bab 14. Perdebatan Antara Bapak dan Anak

Mbah Abun ketika mendengar penjelasan dari anaknya seperti itu, matanya terlihat membulat mungkin tidak setuju karena dia sudah menikmati hasil dari apa yang sudah ia kerjakan, Apalagi sudah menjadi kulit dan menjadi daging, sehingga Mbah Abun lupa dengan tugas hidupnya yang utama. Terlena dengan kekayaan yang diberikan oleh siluman dia merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini, karena semua kemauannya bisa ia gapai dengan mudah.

"Abah....." Panggil Ambu Yayah memecah heningnya suasana.

"Yah ada apa ambu?" Jawab Bah abun yang menaikkan intonasi suara.

"Jangan dulu membentak apa. setelah Ambu pikirkan dengan pikiran yang sehat, setelah Ambu rasakan dengan perasaan yang waras. pembicaraan si Nyai memang benar adanya Abah."

"Sudah jangan diteruskan, sudah jangan ikut campur dengan urusan Abah. dengarkan oleh kamu Ambu.....! karena Ambu juga sudah merasa, sudah mengalami, sudah menyaksikan, kalau hidup sengsara, hidup tidak memiliki harta, Bagaimana rasanya?" tanya Mbah Abun sambil menatap tajam ke arah istrinya.

"Sedih dan sengsara Abah!"

"Sengsara, sakit hati, sakit batin, Nelangsa, tidak memiliki harga diri, jadi bahan hinaan orang lain bukan?"

"Iya itu bener banget Abah!"

"Nah sekarang harta kita sudah banyak, untuk makan tidak kesusahan, untuk pakaian kita sangat menumpuk, untuk harta dan benda sudah tak terhitung. apapun yang kita inginkan tinggal mengambil, tinggal memakan, tinggal memakai. Coba sekarang Ambu pilih mau milih yang mana. mau memilih melarat atau mau memilih jadi orang kaya?" jawab Mbah Abun dengan wajah seriusnya, bahkan wajah itu terlihat memerah.

"Abah.....!" Panggil Ranti meminta izin untuk ikut berbicara.

"Apa kamu manggil-manggil!" Bentak Bah Abun yang masih tidak suka

"Apa artinya kita menumpuk-numpuk harta benda kalau harga diri kita ada di bawah telapak kaki orang lain, dan selain dari itu Ranti sudah pernah mengalami ketika menjadi babi itu sangat sengsara, Nelangsa, hati sakit selamanya. Mungkin Abah sekarang bisa berkata kalau Ranti mengada-ngada, karena Abah belum mengalami Bagaimana sedihnya dikejar-kejar oleh anjing, Bagaimana sengsaranya tidur di rumpun pohon tebu timbarau, Bagaimana pahitnya ketika makan harus menggigit talas mentah atau singkong mentah. Coba tolong bayangkan oleh Abah, kejadian yang menimpa Ranti semuanya Sangat menyedihkan, membuat hati Ranti Lara dan Tunggara, karena tidak ada kesedihan lagi selain menjadi babi hutan. jadi yang perlu Abah ketahui mendingan Ranti hidup Melarat tapi masih menjadi manusia, daripada hidup bergelimang harta tapi harus berubah wujud menjadi babi ngepet, Ranti tidak mau menjadi babi untuk yang kedua kalinya, Karena itu sangat sedih Abah," Ujar nanti sambil menitikan air mata mengingat kembali pengalaman yang sudah ia lalui, ketika wujudnya berubah menjadi babi ngepet.

"Siapa yang menyuruh kamu menjadi babi?" tanya Mbah Abun tanpa sedikitpun menurunkan intonasi suaranya.

"Abah......, ketika abah mau membuka baju jimat yang dipakai oleh Ranti. ke rumah kita ada yang datang yaitu Raja siluman babi yang wujudnya sangat menakutkan, membuat getir dan membuat bulu Kuduk berdiri. waktu itu batin Ranti terasa berada dalam impian."

"Soalnya?"

"Soalnya Ranti mendengar suara-suara aneh yang belum pernah nanti dengar sebelumnya, dan dalam impian itu Ranti mendengar bisikan bahwa suatu saat Abah harus pulang ke Gunung Karang untuk menjadi rakyat siluman babi yang bernama Prabu Uwul-uwul. bisikan itu sangat terdengar jelas di telinga Ranti seperti ditunjukkan ke telinga, bahkan sampai sekarang bisikan itu masih terngiang-ngiang di telinga Ranti."

"Hahaha, Ranti, Ranti......!"

"Iya saya Abah,"

"Kenapa kamu harus menuruti bisikan-bisikan yang tidak jelas seperti itu, karena menurut kamu sendiri bahwa bisikan itu berada dalam impian. Kalau kamu tidak tahu benar itu adalah mimpi, karena prabu Uwul-uwul itu tidak ada. yang masuk ke dalam rumah dan bertamu juga tidak ada. yang ada hanya dalam impian Nyai. Nah dari dasar itu, Sudahlah kamu tidak usah banyak pikiran, karena Abah tidak akan berubah menjadi babi hutan. karena Abah punya antinya, punya penangkalnya dan punya ilmunya, sehingga Abah tidak akan mudah terbawa arus yang tidak tentu."

Mendengar penjelasan dari bapaknya Ranti pun terdiam berpikir, dia merasa kaget kenapa hati bapaknya sangat keras seperti batu. Ranti menjadi bingung harus bagai mana Dan dengan cara apa membangunkan hati bapaknya agar mau berhenti dari pekerjaan maksiatnya, jangan terus menjadi hamba siluman, jangan menjadi rakyat babi.

"Udahlah, kita jangan membahas masalah itu. mendingan kita bermusyawarah tentang sayembara. soalnya masalah ini harus secepatnya kita selesaikan, nanti takut ada akibatnya Buat keluarga kita!" pisah Abu Yayah menghentikan orang yang sedang berdebat.

"Benar, benar ambu....! itu keputusan yang sangat bijak, daripada kita membicarakan yang tidak jelas alur ceritanya, mendingan kita membicarakan tentang sayembara. baik, kita akan musyawarahkan sekarang, karena memang benar apa yang dibicarakan oleh Ambu bahwa kita harus secepatnya menyelesaikan masalah ini, karena kalau tidak ini akan membuat bahaya buat keluarga kita, bahkan Abah kemarin sudah mendengar Bahwa masalah ini sudah menjadi bahan pemikiran buat orang-orang yang mengikuti sayembara, karena mereka merasa tidak puas dengan keputusan yang keluarga kita ambil. dari dasar itu, Mari kita pikirkan bersama agar kita bisa terhindar dari mara bahaya yang ditimbulkan akibat dari sayembara yang sudah kita buat."

"Iya Abah, Terus bagaimana?"

"Ya kita pikirkan bagaimana caranya dan ke mana mencari orang yang bernama Eman, kalau ada alamat jelasnya kita susul saja ke kampungnya. kira-kira di mana rumahnya Nyai?" tanya Mbah Abun sambil menatap lekat ke arah anaknya.

"Nggak tahu Abah, kalau Ranti harus memikirkan hal seperti itu Ranti juga merasa bingung." jawab Ranti yang mengungkapkan isi hatinya, karena Bapaknya yang Kukuh dengan pendiriannya tidak mau mendengar usul Dari Dirinya, malahan mengalihkan pembicaraan dengan yang lain.

"Nah kalau tidak secepatnya diselesaikan Si Galih dan si Daus akan dendam terhadap keluarga kita. soalnya mereka masih penasaran dengan keputusan yang kita buat, tapi walaupun begitu, Itu sangat masuk akal, karena Jang Galih dan Jang Daus sdah berjuang dengan seluruh kekuatan untuk membantu menemukan kamu Nyai. Nah sekarang kalau Nyai tidak mau menerima salah satu dari kedua orang itu, maka tidak menutup kemungkinan kedua orang itu nanti akan menjadi penyakit dalam kehidupan kita."

"Ranti harus bagaimana Abah, Karena Ranti tidak mau kalau harus dinikahkan dengan Kang Galih atau Kang Daus."

"Abah tidak akan memaksa, namun orang yang dipilih oleh kamu harus secepatnya dibawa ke sini, kita nikahkan agar Si Galih dan si Daus mulutnya diam, begitu." Jawab Bah Abun memberikan keputusan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!