Modal 18

Arka yang pikirannya kalut setelah mendengar pernyataan Arum yang mengatakan jika sudah menjalin hubungan dengan Johan masih terus melajukan mobilnya menembus gelap dan sepinya jalanan malam tanpa tujuan. Hatinya benar-benar sakit dan dipenuhi dengan penyesalan saat ini, Arka memang seorang lelaki bodoh. Meninggalkan wanita secantik dan sebaik Arum hanya demi nafsu sesaat. Hari kian larut, namun Arka tak berniat untuk pulang ke rumahnya, lelaki itu malah membelokan setir mobilnya ke sebuah club malam.

Saat langkah lelaki itu mulai masuk ke dalam, langsung terdengar suara dentuman musik yang memekakan telinga. Manusia-manusia yang mencari kesenangan sesaat asyik meliuk-likan tubuhnya mengikuti alunan musik di bawah cahaya lampu kerlap-kerlip.

Arka sendiri memilih untuk duduk di depan meja bartender dan memesan sebotol minuman beralkohol agar bisa melupakan sejenak perasaanya yang kacau. Perlahan Arka menyesap minuman yang telah ia tuang ke dalam gelas kecil, menikmati rasa pahit yang menusuk tenggorokan hingga perlahan kesadaranya menghilang bersama bayangan wajah ayu milik Arum yang terus menari-nari di pelupuk matanya.

Hari sudah menjelang shubuh kala Arka tiba di rumahnya, lelaki itu menekan bel pintu tanpa henti karena ingin segera masuk dan mengistirahatkan kepalanya yang terasa berdenyut akibat pengaruh alkohol yang ditenggaknya. Aline yang sebelumnya sudah terlelap perlahan membuka mata karena mendengar suara bel pintu. Mata wanita itu memincing menatap jam dinding yang menunjukan pukul 3 pagi kemudian menoleh ke sisi ranjang yang kosong.

"Mas Arka, dari mana dia jam segini baru pulang," gumam Aline yang segera melangkah turun untuk membukakan pintu.

Bugh, tubuh Arka tersungkur ke lantai saat sang istri membuka pintu tempat ia menyandarkan tubuhnya. Membuat mata Aline membeliak karena panik melihat kondisi sang suami.

"Mas, Mas Arka. Kamu kenapa, Mas?" Aline menggoyang-goyangkan tubuh Arka agar kembali bangun.

"Arum, Arum, aku masih cinta sama kamu. Aku akan melakukan apapun asal kamu kembali sama aku, aku menyesal Arum," racau Arka dengan mata yang masih terpejam.

Kedua tinju Aline mengepal mendengar kalimat yang terucap dari bibir sang suami. Dengan kasar wanita itu menutup pintu rumah dan hendak meninggalkan Arka yang masih tak sadarkan diri. Namun langkah wanita itu terhenti kala melihat ibu mertuanya keluar dari kamar.

"Aline, siapa sih yang shubuh-shubuh begini nekan bel pintu nggak aturan. Berisik banget, ganghuin orang tidur," oceh Bu Kanti yang belum melihat Arka karena tertutup tubuh menantunya.

Aline menggeser tubuhnya sedikit agar Bu Kanti bisa melihat kondisi putranya. Seketika mulut wanita paruh baya itu menganga melihat Arka yang tak sadarkan diri di lantai.

"Aline, kenapa suami kamu tidur di lantai seperti itu?"

"Ya, seperti yang Ibu lihat. Mas Arka baru saja pulang dalam keadaan mabuk," jawab Aline memasang wajah kesal.

"Kalau gitu tolongin dong, masa kamu tega biarin putra saya seperti ...."

"Arum, kamu harus rujuk sama aku sayang."

Kalimat Bu Kanti terhenti karena mendengar lagi-lagi Arka meracau memanggil nama Arum.

"Tuh, Ibu dengar sendiri kan. Istri mana yang mau ngurusin suaminya yang mabuk karena menyesal sudah menceraikan mantan istrinya," ketus Aline yang mulai menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya.

Bu Kanti hanya diam sembari menggaruk bagian kepalanya yang tak gatal. Wanita paruh baya itu menaikkan sebelah alisnya melihat kondisi putranya. Hendak membawanya ke kamar pun tubuh tuanya juga tak akan mampu, akhirnya Bu Kanti memilih untuk kembali ke kamar dan membiarkan Arka tetap tertidur di tempatnya.

Sinar sang bagaskara telah menyapa bersama harum aroma embun pagi, diiringi merdu kicauan burung yang berhasil membuat Aline terusik dan menggeliatkan tubuhnya yang masih tertutup selimut tebal. Wanita itu langsung membuka matanya lebar mengingat uang duapuluh ribu yang diberikan oleh mertuanya semalam.

"Duapuluh ribu buat sarapan tiga orang, dapat apa coba," keluh Aline yang melangkah gontai menuju kamar mandi dan mulai menuruni anak tangga usai membersihkan diri.

Wajah Aline yang sudah masam semakin bertambah murung kala melihat Arka yang masih belum juga terbangun. Dengan kesal Aline kembali ke dapur untuk mengambil segelas air putih.

Byuurr, wanita itu menyiramkan air yang dibawanya ke tubuh sang suami hingga membuat lelaki itu langsung terbangun.

"Aline!! Apa-apaan kamu, kurang ajar sekali," geram Arka menatap tajam sang istri.

"Lebih kurang ajar mana? Aku yang menyiramu dengan air atau kamu yang mabuk dan mengigau memanggil-manggil nama mantan istrimu itu, hah?" balas Aline tak kalah sengit.

Arka tak menanggapi, lelaki itu memilih berlalu ke kamar dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor s embari merutuki kebodohannya karena mengigau memanggil-manggil mantan istrinya. Sementara Aline hanya bisa mendesah kesal, wanita itu segera kembali pada tujuan utamanya tadi. Keluar untuk membeli sarapan dengan uang duapuluh ribu pemberian ibu mertuanya.

Setengah jam kemudian, Bu Kanti keluar dari kamar bersamaan dengan Arka yang mulai menuruni anak tangga dengan pakaian formalnya. Mata sepasang ibu dan anak itu membeliak melihat apa yang tersaji di meja makan, sepiring roti goreng dan cakue yang dibeli Aline di depan kopleks berhasil kembali merusak mood Arka pagi ini.

"Ya Tuhan Aline, apa-apaan ini? Semalam sop asin dan ayam gosong. Lalu ini apa, hah? Roti goreng dan cakue yang kamu kasih buat sarapan?" protes Arka kemudian berdecak kesal.

Brakk, Aline yang sudah muak dengan keadaan dirinya langsung menggebrak meja hingga membuat Bu Kanti melotot ke arahnya.

"Kalau mau makan enak itu kasih aku uang belanja, Mas. Jangan uang semua kamu kasih ke Ibu, lalu Ibu kasih aku uang cuma duapuluh ribu kamu pikir cukup buat belanja dan masak yang enak? Mikir pake otak, makan enak juga perlu modal. Pantas Arum lebih bahagia cerai sama kamu, ternyata kelakuan kamu begini," panjang lebar Aline meluapkan amarahnya hingga berhasil membuat suami dan mertuanya terperangah.

"Apa? Jadi Ibu nggak kasih jatah belanja dapur buat Aline? Kan uang itu yang dua juta buat belanja keperluan dapur, Bu?" Kini giliran Bu Kanti yang dibuat gugup dengan pertanyaan dari Arka.

"Eh, itu, kan Aline pernah kerja. Pasti ada tabungan dong, harusnya dia pakai dulu buat keperluan dapur kan bisa," kilah Bu Kanti tak mau disalahkan.

"Memangnya kalau aku punya tabungan kenapa, Bu? Aku ini sekarang istrinya Mas Arka, sudah kewajiban dia menafkahiku lahir batin. Jangan cuma nafkah batin aja yang dikasih, emangnya aku nggak butuh makan!"

"Sudah cukup, Aline ini buat belanja seminggu ke depan sambil nunggu aku gajian." Arka mengulurkan lima lembar uang merah yang langsung diterima oleh Aline dengan senyum sumringah.

"Nah, gini dong. Nanti aku bawain makan siang ya buat kamu," ucap Aline diiringi sebuah senyuman.

Arka langsung berangkat ke kantor tanpa menanggapi omongan sang istri.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

penyesalan mu dibelakang Arka..

2023-08-12

0

mama oca

mama oca

lanjutt kak...semakin seru

2023-05-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!