Semakin lama orang yang membelakangi pohon itu semakin terdesak, hingga dia pun terus mundur akhirnya tubuhnya terbentur ke pohon Limus, membuat Hadi merasa di atas angin. dengan segera dia pun menyabetkan goloknya mengarah ke arah leher, namun orang itu dengan segera menangkisnya.
Trang!
Golok itu beradu, Namun sayang ronda yang sedang terdesak dia tidak terlalu siap menerima serangan, sehingga golok yang dipegangnya pun jatuh entah kemana, dan tubuhnya pun terbawa tenaga ke arah samping, sikutnya terkena sabetan golok Hadi.
Hati orang-orang yang mengepung mulai merasa getir, karena melihat gerakan hadi yang cepat seperti kilat.
Orang-orang yang mengepung merasa terkejut melihat ketangguhan Hadi yang begitu luar biasa, semakin menjatuhkan mental-mental mereka. Tak jauh berbeda dengan Warsa yang seperti memiliki kekuatan yang lebih, dengan segera dia pun menerjang orang yang berada di hadapannya, namun serangan itu di tangkis.
Trang!
Suara golok yang beradu mengeluarkan kembang api, Warsa pun menyerang kembali namun Serangan yang sekarang lebih kencang sehingga ketika di tangkis golok yang dipegang musuhnya pun jatuh entah ke mana, membuat kedua maling ini menjadi semakin beringas, karena mereka sudah merasa unggul bisa menaklukkan warga Kampung Ciandam.
"Kabur..! kabur, ayo kabur...!" teriak Warsa ke temannya sambil berlari meninggalkan samping rumah mbah Abun namun belum juga jauh, di hadapannya sudah ada satu orang pemuda yang berdiri menghalangi jalannya, pemuda yang memakai kampret hitam dipadukan dengan celana pangsi yang Senada, rambutnya yang panjang terlihat bergerak-gerak tertiup oleh angin malam.
Mata pemuda itu menatap tajam ke arah kedua maling, tangannya bertolak pinggang seperti sangat santai tak ada sedikitpun raut wajah ketakutan dalam dirinya.
"Woi...., ngapain ngalangin Jalan, awas nanti aku babat leher kamu, buruan pergi.....!" bentak Warsa sambil membulatkan mata namun pemuda itu tidak menjawab, hanya matanya saja yang mendelik.
"Jangan diladenin, Ayo kita lari.....!" saran Hadi sambil mendahului berlari diikuti oleh Warsa ke arah samping pemuda itu.
Tapi Baru beberapa langkah mereka meninggalkan tempatnya, pemuda itu sudah berada lagi di hadapannya dengan masih bertolak pinggang menghalangi jalan pelarian kedua maling itu, membuat Hadi dan Warsa terlihat sangat marah namun mereka belum melakukan tindakan, mereka hanya membalikkan tubuh kemudian berlari kembali.
Baru saja sepuluh langkah, sudah ada kembali yang mencegat jalannya hingga akhirnya kedua maling itu merasa jengkel. tanpa berpikir panjang Mereka pun mengeluarkan golok lalu menyerang bersama-sama ke arah pemuda itu.
Melihat kedua musuhnya menyerang, pemuda itu tidak terlihat gugup sedikitpun, dia hanya memundurkan langkahnya ke belakang sebanyak satu langkah untuk memasang kuda-kuda.
"Ayo....! kalau kamu jual pasti aku beli," ujar pemuda itu sambil mendongakkan kepalanya ke belakang, menghindari serangan musuh sehingga sabetan golok Warsa hanya memakan angin.
Hadi yang sudah diliputi dengan amarah, dia pun tidak memiliki perkiraan ketika menyerang merasa musuhnya hanya seorang diri, dia beranggapan bahwa dirinya sendiri mampu merobohkan pemuda itu. dengan segera dia pun menerjang menggunakan golok yang lurus mau menusuk ke arah dada musuh, namun pemuda itu melangkah ke arah samping di barengi dengan menangkap pergelangan Hadi, setelah tangan itu dipegang dengan segera dia pun melipatkannya.
Pletok!
Terdengar suara tulang sikut yang patah membuat berteriak sekencang-kencangnya.
Walaaaaa.....!
Jeritan Hadi dibarengi dengan terjatuhnya golok yang ia pegang, kemudian disusul dengan tendangan ke arah pahanya. sehingga membuat tubuhnya tidak sanggup berdiri lagi, berguling-guling tidak kuat menahan rasa sakit yang begitu menjalar ke seluruh tubuhnya.
Warsa yang melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu, membuat hatinya terbakar seketika. dia pun menyerang tanpa menggunakan perhitungan dengan menggunakan golok tanpa arah dan tujuan, membuat musuhnya hanya mengulum senyum tipis karena walaupun dalam kegelapan malam, berkelebatnya golok matanya bisa mengikuti.
Sekilat tangan Warsa diambil, kemudian pergelangannya diputar membuat Warsa terlihat meringis disusul dengan goloknya yang jatuh.
Haduh.....! haduh.....! haduh...!
Teriak Warsa namun meski sudah begitu, dia tidak memiliki rasa kapok atau memiliki rasa takut, karena dia masih berusaha menyerang menggunakan tangan kiri yang diarahkan ke arah telinga musuhnya. Namun musuhnya tidak bergerak sedikit pun dia hanya menatap lengan yang berkelebat dengan membuka mulut. jadi ketika tangan warsa datang tangan itu tidak bisa menghindar lagi digigit oleh pemuda itu dengan gigitan yang sangat keras, mengunci tidak bisa bergerak sedikit pun.
Haduh...! Haduhhhh...! Walaa....!
Warsa terlihat menggelinjang bergerak-gerak ingin melepaskan diri karena dua Tangannya sudah berada di dalam genggaman musuh, rasanya sangat sakit sehingga tubuhnya terasa lemas tidak ada daya lagi untuk melawan. Ketika Warsa sedang berteriak tidak menyangka ada satu pukulan yang mengarah ke arah pipinya.
Bugh!
Serangan itu tepat mengenai sasaran, membuat Warsa merasa matanya melihat kerlapan kilat, akibat dari kerasnya pukulan yang dilayangkan, tanpa bisa berkutik lagi tubuh Warsa pun ambruk ke atas tanah.
Setelah kedua maling itu tidak bisa melawan lagi, warga Kampung pun terlihat mendekat, cahaya senter menyeruak menerangi tempat itu, bahkan obor-obor pun menyala sehingga bisa melihat jelas wajah pemuda itu yang tak lain dan tak bukan itu adalah Eman.
Hadi dan Warsa yang masih terbaring Mereka pun masih tidak percaya kalau mereka bisa kalah hanya dengan satu orang, merasa penasaran Mereka pun mengintip ingin mengetahui siapa pemuda itu. setelah sadar Hadi dan Warsa pun terkejut merasa tidak percaya dengan penglihatannya, karena mereka menyangka bahwa Eman sudah mati di bawah jurang.
"Halah ternyata kamu Eman....!" ujar Hadi tanpa sadar membuat orang-orang yang berkumpul pun mereka merasa terkejut, soalnya mereka merasa pernah mendengar nama itu, karena Mbah Abun pernah mengobrolkan dengan sebagian warga Kampung Ciandam, bahwa orang yang menjadi pemenang sayembara namanya adalah Eman, Namun sayang orangnya belum ditemukan.
"Selamat datang tuan...! Terima kasih sudah membantu kesusahan warga Kampung Ciandam dengan menangkap maling sial4n ini!" ujar Mang Zuhri kepada Eman matanya terus menatap agak lama.
"Mohon maaf Bapak, saya tidak ada niat membantu kesusahan warga kampung, tapi saya menangkap kedua orang ini karena mereka adalah musuh bebuyutan saya," begitulah jawab Eman.
"Oh begitu, Terus siapa nama tuan dan siapa kedua maling ini?" tanya Mang Zuhri yang terlihat kaget.
"Nama saya Eman, Jadi Bapak tidak harus memanggil saya dengan sebutan Tuan, panggil nama saja sudah cukup! karena kalau Tuan itu sangat berlebihan. Asal saya dari Kampung Sukamaju, maksud dan tujuan saya datang ke sini mau menemui Mbah Abun, tapi beruntung di perjalanan bisa bertemu dengan kedua makhluk yang sangat jahat ini, yang tidak lain dan tidak bukan mereka adalah si Hadi dan si Warsa, maling yang sudah tersohor, yang tidak memiliki rasa peri kemanusiaan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments