Arka tersungkur ke tanah akibat pukulan keras dari Johan, laki-laki itu segera bangkit dan berniat membalas pukulan yang baru saja ia dapatkan. Namun, Johan yang lebih sigap berhasil menangkis pukulan itu dan kembali mendorong tubuh Arka hingga terjatuh ke tanah. Arum yang sebenarnya dapat melihat keributan itu dari kaca jendela caffe memilih untuk tak ikut campur karena tak ingin Arka semakin berulah.
"Pergi dari sini dan jangan pernah ganggu Arum lagi, lebih baik kamu urusin istri hasil selingkuhmu itu," teriak Johan kemudian kembali masuk ke dalam caffe.
Seolah tak terjadi apa-apa, Johan kembali menghenyak di hadapan Arum sembari menyunggingkan sebuah senyuman.
"Kenapa senyum-senyum begitu? Udah puas habis mukulin orang?" tanya Arum dengan ketus namun malah membuat Johan semakin melebarkan senyumnya.
"Kok kamu bisa tahu kalau aku habis mukulin orang?"
"Johan, mataku ini belum rabun. Dan aku bisa lihat semuanya dari kaca jendela caffe kamu yang bersih mengkilat ini. Lagi pula, ngapain sih kamu ngotorin tangan kamu buat berantem sama manusia sejenis Arka itu?"
Johan terdiam sejenak, kedua bola matanya bergerak ke kanan ke kiri pertanda lelaki itu sedang berusaha mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan dari Arum. Tentu saja Arum dapat menangkap gelagat Johan karena mereka sudah cukup lama saling mengenal dan memahami sikap masing-masing.
Plak, Arum menepuk paha Johan dengan cukup keras.
"Aww, sakit Arum. Kok malah aku dianiaya begini," keluh Johan memegangi paha kanannya yang terasa panas akibat ulah sang sahabat.
"Makanya buruan jawab, nggak usah nyari-nyari alasan," desak Arum dengan sorot mata tajam.
"Karena dia bilang sampai kapanpun kamu miliknya, aku nggak rela. Mulai sekarang aku yang akan jagain kamu, dan aku akan berjuang buat dapatkan cinta kamu, Arum." Mata Arum seketika melotot mendengar pernyataan sahabatnya itu, namun sesegera mungkin Arum berusaha untuk menetralkan ekspresi wajahnya.
"Dih nggak usah bercanda, pake acara mau dapatin cinta aku segala lagi."
Johan tak menanggapi, mata lelaki itu malah menatap lekat wajah wanita yang berada di hadapannya. Lelaki itu tengah membulatkan tekat untuk mengatakan perasannya pada Arum. Berharap setelah pengakuan ini, Arum tak akan menjauhi dirinya. Johan menghirup napasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Tangannya terulur menggenggam jemari lentik wanita pujaannya. Matanya menatap dalam manik mata indah milik Arum.
"Arum, apa yang kamu dengar barusan itu bukan candaan. Aku memang mencintai kamu bahkan jauh sebelum kamu mengenal Arka, hanya saja dulu aku tak punya keberanian untuk mengungkapkan yang sebenarnya." Kalimat itu akhirnya berhasil terucap setelah sekian tahun dipendam oleh Johan.
"Maksud kamu?" Arum menaikkan sebelah alisnya, berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja diungkapkan oleh Johan.
"Aku udah mencintai kamu sejak kita pertama bertemu, Arum. Hanya saja selama ini aku nggak punya keberanian untuk mengungkapkanya. Dan hal paling bodoh yang pernah aku lakukan adalah, aku membiarkan kamu menikah dengan laki-laki brengsek seperti Arka." Tergambar jelas raut penyesalan di wajah oriental milik Johan.
Arum masih tak bergeming, tentu saja wanita cantik itu tak mudah percaya dengan kata-kata sang sahabat yang ia kenal sangat suka bercanda.
"Jo, please stop it. Cara becandamu itu nggak lucu!"
Johan menghembuskan napas kasarnya mendengar ucapan Arum. Apakah Arum tak bisa melihat raut serius di wajahnya, apa Arum juga tak bisa melihat tatapan cinta di mata Johan yang selalu terpancar untuk dirinya. Lelaki itu mengangkat kepala, matanya menatap tajam ke arah Arum yang mengernyitkan dahi sembari menatap ke arahnya.
"Percaya sama aku, ini soal perasaan jadi nggak mungkin kalau aku lagi becanda," ucap Johan dengan tegasnya.
"Tapi Jo, aku baru saja bercerai sama Arka. Nggak mungkin secepat ini aku menerima kamu." Mata Arum mendelik menatap Johan.
"Lagian siapa juga yang nembak kamu, aku hanya mengungkapkan perasaanku. Dan kamu nggak harus menjawabnya sekarang karena aku tahu hatimu masih terluka karena ulah Arka." Senyum tipis tersungging di bibir Johan yang berwarna merah alami.
"Jadi maksudmu?" Arum kembali dibuat bingung dengan kata-kata lelaki di hadapannya.
"Kita jalani semuanya seperti biasa, suatu saat jika waktunya sudah tepat aku akan kembali meminta jawaban atas perasaanku ini."
Arum hanya tersenyum menanggapi ucapan Johan. Sungguh Arum tak menyangka jika Johan juga memiliki perasaan sama dengan dirinya dahulu. Sebelum kehadiran Arka, Arum juga diam-diam menyimpan perasaan pada Johan. Namun wanita itu sama sekali tak berani mengungkapkan perasaanya hingga Arka datang dan merebut hatinya. Johan dan Arum mengakhiri obrolan itu karena hari yang telah beranjak sore.
Sementara itu di kediaman Bu Kanti, Aline baru saja selesai memasak untuk makan malam. Sayur sop dan ayam goreng yang berwarna hitam menjadi menu makan malam yang baru saja selesai ia tata di meja makan. Tak berselang lama, terdengar suara mobil Arka yang berhenti di depan rumah. Benar saja, beberapa menit kemudian Arka memasuki rumah. Mata Aline memincing melihat memar di bibir Arka. Wanita itu bergegas untuk menghampiri sang suami.
"Kenapa kamu babak belur seperti itu, Mas?" tanya Aline memincingkan matanya penuh selidik.
"Nggak apa-apa, tadi aku nolongin ibu-ibu yang dicopet. Jadi berantem sama si pencopetnya."
"Ya udah, kamu mandi dulu sana. Terus kita makan malam bareng-bareng," titah Aline yang langsung diangguki oleh sang suami.
Aline mendudukkan dirinya di sofa, sejujurnya insting wanita itu merasa tak percaya jika Arka terluka karena berkelahi dengan seorang pencopet. Tentu saja karena Aline sangat hapal jika sikap sang suami tak mungkin sebaik itu.
"Aline, kamu ngapain ngelamun di situ?" Suara menggelegar Bu Kanti membuat Aline sedikit berjingkat karena kaget.
"Eh nggak, Bu. Tadi bibir Mas Arka terluka, pas Aline tanya katanya kerena berantem sama pencopet waktu dia nolongin ibu-ibu."
"Anakku memang sebaik itu, jadi nggak usah kaget. Sudah, ayo makan jangan melamun mulu. Kasihan cucuku kalau sampai kelaparan di dalam perutmu."
Aline tersenyum tipis mendengar perhatian Bu Kanti pada anak yang ada di dalam kandungannya. Tak berselang lama, Arka turun dengan tampilan yang lebih segar dan langsung menghenyak di salah satu kursi karena merasakan perutnya yang sudah berdemo minta di isi.
"Ini apa Aline, kok ayamnya hitam begini?" protes Arka kala melihat tampilan masakan sang istri.
"Maaf, Mas. Tadi nggak sengaja agak sedikit gosong, tapi masih bisa dimakan kok." Aline mulai mengambilkan nasi beserta lauk untuk sang suami.
Arka yang memang sudah lapar langsung menyuap makanan yang disajikan oleh istrinya. Namun, baru saja makanan itu dikunyah sudah langsung dilepeh kembali oleh Arka.
"Loh, kok dilepeh. Kenapa Arka?" heran Bu Kanti melihat tingkah putranya.
Arka langsung menatap sang istri dengan mata merah penuh amarah. Perutnya yang sudah benar-benar lapar dan meminta diisi malah mendapat makanan yang tak layak untuk dimakan.
"Aline, kamu bisa masak nggak sih. Ini sayur sop asin banget, udah gitu ayam gosong pait begini. Bener-bener ya, udah kucel nggak bisa masak lagi. Masih mending Arum walaupun dekil tapi masakannya selalu enak dan pintar melayani suami!" hardik Arka tanpa mempedulikan perasaan yang istri yang tengah hamil muda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Arka mulut mu terlalu pedas berkata..
2023-08-12
0
Nurmalia Irma
kadang gak percaya aja ada gitu yaa laki terlebih suami yg cuma mandang fisik gak pernah bersyukur gitu sama yg udah dia punya..kalo mau cari yg lebih baik sampai kapanpun gak bakalan pernah nemu krna yg kamu lihat hanya kekurangan pasangan mu saja tidak pernah menghargai pengorbanan pasangan apalagi bersyukur 🙄
2023-06-29
0
Endang Sriwiyati
mewakili type laki laki yang cuma mementingkan keakuannya.... semua serba subjektip
2023-06-13
1