaimana, tapi hal itu memang benar dan tidak bisa dibantah.

"Oh begitu cara mainmu? Mudah saja, kursi ini bisa diubah posisinya."

"Ya Tuhan, Lucas."

Zora mengerjap pelan, bingung juga bagaimana menghadapi pria satu ini. Sejak awal sudah Zora katakan pada Julian, sepertinya dia keberatan jika harus merawat Lucas juga. Namun, kasih sayang Julian tidak bisa dibantah dan dia menyerahkan Lucas sepenuhnya untuk Zora jaga dan menggantikan peran sebagai ibu kandungnya juga.

"Hahahah aku suka kau begitu, lebih cantik ... teriak sekali lagi bisa?"

Tidak bisa, tidak mau dan tidak akan pernah. Zora berusaha mengabaikan pria itu walau hatinya sebal akibat diganggu. Sejak awal membuat sarapan, dia datang dengan bertelanjang dada dan rambut acak-acakan seolah tidak punya rasa malu.

Benar-benar sinting, Zora tidak habis pikir apa maunya. Tidak hanya sekadar datang mengusik, dia juga menggoda dengan mengucapkan selamat pagi bahkan sengaja berdiri begitu dekat dengannya.

"Pelan-pelan, aku tidak akan merebut makananmu."

Tidakkah dirinya sadar jika Zora yang terburu-buru menghabiskan sarapannya karena ulah Lucas sendiri. Sebenarnya ingin berpindah tempat, tapi kemungkinan besar Lucas akan ikut berpindah dan mengikuti kemana arahnya.

.

.

Semua terlihat biasa saja, minimnya pengawasan dan Julian yang begitu percaya membuat Lucas tidak pernah takut memberikan perhatian secara terang-terangan pada Zora.

Sudah jelas tujuannya demi mencuri hati dan perhatian wanita itu. Apa saja, bahkan turut membantu melakukan pekerjaan rumah yang dahulu tidak pernah dia lakukan. Ya, meski dia hidup sendiri cukup lama bukan berarti semua itu dia lakukan sendiri, tentu saja dia membayar jasa seseorang.

"Jangan terlalu kuat! Biasa saja," tegur Zora untuk kesekian kalinya, sungguh Lucas yang begini semakin membuat dia lelah.

"Tenang saja, dulu sewaktu aku hidup sendiri terbiasa ... mencuci begini soal kecil."

Lucas tetap tak peduli, dan terus saja mencuci dengan cara yang dia bisa, intinya basah dan berbusa sudah cukup, sesederhana itu cara Lucas berpikir.

"Dan kau tahu, aku bahkan bisa mencuci selimut, mencuci boneka, mencuci mata kaum wanita, bahkan mencuci uangpun aku bisa, Zora."

Dia membanggakan diri, sama sekali tidak sadar jika Zora tidak lagi berada di belakangnya. Mungkin malas karena sejak tadi ucapan Zora selalu dianggap angin lalu. Sudah dua celana robek akibat Lucas mengeluarkan tenaga dalam ketika membilasnya.

"Zora? Astaga ... aku bicara sendiri barusan?" tanya Lucas dalam keheningan.

Tentu saja, menyadari jika Zora meninggalkan dirinya, Lucas berlari tergopoh-gopoh dengan baju yang sedikit basah akibat mengabaikan peringatan Zora. Sungguh tidak dapat dipercaya, seumur hidup mungkin baru wanita itu berani mengabaikannya di saat sedang bicara.

Tidak butuh waktu lama, Lucas mendapatkan wanita itu. Zora yang kini berjalan menuju ke kamarnya membuat Lucas naik darah. Susah payah dia mencari perhatian, kini Zora justru mengabaikannya dan memilih pergi begitu saja.

.

.

"Kau mengabaikanku?" tanya Lucas seraya menarik pergelangan tangan Zora, sedikit kasar karena saat ini dia tengah merasa tidak penting di hadapan Zora.

Perasaan yang tidak seharusnya, tapi jujur saja hidup satu atap bersama wanita yang mengingatkan Lucas dengan masa lalunya jelas bukan hal mudah. Terlebih lagi, wanita ini justru ditakdirkan sebagai pengganti ibunya, bukan hanya peran, tapi penderitaannya juga sama.

"Bukankah kau bisa sendiri? Teruskan sampai selesai ... kebetulan aku banyak sekali pekerjaan hari ini," ungkap Zora dengan tangan terkepal dan rahang yang kini mengeras.

Sementara Lucas berusaha untuk menahan diri agar tidak membuat wanita ini tersakiti. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi yang jelas semua dia usahakan demi bisa berada di dekat Zora selagi ayahnya tidak berada di rumah.

"Zora ... apa hatimu tidak bisa menatapku sedikit saja? Bukan sebagai anak, tapi pria dewasa yang tidak suka kau diperlakukan seburuk ini."

Zora menunduk dalam, dia paham sebenarnya bahwa Lucas seperti bukan seorang putra, tapi laki-laki. Namun, mana mungkin dia bisa mengimbangi apa yang Lucas inginkan saat ini.

"A-apa maksudmu?" tanya Zora berusaha melepaskan pergelangan tangannya.

"Aku menginginkanmu, apa sesulit itu memahaminya?" tanya Lucas pada intinya, sejak malam kemarin dia sudah membulatkan tekat untuk membuat ayahnya menangis darah.

"Aku istri ayahmu, kau jangan lupakan itu."

"Aku tidak lupa ... sangat ingat, dan aku tidak peduli dengan statusmu,"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

suyetno

suyetno

perjuangan kan kllu cinta

2025-03-04

0

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

nekat nekat,,,lucas

2024-06-17

2

Ani Suwarni

Ani Suwarni

wolhadalah

2024-02-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!