Eman yang dipenuhi dengan rasa penasaran, dengan segera dia pun bangkit dari tempat duduknya. suara orang yang tertawa terdengar kembali membuat Eman memiringkan kepala untuk mencari dari mana arah datangnya suara itu. setelah lama mencari, Eman pun beranggapan bahwa suara itu keluar dari balik air terjun membuat dahi Eman terlihat mengkerut, menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi.
"Mustahil......, Apa iya di sana ada orang?" gumam Eman sambil menatap ke arah air yang sedang jatuh. namun semakin lama suara tawa itu semakin menggelegar, semakin jelas terdengar di telinga Eman.
Seperti orang yang terkena hipnotis, kaki Eman mulai melangkah mendekat ke arah air terjun. Setelah agak lama diperhatikan, ternyata di belakang air terjun itu ada sebuah Goa, membuat Eman semakin mengerutkan dahi tidak mengerti dengan apa yang dia lihat.
Hahaha, huhhuhhahahah, wuhuhahahha.
Suara tawa pun terdengar kembali membuat Eman semakin penasaran, dengan membulatkan hati, dari rasa penasaran yang menerpa jiwanya. dengan perlahan Eman pun mendekat ke arah air terjun itu lalu dia pun loncat dan berenang ke belakang air yang sedang jatuh, sehingga dia bisa berdiri di mulut goa.
Mata Eman memindai sekitar tempat itu, terlihatlah ada batu yang berwarna hitam yang terhampar dipenuhi oleh lumut-lumut di bawahnya ada air yang menggenang semata kaki Eman, dari atas langit-langit goa air pun terlihat menetes ke hamparan batu yang berada di dalam goa.
Mata Eman terus bergerak-gerak mencari Dari mana datangnya suara orang yang tertawa, namun setelah lama diperhatikan suara itu ternyata bukan suara orang yang tertawa, tapi suara kodok hijau yang sangat besar, membuat Eman mengerutkan dahi tidak mengerti dengan apa yang sedang dia alami, karena ketika di luar goa Eman mendengar suara orang yang tertawa, tapi kenapa sekarang menjadi suara kodok.
"Kurang ajar kamu kodok...! Apa kamu mau menipuku...?" Ujar Eman sambil berjalan mendekat ke arah lubang gua yang berada di dinding batu, maksudnya dia ingin menangkap kodok itu.
Namun aneh kodok itu seperti mengerti dengan apa yang hendak dilakukan oleh Eman, dengan segera dia pun loncat ke Batu hantar yang tidak tergenang oleh air, menghindari tangkapan Eman.
Merasa dipermainkan Eman pun dengan segera mengejar kodok itu untuk menangkapnya, Tapi beberapa kali Eman hendak menangkap, Tapi beberapa kali pula kodok itu bisa menghindari tangkapannya sehingga membuat Eman merasa kesal.
"Kurang ajar, mau main-main....., ayo aku ladenin...!" tantang Eman sambil memasang kuda-kuda seperti mau bertarung menghadapi musuh.
Matanya menatap ke arah kodok yang sedang berjongkok tidak jauh dari hadapan Eman, namun semakin ditatap keanehan pun semakin terjadi, karena tiba-tiba kodok itu berubah wujud menjadi makhluk yang sangat menyeramkan, tingginya makhluk itu sampai kena ke langit-langit goa, matanya terlihat membulat sebesar terong, sedangkan mulutnya terlihat terbuka lebar dan hidungnya yang besar berwarna merah.
Grrrrrrrr........!
Grrrrrrrrr.....!
Terdengar suara nafasnya sangat menggelegar, menandakan bahwa makhluk itu sangat besar, membuat bulu Kuduk terpanggil untuk berdiri.
Melihat musuhnya sudah berubah wujud, Eman yang sudah memasang kuda-kuda terlihat memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang, merasa ngeri melihat makhluk yang sangat menyeramkan berada di hadapannya.
Eman terus mundur beberapa langkah, tapi tiba-tiba langkahnya pun terhenti, karena terbentur dengan dinding batu goa, tidak bisa mundur kembali.
Hahaha huhhuhuhuahhahaha, huhhuhuhuahhahaha.
Makhluk yang sangat menyeramkan itu pun tertawa terbahak-bahak, bahkan kepalanya sampai mendongak ke belakang. setelah puas menertawakan Eman yang sudah terpojok dengan perlahan tangannya yang besar terangkat secara perlahan mendekat ke arah Eman, mau mengambil kepalanya, membuat hati Eman berdebar seketika, namun dia tidak menyerah begitu saja Dia memiliki keinginan untuk melawan terlebih dahulu, sebelum Menjadi isi usus makhluk menyeramkan itu, begitulah pemikiran Eman.
Ketika tangan yang sangat besar dan terlihat menjijikkan itu mau mengenai kepala Eman, dengan segera Eman pun menundukkan kepalanya menghindari serangan makhluk menyeramkan itu.
Hahaha huhhuhuhuahhahaha, huhhuhuhuahhahaha....!
Suara tawa pun terdengar kembali tangan yang tadi tidak berhasil menangkap kepala Eman, dengan segera dibalikkan untuk mencengkram kaki Eman, namun Eman yang sudah bersiaga dari tadi dia tidak menyerah begitu saja, Dia pun loncat namun aneh loncatan Eman sangat tinggi sehingga kepalanya sampai terbentur ke atas langit-langit goa.
Melihat dirinya yang bisa loncat setinggi itu dengan segera Eman pun melayangkan serangan, menampar wajah makhluk menyeramkan itu menggunakan seluruh tenaga yang ia miliki, karena dia ingin puas.
Haduuuuuuuhhhhh......!
Teriak makhluk itu seperti sangat kesakitan, suara teriakannya membuat gendang telinga Eman terasa bergetar. ketika kakinya sudah menyentuh batu kembali dengan segera Eman pun menutup telinganya, tidak mau mendengar teriakan yang sangat mengganggu gendang telinga itu
Matanya sedikit kabur karena kepalanya sedikit miring agar suara itu tidak terdengar olehnya, namun ketika Eman melihat kembali ke arah makhluk yang tadi berdiri mata Eman terbelalak dengan sempurna, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat, karena di tempat itu sudah terlihat banyak serpihan batu yang hancur seperti terkena Palu bogem.
Eman terus menatap serpihan batu itu merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat, bahkan dahinya terlihat berkerut menerka-nerka Apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa benar, ada sebuah batu yang bisa berubah menjadi makhluk yang menyeramkan seperti tadi, atau mungkin makhluk itu yang berubah menjadi batu....., terus ke mana larinya kodok hijau tadi?" ujar Eman berbicara dengan dirinya sendiri, matanya melirik ke arah tangan yang terlihat memerah seperti habis menampar batu.
Dahi Eman semakin mengkerut mencerna Apa yang sedang dia alami, dia melirik kembali ke arah batu yang sudah berubah menjadi koral kemudian matanya melirik kembali ke tangan yang berubah menjadi merah.
"Apa mungkin batu yang tadi aku tampar sampai hancur seperti itu?" gumam Eman yang masih kebingungan.
Merasa penasaran Eman pun berjalan mendekat ke arah batu yang berada di dekat dinding goa, batu itu terlihat sebesar bakul nasi. tanpa berpikir panjang Eman pun memukul batu itu menggunakan telapak tangannya.
Brugh....!
Ketika hantaman tangan Eman mengenai, batu tiba-tiba terbelah seketika menjadi dua, membuat Eman menggeleng-gelengkan kepala. tidak percaya dengan apa yang dia lihat, namun rasa herannya tidak terlalu lama timbullah Rasa Bahagia yang mulai menyeruak memenuhi jiwanya.
Emang terlihat loncat-loncat sambil menari penuh kegirangan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan, secara tidak sadar Eman pun loncat keluar dari mulut gua menerobos air yang sedang terjun hingga tubuhnya jatuh ke atas Leuwi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments