Julian tidak main-main, dia tidak terima dengan pengkhianatan yang dilakukan istri dan putranya. Setelah menolak mentah-mentah permintaan Lucas untuk menikahi Zora, pria itu juga tidak tinggal diam dan mengambil tindakan untuk membuat Zora jera.
"Aku memintamu merawatnya bukan justru menjadi pellacur untuknya!! Tubuh murahanmu itu tidak pantas untuk putraku!!"
Lain halnya dengan Lucas, Zora sudah menduga jika suaminya akan bersikap begini. Tidak masalah, dia terima karena memang benar-benar salah. Habis sudah kini, Julian memisahkan dirinya bersama Lucas dengan sekejam ini.
Zora tidak mengerti bagaimana nasib Lucas di tangan bodyguard Julian saat ini. Akan tetapi, yang jelas nasibnya saat ini kembali seperti dua bulan lalu, saat dimana Lucas belum kembali ke rumah dan menjadi penenang Julian.
Cacian dan hinaan kembali dia terima. Tamparan dan pukulan kembali dia rasakan, bahkan lebih sakit dari itu. Zora menangis, hanya itu yang bisa dia rasakan lakukan karena jika berani bersuara maka tangan pria itu akan mendarat tepat di bibirnya.
Dia tidak bisa melindungi Lucas, untuk itu dia hanya berusaha melindungi perutnya. Tatapan Julian yang berselimutkan amarah dan dendam itu tampak nyata, pemandangan yang sudah biasa tapi untuk kali ini dia benar-benar khawatir Julian menggila.
"Gugurkan anak itu ... aku tidak sudi keturunanku lahir dari putri bedebah sepertimu!!"
Mata Zora membola, dia yang sejak tadi hanya diam kini memeluk kaki Julian dan ini adalah titik terendah selama dia menjadi istri Julian. Ketakutan yang sejak awal menghantui Zora kini benar-benar terjadi.
Julian tidak terima dan tidak serta merta mengusirnya, melainkan membunuh calon bayinya. Pupus sudah harapan Lucas bahwa dunia seindah itu pasca mendengar kehamilan Zora, tidak ada Zora yang akan berjalan berdua di sisinya dengan pakaian khusus ibu hamil, dan tidak pula ada dirinya yang memijat tubuh Zora di malam hari.
Yang ada hanya Zora yang semakin terancam dan tertekan kala setitik nyawa justru hidup di rahimnya. Zora bisa pasrah jika Julian ingin membunuhnya, tapi jika calon buah hatinya yang terancam jelas dia tidak rela.
"Tidak, Anda boleh menghukumku apa saja ... tapi tidak dengan cara ini," lirih Zora memohon bahkan terus berlutut usai Julian mendorong tubuhnya hingga Zora terhuyung.
"Air matamu itu, pasti dengan cara ini kau merayu putraku bukan? Cih apa sesepi itu hingga kau menjajakan diri untuk putraku?"
"Anda boleh menganggap saya murahan, tapi sedikitpun saya tidak pernah merayu putramu!!"
Cukup sudah, dia yang dirayu lantas dia yang dituduh menjajakan diri. Zora bangkit dan memberanikan diri menatap wajah Julian, sama sekali tidak peduli sekalipun harus sakit lagi.
Benar saja, belum kering bibir Zora tamparan dari Julian kembali dia rasakan. Pria itu mendorong kasar tubuh Zora hingga terhempas ke atas tempat tidur. Zora panik, dia tidak sudi andai Julian justru melampiaskan kemarahan dengan menikmati tubuhnya.
Ya, dia aneh memang. Padahal, yang suaminya adalah Julian dan dia merasa tidak rela andai Julian yang menyentuhnya. Entah karena mencintai Lucas, atau karena kebencian dalam diri Zora pada pria itu hingga mata Zora benar-benar buta.
Namun, dugaan Zora agaknya salah karena kini Julian kembali dengan membawa beberapa obat yang Zora tidak kenali sama sekali. Satu hal yang hingga kini masih membuat Zora bingung, sebenarnya Julian mengangapnya apa hingga bersikap begini.
Jika memang istri, kenapa tidak diperlakukan sebagai istri. Akan tetapi, jika bukan istri, kenapa dia semarah itu Zora menjalin hubungan dengan pria lain. Bahkan, di awal pernikahan dia juga sempat marah besar karena Zora tersenyum pada pria lain.
.
.
"Minum," titah Julian kemudian membuka mulut Zora, dia memaksa dan akal sehat Zora berontak hingga dia menolak tidak peduli sekeras apapun Julian memintanya.
Tanpa perlu penjelasan, Zora sangat tahu obat itu pasti Julian gunakan untuk menggugurkan kandungannya. Zora tidak mau, setitik nyawa itu adalah buah cintanya bersama Lucas, dia sudah berjanji untuk membesarkan anak itu bersama-sama.
"Kau benar-benar pembangkang rupanya? Apa karena putraku menyukaimu kau merasa berkuasa? Hah? Dengar jallang!! Cinta putraku tidak akan pernah berhasil menyelamatkan bayimu!!"
Setelah sekian lama selalu menggunakan ayahnya sebagai ancaman, kini Julian seakan menemukan titik kelemahan Zora yang lain. Yang secara nyata berhubungan langsung dengannya, dengan bayi itu jelas Zora akan rela memberikan segalanya, bahkan nyawa sekalipun.
"Dan kebencianmu tidak akan pernah berhasil menghilangkan bayi ini dari hidupku," tegas Zora seakan memiliki kekuatan, entah kenapa keinginannya untuk mempertahankan bayi ini justru menggebu ketika berhadapan dengan Julian, padahal sebelumnya dia bahkan menyerah dan sempat berpikir untuk menghilangkannya dan mengakhiri hubungan terlarang mereka.
Sama-sama keras, Lucas pembangkang dan Zora juga. Begitulah kesimpulan yang dapat Julian ambil dari dua insan ini. beberapa saat Julian diam, agaknya membunuh bayi itu memang bukan solusi yang benar. Besar kemungkinan kebencian Lucas akan tiada akhir nantinya, untuk itu Julian mempertimbangkan beberapa hal sebelum kemudian mengungkapkan jalan tengah yang bisa mereka ambil.
"Aku sangat marah dengan pengkhianatan yang kau lakukan ... terlebih lagi kau melakukannya dengan putraku sendiri. Kepercayaanku bahwa kau benar-benar berhasil menjadi sosok ibu untuk Lucas, ternyata kau nodai ... dan sekarang anak itu justru hadir di dalam rahimmu sementara aku belum menyentuhmu sama sekali."
"Satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak menyentuhmu bukan karena tidak ingin, tapi tidak mampu ... apa yang kau lihat dan percayai tentangku selama ini salah besar, aku menjalani pengobatan dengan harapa bisa sembuh tapi karena sudah tua aku tidak bisa!! Aku menggunakan berbagai cara agar kau tetap berada di sisiku, tapi fakta bahwa aku tidak bisa sembuh membuatku sangat marah dan muak setiap berada di sisimu."
Sungguh, untuk fakta yang satu ini Zora benar-benar baru mengetahuinya. Jika benar penuturan Julian, maka semua yang asisten Mike katakan bahwa Julian bermain wanita dan lainnya hanya demi membuat pria itu terlihat menakutkan di mata Zora.
"Setelah semua pengkhianatan yang kau lakukan? Apa salah jika aku memintamu menggugurkan kandungan itu?" tanya Julian kemudian, seketika Zora memeluk tubuhnya dan dia kembali dicekam ketakutan.
"Tuan, saya mohon jangan lakukan!! Saya siap menerima semua hukuman, tapi kumohon jangan bunuh bayiku."
"Tetaplah menjadi istriku maka anak itu akan baik-baik saja," ucap Julian yang seketika membuat Zora terjebak dalam dilema, apa lagi ini? Kenapa semakin membuatnya sakit kepala.
"Keputusan ada di tanganmu, aku bisa melenyapkannya dalam hitungan menit." Selesai mengutarakan itu, Julian hendak berlalu.
"Tunggu!! Baik ... saya setuju, saya akan tetap menjadi istri Anda dan jangan usik bayiku."
"Bagus, aku akan memberitahukan hal itu pada Lucas," ucap Julian sebelum kemudian benar-benar pergi dari hadapan Zora.
"Maafkan aku, Lucas ... semua demi anak ini."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
suyetno
egois skl jd orang tua tidak mau mengalahkan
2025-03-04
0
kejora
kq jadi gini ya.....
apa Lucas gak bisa ngelawan bapaknya 🤔
2024-04-17
2
Ani Suwarni
ku menangis.....membayangkan.....
2024-02-13
0