BAB 19 - Keputusan Zora

Apa yang kemarin dia lihat sudah menjelaskan bagaimana hancurnya kerhamonisan antara ayah dan anak itu karenanya. Ya, tidak bisa dipungkiri Zora adalah penyebabnya dan dia sadar betul akan hal itu.

Zora menatap nanar keluar kamar, bintang di angkasa tampak bebas. Mungkin dunianya tidak tertekan, berbeda dengan dirinya yang selalu salah. Salah langkah, salah mengambil keputusan dan salah dalam semua hal.

Dia tidak tahu akan berapa lama dia bertahan, jika terus begini maka dia akan terus menjadi duri dan racun untuk keluarga Julian. Terlebih lagi, Zora mengetahui bahwa Julian begitu mencintai putranya, sungguh tidak tahu malunya andai terus bertahan dan membuat kedua insan itu justru benar-benar saling membenci hingga akhir hayat.

Zora terdiam, dia menatap Julian yang kini tertidur lelap di sampingnya. Sudah hampir pagi, jam menunjukkan pukul 03 dan kehidupan di rumah ini belum ada di jam itu.

Sudah mantap keputusan Zora, dia hanya ingin ketenangan dan enggan menjadi duri di antara dua pria ini. Andai tidak ada dirinya, maka seharusnya antara ayah dan anak yang ada di sisinya ini menjalin kehidupan sempurna.

Sejak lama Julian menginginkan hubungan bersama putranya membaik, tapi dengan kehadiran Zora semua justru hancur dan hubungan mereka kian memanas. Tiada hari tanpa pertengkaran, dan Lucas juga enggan pergi dari rumah itu sebelum berhasil mendapatkan Zora.

Untuk itu, dia memutuskan untuk benar-benar menghilang dari kehidupan mereka. Zora tidak lagi peduli andai ayahnya dihabisi atau semacamnya, akan lebih baik dia pergi karena besar kemungkinan jika Zora tidak ada di rumah maka Julian akan menyadari betapa berharganya Lucas.

Tubuhnya yang kecil dan pemahaman dimana titik aman dari pantauan memudahkan Zora untuk dapat meninggalkan rumah ini. Tidak sia-sia dia mendengar penjelasan Lucas sewaktu mereka menjalani hubungan terlarang itu, kini hal itu justru menjadi senjata utama dia pergi.

"Aku biasanya lari lewat pagar, Daddy kalau marah gila ... kau mau aku ajarkan?"

Tanpa sadar, air mata Zora menetes kala melihat tembok yang Lucas katakan sebagai jalan pintas yang menjadi penyelamatnya dari amukan Julian. Dia sempat memperlihatkan caranya, tepat satu bulan lalu. Begitu jelas Zora mengingat uluran tangan Lucas, bahkan senyum yang dia berikan.

"It's okay ... dunia tidak semenyeramkan itu, Sayang ... angkat kakimu, ayo."

Berhenti!! Cukup sampai di sini, jika waktu dia habiskan hanya untuk merenungi kenangan maka tidak akan usai. Zora menggelengkan kepala dan kembali menaiki tembok itu sebagaimana yang Lucas ajarkan.

Sama sekali tidak Zora duga, jika jarak setinggi itu bahkan tidak terasa sakit. Dia berhasil mendarat dengan sempurna, walau mungkin Lucas akan kembali mengejeknya sebagai lompatan gaya katak seperti dahulu andai dia tahu, tapi tidak mengapa. Terpenting sekarang, tujuan Zora untuk keluar dari rumah besar itu dapat berjalan dengan sempurna.

"Thanks, Dad."

Zora tersenyum kecut kala berbalik menatap istana bak neraka itu sekali lagi. Dia benar-benar pergi, tanpa harapan akan kembali bertemu Lucas atau tidak, sungguh. Hanya saja dia berharap, setelah kepergiannya kali ini Lucas dan Julian menyadari jika seorang Zora tidak lebih penting dibandingkan hubungan ayah dan anak.

Tentang dirinya, semua tentu akan baik-baik saja. Sekalipun Zora tanpa tujuan, tapi langkahnya tidak berhenti sama sekali. Hingga, cukup lama dia berjalan kaki mungilnya terasa lemas, dia berhenti dan duduk di trotoar karena kini yang dia lewati benar-benar jalan raya dan mulai jauh dari permukiman.

Sepi, tapi sedikit lebih tenang dan Zora merasa lebih baik begini. Dia tidak membawa banyak bekal, hanya sebotol air dan beberapa lembar roti karena khawatir dengan bayinya, karena bagaimanapun anak itu harus menerima asupan, pikirnya.

"Aku akan menjalaninya sendiri, menghidupinya sendiri dan menyayanginya sendiri."

Begitulah tekad Zora, tidak ada yang lain selain itu. Dia masih tenggelam dalam lamunan dan menatap sekeliling, tidak ada siapapun selain dirinya.

Hingga, Zora dibuat berdegub tak karu-karuan kala sebuah mobil hitam menuju ke arahnya. Dia yang sejak dahulu hidup dalam tekanan dan rasa takut, segera beranjak dam melangkah begitu cepat.

Dia takut, takut sekali bahkan kini bergidik ngeri. Zora menggerutu kala mobil itu justru seakan mengurangi kecepatan demi menyesuaikan langkahnya. Tidak salah lagi, dia sedang diikuti saat ini.

"Mau apa mereka? Apa dia tahu aku hamil? Ah tidak-tidak jauh sekali pikiranmu, Zora!!"

Semakin jauh langkah Zora, mobil itu masih terus membuntutinya. Hingga suara seorang pria terdengar dan membuat Zora menoleh juga pada akhirnya.

"Kau mau kemana? Bukankah berbahaya berjalan sendirian?"

Zora tidak menjawab, matanya masih terus memperhatikan pria tampan yang dia duga adalah seorang pria Asia, wajahnya sangat khas dan Zora tidak melihat sosok penculik di sana.

"Apa dia bisu ya," gumam pria itu pelan, tapi Zora dapat mendengar dengan jelas ucapan pria itu.

Benar saja, agaknya Zora yang tidak segera menjawab benar-benar menduga jika dia bisu. Terbukti dengan pria itu yang tiba-tiba berbicara dengan bahasa isyarat padanya.

"Aku bisa bicara."

"Ah syukurlah, aku pikir benar-benar bisu," ucapnya kemudian mengulas senyum teduh.

Dia menawarkan tumpangan, Zora tampak ragu, tapi jika terus berada di sana akan semakin bahaya. Belum lagi, jika tiba-tiba orang suruhan Julian mengejarnya, bisa berakhir hidup Zora dengan segera.

"Aku bukan orang jahat, Nona tenang saja."

Seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Zora, pria itu berucap pelan hingga Zora merasa tidak enak hati. Sontak dia meminta maaf dan kini menerima tawarannya, kemana dia akan berhenti Zora juga belum bisa memastikan. Namun, sejumlah uang yang memang miliknya cukup untuk membawa Zora terbang ke beberapa negara yang nantinya akan dia jadikan tujuan untuk hidup bersama sang buah hati.

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

DISINI YG SALAH & EGOIS YAA SI JULIAN, KNP CRI ISTRI YG UMURNYA SEUMURAN ATAU DIBAWAH UMUR ANAK LOO.. HRSNYA LO MNANGKN ZOYA UNTUK ANAK LO, BKN UNTUK LO MILIKI... AKU GK MUNAFIK, KLO AKU JDI LUCAS TNTU MLAKUKAN HAL YG SAMA.. SBAGAI LAKI2 NORMAL DIAM SATU ATAP DGN IBU TIRI YG MSH MUDA & CANTIK MNA TAHAN... BILA PRLU HABISI SI JULIAN KLO GK MAU LEPASKN ISTRINYA

2024-01-09

1

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

PASTI SI FABIAN ANAK NYA ZAYYAN TUHH

2024-01-09

0

komalia komalia

komalia komalia

siapa lagi

2023-10-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!