Bab 12. Hadi Dan Warsa

"Lah, lah, kamu hadi.....! Kamu benar-benar beg0, bahkan beg0nya habis sendiri......, kan, Kalau di kampung Sukamaju sudah tidak aman, banyak musuh dan banyak gangguan-gangguan lainnya. Mending kalau kita mendapat untung bagaimana kalau hanya mendapat rugi seperti yang kita alami beberapa minggu lalu. kita ditangkap terus dipukulin, dimasukkan ke penjara Desa beruntung kita bisa keluar. kalau tidak mungkin sekarang kita sudah berada di kapolsek atau sudah pindah ke nyomplong," jelas Warsa mengingatkan ke Kejadian beberapa minggu yang lalu di mana mereka hampir hampir celaka akibat perbuatan mereka sendiri.

"Iya, Ya benar sekali, kalau begitu ya sudah biarkan saja, tapi.....,"

"Dari tadi tapi, tapi..... tapi apa?"

"Kita harus meningkatkan kewaspadaan kalau kita mau bekerja di kampung Ciandam."

"Soalnya kenapa?"

"Menurut berita yang aku dapat, di kampung Ciandam ada jawara tua yang sudah tersohor namanya. dan kita tidak boleh gegabah nanti kita salah masuk rumah, yang nantinya kita hanya menggigit jari tidak mendapat apa-apa!"

"Ya enggaklah Hadi, karena aku juga memiliki otak yang cerdas gak seperti kamu otaknya yang kental. kita awasi terlebih dahulu dan kita tanyakan terlebih dahulu karena aku yakin pasti banyak orang yang akan mengenalnya, secara dia orang kaya."

"Siapa nama orang kaya itu?"

"Apa?"

"Kenapa kamu mendadak jadi budeg seperti ini, siapa nama orang kaya itu?"

"Lah, Lah kenapa kamu Hadi, kenapa kamu jadi beg0 seperti itu. Iya aku juga belum tahu siapa nama orang kaya itu karena aku juga belum mengetahuinya. namun yang jelas Orang kaya itu berada di kampung Ciandam, Bagaimana mau apa tidak?"

"Ayo Siap, jadi lah! ayo kita lanjutkan perjalanan agar cepat sampai ke tempat yang dituju."

"Nah begitu, jangan banyak nanya. ya sudah ayo!"

Kedua orang itu tidak terlalu lama beristirahat, dengan segera Mereka pun bangkit dari tempat duduk masing-masing, Kemudian mereka berjalan kembali, meneruskan perjalanan yang sempat tertunda.

Hadi dan Warsa sudah memiliki rencana bahwa mereka berdua akan pergi ke kampung Ciandam untuk menjalankan niat jahat mereka.

Hadi dan Warsa Semenjak mereka kabur meninggalkan kampung Sukamaju, pekerjaan Hadi dan Warsa mereka terus berkelana tidak tentu tempat tinggal, tidak betah tinggal di rumah karena pekerjaannya sudah semakin akut, tidak akur dengan pekerjaan orang lain. kerja kuli tidak mengerti, kerja menjadi tukang pikul tidak bisa. berdagang tidak memiliki modal, bertani tidak memiliki lahan. yang akhirnya mereka memilih pekerjaan yang berbeda dengan orang lain. mencuri, merampok, menipu, mencari keuntungan dari keteledoran orang lain. sehingga membuat mereka semakin menikmati pekerjaan mereka, karena sudah menjadi kebiasaan dan kegiatan.

Hadi dan Warsa mereka pernah tinggal di kota, Awalnya mereka sangat senang karena banyak mangsa, banyak kesempatan, untuk melakukan pekerjaannya yang jahat. Kalau lagi beruntung uang yang mereka dapat bisa cukup untuk bertahan hidup sebulan lebih, tapi uang hasil dari mencuri tidak memberikan sedikit keberkahan sehingga uang itu cepat habis, dan mereka pun kembali melakukan pekerjaannya. tapi kekurangan bekerja di kota itu banyak penduduknya, banyak petugas keamanannya. yang akhirnya Hadi dan Warsa susah untuk bergerak, Kota Sukabumi yang sangat luas, menurut perasaan mereka menjadi sangat sempit, menurut peribahasa susah bergerak karena kelakuan sendiri. melihat tentara yang lewat terasa berdebar, melihat polisi yang sedang berjaga terasa risih, bertemu dengan hansip membuat mereka khawatir. yang akhirnya hadi dan Warsa memilih jalan yang sangat aman menurut pendapat mereka, yaitu kembali bekerja di perkampungan yang sudah jelas luasnya, sehingga memudahkannya untuk berlari dan bersembunyi.

Hadi dan Warsa mereka tidak berani kembali beroperasi di kampung Sukamaju, karena banyak orang-orang yang sudah mewanti-wanti kedatangannya. orang-orang itu mengancam kalau melihat mereka berdua datang Jangan Ditanya terlebih lagi, langsung putuskan saja urat lehernya. dari dasar itu mereka pun memilih Kampung Ciandam untuk melakukan operasi kejahatan pertamanya, setelah ditangkap warga kampungnya sendiri.

Keadaan waktu itu matahari sudah tenggelam bersembunyi di balik gunung-gunung yang menjulang tinggi, menghadirkan lembayung senja yang berwarna kuning keemasan, yang menerangi Buana. jangkrik jangkrik mulai terdengar saling bersahutan dengan teman-temannya, semilir angin kecil terlihat memainkan dedaunan, membuat dedaunan itu terlihat bergerak seperti sedang melambai-lambai.

Dalam keadaan seperti itu Hadi dan Warsa Mereka pun beristirahat di pinggir kampung Ciandam, mereka menyembunyikan dirinya di dekat rumpun tebu timbarau, memperhatikan orang yang sedang lewat, berharap Siapa tahu saja ada orang yang bisa dimintai keterangan. Tidak lama diantaranya terlihatlah ada orang yang pulang mengambil Nira dengan memikul lodong, berjalannya terlihat seperti tergesa-gesa, mungkin tukang nyadap Aren itu takut kemalaman, membuat Hadi terkejut dengan segera dia pun mencegatnya kemudian dia pun berbicara.

"Berhenti dulu Mang! berhenti....., berhenti.....! Woi berhenti, Woi berhenti.....!" ujar Hadi sambil bertolak pinggang di tengah-tengah jalan, membuat tukang nyadap itu terkejut soalnya dia sedang melamun tiba-tiba ada yang mencegat.

Mata tukang nyadap itu menatap ke arah wajah Hadi namun dia tidak mengenal karena baru pertama kali dia bertemu, sehingga membuat tukang nyadap Aren itu mundur beberapa langkah kemudian dia pun berbicara.

"Ada apa Ujang?" tanyanya dengan sedikit gugup.

"Tidak ada apa-apa mang, tapi Mamang Kenapa kelihatannya seperti terkejut, wajah Mamang terlihat pucat Pasi. Mamang tidak harus terkejut, karena saya bukan orang jahat."

"Kenapa kalau bukan orang jahat, Kok menghalangi perjalanan Mamang?"

"Saya mencegat Mamang, karena saya mau bertanya sesuatu Mang."

Wajah tukang nyadap itu terlihat berdarah kembali, nafasnya terasa plong, terasa longgar, kemudian dia pun menarik nafas dalam untuk bertanya kembali.

"Mau bertanya tentang apa Ujang?" tanya tukang nyadap gula aren itu, setelah menenangkan dirinya yang merasa takut karena dicegat oleh Hadi.

"Apa Mamang kenal dengan orang kaya di kampung Ciandam?"

"Siapa namanya, Mbah Abun bukan?" jawab tukang nyadap seolah memberikan jalan.

"Nah benar itu Mang, Mbah Abun. Mamang kenal nggak dengan orang yang namanya Mbah abun?" tanya Hadi sambil mengulum senyum penuh kemenangan.

"Ya tahulah Jang, karena bah abun itu tetangga Mamang." jawab tukang nyadap tidak memiliki curiga sedikitpun karena begitulah kebiasaan orang kampung yang mengutamakan kesopanan, sehingga mereka tidak berburuk sangka terhadap orang lain, bahkan kalau ada orang kemalaman Maka akan banyak orang yang menyambut untuk mengajak menginap di rumahnya.

"Terima kasih kalau Mamang kenal, rumahnya sebelah mana Mang?"

"Bagaimana Ujang?"

"Rumahnya di mana?"

"Sangat dekat Ujang, hanya terhalang satu rumah dari rumah Mamang, Emang kenapa Ujang?" Jawab penyadap Nira diakhiri dengan pertanyaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!