"Kita lanjutkan obrolan yang tadi, coba tolong kamu dengarkan Ujang! Nanti kalau sudah sampai dan bertemu dengan Neng Ranti bersama keluarganya, Ujang harus berterus terang bahwa Ujang tidak mau menerima harta benda yang akan diberikan, Ujang harus meminta ke orang tua Neng Ranti, bahwa Ujang ingin memiliki ilmu."
"Bagaimana caranya aki?"
"Caranya Ujang akan di sekolahkan atau di pesantren kan. Nah kalau ada kesempatan seperti itu, jangan ditolak, jangan disia-siakan! Ujang harus menjalankannya dengan bersungguh-sungguh."
"Haduh Aki, kalau saya di sekolah kan saya khawatir, Saya takut, saya malu, Yang intinya Saya tidak sanggup aki. karena otak saya sangat bodoh!" jawab Eman sambil meringis mendengarkan kata sekolah dan Pesantren membuat nyalinya menciut.
"Hahaha jangan menyerah sebelum bertanding, Jangan mengeluh sebelum mencoba. karena sikap seperti itu bagi seorang laki-laki sangat tidak pantas. Kenapa Ujang harus takut, padahal ilmu itu sangat dibutuhkan dan mencarinya itu sangat wajib. yang perlu Ujang ketahui, ilmu itu datang sedikit demi sedikit tidak sekaligus."
"Tapi aki, otak saya tidak akan kuat aki!"
"Jangan sok tahu dengan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. manusia itu tidak memiliki daya dan kekuatan, gerak-geriknya hanya digerakkan oleh sang pencipta, yang memiliki bodoh Allah, yang memiliki kepintaran juga Allah. manusia itu tidak memiliki apa-apa, Kenapa Ujang harus takut kalau Ujang masih memiliki kepercayaan sama Allah?"
"Iya Aki! saya sangat percaya dengan adanya Allah."
"Bagus kalau Ujang percaya dengan Allah dan yang harus Ujang ketahui, mencari ilmu itu hukumnya wajib, dari mulai bau kencur sampai liang kubur, dari semenjak masih bayi sampai menjadi jenazah, dari awal lahir ke dunia sampai liang lahat. ada lagi penjelasan yang menerangkan!"
"Bagaimana aki?"
"Begini...! mencari ilmu itu wajib bagi Muslim laki-laki dan Muslim perempuan, tidak tua, tidak muda. kum...! semuanya terkena oleh kewajiban untuk mencari ilmu."
"Begitu aki?"
"Iya begitu, sedangkan caranya Jangan mendahului ketentuan sang pencipta. kita tidak boleh mengejar kepintaran karena kepintaran dan kebodohan semuanya milik Allah. yang wajib itu adalah mencari ilmu, karena urusan pintar dan tidaknya itu urusan Allah, kita hanya menjalankan kewajiban mencari ilmu itu. Karena hanya itu kewajiban kita "
Mendengar perkataan aki kebun Eman terlihat manggut-manggut, semangatnya yang sudah padam kini berkobar kembali. teringat dalam khayalan Eman ketika dia sedang bersekolah di kampungnya, dia sering menangis karena sering mendapat ejekan dari teman-temannya Soalnya kalau disuruh oleh guru dia belum pernah bisa. selamanya hanya menjadi bualan dari kekesalan Sang Guru, dimarahi, dikucilkan, diejek dan dihina, semua itu membuat Eman trauma.
Eman kembali mengingat ketika belajar di rumah pak ustad, di rumah uwaknya sendiri. Eman belajar pesantren kecil-kecilan yang membuat pak ustad merasa bosan untuk mengajarinya.
"Aki.....!" Panggil Eman Setelah lama berpikir.
"Iya kenapa Ujang?"
"Saya mengerti Kalau begitu, baik saya akan berusaha semaksimal mungkin. saya tidak akan mengeluh sebelum bertanding, tidak akan menyerah sebelum mencoba." ujar Eman yang sudah menguatkan hati membulatkan tekad.
"Nah, Bagus memang harus seperti itu, karena kepintaran hanya milik Allah. dan siapa tahu saja sekarang Ujang bisa pintar, soalnya sama Hadi dan Warsa kamu disiksa, namun seolah-olah disuruh bertapa. semoga saja ini menjadi sebab datangnya cahaya kepintaran dari Allah, semoga aja otak kamu bisa encer tidak terlalu kental seperti yang sudah-sudah." jawab aki kebun yang terlihat tegas membuat Eman kembali mengangguk-anggukkan kepala, tanda dia mengerti dengan apa yang disampaikan oleh orang yang duduk di hadapannya.
Malam itu Eman dan Aki kebun mereka mengobrol sampai tengah malam, seperti orang yang sudah lama tidak bertemu, tidak seperti orang yang baru kenal bahkan terlihat seperti kakek dan cucu.
Eman semakin mengerti tentang artinya kehidupan, Eman semakin mengerti tentang tujuan hidupnya, dan dia semakin mengerti tentang kekuasaan Allah. aneh, ilmu-ilmu yang didapat dari pak ustad seperti kembali terlihat, seperti pisau yang sedang terasah menjadi tajam .
Malam itu, aki kebun terus-terusan memberikan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan sama Eman, persis seperti seorang kakek yang sedang menasehati cucunya. bahkan si Nini kebun dia tidak membiarkan, si Nini ikut berbicara memberikan wejangan sama Eman.
Kira-kira pukul 01.00 malam, Eman disuruh tidur. sedangkan aki kebon dia hanya terdiam sambil mendengarkan suara-suara hewan yang berada di luar Saung, Sepertinya dia tidak ngantuk sedikitpun.
Waktu itu eman terlihat berbaring di tikar yang tinggal Sebelah, di selimuti dengan sarung sampai menekuk lututnya, karena tidak kuat menahan rasa dingin. di dalam impiannya dia bertemu kembali dengan Ranti yang terlihat oleh Eman, Ranti itu adalah wanita yang sangat cantik dan memiliki cahaya, bahkan di dalam impian itu kepala Ranti memakai mahkota dan Duduk di singgasana yang terbuat dari emas berlian, persis seperti sang ratu di cerita Kerajaan.
Keadaan malam semakin lama semakin menuju waktu subuh, dari upuk Timur sudah terlihat cahaya kuning keemasan, untuk mengusir sayap-sayap malam yang sebentar lagi akan habis waktu kerjanya. Eman yang tidurnya sangat lelap dia pun terlihat bergerak, kemudian dengan perlahan matanya mulai terbuka, tubuhnya dibangunkan dengan sedikit malas, mata itu melirik ke arah kanan dan ke arah kiri. Si Ninik dan si aki sudah tidak terlihat, karena mereka sudah pergi ke air untuk mengambil air wudhu.
"Alhamdulillah rasanya tidur malam ini sangat nikmat," gumam Eman sambil membetulkan sarung kemudian keluar dari Saung, matanya melirik ke arah timur yang sudah sedikit terang, disambut oleh suara burung-burung yang mulai berkicau, dari kejauhan terdengar suara ayam jago yang berkokok.
Eman terus berdiri di depan Saung matanya terus menatap ke arah yang jauh, memperhatikan alam yang terlihat sangat indah, dihiasi oleh cahaya kuning dari upuk Timur, burung kutilang Terdengar sangat bahagia menyambut kehadiran sang surya yang sebentar lagi akan keluar.
"Buruan mandi Ujang, buruan wudhu....! terus salat subuh, tidak boleh terlewat." seru aki kebun yang tiba-tiba hadir di samping Eman.
"Baik aki," jawab Eman yang terperanjat kaget kemudian dia pun berjalan menuju ke arah air, lalu membuka bajunya untuk mandi. rasanya air itu sangat dingin sampai terasa menyerap ke sumsum Balung, tapi itu tidak dirasa bahkan Eman seperti sengaja dia berkeramas mencuci ubun-ubun berharap menjadi Jalan perantara datangnya kepintaran.
Setelah selesai mandi dan mengambil air wudhu, Eman pun berdiri untuk melaksanakan salat subuh dengan begitu khusyuk, dilanjutkan dengan berdzikir sesuai dengan ilmu yang pernah dia pelajari di rumah pak ustad.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments