Bab 7. Berjuang

Burgh!

Tubuh Eman ambruk kembali di pematang sawah, dengan segera dia pun membaringkan tubuh di tempat itu, tidak memperdulikan lumpur sawah yang sangat kotor.

Aki kebun tidak memperdulikan kesusahan Eman, seperti sengaja Dia sedang menyiksa Pemuda kurang beruntung itu. padahal maksud aki kebun sangat baik, dia ingin melatih Eman agar menjadi orang yang kuat, baik tubuhnya maupun kuat tekadnya, agar jangan cepat menyerah dan putus asa.

Waktu pun terus berjalan tanpa henti, kira-kira waktu dzuhur Eman disuruh berhenti berlatih, dia Diajak pulang untuk melaksanakan salat zuhur berjamaah. Eman tidak menggerutu sedikitpun, dia tidak memiliki pemikiran buruk. Padahal kalau orang lain pasti mereka sudah kabur atau melawan, tapi Eman tidak memiliki pikiran yang seperti itu, dia tetap taat dan setia sama si aki kebun.

Selesai melaksanakan salat zuhur, Eman diajak makan bersama dengan nasi liwet seperti tadi malam, membuat Eman terlihat sangat lahap, apalagi habis berjuang begitu berat. setelah makan sambil beristirahat Eman terus diberikan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan oleh si aki, agar Eman mengerti bagaimana cara hidup yang baik dan benar.

Sehabis melaksanakan salat asar, Eman dibawa oleh aki kebun ke mata air, terlihat ada batu kutil yang terhampar, di bawah terlihat air susu yang keluar sebesar pergelangan tangan orang dewasa.

Eman disuruh mengasah telapak tangannya di atas batu yang terlihat sangat tajam itu. membuatnya terlihat meringis karena bekas Tadi latihan memanjat saja masih terasa perih, dan sekarang dia harus mengasah tangan itu di atas batu yang terlihat sangat kasar.

Namun meski begitu, Eman tidak menolak dia melakukan hal yang tidak dimengerti olehnya. sehingga membuat telapak tangannya terasa perih dan sangat sakit, bahkan sampai tembus ke ulu hati.

"Aduh telapak tangan saya sakit aki," ujar Eman sambil meringis tapi meski begitu, dia terus mengasah Tangannya di atas batu yang sangat kasar.

Aki kebun tidak menjawab, namun dia seperti biasa hanya mengeluh senyum seperti sedang menertawakan kesakitan Eman. Dia tidak meninggalkan pemuda itu, dia terus menunggu sampai selesai.

"Sudah Ujang cukup...!" ujar aki kebun setelah matahari berada di ubun-ubun gunung.

"Haduh....., Terima kasih banyak aki," ujar Eman yang masih meringis. namun aneh walaupun tangannya terus digosok dengan batu, tangan itu tidak terluka hanya rasa sakitnya saja yang terasa oleh Eman.

Dia mengira bahwa tangannya itu akan hancur, karena terus digosok-gosok ke batu yang sangat kasar, namun setelah dia lihat tangan itu tetap seperti semula, membuat Eman merasa heran tapi mau bertanya dia tidak berani.

"Ayo ikuti aki, kita pulang!" ajak Aki kebun sambil bangkit dari tempat duduknya.

Tanpa ada pembicaraan lagi, Eman pun berjalan mengikuti aki Kebon yang sudah berjalan duluan, namun dengan segera dia bisa mengejar,  karena Entah mengapa sekarang dia sangat mahir berjalan di tempat yang sangat terjal seperti itu.

"Pohon apa ini aki?" tanya Eman ketika melihat aki kebun menebang salah satu pohon yang belum diketahui olehnya.

"Ini namanya pohon Lontar!"

"Buat apa?" tanya Eman yang tidak mengerti mungkin dia takut pohon itu akan dipukul kan ke tubuhnya, sudah terbayang bagaimana rasa sakitnya karena pohon yang ditebang oleh si aki sebesar tangan orang dewasa.

"Hehehe, Ayo kita lanjutkan perjalanan!" Ajak Aki kebun sambil melanjutkan kembali perjalanannya, setelah selesai menebang dan memotong pohon Lontar itu.

Eman pun tidak bertanya lagi, dia tetap setia mengikuti berjalan di belakang aki kebun yang membawa potongan pohon Lontar. sesampainya di kolam yang berada di bawah Saung, Eman pun disuruh untuk membuka baju.

Tanpa ada penolakan, Eman pun mengikuti semua seruan aki kebun, kemudian dia masuk ke dalam ****** untuk membersihkan tubuh setelah seharian disiksa oleh Aki kebun. Selesai membersihkan tubuh Eman dilarang untuk memakai bajunya terlebih dahulu, Eman disuruh untuk mengaliri ubun-ubunnya dengan air yang keluar dari Talang.

Eman tidak menolak mendapat perintah yang tidak dimengerti oleh pikirannya, dia tetap melakukan, Eman selalu menuruti tanpa ada pikiran yang buruk.

Sedangkan aki kebun dia memotong pohon yang tadi dia tebang, kemudian ditajamkan seperti membuat aseuk atau asetik, alat yang biasa digunakan untuk melubangi kebun atau Huma.

Clak! Clak, Clak.

Terlihat getahnya berjatuhan, dengan segera Aki kebun pun meluruskan jatuhnya getah itu ke ubun-ubun Eman.

Clak! Clak! Clak!

Getah itu jatuh tepat mengenai ubun-ubun Eman, terus mengalir ke seluruh kepala terbawa oleh air. mulut Aki kebun terlihat berkumat kamit, seperti sedang mengirimkan ilmu yang ia miliki, melalui getah itu.

Setelah agak lama dan mantra-mantra Aki Kebon selesai dibaca, Eman disuruh untuk segera keluar dari kamar mandi itu, lalu menyuruhnya untuk memakai baju kembali.

Selesai mengganti baju aki Kebon pun masuk ke dalam WC untuk mengambil air wudhu, kemudian mereka berjalan menuju kembali ke arah Saung.

Setelah sampai ke waktu maghrib dua orang itu melaksanakan salat magrib berjamaah, dilanjutkan membaca wirid wirid yang sudah biasa dibaca kemudian diakhiri dengan doa.

Selesai melaksanakan salat magrib, kedua orang itu duduk berhadapan sambil menyantap kacang rebus yang sengaja disediakan oleh si Nini kebun.

"Aki Sebenarnya saya itu mau diapakan?" tanya Eman di sela-sela kunyahan.

"Jangan ragu, karena aki tidak akan menyiksa Ujang, ini adalah satu cara agar kamu menjadi orang yang kuat pintar dan berbesar hati."

"Oh begitu, terima kasih kalau begitu!"

Iya syukur kalau kamu mengerti dan keterima. Oh iya Jang,"

"Saya aki!"

"Mulai hari esok kamu harus puasa, nanti tengah malam harus bangun dan bacakan lafadz yang akan diberikan oleh aki, sebanyak seratus kali."

"Bagaimana lafadznya Ki?"

"Sebentar, nanti tengah malam aki akan menurunkannya sama Ujang!"

Obrolan itu pun terhenti kembali, Eman terlihat sangat senang berada di tempat itu, karena selain diajarkan beberapa ilmu, untuk makanan dia tidak harus susah, karena sudah tersedia nasi liwet setiap saat. berbeda ketika dia berkelana dia hanya bisa makan singkong mentah ataupun pucuk-pucuk daun yang bisa dimakan, itu pun hasil dapat mencuri.

Eman terus diberikan petuah-petuah tentang kehidupan, tentang rasa bersyukur, tentang cara membesarkan hati agar tidak mudah menyerah, agar kuat ketika menghadapi cobaan dan ujian.

Waktu yang dijanjikan pun sudah tiba, sesuai dengan apa yang sudah disampaikan oleh aki kebun, bahwa dia akan memberikan Eman satu lafadz untuk di wirid oleh Eman, yang harus diamalkan olehnya. bahkan malam itu juga Eman sudah mulai, namun sebelum membaca wirid itu Eman dimandikan terlebih dahulu di mata air, sambil terus didoakan oleh aki kebun.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!