"Saya orang bodoh, Sudah beberapa kali di sekolah kan, di pesantren kan, di begini kan, di begitu kan. namun tetap saja saya menjadi orang bodoh, tidak memiliki banyak pengertian, otak saya sangat kental....!" ujar Eman sambil menepuk dahinya, Dia sangat sadar diri karena dirinya sangat bodoh.
Mendapat pertanyaan seperti itu, aki kebun hanya mengulum senyum, kemudian melirik ke arah si Nini yang sedang menumpahkan liwet ke bakul buntung, wanginya tercium sangat khas memenuhi rongga hidung, karena memakai salam dan sereh. peda bakar sudah terbaring di atas daun pisang, berdampingan dengan sambal seraung.
"Sudah dulu, jangan membicarakan hal seperti itu. tuh lihat liwet sudah matang, kita makan terlebih dahulu, agar otak Ujang tidak bodoh....! hahaha."
"Benar Kujang, Ayo buruan makan, jangan ragu-ragu Kalau di tempat ini. walaupun kita sedang berada di hutan, kita tidak akan pernah kekurangan nasi liwet," timpal si Nini sambil menggeserkan bakul yang sudah diisi dengan liwet ke samping si aki. kemudian dia pun menggeserkan coet yang diisi sambal seraung begitupun dengan peda bakar tidak ketinggalan. lauk makan sore itu hanya sambal dan peda bakar, tidak ada lauk yang lain. Namun Eman sangat bersyukur karena hari ini dia bisa makan nasi.
"Terima kasih banyak aki, Nini. kebetulan Hari ini saya bisa bertemu makan nasi, karena kemarin-kemarin Saya hanya memakan singkong bakar. itu pun hasil dari mencuri atau memetik tanpa pamit, karena terpaksa, tidak kuat menahan lapar," ujar Eman sambil menundukkan pandangan merasa sedih dengan apa yang menimpa dirinya.
"Sudah jangan dibahas lagi! yang sudah berlalu Biarkan Berlalu. Namun ke depannya, awas jangan sampai mencuri kembali nanti takut kena batunya. Ya sudah ayo kita makan!" jawab aki kebun dengan bijak.
"Baik aki!"
Akhirnya ketiga orang itu makan bersama, berkumpul di saung sawah. Eman terlihat sangat lahap Karena dia sudah lapar dari tadi, sedangkan sekarang disuguhkan nasi liwet yang sehingga membuat Eman merasa ketiban Durian Runtuh.
Nasi liwet yang hangat, dicocolkan kesambel suraung, sedangkan lauk pauknya yaitu peda bakar, yang semakin membuat terasa nikmat, semakin membuat Eman meminta menambah nasi karena nasi liwet itu sangat terasa nikmat.
Keadaan di luar Saung semakin lama semakin terlihat gelap, karena semakin menuju ke tengah malam. Ditambah lagi dengan keadaan yang berada di pinggir hutan, membuatnya semakin terasa sunyi, semakin terasa mencekam. anjing tanah terdengar sangat riuh, di Sahuti dengan caricangkas dan belalang, seperti sedang mengadakan kontes suara siapa yang paling kencang. Sesekali terdengar suara desisan-desisan ular dari arah lembah, membangkitkan bulu Kuduk untuk berdiri.
"Suara apa itu aki?" tanya Eman di sela-sela kunyahannya.
"Ah tidak usah takut! karena di sini sudah biasa dengan suara-suara seperti itu. kalau Ujang ingin tahu itu adalah suara ular sanca, yang sedang bermain mencari mangsa."
"Holoh! bagaimana kalau ke sini aki?" tanya Eman yang terlihat ketakutan.
"Apanya yang ke sini?"
"Iya ular sanca Itu Aki!"
"Biarkan saja kalau tidak mengganggu!"
"Ih takut banget ya aki." ujar Eman sambil bergidik ngeri, kemudian dia pun melanjutkan kembali makannya Yang Tertunda.
Melihat kelakuan Eman yang seperti itu, membuat kedua sudut bibir aki kebun terangkat. kemudian dia pun melanjutkan suapan yang sempat tertunda.
Tak lama setelah itu, terdengar suara Deru rumput ilalang seperti yang terdepak oleh gajah, membuat aki kebun terlihat terkejut, Nini kebun terlihat kaget. sedangkan Eman hanya menatap melongok tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, hampir saja dia tersendat karena barusan sedang menelan.
"Apa itu aki?" tanya Eman dengan sedikit tergagap.
"Tenang Ujang, itu suara babi jarah yang mau menjarah kebun aki."
"Babi.....!" ulang Eman sambil terdiam, khayalnya terbang mengingat kembali ke babi ngepet yang beberapa hari terakhir berbarengan dengan dirinya. hayalnya kembali teringat dengan Ranti, hingga dia pun lupa dengan keadaan, Eman terperanjat kaget membangkitkan tubuh mendekat ke arah pintu Saung, maksudnya mau keluar namun dengan segera Si Aki kebun menghentikan.
"Sudah tunggu saja Ujang, biarkan aki saja yang mengusirnya!" tahan Si Aki kebon.
Eman langsung terdiam menatap penuh heran ke arah Aki kebon. Sedangkan orang yang ditatapnya dengan segera mengambil tali yang terikat ke Palang dada Saung, dengan segera dia pun menariknya serta menggoyang-goyangkan tali itu.
Prak! prak! prak!
Tring! Tring! Tring!
Terdengar suara alat pengusir hama dari setiap sudut penjuru kebun, yang digoyangkan menggunakan tali dari dalam Saung. membuat Eman menatap melongo, karena baru mengetahui tentang kepintaran aki kebun, yang terlihat sangat canggih. soalnya untuk mengusir babi tidak harus keluar dari Saung, hanya dengan menggenggam tali yang ada di dalam Saung, hewan penjarah itu bisa Terusir dengan sempurna
Setelah lama melihat, akhirnya Eman pun kembali duduk di tempat yang tadi ia tinggalkan, namun pikirannya belum tenang karena dia mau keluar dari Saung, bukan untuk mengusir babi tapi dia Teringat sama Ranti.
"Lanjutkan kembali makanya sampai kenyang Ujang!" seru si aki sambil duduk kembali di tempat tadi, melanjutkan santapan yang tertunda.
Mendapat perintah seperti itu, tiba-tiba perut Eman terasa kenyang karena pikirannya terus dipenuhi oleh babi ngepet yang bernama Ranti. bahkan di kelopak matanya ada seorang gadis yang sedang menari-nari dengan wajah wanita yang selalu hadir dalam mimpi indahnya.
Dahi Eman terlihat mengkerut, dia merasa heran kenapa impiannya terus datang menghantui hidupnya. Wajah wanita yang selalu hadir dalam mimpi itu adalah Ranti gadis cantik yang tak berubah sedikitpun.
Ngeng!
Tiba-tiba telinga Eman terasa mendenging dengan keras, diikuti dengan wajah Ranti yang tergambar dengan jelas, membuat Eman semakin tidak mengerti. Kejadian ini berbarengan dengan kejadian di kampung Ciandam di mana Mbah Abun sedang melakukan ritual penyembuhan anaknya, dengan cara membuka baju jimat yang selama ini dipakai oleh Ranti.
"Kujang Kenapa kamu terus melamun, apa kamu sakit?" tanya si Nini sambil menatap lekat ke arah Eman membuat Eman terkejut seketika.
"Tidak Nini, saya tidak sakit!" jawab Eman sambil melirik ke arah orang yang bertanya.
"Terus Kenapa kamu melamun terus?"
"Saya Teringat sama Neng Ranti Nini, jangan-jangan Dia sedang bertemu dengan kesulitan, karena selama berbarengan dengan saya tidak terlepas dari godaan dan gangguan yang membuat sangat mengkhawatirkan, bahkan sesekali suka mengancam terhadap jiwanya. Saya takut kalau Neng Ranti diperebutkan oleh orang-orang yang serakah Nini, saya takut kalau dia dibunuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab." jelas Eman mengungkapkan kegelisahannya.
"Hahaha, Ujang harus yakin terhadap sang pencipta, tidak boleh berburuk sangka seperti itu!" tanggap aki kebun sambil meneguk air minum karena Makannya sudah selesai.
"Haduh harus bagaimana kalau sudah begini aki?" Tanya Eman yang dipenuhi kebingungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments