Suara yang begitu familiar membuat Arum langsung menoleh ke arah sumbernya. Wanita itu lagi-lagi menghembuskan napasnya kasar setelah melihat Aline memasuki gerbang rumahnya dengan mengendarai sepeda motor buntut Bu Kanti. Wajah lelah Aline membuat Arum merasa kasihan hingga dengan terpaksa menunggu wanita itu menghampirinya.
"Arum, boleh aku bicara sebentar denganmu. Aku janji kali ini tidak akan mengajakmu bertengkar lagi," ucap Aline seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Masuklah," titah Arum, Aline mengangguk dan mengekori langkah Arum untuk masuk ke dalam rumahnya.
Arum memandang penuh tanya pada mantan sahabat yang kini sudah duduk di hadapannya. Tentu saja Arum merasa heran, bagaimana wanita itu bisa tahu kalau dirinya pulang dari caffe lebih cepat hari ini. Namun, pertanyaan itu masih ia ditahan. Arum terlebih dahulu memanggil Bi Marni untuk membuatkan minuman.
"Bi, Bi Marni." Suara Arum membuat wanita paruh baya itu berlari tergopoh menghampirinya, wajah ramah Bi Marni seketika berubah datar kala melihat kehadiran Aline di sana.
"Iya, Non. Ada apa?" tanya Bi Marni pada majikannya.
"Bi, tolong buatkan dua minuman untuk saya dan Aline sekalian cemilan ya." Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian berlalu ke dapur dan kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas jus melon serta beberapa toples cemilan.
"Silahkan, Non," ucap Bi Marni sembari meletakkan isi nampan yang dibawanya ke atas meja.
"Makasih, Bi," balas Arum disertai dengan senyum tipis.
"Silahkan diminum, Aline. Kamu pasti haus kan, di luar panas banget mana kamu naik motor lagi," ucap Arum mempersilahkan tamunya.
Aline yang memang sudah merasa kehausan langsung menenggak minuman itu hingga tandas.
"Kok kamu bisa tahu kalau kalau aku pulang cepat?" tanya Arum setelah wanita itu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.
"Maaf, tadi sebenarnya aku sengaja nungguin kamu di warung seberang caffe. Dan sepertinya aku lagi beruntung karena kamu pulang lebih awal," jawab Aline jujur.
Arum hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawaban dari wanita di hadapannya. Entah apa lagi tujuan Aline menemuinya kali ini.
"Memangnya kamu mau bicara apa lagi sih? Kalau kamu masih mengira aku akan merebut Arka dari kamu, kamu salah besar," tegas Arum yang tak ingin lagi berbasa-basi.
"Aku hanya mau minta maaf Arum, aku menyesal. Mungkin ini semua karma untukku karena sudah merebut suamimu, bahkan Arka hanya menikahiku secara siri," sesal Aline diiringi satu tetes bulir bening yang membasahi pipinya.
"Aku sudah memaafkan kalian, jadi aku juga mohon padamu. Jangan mengganggu hidupku lagi."
"Arum, kenapa kamu sama sekali tidak terpuruk setelah bercerai dengan Arka?" Aline memandang wajah wanita di hadapannya dengan penuh selidik, rasa penasarannya kini benar-benar membuncah.
Arum terdiam sejenak, matanya memindai penampilan Aline dari ujung kaki hingga ujung kepala kemudian terkekeh geli karena merasa seperti melihat cerminan dirinya sendiri saat dulu masih menjadi istri Arka.
"Kamu yakin ingin tahu alasannya?" Aline mengangguk untuk menjawab pertanyaan Arum.
"Kamu lihat Aline, penampilanmu seperti penampilanku saat masih menjadi istri Arka dahulu. Seharusnya itu sudah cukup membuatmu mengerti," ucap Arum dingin.
"Yah, Arka memang tidak pernah memberikan nafkah yang layak namun selalu menuntutku untuk menjadi sempurna."
Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah Aline, namun Arum tak ingin menghiraukannya. Karena baginya, apa yang kini terjadi pada Aline dan Arka bukanlah menjadi urusannya.
"Apa kamu sudah selesai bicara? Kalau sudah aku ingin beristirahat," usir Arum secara halus.
Aline hanya mengangguk kemudian keluar dari rumah besar itu. Seketika Arum menghembuskan napasnya lega. Bi Marni yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka langsung menghampiri majikanya.
"Non Arum, kenapa Non baik sekali sih. Masih mau memaafkan manusia semacam itu," celetuk Bi Marni tiba-tiba hingga membuat Arum berjingkat karena kaget
"Ya ampun, Bi. Bikin kaget aja nih," kesal Arum mengelus dadanya sendiri
"Hehe, maaf Non. Habis Bibi kesel sama si Aline itu."
"Biarin aja deh, Bi. Sekarang saya mau istirahat dulu ya. Oh ya, Bi. Nanti malam saya mau keluar sama Johan, jadi Bibi nggak usah masak buat saya ya." Arum segera menuju ke kamarnya setelah mendapat sebuah anggukan dari Bi Marni.
Setibanya di kamar, Arum memutuskan untuk beristirahat dengan tidur siang. Namun, wanita itu sama sekali tak bisa memejamkan matanya karena terus memikirkan kejutan apa yang akan diberikan Johan untuknya malam nanti. Arum memutuskan untuk menuju ke lemari pakaiannya. Memilih pakaian apa yang akan ia kenakan malam nanti. Tanpa disadari, jantung Arum berdetak dengan cepat membayangkan kejutan apa yang mungkin saja akan diberikan Johan untuknya.
"Ya ampun, kenapa aku malah deg-drgan begini sih. Kaya ABG mau pacaran aja," gumam Arum kemudian menutup wajahnya dengan bantal karena merasa malu pada dirinya sendiri.
Gurat senja telah terlukis indah di langit pertanda sang gulita malam akan datang menggantikan terangnya sang bagaskara. Arum segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya kemudian berganti baju dengan dress selutut tanpa lengan berwarna soft pink dan memoles wajahnya dengan make natural. Bibir ranum tipisnya ia poles dengan lipstik berwarna nude yang semakin membuat penampilannya nampak begitu elegan.
Setelah memastikan penampilannya telah sempurna, Arum segera menuruni anak tangga untuk menghampiri Johan yang sudah menunggunya di ruang tamu. Seketika lelaki itu terpanah melihat wanita pujaannya yang menuruni anak tangga dengan langkah anggun. Matanya tak berkedip melihat kecantikan Arum yang begitu paripurna hingga tanpa sadar wanita itu sudah berdiri di hadapannya.
"Jo, Johan." Arum melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Johan hingga membuat lelaki itu tergagap.
"Eh, ya Tuhan. Kamu cantik banget, Rum. Seperti bidadari turun dari tangga."
"Lhah kok turun dari tangga?"
"Iya, barusan kan kamu emang turun dari tangga."
"Aww," pekik Johan yang tiba-tiba dicubit pinggangnya oleh Arum.
"Receh banget sih becandanya," ucap Arum kemudian.
"Biarin, tapi kamu beneran cantik malam ini. Kita berangkat sekarang ya." Arum menganggukan kepalanya menjawab ajakan dari Johan.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke mobil yang sudah terparkir di car port. Lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Arum kemudian masuk dan duduk di balik kemudi.
"Kok nggak jalan?" heran Arum karena Johan tak kunjung melajukan mobilnya.
"Tutup dulu ya matanya, kan ini kejutan." Johan mengambil kain penutup mata dari dalam saku baju kemejanya.
"Nggak mau ah, nanti kamu culik aku lagi," tolak Arum sembari menautkan kedua alisnya.
"Enak aja, nggak lah. Biar lebih romantis aja."
"Iya deh, tapi jangan aneh-aneh ya."
Arum akhirnya menurut, membiarkan Johan memasangkan penutup mata itu untuk dirinya. Johan mulai melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang sudah ia siapkan sebelumnya. Lelaki itu dengan hati-hati menuntun Arum untuk masuk ke dalam.
"Kamu udah siap?" bisik Johan di telinga Arum yang langsung diangguki oleh wanita itu dengan antusias.
Perlahan Johan melepas penutup mata Arum dan membiarkan wanita itu menikmati kejutan yang telah ia siapkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
mama oca
lanjut kak ..tetep semangat..
2023-05-25
1