Sejenak Arka terdiam menatap ke arah benda pipih nan mungil yang kini berada di tangannya. Mata lelaki itu menatap penuh tanya pada sosok wanita cantik berwajah masam yang duduk di sampingnya.
"I- ini maksudnya apa, Aline?" tanya Arka yang berharap bahwa tebakanya adalah salah.
"Kok kamu masih nanya sih, kamu lihat itu garis merahnya ada dua ya artinya aku positif hamil," ketus Aline menjawab pertanyaan Arka yang menurutnya konyol.
"A- apa? I- ini kamu nggak salah kan, kamu hamil? Hamil anak siapa?" Arka masih juga tak ingin mempercayai kenyataan yang kini tengah dihadapai oleh dirinya.
"Jadi kamu nggak percaya sama aku, Mas? Aku itu cuma tidur sama kamu, pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus tanggung jawab, apalagi sekarang aku udah dipecat gara-gara istri dekilmu itu."
Arka terdiam, lelaki itu mengusap wajahnya kasar karena frustasi. Apa yang harus ia katakan pada Arum, bisa-bisanya ia menghamili sahabat istrinya sendiri.
"Aline, kita gugurkan aja kandunganmu itu bagaimana? Arum bisa minta cerai kalau tahu aku menghamilimu."
Kata-kata yang meluncur dari bibir Arka malah membuat wanita itu kian murka.
"Tega kamu, Mas mau hilangin bayi kita. Aku nggak mau, pokoknya kamu harus tanggung jawab. Kalau kamu nggak berani, biar aku aja yang bicara sama Arum."
"Arrghhh, terserah kamu saja lah. Aku mau pulang, pusing."
Arka pergi begitu saja dari rumah kekasihnya, membuat Aline kian dikuasai oleh emosi. Tangannya mengepal menatap punggung Arka yang menghilang di balik pintu.
"Awas kamu, Mas. Aku akan buat kamu berpisah sama Arum," batin Aline dalam hati.
Sementara itu, Arka melajukan mobilnya dengan perasaan kacau. Sudut hati kecil Arka merasa takut jika Arum akan pergi meninggalkannya. Bagaimanapun juga, di hati Arka masih menyimpan cinta untuk sang istri. Apalagi sekarang penampilan Arum telah kembali cantik seperti dulu lagi.
Setibanya di rumah, Arka segera masuk kamar dan tidur dengan memeluk erat tubuh Arum yang sudah terlelap sedari tadi.
Pagi telah kembali berkunjung, Arum membuka matanya karena merasakan ada seseorang yang memeluk dirinya. Mata wanita itu memincing melihat tangan kekar sang suami yang melingkar cantik di atas perutnya. Dengan kasar Arum menyingkirkan tangan itu dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Saat keluar, nampak Arka yang tengah menatap dalam ke arahnya dengan diiringi sebuah senyum.
"Ngapain kamu, Mas senyum-senyum begitu?" ketus Arum yang menghenyakan tubuhnya di depan meja rias.
"Kamu jadi mulai kerja hari ini?"
"Ya jadi donk, makanya aku udah siap-siap."
"Gimana kalau aku anter kamu aja ke caffe?"
Tawaran Arka membuat wanita itu menghentikan kegiatan tangannya yang sedang mengoleskan bedak.
"Nggak per-lu, aku bisa berangkat pakai mobilku sendiri," jawab Arum kemudian melanjutkan aktivitasnya.
Arka hanya bisa menghembuskan napas kasar karena mendapat penolakan dari sang istri. Pria itu memilih beranjak dari ranjang dan ikut bersiap untuk berangkat ke kantor.
Seperti biasa, saat keduanya turun Bu Kanti sudah duduk manis sembari menatap sinis ke arah sang menantu yang sudah rapi dengan setelan kemeja kerjanya.
"Mau ke mana kamu? Pagi-pagi bukanya masak malah udah dandan?" tanya Bu Kanti setelah Arum mengambil sekotak susu dari dalam kulkas.
