Seketika Aline mematung dengan mata membola sempurna mendengar perintah yang diberikan oleh ibu mertuanya. Mana mungkin Aline memasak untuk makan malam sedangkan memasak saja wanita itu tak pernah melakukannya.
"Ta- tapi Aline nggak bisa masak, Bu," ucap Aline sedikit terbata.
"Apa? Nggak bisa masak? Terus makan malam kita nanti gimana?" Bu Kanti mulai menunjukan sikap aslinya.
Aline berpikir sejenak, kemudian merogoh dompet dari dalam tasnya. Wanita itu mengambil uang seratus ribu yang tadi siang diberikan kepadanya sebagai mahar.
"Ini, Ibu beli lauk aja pakai uang ini. Aline nggak bisa masak, karena biasanya Aline kerja dan makan juga beli." Wanita itu mengulurkan selembar uamg merah itu pada ibu mertuanya.
Bu Kanti menerima uang itu sembari mencebikkan bibirnya. Sedangkan Aline langsung melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar. Namun, wanita itu merasa kesulitan membawa kopernya karena Arka sama sekali tak ada inisiatif untuk membantu mengangkat koper sang istri ke lantai atas.
"Mas, kamu gimana sih? Aku ini lagi hamil, nggak peka banget. Bantuin bawa koper kek!" Teriakan Aline membuat Arka menoleh, dengan terpaksa Arka mengambil Alih koper itu dan membawanya ke kamar.
Setibanya di kamar, Aline langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan keluar dengan menggunakan daster rumahan tipis yang membuat mata Arka berbinar. Secara naluri, lelaki itu mendekat ke arah sang istri dan hendak mengecup pipi mulus milik Aline.
"Ngapain sih, Mas cium-cium. Masih sore juga," kesal Aline sembari mendorong tubuh Arka menjauh.
"Kamu cantik banget sayang, minta jatah dong," goda Arka mengerlingkan sebelah matanya nakal.
"Enak aja minta jatah, kasih mahar aja cuma seratus ribu mau minta jatah. Nggak bisa, dan satu lagi. Aku nggak mau ya kalau sampai ibu kamu jadiin aku pembantu di runah ini macam Arum dulu," oceh Aline yang masih merasa kesal pada sang suami.
Arka tak lagi menanggapi ocehan istri barunya, lelaki itu memilih untuk masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Lagi-lagi penyesalan menghampiri Arka. Dahulu, Arum selalu menyiapkan segala keperluannya dan menuruti apapun yang diminta oleh Arka.
Namun kini, setelah mengkhianati cinta wanita sebaik Arum, Arka malah mendapatkan sosok wanita seperti Aline. Cantik memang, tapi tak sebaik Arum. Benar memang kata Arum beberapa waktu yang lalu, jika ingin istrimu selalu cantik maka harus siap dengan segala konsekuensinya. Lelaki itu segera menyudahi aktivitas mandinya sebelum penyesalan semakin dalam merasuki hatinya.
Arka keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Pandangan mata pria itu tertuju ke ranjang di mana sang istri sedang merebahkan diri sembari memainkan gawainya.
"Aline, di mana baju ganti untukku?" Suara Arka membuat wanita itu meletakkan benda pipih di tangannya.
"Baju? Ya di lemarilah, Mas. Kok malah nanya sama aku sih," ketus Aline menjawab pertanyaan sang suami.
"Harusnya, ketika aku mandi kamu siapkan baju ganti untukku seperti yang dilakukan Arum selama ini."
Aline semakin murka mendengar Arka yang memintanya menjadi sosok seperti Arum. Wanita itu bangkit dari posisinya dan menuju ke arah lemari. Mengambil pakaian untuk Arka kemudian melemparnya ke atas ranjang dengan kasar.
"Tuh, puas kamu sekarang. Terus aja kamu samain aku sama Arum, aku itu bukan dia, Mas!" Suara Aline menggema di seluruh ruangan.
Arka memakai pakaianya dengan kesal kemudian merebahkan diri di samping sang istri yang memunggungi dirinya. Nampak bahu Aline berguncang karena menangis. Arka yang menyadari hal itu segera memutar tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya.
"Aline, kamu kenapa menangis? Kamu marah ya sama aku?" tanya Arka dengan lembut, matanya menatap dalam wajah wanita yang tengah mengandung calon anaknya itu.
"Aku nggak suka kamu sama-samain aku sama Arum, Mas. Aku bukan dia, apalagi aku ini lagi hamil. Harusnya kamu menjaga perasaanku donk," keluh Aline merangsek masuk ke dalam pelukan Arka.
"Maaf, iya aku nggak akan samain kamu sama Arum lagi. Sekarang kita makan dulu yuk, pasti kamu dan anak kita udah lapar," Arka mengelus lembut perut Aline.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke meja makan, di sana Bu Kanti sudah duduk manis sembari menyantap spagetti bolognese yang dibelinya dari aplikasi online. Namun, tak ada lagi makanan lain yang tersisa untuk Arka dan Aline.
"Lho, Ibu sudah makan? Terus makanan buat Arka dan Aline mana?" tanya Arka pada sang ibu.
Dengan terpaksa Bu Kanti menghentikan aktivitas makan malamnya.
"Ya kan uangnya cuma seratus ribu, mana cukup kalau buat makan bertiga. Itu di dapur ada mi instan, kalian makan mi instan aja. Ibu kan udah tua jadi harus makan yang bergizi," ucap Bu Kanti tanpa rasa bersalah.
Kedua tangan Aline mengepal melihat tingkah mertuanya yang menurutnya sudah keterlaluan itu.
"Bu, maksud Aline itu uang Ibu gunakan untuk beli sayur dan lauk biar cukup untuk makan kita bertiga. Bukan malah beli spagetti dan ibu makan sendiri."
"Sudah Aline, Ibu udah tua kita yang harus ngalah. Sekarang kamu bikin mi instan buat makan kita berdua ya," sahut Arka membela ibunya.
"Apa? Mi instan, Mas? Aku ini lagi hamil, mana boleh wanita hamil makan mi instan. Aku nggak mau tahu, pokoknya kita makan di luar," tegas Aline tak ingin dibantah.
"Iya, iya ayo. Sekarang kita ganti baju dulu." Arka menggandeng tangan sang istri kembali ke kamar sebelum perdebatan itu semakin panjang.
Mata Bu Kanti menatap punggung anak dan menantunya yang menaiki anak tangga dengan pandangan tak suka.
"Gawat, Aline kayaknya nggak sebodoh Arum. Bisa kalah aku kalau kayak gini," gumam Bu Kanti kemudian melanjutkan makan malamnya yang sempat terjeda.
Sementara itu di tempat lain, Arum tengah menikmati makan malam bersama Bi Marni dan Johan yang sengaja diundang Arum untuk makan malam bersama sekaligus membicarakan masalah perceraiannya dengan Arka.
"Gimana, Jo? Enak nggak masakan Bi Marni?" tanya Arum pada sahabatnya setelah ritual makan malam itu selesai.
"Enak banget, masakan Bi Marni rasanya nggak pernah berubah," puji Johan sembari mengacungkan kedua jempol tanganya.
"Alhamdulillah kalau Non Arum dan Mas Johan suka. Sekarang Bibi bisa tiap hari masak buat Non Arum," ujar wanita paruh baya itu sembari membereskan piring bekas makan mereka, sementara Arum dan Johan memilih untuk berpindah ke ruang keluarga.
Pandangan mata Johan tak bisa lepas dari sosok Arum yang telah lama menghuni hatinya itu. Dalam hati Johan berjanji, kali ini akan ia perjuangkan cintanya untuk Arum.
"Rum, gimana rasanya setelah kamu keluar dari rumah Arka?"
Arum menyunggingkan senyum tipis mendengar pertanyaan dari Johan.
"Lebih tenang karena nggak dengar omelan Bu Kanti lagi." Wajah Arum berubah menjadi sendu karena mengingat nasib rumah tangganya.
"Apa kamu masih mengharapkan Arka kembali setelah semua yang terjadi?" Johan menatap wanita di depanya penuh selidik.
"Tidak Jo, kamu urus aja semuanya. Kalau udah langsung kirimkan gugatan cerai itu sama Arka," balas Arum dengan mantap.
Hari yang semakin larut membuat Johan memutuskan untuk pamit dari rumah itu. Arum mengantar tamunya sampai ke depan pintu dan kembali masuk setelah mobil sahabatnya itu melaju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Merry Dara santika
kasih pelajaran buat bu kanti dan arkan biar menyesal terus
2023-05-19
2
mama oca
semangat ya jo.....perjuangin terus arumnya...
2023-05-19
1