"Mas!" panggil Arum saat sang suami beranjak dari duduknya hendak pergi ke kantor.
"Ada apa?" balas Arka menghentikan langkah, matanya memincing menatap ke arah sang istri.
"Nanti siang aku mau keluar sebentar ketemu sama teman ya." Arum meminta izin karena nanti siang hendak bertemu dengan Johan.
"Terserahlah, yang penting kamu nggak ngerepotin aku," ucap Arka cuek.
"Bilangin sama istri kamu, Ka. Pakai sepeda motor aja, Ibu juga mau keluar habis ini. Ibu udah tua, nggak kuat kalau disuruh panas-panasan naik motor," sahut Bu Kanti yang sedari tadi menyimak obrolan anak dan menantunya.
Arum tersenyum mendengar permintaan mertuanya yang egois itu.
"Tenang aja, Bu. Nanti Arum naik taksi online aja."
"Ngapain mau naik taksi online segala, boros tahu nggak. Ada motor juga, naik motor aja kamu," perintah Arka membuat mata sang istri membola.
"Tapi Mas, aku mau ketemu sama temenku. Apa kata dia kalau aku ke sana naik motor," protes Arum tak terima.
"Kenapa? Malu? Kamu itu udah nggak kerja sekarang, lagian kamu udah kucel jadi sekalian aja biar kepanasan naik motor. Nggak usah manja, panas dikit doank ini," tegas Arka tak ingin dibantah.
Arum hanya diam menganggukan kepalanya samar, membiarkan sang suami untuk segera pergi ke kantor dan mengakhiri perdebatan tak berguna itu. Sementara Bu Kanti langsung mengambil tasnya dan pergi menggunakan mobil Arum entah ke mana.
Wanita muda itu terduduk lemas, bulir bening menetes dari sudut netra indahnya. Tak habis pikir dengan kelakuan suami dan mertuanya. Dulu ia berhenti bekerja juga atas permintaan Arka yang menginginkanya menjadi seorang ibu rumah tangga dan fokus mengurus suami swrta ibu mertuanya. Tapi kini hidupnya malah jauh lebih menyedihkan dibanding seorang pembantu yang masih mendapatkan gaji. Sedangkan dirinya tidak, bahkan mobilnya sendiri kini telah diganti dengan sebuah sepeda motor buntut milik Bu Kanti.
"Nasib, kenapa begini banget sih. Sebenarnya aku ini istri apa pembantu sih. Disuruh cantik tapi nggak dikasih modal. Emang dia pikir bisa skincarean pake tepung sama minyak goreng doank," gumam Arum meratapi nasibnya sendiri.
Wanita itu menyeka sudut matanya yang basah dengan kasar kemudian membereskan meja makan dan seluruh rumah. Setelah itu Arum langsung menuju ke kamarnya untuk memilih baju yang akan dipakainya nanti.
"Duh, biasanya aku ke mana-mana pakai dress tapi kalau sekarang nggak mungkin banget pakai dress pendek begini. Orang mau naik taksi aja nggak boleh, kalau baju ini dipakai buat naik motor bisa terbang ke mana-mana nanti."
Cukup lama Arum memilah pakaian mana yang akan ia pakai hingga pilihanya jatuh pada sebuah celana kulot berwarna hitam dan blouse berwarna putih. Wanita itu segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kini Arum tengah duduk di depan cermin. Menatap wajah kusam miliknya, wanita itu mencoba memoleskan make up namun bedak yang ia pakai malah membuat wajahnya terlihat semakin aneh karena tak bisa menempel sempurna akibat kulit yang kering tak pernah tersentuh skin care. Arum menghembuskan napasnya kasar kemudian memilih untuk pergi tanpa menggunakan make up saja.
Dengan langkah lebar wanita itu menuruni anak tangga. Lagi-lagi Arum harus menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal ketika melihat rak sepatu.
"Aarrrghhh, sial banget sih. Sepatu juga udah pada rusak. Dah lah pakai sendal jepit aja," kesal Arum yang segera keluar dari rumah dan mengunci pintunya.
Wanita itu mulai memacu sepeda motor maric buntut milik mertuanya ke sebuah caffe tempat ia janjian bertemu dengan Johan. Cuaca yang cukup panas membuat keringat membasahi wajah Arum. Setibanya di parkiran caffe, Arum menyempatkan diri menyeka keringat di wajahnya dan masuk mencari keberadaan Johan yang ternyata sudah menunggunya di sebuah meja.
"Hai Jo," sapa Arum yang langsung menghenyak di kursi seberang meja Johan.
"A- Arum, ini beneran kamu?"
Mata Johan melotot sempurna melihat wanita yang tengah duduk di hadapanya. Matanya memindai penampilan Arum dari ujung rambut hingga ujung kaki. Arum yang dulu cantik jelita dan selalu mencuri hatinya meski Arum tak pernah membalas kini berubah menjadi wanita berwajah kusam dan tak terawat.
"Eh, iya Jo. Ini aku, sorry ya kalau penampilan aku berantakan soalnya tadi aku naik motor," ucap Arum yang merasa tak enak hati dengan pandangan Johan.
"Apa kamu bilang? Kamu naik motor ke sini? Memangnya mobilmu ke mana, Rum?"
"Dipake sama mertua, jadi aku ngalah pakai motor mertua," ucap Arum kemudian memamerkan deretan giginya yang rapi.
Johan menghembuskan napas kasarnya mendengar penuturan wanita yang masih tetap menghuni relung hatinya meski telah menjadi milik orang lain.
"Rum, aku nggak masalah kamu naik motor gini. Yang jadi masalah, kenapa penampilan kamu jadi kayak gini. Apa kamu nggak bahagia hidup sama Arka?" tanya Johan menatap dalam wajah wanita di hadapanya.
Belum sempat Arum menjawab, seorang pelayan caffe telah datang membawakan dua gelas jus jeruk dan dua piring spageti yang sudah dipesan Johan sebelum wanita itu datang, dan itu adalah makanan serta minuman favorite Arum.
"Nanti kamu cerita sama aku, sekarang makan dulu ya. Aku udah pesanin makanan kesukaan kamu," titah Johan membuat Arum mengangguk.
Wanita itu nampak begitu lahap menikmati makananya, semenjak menikah dengan Arka dan berhenti bekerja. Arum tak pernah lagi menikmati makan di caffe seperti ini, apalagi dengan menu yang paling ia sukai. Johan tersenyum kecut melihat Arum makan dengan begitu lahap hingga isi piring itu telah tandas dalam hitungan menit.
"Udah kenyang? Apa mau nambah lagi nih?" tawar Johan mengulas sebuah senyuman manis.
"Udah kenyang, Jo. Biarpun penampilanku kayak gini tapi perutku belum berubah menjadi karung," guyon Arum menjawab tawaran Johan.
"Jadi gimana? Apa kamu nggak bahagia sama Arka?" Johan mengulangi pertanyaanya tadi.
Arum menghembuskan napas kasar kemudian menceritakan bagaimana hidupnya selama ini. Tangan Johan mengepal mendengar kisah hidup Arum setelah menikah dengan Arka.
"Pantas saja sekarang penampilanya jadi seperti ini," batin Johan dalam hati.
"Sialan itu si Arka, kalau aku tahu nasibmu setelah menjadi istri Arka akan seperti ini. Mending dulu aku bawa kamu kabur sebelun akad nikah aja," sesal Johan setelah mendengar cerita dari Arum.
"Dih, ngaco ah."
"Ngaco gimana, kamu tahu kan kalau dari dulu aku cinta sama kamu meskipun nggak pernah kamu balas. Dan sialnya kamu malah dapat suami macam Arka."
"Maaf ya, Jo." Arum menundukan kepalanya karena merasa malu dan tak enak hati.
Johan yang menyadari perubahan ekspresi wajah sahabatnya segera segera menggenggam tangan wanita itu.
"Udah nggak usah dipikirin, sekarang kamu butuh bantuan apa? Kamu ngajakin aku ketemu karena ada yang mau kamu omongin kan?" Pertanyaan Johan membuat Arum teringat akan tujuan awalnya tadi.
"Gini Jo, aku curiga Mas Arka selingkuh."
"Apa? Kok bisa? Berani-beraninya dia selingkuhin kamu, kamu udah tahu siapa selingkuhanya?" potong Johan sebelum Arum menyelesaikan kalimatnya.
"Ssttt, bentar jangan dipotong dulu. Justru karena itu aku ngajak kamu ketemu. Aku mau minta tolong kamu buat selidikin siapa selingkuhan Mas Arka karena semalam aku dengar dia mau ketemu sama wanita itu siang ini."
Penjelasan Arum membuat lelaki itu terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments