Modal 3

Kepala Arka mendongak mendengar namanya dipanggil oleh sang istri dengan nada yang begitu lembut nan manja, dengan malas lelaki itu menoleh ke arah Arum yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan menggunakan lingerie warna merah maroon kesukaannya. Dahi lelaki itu mengernyit dengan sebelah alis terangkat kala melihat penampilan sang istri. Sebelah sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman mencemooh.

"Kamu ngapain pakai baju begitu, nggak nafsu aku lihatnya. Kalau kamu dandan cantik dan kulit kamu glowing sih pantes pakai baju begitu, ini wajah kusam aja pakai begituan. Percuma," ucap Arka yang kembali fokus pada gawai di tanganya.

Lagi-lagi Arum harus menelan pil pahit akibat ucapan pedas dari bibir sang suami, wanita itu langsung memutar badanya masuk ke kamar mandi dan mengganti lingerie itu dengan baju daster lusuhnya. Dengan wajah murung, Arum menghenyak di sisi ranjang. Memperhatikan sang suami yang tengah tersenyum hanya karena menatap layar benda pipih yang masih setia berada dalam genggamanya.

"Kamu lagi chatingan sama siapa sih, Mas?" tanya Arum penasaran.

Arka langsung menyembunyikan gawainya di bawah bantal setelah mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh sang istri. Lelaki itu bergegas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Ya sama orang kantor lah, sama siapa lagi," ketus Arka menanggapi pertanyaan sang istri.

"Kok sampai senyum-senyum begitu, Mas?" Arum tentu saja tak mudah mempercayai jawaban klose yang diberikan oleh suaminya.

Lelaki itu bangkit dari posisinya dan menatap Arum dengan wajah kesal.

"Memangnya kamu pikir aku lagi chattingan sama siapa, hah? Kamu mau nuduh aku macam-macam?"

"Bu- bukan begitu, Mas. Aku percaya kok sama kamu."

Pada akhirnya Arum yang memilih kembali mengalah untuk menghindari percekcokan di antara mereka. Arka yang sudah merasa posisinya aman kembali merebahkan tubuh dan segera memejamkan matanya.

Arum hanya bisa mendesah kesal melihat tingkah sang suami yang selalu tak mau mengalah. Wanita itu ikut merebahkan diri. Pandangan matanya menerawang ke langit-langit kamar. Entah sampai kapan ia akan bertahan menjalani kehidupan seperti ini. Memikirkan hal itu membuat kepalanya terasa berdenyut hingga memilih untuk memejamkan mata.

Hari telah larut saat Arum merasakan haus yang mengusik lelap tidurnya. Wanita itu membuka mata, hendak mengambil minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Namun Arum terkejut karena sisi ranjang di sampingnya telah kosong.

"Ke mana Mas Arka, apa jangan-jangan lagi di toilet ya?" monolog Arum pada dirinya sendiri.

Kepala wanita itu menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tak tertutup, pertanda tak ada sang suami di sana.

Sejenak Arum termenung lalu memutuskan untuk ke dapur tanpa memakai alas kaki sehingga langkahnya tak menimbulkan suara. Satu-persatu Arum mulai menuruni anak tangga hingga sayup-sayup terdengar suara sang suami yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon.

"Iya sayang, besok siang kita ketemu ya makan siang bareng." Suara Arka yang tengah berbicara di telepon membuat hati Arum tercubit, namun wanita itu memilih untuk meredam emosinya.

Perlahan, Arum mendekat ke arah Arka yang masih sibuk berbicara mesra dengan seseorang di ujung telepon.

"Mas Arka." Panggilan lembut itu membuat Arka buru-buru mematikan sambungan teleponya dan menoleh ke arah sumber suara.

"A- Arum, sejak kapan kamu di situ?" tanya Arka gugup karena takut jika sang istri mendengar obrolanya tadi.

Arum menatap sang suami tanpa berkedip, wanita itu mendekat kemudian menyunggingkan senyum tipis.

"Barusan kok, Mas. Mau ambil minum aku, kamu lagi teleponan sama siapa tadi?" Arum pura-pura tak mengetahui pembicaraan sang suami.

"Oh, emb itu rekan bisnis. Besok aku ada metting penting, katanya kamu mau ambil minum," bohong Arka menutupi kebelangan tingkahnya.

"Rekan bisnis kok manggilnya sayang," batin Arum dalam hatinya.

"Iya ini aku mau ambil minum, kamu nggak mau tidur lagi?"

"Ini aku juga mau tidur kok." Arka segera beranjak, menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

Sementara Arum memilih mengambil segelas air putih dan menenggaknya hingga tandas. Wanita itu menggenggam gelasnya dengan erat.

"Rupanya kamu mulai bermain api, Mas Arka. Kita lihat, seperti apa wanita selingkuhanmu itu," gumam Arum kemudian meletakan gelasnya.

Wanita itu memutuskan untuk kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Namun hanya mata Arum yang terpejam, pikiranya terus berkelana memikirkan apa yang sudah dilakukan Arka di belakangnya. Mingkinkah sang suami tega menduakan cintanya hanya karena penampilan yang selalu dibilang lusuh dan membosankan.

Hingga adzan shubuh berkumandang Arum masih belum juga terlelap. Wanita itu memutuskan untuk melaksanakan kewajiban dua rokaatnya lalu memasak sarapan. Arum memilih untuk membuat kwetiau goreng sebagai menu pagi ini.

Seperti biasa, sang mertua bangun setelah sarapan terhidang di meja makan. Sedangkan Arka harus dibangunkan terlebih dahulu oleh sang istri. Usai sarapan Arka langsung pergi ke kantor sedangkan Bu Kanti masih duduk di meja makan menikmati secangkir teh buatan Arum.

"Arum!" panggil Bu Kanti pada sang menantu yang tengah mencuci piring bekas makan mereka.

"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Arum setelah tiba di hadapan mertuanya.

"Kamu itu nggak bosan apa di rumah terus setiap hari?"

"Ya bosan, Bu. Tapi gimana lagi, mau keluar jalan-jalan juga nggak bisa karena mobil Arum sekarang dipakai sama Ibu. Kalau naik motor kan panas, Bu," keluh Arum sekaligus menyindir mertuanya secara halus.

Wanita paruh baya itu mendelik kala mendengar ucapan menantunya.

"Enak aja, kamu nyindir saya? Lagian keluar kan nggak harus jauh, ngobrol sama tetangga kan juga bisa daripada angkrem di rumah terus."

"Nggak lah, Bu. Nanti yang ada malah diajak ghibahin tetangga yang lain kan nggak enak. Apalagi kalau sampai Arum diajak ghibahin Ibu, kan nggak lucu ghibahin mertua sendiri."

Bu Kanti kian geram mendengar kata-kata yang diucapkan oleh sang menantu.

"Hah, percuma ngomong sama kamu. Bikin kesel aja bisanya, mending saya jalan sama teman saya."

Wanita paruh baya itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan kembali dengan menenteng tas berlogo huruf "H" yang entah kualitas kw super berapa. Tak berselang lama terdengar deru suara mesin mobil yang menjauh menandakan Bu Kanti telah meninggalkan rumah itu.

Arum menghela napasnya dalam dan menghembuskanya perlahan. Wanita itu menuju ke ruang laundry untuk menyetrika pakaian yang sudah menumpuk. Namun, pikiran Arum tak bisa berkonsentrasi. Wanita itu masih penasaran, siapa yang ditelepon oleh Arka semalam hingga memutuskan untuk mematikan setrikanya dan kembali ke kamar untuk menelepon seseorang.

Jemari Arum dengan lincah menari di atas layar mencari kontak Johan, sahabat sekaligus pemilik caffe tempat dirinya dan Aline bekerja dulu. Perlu menunggu beberapa kali deringan sampai pemilik kontak itu mengangkat teleponya.

"Hallo, Arum apa kabar kamu? Lama banget nggak ada kabar, udah lupa apa gimana nih sama aku?" cecar Johan di seberang telepon.

"Baik Jo, aku kan sekarang sibuk jadi ibu rumah tangga."

"Ada apa ini, tumben kamu telepon. Lagi butuh bantuan apa?" tembak Johan yang sudah sangat hapal dengan sifat Arum.

"Hehe, tau aja kamu, Jo. Tapi kayaknya nggak enak deh kalau ngobrol di telepon, bisa ketemu aja nggak besok siang?"

"Boleh, tapi jangan di caffe aku ya, kita ketemu di caffe Bucin yang dekat rumah kamu itu aja ya."

"Oke, besok jam sebelas siang ya. Bye."

"Bye Arum." panggilan pun diakhiri, Arum sebenarnya sudah tak sabar menunggu sampai hari esok tiba.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

pasti akan terbongkar kebusukan suami Arum..

2023-08-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!