Bab 13. Keluarga Mbah Abun

"Tidak kenapa-kenapa mang, yang jelas saya sedang tersesat tidak tahu jalan, belum tahu dengan situasi Kampung ini. saya itu dari kota Mang, yang sengaja mau bertamu ke bah Abun, ada keperluan sedikit, urusan jualan, Namun sayang saya belum tahu rumahnya Mang?"

"Oh begitu, Gampang Ujang! Ayo kita bareng saja sama Mamang, nanti Mamang Tunjukkan rumahnya yang mana." ujar tukang nyadap air Nira itu yang hatinya sudah semakin tenang.

"Terima kasih kalau begitu Mang, tapi saya sedang menunggu teman yang ketinggalan di perjalanan, karena jalannya sangat lambat seperti keong Mang, maklum orang kotak hehehe."

"Iya biasa kalau orang kota, tidak akan kuat kalau jalan jauh seperti ini."

"Yah begitulah Mang, tapi kalau boleh tolong kasih tahu saya ciri-ciri rumahnya Seperti apa, agar nanti mudah menemukannya, dan tidak perlu bertanya lagi."

"Oh begitu....! itu tidak akan sulit Ujang, karena rumah mbah Abun berbeda dengan rumah-rumah yang lain, halamannya sangat luas karena banyak jemuran Arai bambu untuk membuat anyaman, karena beliau suka membuat kerajinan dari bambu itu."

"Oh begitu!'

"Iya benar begitu Ujang, di belakang rumahnya ada pohon duren, di samping rumahnya ada rumpun bambu kuning, di belakangnya selain dari pohon durian ada kolam ikan yang sangat luas, bahkan ikannya terlihat sangat banyak."

"Lah itu tidak usah diomongkan kalau ikannya Mang, karena itu tidak penting. Oh iya ke sebelah mana jalannya?"

"Bagaimana Ujang?"

"Jalannya ke sebelah mana?"

"Nah Ujang terus susuri aja jalan yang lurus ini, jalan yang menuju ke sebelah utara, nanti kalau ada belokan ujang belok ke sebelah kiri, nanti Ujang akan sampai di rumah mbah Abun.

"Oh begitu, terima kasih banyak Mang!"

"Cukup Ujang?"

"Cukup, cukup Mang...! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak," ujar Hadi dengan wajah sumringah.

"Sama-sama Ujang!"

Tukang nyadap itu tidak berbicara lagi karena keadaan waktu yang sudah mulai gelap, dia takut kemalaman di jalan. dengan segera dia pun melanjutkan perjalanan tidak memperdulikan lagi keadaan Hadi yang tetap mengulum senyum.

Setelah tukang nyadap itu tidak terlihat lagi, dengan segera Hadi pun menghampiri Warsa yang sedang bersembunyi di rumpun rumput yang sangat rimbun.

"Semuanya sudah beres Warsa, Kita hanya tinggal menunggu waktu gelap saja, karena di kampung tidak harus menunggu waktu malam untuk beraksi. Waktu Isya saja kita sudah bisa bekerja, karena keadaan Kampung yang sudah sunyi."

"Bagus....! Ya sudah nanti kita garap."

"Iya benar, kita persiapkan dulu tenaga untuk bekerja agar hasilnya memuaskan."

"Beres Hadi, hahaha!"

Keadaan waktu itu semakin lama semakin gelap, cahaya Lembayung senja mulai menghitam, jangkrik terdengar bersuara di sahuti suara kodok dan anjing tanah dari arah sawah, sesekali suka terdengar suara kerbau yang bersuara atau kambing, mungkin pemiliknya lupa belum mengasih pakan.

Dari arah Lembah terdengar suara katak yang terdengar sangat ramai, yang akhirnya terdengar suara bedug magrib yang dipukul, diikuti dengan suara Adzan yang suaranya sangat merdu, yang terasa masuk menusuk ke dalam kalbu. orang-orang yang sudah biasa pergi ke masjid terlihat tergesa-gesa berlarian dari arah rumahnya menuju ke arah masjid yang berada di tengah-tengah kampung.

Rumah-rumah sudah tertutup tidak ada satupun jendela yang terbuka, tidak ada pintu yang melongo. anak-anak kecil sudah masuk ke dalam rumah takut dengan makhluk mitologi yang bernama sanekala, bahkan orang tuanya pun sudah berada di rumah, hanya orang-orang yang masih memiliki kepentingan dan keperluan yang tidak bisa ditunda yang masih berada di luar.

Belalang hijau terdengar Suaranya sangat nyaring, di sambut dengan suara belalang Geulis yang tak mau ketinggalan, waktu itu tidak ada angin yang menerpa sehingga dedaunan terlihat terdiam seperti sudah tertidur lelap, apalagi daun petai Cina terlihat sangat lemas seperti mau mati saja.

Sedangkan di rumah mbah Abun. orang yang memiliki rumah baru pulang dari air, dengan segera dia pun masuk ke dalam rumah, terlihatlah Ambu Yayah yang sedang mengobrol dengan anaknya yang bernama Ranti.

"Kebiasaan kalau sudah mengobrol itu sampai lupa waktu, apa belum habis tema obrolan itu Nyai....? apa nggak melihat keluar kalau sekarang sudah magrib, mendingan sekarang kamu tutup semua jendela dan kunci, jangan ngobrol terus.....!" ujar Bah Abun kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengganti mengganti bajunya dengan baju piyama, setelah selesai Mbah Abun keluar kembali kemudian dia duduk di kursi yang berada di tengah rumah, yang diterangi oleh lampu Damar yang menyala, cahayanya menyebar ke setiap penjuru rumah.

"Jangan sok tahu urusan perempuan Abah, karena pintu dan jendela ketika tadi mulai redup sudah ditutup dan dikunci, sudah rapi, sudah kuat!" ujar Ambu Yayah setelah melihat suaminya duduk bergabung bersamanya.

"Ya syukur kalau sudah, sekarang begini Ambu dan kamu Nyai. abah mau berbicara kepada kalian berdua, dari semenjak kamu hilang perusahaan Abah sedikit kendor, soalnya barang-barang yang dijual semakin berkurang, kegiatan koperasi terasa redup karena pengurusnya sibuk mengikuti sayembara mencari kamu Nyai."

"Benar Abah Terus?" bagaimana sahut Ranti.

"Nah dari dasar itu, sekarang kita harus lebih giat untuk memajukan perusahaan kita, agar apa.....?" agar kehidupan kita tetap berlangsung dengan baik!"

"Benar Abah, terusnya Bagaimana?" Timpal Ambu Yayah.

"Selain dari hal itu, kamu Ranti.....! Nyai harus mengulang kembali pekerjaan yang dulu, untuk menghidupkan koperasi anyaman kita, Agar koperasi itu pulih kembali seperti semula. Bagaimana sanggup kamu Nyai?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah anaknya.

"Nggak sanggup Abah!"

"Soalnya kenapa?" tanya Mbah Abun yang menatap penuh keheranan.

"Soalnya saya sudah memiliki perkiraan, bahwa harkat martabat diri Ranti sudah jatuh akibat dari kejadian yang sudah terjadi. sekarang Abah tidak usah memaksa Ranti lagi, silakan Abah Kerjakan sendiri, karena usaha yang Abah jalankan tidak bisa diikuti oleh orang lain, karena usaha Abah sangat aneh." jawab Ranti dengan tegas seperti sudah dihafalkan sebelumnya.

"Aneh bagaimana Nyai?" tanya Mbah Abun yang semakin tidak mengerti.

"Abah...., sekarang bukan rahasia lagi, semua orang yang berada di kampung Ciandam sudah pada tahu, bahkan sebagian orang yang berada di kampung Tetangga sudah mengetahui, kalau abah Memiliki pekerjaan yang berbeda dengan pekerjaan orang-orang pada umumnya. Abah itu memiliki perjanjian dengan siluman babi, tolong Abah...! Tolong hentikan perbuatan tercela itu. Abah harus berhenti mengabdi kepada siluman, malu sama orang lain Abah...!" jawab Ranti dengan jelas mengungkapkan semua isi yang berada di dalam hatinya, soalnya dia sudah merasa asam manisnya menjadi babi ngepet. Nelangsa, sengsara, tidak ada sedikitpun kebahagiaan dan dia merasa malu karena sekarang sudah diketahui bahwa kedua orang tuanya melakukan pesugihan siluman babi, membuat Ranti merasa malu karena sudah menjadi rahasia umum di kampung Ciandam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!