Modal 8

Hari telah cukup sore kala Arum tiba di rumah dengan diantar oleh taksi online. Wanita itu turun sembari menenteng sebuah kantong kresek berisi beberapa kotak makanan untuk makan malam. Entah mengapa, meskipun Arum terlanjur sakit hati pada Arka dan Bu Kanti namun wanita itu tetap tak tega membiarkan keduanya makan mi instan seperti kemarin.

Arum mendorong pintu depan yang tak terkunci untuk masuk ke dalam rumah. Namun ternyata wajah masam Bu Kanti telah menyambutnya di ruang tamu.

"Bagus ya kamu, keluyuran dari pagi sampai jam segini baru pulang. Belum beresin rumah, belum masak juga buat makan malam. Sengaja kamu mau bikin saya dan Arka mati kelaparan, Hah?" cerocos Bu Kanti saat melihat sang menantu memasuki rumah.

Arum masih bersikap santai, emosinya sama sekali tak terpancing oleh amukan dari Bu Kanti.

"Tenang aja, Arum udah beli makanan kok. Nih ada nasi goreng hongkong kesukaan Ibu," ucap Arum sembari menunjukan kantong kresek di tanganya.

"Ya sudah, saya lapar. Mau makan sekarang." Wanita paruh baya itu langsung melangkah ke meja makan bersama Arum yang mengekor di belakangnya.

Keduanya mulai menyuap makanan masing-masing dan menyisakan satu kotak lagi untuk Arka. Makanan Arum tinggal tersisa beberapa sendok lagi saat terdengar suara langkah kaki Arka yang memasuki rumah.

"Aruumm!" pekik Arka memanggil nama sang istri.

Arum tak menjawab karena masih asyik menikmati makan malamnya, membuat pria itu melangkah lebar ke meja makan dengan mata memerah menahan amarah.

"Arrr ...."

"Jangan ngegas dulu, tuh makan. Udah aku beliin nasi goreng, ntar keburu dingin. Aku mau mandi dulu," potong Arum kemudian berlalu pergi ke kamarnya.

Arka menurut, lelaki itu memilih duduk dan menyantap makanan yang nampak begitu menggugah seleranya.

"Arum hari ini ke mana aja, Bu?" tanya Arka setelah menghabiskan makananya.

"Ya mana Ibu tahu, yang jelas dia ngelayap dari pagi dan baru aja pulang. Baju kotor nggak dicuci, rumah juga nggak diberesin," ujar Bu Kanti mengadukan kelakuan Arum pada Arka.

"Bener-bener keterlaluan," kesal Arka menggebrak meja, dadanya kembang kempis karena emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.

Lelaki itu segera menaiki anak tangga untuk menyusul sang istri ke dalam kamar mereka, nampak Arum yang tengah berbaring sembari memainkan gawainya di atas ranjang.

"Arum!" tegas Arka menyebut nama sang istri, namun tak berhasil membuat wanita itu menghentikan aktivitasnya.

"Hhhmmmm." Hanya dengan itu Arum menjawab panggilan sang suami tanpa mengalihkan fokus pandangan matanya.

"Ya Tuhan, kenapa wanita ini jadi nyebelin banget sekarang," batin Arka dalam hati.

"Bisa nggak kamu taruh dulu handphonemu itu, aku mau bicara serius denganmu."

Arum segera meletakkan benda pipih itu ke atas nakas dan duduk menghadap sang suami.

"Mau bicara apa sih, Mas?"

"Apa kamu yang sudah ambil uang di rekeningku sebesar sepuluh juta?" tanya Arka to the point.

"Iya," jawab Arum singkat tanpa rasa bersalah.

"Apa? Jadi benar kamu yang ngambil? Kamu pakai buat apa duit sebanyak itu Arum?"

"Beli baju, sepatu, make up sama skin care donk, Mas. Kan kamu selalu ngeluh aku kucel, nih sekarang aku udah cantik," jelas Arum dengan wajah tengil yang membuat Arka semakin kesal pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.

"Hah? Sebanyak itu kamu buat beli baju dan skin care? Udah gila kamu? Cantik sih cantik, tapi bisa bangkrut aku kalau kayak begini caramu," geram Arka melihat tingkah sang istri.

"Mas, cantik itu butuh modal. Dan itu belum seberapa karena aku nggak beli yang bermerk."

"Oke, itu buat modal cantikmu. Lalu seharian ini ke mana aja kamu? Nggak masak, nggak beresin rumah juga, baju jotor nggak kamu cuci?" Kali ini Arka membahas kesalahan Arum yang lain.

Wanita itu bangkit dari ranjang dan mendekat ke arah sang suami, memperlihatkan kuku jemarinya yamg berwarna warni.

"Nih lihat, Mas. Aku habis mani pedi, kalau ngerjain kerjaan rumah nanti rusak donk kuku aku. Lagian kamu sendiri yang minta aku berubah jadi cantik, kamu harusnya tahu donk kalau wanita cantik di luar sana itu kerjanya cuma dandan dan membahagiakan dirinya. Bukan ngerjain pekerjaan rumah tangga," cicit Arum kian menjadi.

"Tapi nggak gini juga Arum, lagian kamu kenapa tiba-tiba jadi cantik begini? Jangan-jangan kamu punya selingkuhan ya?" tuduh Arka yang sudah termakan oleh hasutan dari Aline.

"Apa? Selingkuhan kamu bilang? Bisa-bisanya kamu nuduh aku selingkuh, Mas? Atau jangan-jangan malah kamu lagi yang selingkuh?" sindir Arum tersenyum kecut.

Seketika Arka menjadi salah tingkah mendengar ucapan sang istri yang sebenarnya adalah sebuah kenyataan. Arka telah selingkuh dan menodai janji suci yang telah ia ucapkan.

"Enak aja, nggak mungkin aku selingkuh. Udahlah aku mau mandi," kilah Arka menutupi kebusukan dirinya.

Arum hanya diam, fokusnya kembali pada benda pipih di tanganya sembari menunggu Arka selelsai mandi untuk menyampaikan sesuatu. Lima belas menit berlalu, Arka keluar dengan rambut basah dan tampilan segar yang dulu selalu membuat Arum terpikat. Tapi kali ini biasa saja, cinta Arum untuk sang suami seolah mati setelah memgetahui jika Arka tega berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.

"Mas, aku mau bicara sama kamu," ucap Arum ketika Arka telah menghenyak di sisi ranjang sebelahnya.

"Mau bicara apa lagi sih? Aku itu capek habis kerja seharian."

"Besok aku mulai kerja lagi, dan aku mau pakai mobilku," ucapan Arum berhasil membuat mata suaminya menatap tajam pada dirinya.

"Apa? Mobil itu kan dipakai sama ibu, Rum. Masa mau kamu minta sih?"

"Ya memangnya kenapa? Itu mobil kan aku beli pakai uang aku sendiri, kalau kamu pengen ibu tetap pakai mobilku ya beliin aku mobil yang baru," tegas Arum tak ingin dibantah.

"Arrgghhh, terserah. Kamu bilang sendiri sama ibu sana," teriak Arka emosi sementara Arum tetap santai, wanita itu sama sekali tak peduli pada amukan sang suami.

Arum memilih untuk segera beristirahat sedangkan Arka yang sudah terlanjur kesal pada Arum memilih keluar dari kamar itu. Menyambar kunci mobilnya dan pergi menuju ke rumah Aline yang sedari tadi mengirimkan pesan agar Arka datang ke rumahnya malam ini.

Setibanya di kediaman Aline, Arka disambut dengan wajah masam yang membuat lelaki itu mengerutkan dahinya.

"Ada apa sih, sayang? Nyuruh aku datang ke sini tapi kamunya malah manyun begitu?" tanya Arka menarik lembut ujung hidung wanitanya.

Hening, tak ada yang terucap dari bibir wanita cantik itu. Aline menarik tangan Arka masuk dan langsung mengajak lelaki itu menuju ke dalam kamarnya.

"Hei, kok langsung ke kamar sih? Udah kangen berat ya sama aku?" goda Arka pada wanita simpanannya.

Aline masih tak menjawab, wanita itu mengambil sebuah benda mungil dari dalam laci dan memberikanya pada Arka.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

Aline pelakor

2023-08-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!