Arum yang sedari tadi sibuk menenggelamkan diri dalam pekerjaanya mulai merasakan perutnya berdemo meminta untuk segera diisi. Wanita itu melihat benda bulat yang melingkar di pergelangan tanganya, ternyata sudah menunjukan pukul dua belas siang. Pantas saja Arum merasa lapar. Wanita cantik itu segera beranjak dari kursi kerjanya untuk makan siang.
Arum duduk sendiri di salah satu meja caffe menikmati menu makan siangnya karena Johan sedang ada urusan lain sehingga sampai siang belum bisa datang ke caffe. Tepat saat wanita itu menelan suapan terakhirnya, Arka tiba-tiba menghenyak duduk di hadapan Arum.
Seketika mata Arum mendrlik melihat mantan suaminya yang tiba-tiba muncul entah dari mana, wanita itu sedikit panik karena Johan yang biasa melindungi dirinya juga sedang tak ada di sana. Arum menghirup napasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Mengingat pesan Johan agar tak menghadapi Arka dengan emosi.
"Hai, Rum. Kok kamu sendirian aja, mana pria yang kemarin mengaku sebagai calon suamimu itu?" tanya Arka dengan wajah berbinar karena mendapati mantan istrinya tengah sendirian.
Arum hanya mengulum senyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan mantan suaminya. Ternyata Arka masih juga belum menyerah untuk mendekati dirinya.
"Mas Johan sedang ada urusan di kantornya jadi belum sempat untuk datang ke caffe. Kamu sendiri ke sini mau apa? Mau makan siang?" Pertanyaan Arum seketika terjawab kala seorang pelayan mengantarkan sepiring spagetti dan segelas orange jus untuk Arka.
"Iya, kamu juga masih jam makan siang kan? Boleh kita ngobrol-ngobrol sebentar?" pinta Arka yang kali ini terdengar sedikit lebih sopan dari biasanya.
"Memangnya apa lagi yang harus kita obrolkan, semuanya sudah selesai. Apa kita harus membahas masa lalu lagi?" Arum menaikan sebelah alisnya menatap datar wajah sang mantan suami.
"Aku hanya ingin minta maaf atas semua kesalahanku dan ...."
"Dan pengkhianatan yang sudah kamu lakukan dengan sahabatku sendiri?" potong Arum membuat Arka tersenyum kecut.
Arka menyempatkan diri menyuap makanannya sebelum membalas perkataan Arum barusan. Lelaki itu semakin menyesal menyadari selain cantik dan pandai mengurus suami, Arum juga seorang wanita yang cerdas.
"Ya, maafkan atas pengkhianatanku juga."
"Aku sudah memaafkanmu," ucap Arum datar.
Arka menyunggingkan senyum mendengar kata maaf yang baru saja ia dapat dari Arum. Berharap ada angin segar untuk dirinya agar bisa mendapatkan cinta mantan istrinya kembali.
"Apa ini artinya kamu bisa menerimaku kembali?"
"Oh, tentu tidak. Kita hanya sebuah kepingan masa lalu, sekarang kamu sudah punya Aline yang sedang mengandung anakmu. Dialah masa depanmu, maaf aku permisi. Jam istirahatku sudah hampir usai," pamit Arum mulai beranjak dari kursinya.
"Tunggu." Arka buru-buru mencekal tangan istrinya hingga membuat Arum terpaksa menoleh.
"Mass!!" pekik Aline yang tiba-tiba muncul di caffe itu dengan membawa sebuah kantong kresek di tangannya.
"Sial, pasti bakalan ribut lagi ini," batin Arum yang segera menghempaskan tangan Arka dengan kasar.
Mata Aline memerah menahan tangis, dengan langkah lebar wanita itu berjalan mendekati meja tempat Arka dan Arum yang kini tengah berdiri.
"Aku panas-panas datang ke kantor kamu bawain makan siang tapi kamu nggak ada, dan ternyata benar kamu ada di sini enak-enakan makan siang sama mantan istri kamu," ucap Aline yang mulai terisak.
Seketika Arka merutuki kebodohannya, bagaimana lelaki itu bisa lupa. Padahal tadi pagi jelas-jelas Aline sudah bilang akan membawakan makan siang untuknya. Namun, tadinya Arka pikir Aline hanya bercanda karena baru saja mendapatkan uang darinya.
"Aku lupa kalau kamu mau ke kantor, aku ke sini cuma makan siang aja kok," bohong Arka yang sebenarnya sengaja makan di sana agar bisa menemui Arum.
Aline tak menggubris pernyataan suaminya. Tangan wanita itu mengepal kuat, matanya nyalang menatap ke arah Arum.
"Arum, apa kamu nggak bisa berhenti mengganggu suamiku. Aku ini lagi hamil, tapi kamu masih aja tega godain suamiku!"
Arum memutar bola matanya jengah mendengar ocehan mantan sahabatnya itu. Bagaimana dia bisa bertingkah seolah menjadi wanita paling tersakiti, sedangkan di sini Arumlah yang menjadi korban perselingkuhan mereka. Wanita itu tersenyum mencemooh ke arah Aline.
"Aline, Aline. Apa kamu lupa, ini di tempat siapa? Ini caffe tempat saya bekerja, masa kamu nggak tahu siapa yang sebenarnya menggoda siapa?" ucap Arum penuh penekanan.
"Apa maksudmu, Rum?"
"Aline, kamu saja mendapatkan suami kamu dari hasil merebut milik orang lain. Harusnya kamu sadar kalau lelaki itu juga bisa meninggalkan kamu untuk wanita lain. Jadi tolong kamu bilang sama suami kamu ini, berhenti mengajak saya rujuk dengan alasan masih cinta dan menyesal," tegas Arum yang segera kembali ke ruang kerjanya karena tak ingin Aline semakin berulah.
"Tunggu, Arum, Arum," teriak Aline memanggil wanita yang sudah menghilang dibalik pintu.
"Sudah Aline, cukup bikin malunya. Sekarang kamu pulang." Arka menarik tangan istrinya untuk keluar dari caffe dan membawanya ke parkiran di mana motor buntut Bu Kanti terparkir.
"Sana pulang, dan jangan kamu ganggu Arum lagi," perintah Arka yang segera meninggalkan wanita itu menuju ke mobilnya.
Sementara itu di ruang kerjanya, Arum masih tak habis pikir dengan semuanya. Sampai kapan kedua manusia itu akan terus mengusik ketenangan hidupnya. Di tengah lamunanya, tiba-tiba pintu ruangan kerja wanita itu terbuka. Johan muncul dari balik pintu dan mendekati Arum dengan tergesa-gesa.
"Arum, aku lihat dari CCTV kalau Arka dan Aline datang ke sini. Apa mereka bikin ulah lagi? Apa mereka nyakitin kamu? Atau ... Arka mengganggu kamu lagi?" Johan langsung memberondong wanita pujaannya dengan berbagai pertanyaan.
Arum menghembuskan napasnya kasar, wanita itu mulai menceritakan kejadian yang baru saja manimpa dirinya hingga membuat Johan merasa geram.
"Benar-benar kurang ajar si Arka itu, kapan sih dia mau berhenti mengganggu kamu," kesal Johan dengan wajah merah menahan amarah.
"Sudahlah, Jo. Biarkan saja dia bertindak sesukanya, berdebat dengan manusia macam Arka hanya akan membuang waktu."
"Iya, kamu benar, Rum. Sekarang kamu pulang aja ya, istirahat. Nanti malam aku ada kejutan buat kamu."
Perintah dari Johan malah membuat Arum mengernyitkan dahinya. Sekarang masih jam satu siang dan Johan malah menyuruhnya untuk pulang.
"Kok pulang sih, Jo? Ini kan masih jam kerja?"
"Iya nggak apa-apa, aku yang nyuruh biar kamu bisa istirahat." Johan tersenyum penuh arti menatap wanita pujaanya.
"Emang kejutan apa sih?"
"Ada deh, udah sana pulang. Nanti aku jemput kamu jam tujuh malam ya."
"Iya, iya. Ya udah, aku pulang dulu."
Akhirnya Arum hanya bisa pasrah mengikuti perintah bos sekaligus sahabatnya itu. Wanita itu mulai melajukan mobil miliknya. Menyusuri jalanan untuk sampai di tempat tinggalnya. Wanita itu buru-buru turun dari mobil hendak masuk ke dalam rumahnya saat terdengar suara seseorang yang memanggil namanya dari arah gerbang dengan cukup keras.
"Arum!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
kalau bukan Arka pasti Aline..
2023-08-12
0
mama oca
hadeh...siapa ya?jangan sampe aline yg nungguin arum..
2023-05-25
0