Arum segera masuk ke kamar mandi, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower untuk mendinginkan pikiranya. Memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh Aline, akankah wanita itu mengakui hubungan gelapnya dengan Arka atau justru punya rencana lain.
Hampir tiga puluh menit Arum berada di kamar mandi, wanita itu keluar dan segera mengeringkan rambutnya. Tak lupa memoles make up tipis agar wajahnya terlihat segar. Dengan wajah santai, Arum keluar dari kamar menuju ke lantai bawah bersamaan dengan suara mesin mobil Arka yang mendekat. Sejurus kemudian lelaki itu masuk ke dalam rumahnya.
Mata Arka melotot sempurna kala melihat kehadiran Aline. Lelaki itu mulai takut jika Aline akan benar-benar mengatakan semuanya pada Arum.
"Aline, mau apa kamu ke sini?" tanya Arka pada wanita yang masih menangis itu.
"Dia mau bicara sesuatu tentang kamu, Mas. Sepertinya serius sekali," sahut Arum yang langsung menghenyak di sofa seberang Aline dan menyilangkan kakinya.
Wajah Arka berubah pias mendengar ucapan Arum, sudah bisa ditebak oleh lelaki itu. Hal apa yang akan dibicarakan Aline pada istrinya.
"Ha- hal apa memangnya?" Suara Arka terasa tercekat di tenggorokan.
"Duduk dulu lah, Mas. Kamu kenapa sih jadi kayak panik begitu," sindir Arum pada suaminya.
Keringat mulai menetes di dahi Arka, rasa panik benar-benar menghantui pikiran lelaki itu. Dengan terpaksa Arka menghenyakan tubuhnya di sofa. Menunggu kalimat yang akan dilontarkan oleh wanita selingkuhannya.
"Nah, Aline. Sekarang kamu bisa bicara karena sudah ada Mas Arka di sini," titah Arum pada sahabatnya.
Aline mulai melepaskan diri dari pelukan Bu Kanti, wanita itu menatap tajam ke arah Arka kemudian berganti menatap Arum.
"A- aku, aku hamil, Rum," ucap Aline pada akhirnya.
"Hamil? Oh ya, hamil sama siapa?" Wajah Arum masih terlihat santai, berbeda dengan Arka yang semakin gelisah.
"Pasti sama pacarnya lah, Rum. Mungkin Aline cuma mau curhat aja sama kita," sahut Arka berusaha menghentikan Aline.
"Ya, aku memang hamil sama pacarku. Dan Mas Arka adalah pacarku," kalimat itu akhirnya berhasil meluncur dari bibir Aline.
Arka langsung mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Arum masih terdiam, wanita itu tak menyangka jika hubungan sang suami dan sahabatnya sudah sejauh ini. Kemarin Arum masih berpikir jika Arka hanya bermain-main dengan Aline. Tapi nyatanya, suaminya sudah menghamili wanita lain yang merupakan sahabat karipnya.
"Lalu apa maumu?" tanya Arum yang masih berusaha bersikap tenang.
"Mauku apa? Tentu saja aku mau Mas Arka bertanggung jawab atas kehamilanku ini, aku mau dia menikahiku," jawab Aline tanpa rasa bersalah.
"Bagaimana, Mas? Apa kamu mau menikahi dia?" Kini giliran Arka yang mendapat pertanyaan itu dari sang istri.
"Sudahlah Arka, kamu nikahi Aline. Kamu harus tanggung jawab karena yang dikandung Aline adalah cucu Ibu," sahut Bu Kanti secara tiba-tiba.
Aline tersenyum miring mendapat pembelaan dari Bu Kanti, sedang Arum hanya diam. Tak menyangka jika ibu mertuanya akan menyuruh sang suami untuk menikahi selingkuhanya.
"Ta- tapi, Bu. Arka sudah punya Arum." Arka mencoba untuk menolak permintaan sang ibu.
"Halah, laki-laki itu boleh menikah lebih dari sekali. Apalagi Aline sudah hamil anakmu, kalau Arum tidak setuju ya kamu ceraikan saja dia. Toh sampai sekarang Arum belum hamil, jangan-jangan dia mandul lagi." Bu Kanti menatap sinis ke arah sang menantu.
"Memangnya kalian yakin kalau yang dikandung Aline itu adalah anak Mas Arka?" Sudut bibir Arum tertarik, wanita itu menatap Aline dengan pandangan mengejek.
Plakk.
Tanpa diduga, Aline menampar Arum cukup keras hingga meninggalkan jejak kemerahan di pipi wanita itu.
"Jaga bicara kamu Arum, selama ini aku hanya berhubungan dengan Mas Arka," teriak Aline di dekat telinga Arum.
Arum tersenyum sinis, wanita itu membalas perlakuan Aline dengan menjambak rambutnya hingga kepalanya mendongak.
"Aww, sakit Arum. Lepasin aku." Aline mencoba untuk melepaskan diri namun tetap tak bisa, jambakan Arum malah semakin kuat.
"Rasakan, ini balasan untuk wanita murahan sepertimu."
"Arum, gila ya kamu. Aline itu sedang mengandung cucuku, kalau sampai terjadi apa-apa sama dia. Akan saya laporin kamu ke polisi," ancam Bu Kanti dengan wajah merah padam menahan amarah.
Arum yang telah dikuasai emosi malah mendorong tubuh Aline dengan kuat hingga terjatuh ke sofa dan segera ditolong oleh Bu Kanti. Kini, mata Arum berganti menatap tajam ke arah Arka yang sedari tadi hanya diam menundukan kepala tanpa berniat menjelaskan pada Arum ataupun membela Aline.
"Mas Arka." Suara Arum berhasil membuat lelaki itu mendongakan kepalanya.
"Apa kamu akan menikahi dia?" Jari telunjuk Arum mengarah pada Aline yang masih terduduk di sofa.
"A- aku ti ...."
"Iya, Arka akan menikahi Aline!" potong Bu Kanti sebelum Arka menyelesaikan kalimatnya.
"Jawab, Mas. Aku ingin mendengar jawaban dari mulutmu sendiri,"
"I- iya, Rum. Aku akan menikahi Aline yang sudah mengandung anakku." Aline dan Bu Kanti tersenyum puas mendengar jawaban Arka.
Sekuat tenaga Arum menahan air matanya agar tak sampai jatuh. Wanita itu menarik napasnya dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menetralkan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
"Baiklah kalau itu pilihanmu, sekarang juga aku pergi dari rumah ini. Dan tolong segera urus perceraian kita." Wanita itu langsung berlari menaiki anak tangga, meninggalkan tiga manusia yang sudah berhasil menggoreskan luka di dalam hatinya.
"Arum, tunggu!" Panggilan Arka tak dihuraukan oleh sang istri hingga membuatnya menyusul Arum ke lantai dua.
Di kamar, Arum tengah sibuk memasukan semua barang-barangnya ke dalam koper tanpa ada setetespun air mata yang jatuh. Entah bagaimana caranya wanita itu bisa tetap terlihat tegar meski hatinya terasa perih.
"Arum." Dengan suara lembut, Arka memanggil nama sang istri.
"Mau apa lagi, sekarang kamu puas kan? Aku akan melepaskanmu dan kamu bisa hidup bahagia dengan sahabatku?"
"Maafkan aku Arum, aku masih sangat mencintai kamu," ucap Arka dengan wajah bersalah.
Arum tertawa sumbang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arka.
"Cinta kamu bilang? Kamu cinta sama aku tapi bisa menghamili sahabatku, agak lain ya kamu ini, Mas. Sudahlah, aku harus segera pergi." Arum hendak menyeret kopernya keluar saat Arka mencekal pergelangan tangan wanita itu.
"Apa lagi sih, Mas? Bisa marah nanti calon istrimu yang lagi hamil itu kalau lihat ini?" ketus Arum memasang senyum sinis.
"Aline yang duluan menggodaku!"
"Kalau hidungmu nggak belang, kamu nggak akan tergoda walaupun Aline telanjang di hadapanmu," balas Arum dengan sengit.
Wanita itu menghempaskan tangan Arka dengan kasar dan membawa kopernya menuruni anak tangga. Menghampiri Aline yang masih duduk di sofa sembari mengumbar air mata buaya.
"Memnagnya mau pergi ke mana kamu malam-malam begini? Mau tidur di jalanan?" ejek Bu Kanti kala melihat Arum yang sedang menggeret koper besarnya.
"Ibu nggak usah khawatir, mungkin Ibu lupa kalau aku masih punya rumah peninggalan orang tuaku." Arum menjeda kalimatnya dan beralih pada mantan sahabatnya.
"Aline, karena sepertinya kamu suka sekali mengambil apa yang aku punya jadi sekalian aku kasih cincin nikahku sama Mas Arka buat kamu."
Arum melepas cincin yang melingkar dijari manisnya dan mengulurkanya pada Aline yang langsung tersenyum. Namun, saat Aline hendak mengambil cicin itu Arum malah dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai.
"Aruuummm!" geram Aline melihat kelakuan istri Arka.
"Silahkan pungut cincin bekasku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
mantap Arum.. pergi saja dan tinggal kan mereka..
2023-08-12
0
Merry Dara santika
mantap nie arum
2023-05-17
0