Sinar mentari mulai menampakkan sinarnya yang memaksa masuk ke kamar Arum melalui celah gorden. Wanita cantik itu masih asik bergelung di bawah selimut tebal miliknnya sampai terdengar suara pintu kamar yang dibuka dari luar oleh Bi Marni.
Wanita paruh baya itu membuka gorden kamar Arum lebar-lebar hingga membuat si empunya kamar membuka mata.
"Bibi, Arum masih ngantuk," rengek Arum menutupi kepalanya dengan selimut.
Bi Marni terkekeh geli melihat tingkah manja Arum yang tak pernah berubah ketika berada di dekatnya.
"Non, katanya Non Arum sekarang kerja lagi di caffe Mas Johan. Sudah jam enam lho ini, Bibi juga udah masak kwetiau goreng buat sarapan." Seketika Arum membuka mata setelah mendengar ucapan Bi Marni.
Tanpa basa-basi wanita cantik itu segera beranjak menuju ke kamar mandi. Sedangkan Bi Marni membereskan ranjang Arum lalu kembali turun ke lantai satu, membuatkan segelas susu untuk nona mudanya. Lima belas menit kemudian Arum turun dengan setelan kerjanya dan langsung menghenyak di salah satu kursi. Di hadapanya sudah terhidang sepiring kwetiau goreng dan segelas susu buatan Bi Asih yang siap disantap.
Arum menikmati sarapan paginya dengan lahap dan tenang setelah sekian purnama suasana paginya selalu dihiasi dengan ocehan pedas Bu Kanti.
"Gimana, Non? Enak nggak?" tanya Bi Marni setelah Arum menghabiskan sarapan dan susu hangat buatan tangannya.
"Enak banget, Bi. Sekarang Arum berangkat kerja dulu ya, Bi. Nanti siang Arum nggak pulang, malam aja Arum makan di rumah ya," pamit Arum yang segera diangguki oleh Bi Marni.
Wanita muda itu mulai melajukan mobilnya ke caffe tempat ia bekerja, suasana masih sepi. Bahkan sepertinya Johan belum datang, Arum memutuskan untuk langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Beberapa dokumen nampak sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Wanita muda itu mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan meskipun pikirannya tak bisa konsentrasi.
Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan di pintu yang membuat Arum menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Masuuk," titah Arum pada seseorang yang berdiri di depan pintu ruangannya.
Johan muncul dari balik pintu itu dengan membawa dua gelas ice capucinno. Mata lelaki itu memincing melihat wajah kusut Arum yang nampak jelas sedang memiliki beban pikiran berat.
"Kok wajahnya kusut banget, Rum? Ini aku bawain capucinno ice buat kamu." Johan meletakan gelas yang di bawanya di meja dan segera diseruput oleh Arum.
"Aku udah keluar dari rumah Arka, dan sekarang aku tinggal sama Bi Marni di rumah orang tuaku." Ucapan Arum berhasil membuat Johan hampir saja tersedak.
"Apa? Kok bisa? Kenapa secepat ini?" Lelaki itu masih menatap Arum dengan pandangan tak percaya.
Arum menghela napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Wanita itu mulai menceritakan kejadian kemarin pada sahabatnya, termasuk Aline yang sudah mengandung anak Arka. Johan hanya bisa geleng-geleng kepala karena tak menyangka jika hubungan Arka dan Aline sudah sejauh itu.
"Terus sekarang apa yang mau kamu lakukan?" tanya Johan setelah Arum selesai bercerita.
"Aku mau cerai sama dia, Jo. Kamu bantu urusin semuanya ya, kamu kan pengacara juga." Arum memilih untuk meminta bantuan pada sahabatnya itu.
"Iya, aku pasti akan bantu kamu sampai semuanya beres. Biarin aja dua penghianat itu bersatu. Biar si Aline tahu gimana punya mertua macam emaknya Arka itu," geram Johan yang sebenarnya tak terima dengan kelakuan Arka dan juga Aline.
Sementara itu di kediaman Bu Kanti, Arka sudah rapi dengan setelan jasnya. Bu Kanti dan seorang penghulu sudah menunggu di bawah untuk berangkat ke kediaman Aline. Namun tak ada rasa bahagia di hati Arka, yang ada malah penyesalan karena sudah menghianati Arum. Apalagi sepertinya Arum sudah benar-benar tak mau kembali kepadanya.
Dengan langkah gontai, Arka menuruni satu persatu anak tangga menuju ke lantai bawah. Menghampiri sang ibu yang sudah menunggu sedari tadi.
"Arka, tampan sekali kamu, Nak," puji Bu Kanti kala melihat penampilan putra tunggalnya.
"Bu, apa mahar untuk Aline sudah disiapkan?" tanya Arka tanpa membalas pujian dari Bu Kanti.
"Udah dong, yuk kita berangkat sekarang. Kasian Pak Penghulunya sudah menunggu dari tadi."
"Mana, Bu. Ibu kasih mahar apa untuk Aline?" Wajah Arka nampak begitu penasaran pada mahar yang disiapkan oleh ibunya untuk Aline.
"Ini lho, seperangkat alat sholat sama uang seratus ribu."
"Apa? Arka ini menager lho, Bu. Masa maharnya cuma alat sholat sama uang seratus ribu sih," protes Arka tak terima.
"Aduh Arka, ini kan cuma nikah siri. Lagian si Aline juga udah hamil, jadi mahar ini udah cukup. Nanti kalau kalian nikah resmi baru ditambahin maharnya. Lagian nanti juga nggak ada tamu yang datang ini," kilah Bu Kanti yang tak mau mengalah.
Pada akhirnya Arka hanya bisa pasrah pada keinginan ibunya. Ketiganya berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Arka mulai melajukan mobil itu menuju ke kediaman Aline.
Setibanya di sana, kondisi begitu sepi. Akad nikah segera dilakukan dan dilanjutkan dengan acara makan bersama. Sepanjang acara wajah Aline nampak masam karena mengetahui jika ternyata mahar yang diberikan Arka untuknya hanya seperangkat alat sholat dan uang tunai dengan nominal seratus ribu. Beruntung kemarin Arum sudah memberikan cincin nikahnya untuk Aline.
"Aline, setelah ini kamu pulang ke rumah Ibu ya. Kamu kan lagi hami, biar ada yang jagain juga," pinta Bu Kanti setelah acara makan bersama telah selesai dan penghulu serta saksi sudah pergi dari rumah itu.
"Emb, apa nggak sebaiknya Mas Arka tinggal di sini aja sama Aline, Bu?" Wanita itu mencoba untuk menolak permintaan ibu mertuanya.
"Terus kalau Arka kerja siapa yang jagain kamu, masa-masa hamil muda itu masih rawan sekali lho. Sekarang kamu kemasin baju-baju kamu terus kita kembali ke rumah Ibu ya," bujuk Bu Kanti tak menyerah.
"Iya, Aline. Lagian Ibu itu sudah tua, kasian kalau harus tinggal sendirian di rumah sebesar itu," sahut Arga menyetujui keinginan ibunya.
Aline tak menjawab, wanita itu hanya mengangguk samar dan beranjak menuju ke kamar kemudian kembali dengan membawa sebuah koper berisi baju dan barang-barang miliknya. Seketika senyum tersungging dari bibir merah Bu Kanti karena sang menantu mau mengikuti kemauannya.
Mobil hitam milik Arka kembali melaju untuk pulang ke rumah. Wajah Aline masih nampak masam karena terus teringat akan mahar yang diberikan oleh Arka.
Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di kediaman Arka, Aline yang sudah merasa begitu lelah ingin langsung beristirahat, namun suara Bu Kanti berhasil membuat wanita itu menghentikan langkahnya untuk menuju ke kamar bersama Arka.
"Aline, jangan lupa nanti kamu masak untuk makan malam."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
mula lah penderitaan mu Aline.. ganti posisi Arum 🤣🤣
2023-08-12
0
Merry Dara santika
rasain tuh Aline sekarang dia yang jdi babu
2023-05-19
0
mama oca
ditunggu up ya kakak
2023-05-19
0