Keadaan waktu di luar semakin lama semakin hangat terang, hingga akhirnya cahaya mentari pun keluar untuk menjalankan tugasnya, disambut oleh sorak-sorai burung yang terdengar riuh dari atas pohon sambil loncat-loncat untuk menjemur sayap-sayapnya yang basah terkena air embun. sedangkan Eman sedang duduk berdampingan dengan aku kebun menghadap ke arah api yang terlihat membara.
"Hari ini, Ujang Jangan dulu pergi! kita jalan-jalan terlebih dahulu untuk mengelilingi sawah, Siapa tahu saja bisa bermanfaat buat kehidupan kamu." ujar aki kebun memecah heningnya suasana pagi itu.
"Baik Aki, saya akan mengikuti semua perintah aki!"
"Sudah, Ayo ikuti aki mumpung air embun belum jatuh dari rerumputan," ujarnya sambil bangkit diikuti oleh Eman keluar dari Saung menuruni turunan menuju lembah melewati pematang sawah, menerobos daun padi yang terlihat masih basah oleh air embun.
Kaki Eman sudah terlihat basah badannya terasa dingin namun segar. Eman terus berjalan menyusuri pematang sawah, Eman tidak merasakan apapun, tidak merasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya, padahal aki Kebon menyuruh Eman berjalan bukan hanya berjalan saja, melainkan sedang mengeluarkan semua kemampuan untuk menolong Eman, dengan cara melatih kakinya terlebih dahulu, agar Eman bisa tangkas menaiki dan menuruni petakan sawah yang terlihat banyak rintangannya, karena sawah itu berada di tebing bukit yang tidak akan hantar seperti di perkampungan.
"Ujang, tuh lihat pohon pinang yang sangat tinggi, mungkin tingginya tidak kurang dari lima belas meter, ayo Ujang naik ke pohon pinang, ambil pelepah Pinang yang sudah tua!" seru aki kebun sambil menunjuk ke arah pohon pinang yang berjajar di pematang sawah.
"Haduh kayaknya itu sangat tinggi aki, apa tidak akan patah kalau saya naikin?" jawab Eman yang tidak langsung menyanggupi melaksanakan, dia sudah terlihat ketakutan melihat pohon pinang yang sangat tinggi itu.
"Ingat, laki-laki itu tidak boleh menyerah sebelum bertanding, buruan coba naik!"
Mendengar perintah dari aki kebun, Eman pun mengangguk kemudian dia pun berjalan menuju ke pohon pinang dengan perlahan dan penuh kehati-hatian. Eman pun mulai menaiki pohon itu awalnya terasa sangat susah, karena tangan dan kakinya terasa bergetar, karena selama hidupnya Eman tidak pernah menaiki pohon pinang itu, soalnya tidak ada guna dan manfaatnya.
Walaupun Eman sangat kesusahan, namun dia tetap berusaha untuk menaiki pohon itu, karena ingin mengikuti perintah aki kebun. Namun sayang kemampuan seseorang itu memiliki batas, sama seperti kemampuan Eman. ketika dia sampai ke tengah-tengah pohon, Tangannya sudah lemas, kakinya bergetar, hatinya berdebar, dia takut kalau dia akan terjatuh. jantungnya terasa berdegup dengan kencang, matanya terpejam tidak berani melihat ke arah bawah, pantatnya terasa berkedut, badannya terasa mengecil.
"Hahaha, kenapa tidak dilanjutkan Ujang?" tanya Aki kebun yang berada di bawah, kepalanya mendongak ke atas tidak sedikitpun menunjukkan rasa simpati terhadap Eman, yang ada dia hanya menertawakan seperti sangat puas.
"Ampun Aki....! saya tidak kuat, kaki saya terasa lemas," jawab Eman dengan suara bergetar.
"Turun, turun.....! tapi harus pelan-pelan. Ayo merosot dengan perlahan, agar tidak sekaligus. tangan dan kaki tidak boleh lepas, karena tak nanti bisa jatuh, dan itu sangat berbahaya.
Eman menurut, dia pun mulai melonggarkan pegangan tangan dan kekuatan kaki, hingga tubuhnya terlihat melorot turun dari pohon Pinang itu, tubuhnya terus menempel ke pohon agar tidak terjatuh, namun semakin lama dadanya terasa panas begitupun dengan pergelangan tangan yang memegang pohon begitu erat.
Sedangkan Aki kebun dia terlihat mendekat ke arah pohon pinang itu, lalu menempelkan tangan sebelah kanan sambil mulutnya terlihat berkumat kamit, seperti sedang membaca sesuatu. matanya menatap ke arah Eman yang semakin lama semakin turun ke bawah, badannya terlihat sangat bergetar dipenuhi dengan ketakutan.
Brugh!
Hingga akhirnya Eman pun sampai ke tanah, kemudian dia duduk dengan menjatuhkan diri. dengkulnya terasa lemas tidak memiliki kekuatan. sementara waktu Eman terdiam tanpa melakukan apa-apa, tidak berkata apa-apa, mungkin roh halusnya belum terkumpul semua masih tertahan di atas pohon pinang.
"Hahaha, kenapa laki-laki itu tidak bisa memanjat pohon?" tanggap aki kebun yang terlihat menertawakan, gigi yang tinggal dua terlihat bergerak-gerak seperti mau copot, matanya terus menatap ke arah wajah Eman yang terlihat pucat Pasi karena masih trauma.
"Ampun Ki....! Saya tidak berani, saya mengakui kalau tenaga saya sangat lemah, ampun aki...!"
"Hahaha, Jangan Menyerah, Ayo coba kembali, ayo manjat lagi...! Ujang harus semangat, Ujang harus percaya sama kekuatan diri sendiri. Jangan berpikir hal-hal yang buruk terus, Hidup itu harus memiliki keyakinan, bahwa kamu itu sangat kuat dan kamu akan berhasil, Ayo buruan manjat kembali....!"
Eman tidak menjawab, Dia merasa sungkan untuk memanjat kembali karena tubuhnya masih bergetar, belum kembali seutuhnya. namun meski begitu Eman tidak menolak dengan apa yang diperintahkan oleh si aki kebun, kemudian dengan segera dia pun memanjat kembali naik ke pohon pinang, walaupun tangannya terasa sakit namun dia tetap memaksakan, hingga akhirnya dia pun berhenti kembali namun sekarang lebih tinggi sedikit dari yang tadi.
Eman sudah kehabisan tenaga, tidak kuat melanjutkan lagi untuk terus memanjat agar lebih tinggi, dia hanya mempererat pegangan memeluk pohon pinang itu takut tubuhnya turun sekaligus ke bawah.
Hahaha!
Terdengar suara ketawa Aki kebun yang menggelegar dari bawah pohon pinang sambil mendongakkan kepala melihat Eman yang tidak bergerak.
"Hahaha Kenapa kamu berhenti kembali Ujang?"
"Haduh Saya lemas aki, tenaga saya sepertinya sudah habis."
"Ayo turun kembali kayak tadi, tapi jangan langsung menjatuhkan tubuh, pelan-pelan saja.....!"
Eman menurut dia pun melorotkan tubuhnya dengan perlahan, hatinya terus berdebar merasa takut kalau tenaganya habis, yang akhirnya bisa jatuh secara langsung. Eman terus memotivasi, menguatkan dan meyakinkan dirinya agar bisa turun dengan selamat, hingga akhirnya kakinya pun menginjak tanah kembali.
Brugh!
Tubuh itu ambruk terbaring di atas tanah, wajahnya semakin terlihat pucat, nafasnya sangat memburu. Setelah dirasa cukup untuk beristirahat aki kebun menyeru Eman untuk kembali memanjat pohon pinang sekali lagi, membuat Eman terdiam karena tubuhnya sudah tidak kuat. namun untuk menolak dia tidak memiliki keberanian, dia merasa malu oleh si aki kebun merasa mempunyai hutang Budi, karena sudah diperbolehkan untuk menginap di saungnya.
Dengan terpaksa Eman pun naik kembali, namun sekarang tubuhnya semakin terasa lelah, dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Eman terlihat beberapa kali berhenti dan mengambil nafas ketika memanjat pohon pinang itu, dia mengatur tenaganya agar tidak cepat terkuras, hingga akhirnya Eman setelah terus berusaha dengan Gigih, dia bisa sampai ke tempat yang dituju. namun dia tidak bisa mengambil upih karena Tangannya sudah terasa lemas, tidak bisa menarik, yang ada tubuh Eman semakin bergetar, setelah Eman merasa tidak mampu melanjutkan, dia pun turun kembali. Tampak seperti tadi, telapak tangan dan telapak kakinya terasa sangat linu, bahkan terlihat sangat lecet, karena terus bergesekan dengan pohon pinang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments