Mendengar penjelasan dari orang tuanya, Ranti pun terdiam kembali berpikir karena dia merasa bingung harus kemana menyusulnya, dan sekarang di mana orangnya, alamat tinggalnya belum diketahui, keluarganya belum bisa disusuri. soalnya Ranti belum sempat untuk bertanya yang lengkap, karena Ranti tidak bisa berbicara. Ranti mengetahui nama pemuda itu adalah Eman, karena dia pun pernah mendengar sekali ketika dia berhasil menyelamatkan pemuda itu dari marabahaya Pati, akibat siksaan dari Hadi dan Warsa.
Mbah Abun menarik nafas dalam, kemudian dia pun mengambil bungkusan rokok lalu mengeluarkannya satu batang untuk dibakarnya, Tak lama asapnya pun mengepul memenuhi kepala. sedangkan keadaan alam semakin lama semakin malam, di luar terlihat sangat gelap tanpa ada bintang sedikitpun. suara anjing tanah dan jangkrik terus saling sahut menyahuti, memeriahkan suasana malam mencekam itu.
Melihat anaknya yang tidak memberikan tanggapan, Bah Abun lama-kelamaan menjadi merasa bosan, hingga akhirnya dia pun berbicara kembali.
"Kalau Nyai tidak bisa memberi jalan keluar dari masalah yang kita hadapi sekarang. Maka Abah akan memberi satu keputusan yang harus disepakati semuanya, Abah memberi waktu terhadap Nyai sampai hari besok."
"Maksudnya bagaimana Abah?"
"Maksudnya kalau orang yang bernama Eman tidak bisa ditemukan sampai hari besok."
"Iya Bagaimana kalau Kang Eman tidak datang sampai hari besok?" tanya Ranti sambil menatap ke arah bapaknya, hatinya terasa berdegup sedikit kencang merasa khawatir dengan apa yang akan diputuskan oleh bapaknya.
"Kalau orang yang bernama Eman tidak datang sampai sore dan kita tidak menemukan tapak lacaknya. maka kamu harus menikah dengan salah satu peserta sayembara."
"Kenapa Abah memutuskan seperti itu?"
"Karena kalau Abah tidak memutuskan, Abah merasa memiliki hutang janji. apa lagi janji itu sudah Abah embarkan terhadap banyak orang, bahwa Abah akan memberi hadiah bagi siapa saja yang berhasil menyetorkan babi beranting kepada Abah."
"Kalau seperti itu Ranti hanya berserah saja sama takdir, karena Ranti sangat kesulitan untuk menyelidiki Kang Eman, apalagi Abah dan Ambu tidak mengizinkan Ranti untuk keluar mencarinya." jawab Ranti yang terlihat sangat jengkel, dengan segera dia pun bangkit lalu masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepian ranjang, memikirkan nasib yang begitu berat.
Ambu Yayah hanya menatap ke arah sang suami seperti sedang menyalahkan, karena sudah berani mengambil keputusan sendiri seperti ada orang yang mengancam, tidak memberikan waktu sedikitpun untuk menentukan pilihan jodoh anaknya.
"Abah!"
"Apa lagi manggil-manggil?" bentak Bah Abun dengan membulatkan mata.
"Jangan membentak Abah, Ambu kaget....! Abah apa-apaan ini, kok Abah memutuskan sebelah pihak."
"Sudah Ambu kamu jangan banyak berbicara, malam ini abah mau keluar karena hampir sudah seminggu libur bekerja karena terfokus mencari orang yang bernama Eman. awas kamu harus hati-hati, jangan sampai anak kita mengetahui. biarkan dia tidur dengan pulas....., Ayo buruan sediakan air di dalam baskom seperti biasa!"
Mendengar perintah dari sang suami yang menyerunya untuk menyiapkan alat-alat ritual pesugihan siluman babi, Ambu Yayah tidak menolak, meski dia sempat mengungkapkan bahwa dia ingin mengakhiri kerja sama dengan siluman yang memberikan kekayaan itu. tapi untuk menyanggah permintaan suaminya Dia tidak memiliki kekuatan sehingga akhirnya dia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan benda-benda yang biasa disediakan ketika melakukan ritual pesugihan.
Sesampainya di dapur, Abu Yahya pun mengambil baskom putih yang sudah biasa digunakan, kemudian diisi dengan air bening. setelah itu dia bawa ke kamar yang sudah disediakan khusus untuk melakukan ritual, setelah sampai dia menyimpan baskom itu di tengah-tengah kamar, lalu Ambu Yayah keluar kembali untuk mengecek jendela takut ada kunci yang belum kencang.
Sedangkan Mbah Abun, dia pun masuk ke dalam kamar untuk mengambil bambu Tamiang hitam yang dia simpan di dalam lemari, kemudian menemui istrinya yang sudah berada di dalam kamar yang khusus.
"Awas.....!, Ambu harus hati-hati, kalau airnya terlihat bergejolak maka harus dibuang ke kolong, kalau Lilinnya terlihat bergoyang-goyang maka lilin itu harus segera dimatikan!" nasihat Mbah Abun sebelum berangkat bekerja.
"Baik Abah...., Ambu juga sudah mengerti, karena itu sudah menjadi kebiasaan kita."
"Syukur kalau sudah mengerti, Abah Hanya mengingatkan saja, takut Ambu lupa!" jawab Mbah Abun sambil keluar dari dalam kamar kemudian menuju ke dapur untuk pergi bekerja.
Setelah berada di luar rumah, baju jimat dikeluarkan dari bambu Tamiang. tanpa membuang waktu dengan segera bahabun pun memakai baju itu sehingga membuat wujudnya berubah seketika, berubah menjadi babi hutan yang sangat besar.
Grok!
Terdengar suara babi yang begitu khas, kemudian babi itu berlari menuju kegelapan malam hingga dia pun tidak terlihat lagi diselimuti oleh gelapnya malam, diantarkan oleh suara jangkrik, diikuti oleh angin kecil yang bersemilir, sepertinya angin itu ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh orang yang tersesat langkah itu.
Sedangkan ambu Yayah setelah Mengunci pintu kamarnya, dengan segera dia pun duduk menghadap ke arah baskom yang berisi air, diterangi oleh Lilin yang terus menyala. kamar itu sangat rapat karena dilapisi dengan koran dan kain putih, sehingga tidak memungkinkan untuk angin masuk ke dalam. Jadi kemungkinan lilin itu untuk tertiup angin sangat kecil, makanya ketika api itu bergerak-gerak ditambah dengan air yang bergejolak, suaminya pasti sedang berada dalam bahaya.
Sedangkan Ranti, dia tidak banyak bergerak dia hanya terbaring di atas kasur, terlentang sambil menggembala lamunan. matanya terlihat bergerak-gerak menatap langit-langit kamar, pikirannya terbang ke waktu-waktu yang sudah terlewat, seperti sedang diputarkan videonya, sehingga mengganggu ke alam pikirannya. Namun lama-kelamaan mata Ranti pun terpejam dengan sempurna, Lamunan berpindah ke alam impian, dia tidur dengan nyenyak meninggalkan hiruk pikuk dunia yang sangat menyedihkan.
Keadaan malam semakin lama semakin sunyi, udaranya terasa sangat segar. namun keadaan yang awalnya gelap semakin lama berubah menjadi remang-remang, memperlihatkan bayangan orang-orang yang sedang berjalan dalam kegelapan malam, Namun sayang wajah mereka tidak terlihat jelas.
Waktu itu di jalan yang berada di tengah-tengah kampung ada dua orang yang sedang berjalan, Mereka terlihat tergesa-gesa seperti hendak menuju sesuatu. setelah diperhatikan dari postur tubuhnya kedua orang itu adalah Hadi dan warsa yang sudah mulai menjalankan niat jahatnya, orang yang mau merampok rumah mbah Abun.
Kedua bayangan hitam itu terlihat terus bergerak menyusuri jalan, ketika berada di belokan kedua orang itu terlihat berhenti, soalnya dari arah depan mereka mendengar suara kemerosok dan kemerosuk.
Grok!
"Apa itu?" tanya Hadi sambil loncat ke arah samping jalan. untuk bersembunyi takut ada orang yang memeregoki keberadaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments