Modal 5

Johan terdiam sejenak menatap wajah wanita yang tengah duduk di depanya. Menimbang-nimbang untuk mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak.

"Arum, kalau aku bilang aku ada gambaran tentang wanita yang saat ini menjadi selingkuhan suamimu. Apa kamu akan percaya?" tanya Johan dengan wajah serius.

"Apa kamu tahu sesuatu, Jo?" Arum balik bertanya dengan nada penuh penekanan.

Johan membuang napasnya kasar, pria itu menatap jam rolex yang melingkar di pergelangan tanganya kemudian mengambil benda pipih dari dalam sakunya.

"Kamu bilang suami kamu siang ini akan ketemu sama wanita selingkuhannya kan, dan sekarang sudah jam makan siang. Kamu lihat rekaman cctv di caffe aku untuk membuktikan benar atau tidaknya dugaanku ya." Ucapan Johan terdengar ambigu di telinga Arum.

"Maksudnya? Apa hubunganya selingkuhan suamiku dengan rekaman cctv caffemu, Jo?" Arum semakin penasaran.

Johan mengotak-ngatik handphonenya sebentar hingga terpampang tampilan caffenya yang terekam camera cctv di layar.

"Kita liat dulu aja ya, apa dugaan aku benar," ucap Johan menatap Arum dengan sebuah senyuman tipis namun penuh arti.

Arum mengangguk, matanya menatap ke arah layar handphone yang berada di hadapanya. Beberapa menit kemudian nampak Arka memasuki caffe itu disusul Aline yang keluar dari ruang kerjanya dan langsung menghampiri suami Arum. Nampak di layar, Arka langsung mencium mesra kedua pipi gadis itu.

Mata Arum membola, tanganya membekap mulutnya sendiri tak percaya dengan adegan yang baru saja dilihat oleh mata kepalanya.

"Jangan komentar dulu ya, kita lihat sampai selesai," cegah Johan saat sahabatnya itu akan berbicara.

Kembali mata Arum fokus pada layar gawai milik Johan. Menatap adegan di mana Aline, sahabat karipnya tengah bergelayut manja di lengan seorang lelaki yang berstatus sebagai suami Arum. Mata wanita itu mulai memanas, sekuat tenaga Arum berusaha menahan agar air matanya tak sampai jatuh. Namun pertahanan Arum gagal kala melihat sang suami menyuapi sahabatnya dengan sesekali mengecup pipi wanita itu dengan mesra.

Air mata menetes dari pipi Arum tanpa bersuara. Johan yang peka akan keadaan itu memilih untuk segera mematikan gawainya. Tanganya terulur memeluk Arum yang bahunya berguncang karena menangis. Wanita itu masih berusaha untuk tak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Bagaimana bisa, suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri.

"Arum, sabar. Aku beberapa kali melihat Arka menemui Aline di caffe," lirih Johan di telinga wanita itu.

Perlahan, Arum melepaskan diri dari pelukan Johan.

"Aku harus sabar seperti apa lagi, Jo? Aku bisa terima hidup seperti penbantu meskipun suamiku manger dan punya gaji besar. Aku juga selalu sabar menerima hinaan dari suami dan mertuaku. Tapi sekarang apa? Suamiku malah selingkuh dengan sahabatku sendiri. Dan Aline, Aline itu sahabat karipku sendiri. Kenapa dia tega menjadi pelakor di dalam rumah tanggaku? Kenapa, Jo? Beri aku satu alasan untuk bisa bersabar lag!" histeris Arum tanpa memperdulikan tatapan mata orang-orang yang memandang aneh ke arahnya.

"Sssttt, tenang Arum. Kamu jangan lemah, balas mereka dengan elegan dan buat mereka menyesal terutama suamimu." Ucapan Johan membuat Arum memincingkan matanya.

"Bagaimana caranya, Jo?" lirih Arum di sela tangisnya yang mulai mereda.

"Sebelum aku kasih tahu, kamu jawab dulu pertanyaanku. Setelah kamu membuat Arka dan Aline menyesal. Apa kamu akan mempertahankan kembali pernikahanmu ini?" tanya Johan dengan mata memincing penuh selidik.

Arum tak bersuara, hanya menggelengkan kepalanya.

"Jawab Rum!" desak Johan pada wanita itu.

"Tidak Jo, aku ingin lepas dari ikatan pernikahan toxic ini. Toh aku masih memiliki rumah peninggalan kedua orang tuaku dan juga tabungan untuk biaya hidup. Sambil jalan aku juga bisa cari kerjaan," jawab Arum mantap.

"Bagus, sekarang kamu harus jadi wanita kuat dan cantik. Ayo ikut aku, sepeda motor kamu tinggalin di sini aja. Nanti setelah urusan kita selesai aku antar kamu ke sini lagi," ajak Johan pada sahabatnya.

"Tapi aku harus masak untuk makan siang mertuaku dan ...."

"Jangan bodoh, Arka udah selingkuh ngapain kamu masih pikirin mereka," potong Johan sebelum Arum menyelesaikan kalimatnya.

Arum mematung sejenak mencerna setiap kata yang baru saja terucap dari bibir Johan.

"Baiklah, ayo." Akhirnya Arum menyetujui ajakan sahabatnya.

Pria itu mulai melajukan mobilnya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan, membelikan beberapa baju serta sepatu untuk Arum dan membawa wanita itu ke salon agar bisa memperbaiki penampilanya. Tak lupa membelikan skin care dan make up yang bisa menyempurnakan penampilan Arum.

Setelah hampir dua jam menunggui Arum perawatan di Salon, wanita itu keluar dengan penampilan sempurnya. Kulitnya tak lagi kusam. Rambut hitam panjangya dipotong sebahu dan di warnai dengan warna coklat yang membuat penampilan Arum kian mempesona hingga mata Johan tak berkedip menatap ke arahnya.

"Gimana, Jo penampilan aku sekarang?" Suara lembut Arum membuyarkan lamunan pria itu.

"Sempurna, ini baru Arum yang aku kenal. Sekarang kita cari makan dulu ya." Arum mengangguk mengiyakan ajakan sahabatnya itu.

Resoran jepang menjadi pilihan keduanya untuk menikmati makan malam yang lebih awal. Arum dan Johan menikmati makanan mereka tanpa bersuara hingga semua isi piring berpindah ke dalam perut mereka.

"Nah Arum, setelah ini kamu pulang. Pasti Arka akan terpesona lihat kamu, dan besok aku akan pecat Aline karena dia sudah terbukti menggelapkan uang caffe. Lusa kamu gantiin dia jadi manager di caffeku seperti dulu." Lagi-lagi ucapan Johan berhasil membuat Arum terpanah.

"Kamu mau pecat Aline dan suruh aku kembali jadi manager di caffe? Serius?" tanya Arum memastikan bahwa pendengaranya tidaklah salah.

"Ya, dan kita lihat apa suami sialanmu itu masih mau setelah Aline jadi pengangguran," ucap Johan tersenyum miring.

Setelah selesai menyusun rencana balas dendam, Johan kembali mengantarkan Arum ke caffe tampat mereka bertemu tadi siang. Wanita itu pulang ke rumah dengan mengendarai motor matic buntut milik mertuanya.

Tepat pukul tujuh malam, Arum tiba di rumah. Nampak dua mobil sudah terparkir manis di garasi pertanda bahwa Arka dan Bu Kanti telah berada di rumah. Arum berjalan dengan santai memasuki rumah itu, beberapa paper bag ditentengnya dengan anggun.

Arka dan Bu Kanti yang sedang menikmati makan malam dengan menu mi instan buru-buru menghampiri wanita itu. Seketika mulut keduanya menganga melihat penampilan Arum yang begitu cantik dan menawan seperti sebelum menikah dengan Arka dulu.

"A- Arum, kamu dari mana?" tanya Arka yang masih terpesona dengan kecantikan sang istri.

"Dari salon, katanya kamu mau aku kelihatan cantik dan nggak kucel kan?" balas Arum santai.

"Iya, tapi bukan berarti pulang telat dan biarin kita kelaparan," bentak Bu Kanti kemudian mencebikan bibirnya melihat perubahan penampilan sang menantu.

"Kelaparan kata ibu? Kelaparan apanya, orang kalian habis makan mi instan gitu masih bilang lapar. Nanti kebanyakan makan jadi gendut kayak genderuwo lhoh, Bu," jawab Arum dengan wajah mengejek.

"Dasar menantu kurang ajar!!" Suara Bu Kanti menggelegar memenuhi seluruh ruangan.

"Bu, udah donk Arum pasti capek. Jangan dimarah-marahin begitu," bela Arka yang masih terpesona dengan penampilan baru sang istri.

"Iya bener banget, Mas. Aku capek habis perawatan, sekarang aku istirahat ya," ucap Arum dengan nada manja kemudian berlalu menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

langkah yang terbaik Arum..

2023-08-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!