Seketika Arka terdiam, matanya memincing menatap Johan untuk mencari raut kebohongan di wajah lelaki itu kemudian berganti menatap ke arah sang mantan istri yang hanya diam. Tak membenarkan ataupun membantah pernyataan dari Johan. Senyum mencemooh tersungging di bibir Arka yang tentu saja tak mudah mempercayai omongan Johan karena ia yakin itu hanyalah tak-tik agar dirinya menjauh dari Arum.
"Johan, Johan. Jangan mimpi, nggak mungkin Arum secepat itu berpindah hati padamu. Dan lihat, dia hanya diam tak menanggapi apa yang kau ucapkan," ejek Arka tersenyum miring memandang remeh lelaki tampan di hadapannya.
Arum yang sudah semakin muak karena mantan suaminya tak kunjung pergi sedikit memajukan tubuhnya, mengikis jarak antara dirinya dan Arka.
"Apa yang diucapkan oleh Johan itu benar, posisimu sudah tergantikan. Jadi berhentilah mengganggu hidupku," bisik Arum di telinga Arka kemudian meninggalkan lelaki itu masuk ke dalam rumahnya, Arka hendak menyusul namun Bi Marni langsung berdiri di depan pintu hingga membuat Arka mendesah kesal karena tak bisa masuk.
"Arum, aku nggak akan berhenti untuk mengejar kamu lagi. Kamu adalah cinta sejatiku, dan sampai kapanpun nggak akan ada yang bisa memiliki kamu selain aku," teriak Arka sesaat sebelum Johan menarik kerah baju lelaki itu.
"Berhenti berdrama, kamu udah terlalu banyak menyakiti hati Arum. Harusnya kamu sadar diri, biarkan dia hidup tenang." Johan mendorong tubuh lelaki itu dengan kasar kemudian menyusul Arum masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bi Marni yang langsung menutup pintu dengan keras.
Johan langsung menerobos masuk mencari keberadaan Arum yang tak ia temukan di ruang tamu maupun ruang keluarga. Dengan terburu-buru lelaki itu menaiki anak tangga menuju ke kamar wanita pujaannya. Pintu yang memang sengaja dibiarkan terbuka oleh Arum membuat lelaki itu terus melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Arum, di mana pemiliknya tengah berdiri di dekat jendela. Menatap nanar mobil Arka yang mulai meninggalkan rumahnya, bulir bening membasahi kedua pipi mulus nan putih milik wanita cantik itu.
Johan semakin mendekat, memberanikan diri memutar tubuh Arum untuk menghadapnya dan merengkuh tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Seketika Arum terisak dalam pelukan Johan, air mata yang kian deras sukses membasahi kemeja yang dipakai oleh lelaki itu.
"Kenapa kamu nangis? Apa kamu masih menyimpan perasaan kamu buat Arka?" lirih Johan di telinga wanita yang sedang terisak dalam dekapannya, tak ada jawaban yang terlontar dari bibir tipis Arum. Wanita itu hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Lalu kenapa? Ayo cerita, mungkin aku punya solusi. Kalaupun tidak seenggaknya kamu akan merasa lega setelah meluapkan segala rasa yang kau pendam." Johan menangkup kedua pipi Arum danenatapnya dengan teduh hingga berhasil membuat wanita itu mengangguk.
Dengan begitu hati-hati Johan menuntun tubuh wanita cantik itu untuk duduk di sisi ranjang agar lebih leluasa untuk bercerita. Arum masih membisu dengan wajah menunduk, tangan Johan terulur meraih dagu wanita itu agar wajah Arum terangkat untuk menatapnya.
"Ayo katakan, kamu bisa cerita apapun sama aku. Bahkan, kalau kamu masih emosi sama aku juga kamu boleh memukul wajahku agar emosimu bisa terluapkan." Ucapan Johan berhasil membuat Arum terkekeh geli.
"Jo, cintaku untuk Arka sudah mati semenjak dia ketahuan berselingkuh dengan Aline. Tapi entah mengapa, setiap menatap wajah Arka luka itu seakan kembali terbuka," cerita Arum pada akhirnya, Johan membuang napas kasar mendengar curhatan wanita yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Arum, memang nggak mudah menghapus rasa sakit itu. Tapi kamu harus mencoba untuk berdamai dengan masa lalu, coba untuk tidak menghadapi Arka dengan emosi. Ketika dia datang kamu cukup bilang kalau dia hanya masa lalu dan Aline adalah masa depannya," ujar Johan memberikan nasihat untuk Arum.
Sejenak Arum terdiam, mungkin benar. Amarahnya yang selalu tersulut kala bertemu Arka akan membuat lukanya semakin sulit disembuhkan. Yang harus dilakukan oleh Arum hanyalah membalut lukanya sendiri.
"Makasih ya, Jo. Aku akan coba, makasih ya kamu selalu ada untuk aku."
"Iya, aku akan selalu ada dan mencintai kamu. Maaf tadi aku udah ngaku-ngaku kalau kamu calon istriku di depan Arka, padahal kamu saja belum menjawab perasaanku." Johan terkekeh geli mengingat kelakuan absurdnya tadi.
"Nggak apa-apa, aku juga minta maaf kalau saat ini belum bisa menjawab ataupun membalas perasaanmu," ucap Arum dengan wajah merasa bersalah.
"Udah nggak usah dipikirin, kamu sekarang istirahat ya. Udah malam, aku pulang dulu." Johan mengacak puncak kepala Arum kemudian beranjak dari duduknya.
Arum mengantarkan lelaki itu sampai ke depan pintu. Menunggu mobil sedan berwarna hitam itu melaju kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Wanita itu menghenyakan tubuhnya di sofa, mersakan kepalanya yang berdenyut memikirkan Arka yang tak mau berhenti untuk mengganggu kehidupannya. Sejurus kemudian, Bi Marni datang menghampiri Arum dengan menbawa segelas susu hangat. Tentu saja wanita paruh baya itu paham betul dengan apa yang tengah dirasakan Arum saat ini.
"Non, minum dulu. Ini Bibi bawakan susu hangat buat Non." Wanita paruh baya itu mengulurkan gelas yang diterima dengan senang hati oleh majikannya.
Arum tersenyum kemudian menenggak susu pemberian Bi Marni hingga tersisa separuhnya.
"Bi, makasih ya," ucap Arum seraya meletakkan kembali gelas di tangannya.
"Sama-sama, Non. Sekarang Non istirahat ya, nggak usah dipikirin kelakuan Mas Arka. Kan Non sama dia udah pisah, cuma Mas Arka aja yang nggak tahu malu masih ngejar-ngejar Non Arum," ujar Bi Marni berusaha menenangkan pikiran Arum.
Wanita muda itu terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu hingga memutuskan untuk meminta pendapat dari ART yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu.
"Bi, emb menurut Bibi si Johan gimana sih, Bi?" tanya Arum dengan wajah bersemu merah, membuat Bi Marni langsung mengerti apa yang terjadi di antara Johan dan majikannya tersebut.
Bi Marni meyunggingkan senyumnya, menatap wajah Arum lekat-lekat kemudian menggenggam jemari lentik wanita muda yang sudah diasuhnya sejak kecil itu.
"Non Arum suka sama Mas Johan?" Suara lembut Bi Marni membuat kedua pipi Arum kian merona.
"Sebenarnya dari dulu Arum suka sama dia, Bi. Hanya saja Arum nggak berani bilang. Tapi setelah pisah sama Arka, Johan malah bilang kalau ternyata dia juga punya perasaan cinta ke Arum dari sejak pertama kita bertemu," ucap Arum malu-malu.
"Ya itu, Non. Yang namanya jodoh nggak akan ke mana, tapi Non jangan buru-buru terima cinta Mas Johan walaupun Non Arum punya perasaan yang sama. Lihat dulu seperti apa perjuangan Mas Johan." Nasihat Bi Marni untuk wanita muda itu.
"Iya Arum mengerti, Bi. Makasih ya nasihatnya, sekarang Arum mau ke kamar dulu. Capek pengen istirahat," pamit Arum yang langsung diangguki oleh Bi Marni.
Wanita muda itu mulai melangkah menaiki satu-persatu anak tangga hingga sampai ke kamar. Arum membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama doraemon kesayangannya. Wanita itu melamun sejenak kemudian memejamkan mata. Tubuh dan pikiran yang sudah terlalu lelah membuat Arum tak butuh waktu lama untuk tenggelam ke alam mimpi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments