Bab 20. Dilumpuhkan

"Oh begitu......!" tanggap Mang Zuhri dengan melongo, yang lain hanya terlihat manggut-manggut seperti yang mengerti. untuk sementara waktu suasana di tempat itu terlihat sangat sunyi.

Eman yang sudah tidak betah berada di tempat itu, dengan segera dia pun pergi meninggalkan orang yang sedang berkumpul, namun dengan segera dihalangi oleh Mang Zuhri.

"Sebentar, sebentar, tunggu dulu sebentar jang Eman, biarkan nanti Mamang yang mengantarkan Ujang ke rumah Mbah Abun, kita urus dulu kedua maling ini, karena mereka baru saja merampok rumah mbah Abun."

"Hah, maling dari rumah mbah Abun? kurang ajar.....!" Umpat Eman hatinya terasa panas, soalnya ke Mbah Abun Terasa seperti ke orang tuanya sendiri, ingat sama Ranti orang yang dibelanya.

Eman pun membalikkan tubuh, berjalan mendekat kembali ke arah Hadi dan Warsa, tanpa berkata lagi dia menurunkan wajahnya mendekat ke arah wajah Hadi yang sedang terduduk.

Jebret!

Satu tamparan mendarat di pipi Hadi, diikuti dengan suara teriakan yang begitu nyaring, dua giginya copot. setelah itu Eman pun mendekat ke arah Warsa, dengan segera dia pun melayangkan tamparan ke arah telinganya, sehingga membuat warsa tidak mengeluarkan suara, hanya tubuhnya saja yang terbaring tak sadarkan diri akibat dari rasa sakit yang ia Derita.

Eman berdiri sambil mengatur nafas, merasa marah terhadap Hadi dan Warsa, sehingga memori otaknya pun memutar kembali ke pengalaman-pengalaman yang sudah berlalu, di mana dia sudah terlalu sering disakiti oleh kedua orang itu, Bahkan dia Hampir kehilangan nyawa disiksa oleh kedua orang yang sangat jahat, beruntung ada seekor babi yang menyelamatkannya. bahkan saking jahatnya Hadi dan Warsa orang tuanya pun, Eman belum mengetahui kabarnya bagaimana, karena ketika itu dia hanya tahu kalau bapaknya diserang oleh mereka.

"Kurang ajar manusia tidak terdidik, tidak bisa dikasih kelonggaran, tidak ada sedikitpun berniat untuk kembali ke jalan yang benar, dasar sial4n.....!" begitulah bentak Eman yang terdengar oleh semua orang yang berkumpul di tempat itu.

"Sabar dulu Ujang, biarkan mereka kita bawa. nanti kita introgasi di rumah mbah Abun," ujar Mang Zuhri sambil memerintahkan warga Kampung Ciandam untuk mengikat tubuh Hadi dan Warsa.

Orang-orang yang diperintah pun Mereka terlihat bersemangat, tidak saling mengandalkan, karena mereka merasa bahagia bisa menangkap maling yang sudah mengacau di kampungnya. sehingga Tak ayal lagi tubuh Hadi dan Warsa tidak akan bisa bergerak atau melarikan diri, karena kaki dan tangannya sudah diikat, bahkan ada orang yang iseng Mereka pun melayangkan tendangan dan air liur ke arah wajah kedua maling itu.

Setelah semuanya dirasa aman, Mereka pun berjalan menuju ke rumah Mbah Abun dengan menggotong tubuh Hadi dan Warsa yang sudah tidak berdaya, sedangkan Eman terlihat berjalan berdampingan dengan Mang Zuhri, di belakangnya terlihat ada yang mengikuti yang tidak lain dan tak bukan itu adalah Galih yang merasa kecewa dengan datangnya Eman, karena harapannya semakin menipis untuk bisa terlaksana menikahi gadis pujaannya yang bernama Ranti.

"Celaka...! celaka kalau sudah begini pasti si Ranti akan dikawin oleh pemuda sial4n ini, harus bagaimana melenyapkannya, apa aku Serang dari belakang?" begitulah gumam hati Galih sudah keluar rasa benci karena Eman sudah menjadi penghalang niat dan cita-citanya.

Sambil berjalan Galih terus berpikir mencari cara untuk menggapai impiannya, tapi dia masih bingung harus dengan cara apa dia melenyapkan Eman, karena kalau untuk menyerang dia tidak berani, Apalagi sudah melihat kehebatan calon musuhnya itu. yang akhirnya dia hanya berjalan mengikuti Mang Zuhri menuju ke rumah Mbah Abun.

Setelah sampai, di halaman rumah mbah Abun terlihat sudah banyak orang, karena mereka ingin mengetahui keadaan di tempat itu yang terlihat acak-acakan, selepas diobrak abrik oleh sang maling.

Ambu Yayah sudah dilepaskan dari pengikatnya, Ranti sudah terlihat menggunakan baju kembali, bahkan di gerumuni oleh tetangganya yang menjenguk. ketika melihat rombongan Eman datang, orang-orang yang berada di halaman rumah pun menyamping memberi jalan.

"Siapa itu?" tanya Mbah Abun sambil menatap, lengannya sudah diikat namun darahnya terlihat masih keluar.

"Ini maling yang tadi masuk ke rumah abah, mereka sudah bisa ditangkap!" jawab Mang Zuhri sambil menunjuk ke arah Hadi dan Warsa yang sudah tidak berdaya.

"Oh ini malingnya, sudah mampus apa belum?"

"Masih bernyawa Abah."

"Bunuh saja sekalian!"

"Jangan, jangan seperti itu Abah, karena saya tidak Sanggup kalau untuk membunuh, apalagi mereka sudah tidak berdaya tidak bisa diapa-apakan lagi, kecuali kalau sambil bertarung itu beda lagi ceritanya Abah." jawab Mang Zuhri.

Sedangkan orang-orang yang menggotong kedua maling itu mereka pun masuk ke ruang tamu, Hadi dan Warsa dibaringkan di atas pelupuh dijadikan tontonan oleh orang-orang yang berada di tempat itu.

Ranti yang berdiri di pintu ruang tamu, matanya menatap ke arah luar, mata itu menangkap sosok Eman yang sedang berdiri bahkan berdempetan dengan orang-orang yang lain, karena banyaknya antusias warga yang ingin menyaksikan maling yang sudah tertangkap.

"Haduh.....! ternyata ada Kang Eman," gumam Ranti terhadap dirinya sendiri, tapi dia belum memberitahu orang yang lain. Namun Ranti mencolek ibunya lalu berbisik agar Eman masuk ke dalam rumah.

"Orangnya yang mana nyai?" tanya Ambu Yayah sambil berbisik pula.

"Tuh itu! yang memakai kampret hitam dan celana hitam."

"Sebentar kita suruh orang lain," jawab Ambu Yayah sambil berbisik kepada orang yang berada di ruang tamu.

Orang Yang disuruh pun mengangguk, kemudian dia pun turun ke teras mendekat ke arah Eman.

"Aden....., Aden dipanggil oleh Neng Ranti," ujar orang itu dengan suara pelan takut mengganggu kekhusuan orang yang sedang menonton.

"Neng Ranti....!" tanya Eman sambil melirik ke arah pintu ruang tamu, terlihatlah seorang gadis yang sangat mirip dengan wanita yang selalu hadir dalam impiannya. tiba-tiba hati Eman terasa berdebar, tubuhnya terasa lemas seperti tidak memiliki kekuatan, sehingga muncullah rasa malu, berani masuk ke dalam rumah. yang ada dia hanya terdiam melongok.

"Halah...! kenapa malah melongok, Ayo masuk ke dalam, di Panggil sama Neng Ranti!" Ujar orang itu mengagetkan.

Mendapat permintaan seperti itu, Eman merasa bingung dia Dilema antara berani atau tidak, menjadikan pilihan yang sulit di dalam hatinya. tapi Eman terus dipaksa, bahkan tangannya ditarik seperti memperlakukan seorang tahanan, yang akhirnya Eman pun menurut dengan perlahan dan sedikit malu-malu, Dia meminta izin untuk masuk ke dalam ruang tamu, disambut oleh Ranti yang terlihat berbunga-bunga.

"Selamat datang Kang Eman, selamat datang.....!" ujar Ranti sambil memeluk Eman, akibat dari rasa kangen yang sudah memenuhi dada. pria yang sudah lama dia tunggu, pria yang menjadi teman terjaga di kala Malam Sunyi, kini hadir nyata berada dalam pelukan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!