"Ah, pas banget ada Ibu. Mulai hari ini Arum akan kembali kerja di caffe jadi, mana kunci mobil Arum yang selama ini ibu pakai?" Wanita itu menengadahkan tanganya di depan sang ibu mertua.
Seketika mata Bu Kanti melotot, wanita itu meletakan roti di tanganya dengan kasar dan mendorong tangan Arum menjauh.
"Enak aja kamu mau minta mobil Ibu, udah sana kamu pakai motor aja. Lagian kamu juga cuma jadi pelayan di sana, beda sama Aline yang jadi manager," ucap Bu Kanti meremehkan menantunya.
"Maaf ya, Bu. Tapi Aline sudah dipecat dan sekarang saya yang menjabat sebagai manager di caffe itu, jadi tolong kembalikan kunci mobil saya sekarang."
"Nggak, pokoknya Ibu nggak mau. Arka, bilangin donk istri kamu suruh ngalah sama orang tua," ujar Bu Kanti meminta pembelaan dari putranya.
"Mas, kamu bilangin juga donk ke Ibu. Mobil itu aku beli pakai uangku sendiri, jadi kenapa aku nggak boleh pakai barangku sendiri. Kalau Ibu nggak mau kasih kunci mobil itu, kamu harus belikan mobil baru buat aku," tegas Arum menatap sang suami dengan pandangan tajam.
Arka membuang napasnya kasar mendengar perdebatan istri dan ibunya.
"Bu, kasihkan kunci mobilnya sama Arum. Nanti kalau ibu mau pergi-pergi naik taksi online aja," perintah Arka yang membuat sang Ibu mengerucutkan bibirnya.
Dengan langkah malas Bu Kanti masuk ke kamar dan kembali dengan membawa kunci mobil milik Arum.
"Nih!" Dengan kasar, wanita paruh baya itu meletakan kunci ke atas meja.
"Bu, tunggu," cegah Arum saat mertuanya hendak masuk ke dalam kamar.
"Apa lagi?"
"Karena aku udah kerja jadi aku nggak ada waktu lagi buat ngurus rumah dan masak. Mulai hari ini ibu kerjakan semuanya sendiri, untuk bajuku biar aku laundry aja." Arum segera berangkat ke caffe setelah menyelesaikan kalimat itu.
"Lihat kan, Ka! Istri kamu makin kurang ajar sekarang," keluh Bu Kanti yang tak ditanggapi oleh putranya, Arka segera menyusul Arum untuk berangkat bekerja.
Arum mengemudikan mobilnya dengan perasaan puas karena telah berhasil mengambil barang miliknya dari Bu Kanti.
"Hai Bu Manager," sapa Johan saat wanita itu memasuki caffe diikuti beberapa karyawan yang sudah sangat kenal dengan Arum sebelumnya.
"Bisa aja sih, Bos. Jadi apa ini kerjaan pertama aku di sini?" tanya Arum dengan wajah berbinar.
"Tolong kamu koreksi laporan keuangan selama Aline menggantikan posisi kamu ya, biar kita tahu seberapa banyak kerugian yang sudah ia buat," titah Johan pada sahabatnya.
"Okey, Pak Bos."
Arum segera memasuki ruang kerjanya, menggelamkan diri dalam pekerjaan hingga tanpa terasa jam pulang telah tiba. Wanita itu memilih untuk menikmati makan malam di restoran dekat caffe baru setelah itu pulang ke rumahnya.
Saat sampai di rumah ternyata ada sebuah kejutan yang telah menunggu dirinya. Wanita itu tersenyum kecut melihat mobil Aline yang sudah terparkir rapi di carport.
"Mau apa dia ke sini," gumam Arum kemudian masuk ke dalam rumah.
Mata wanita itu memincing kala melihat Aline yang menagis di dalam pelukan Bu Kanti.
"Nah itu Arum sudah pulang," celetuk Bu Kanti saat melihat kedatangan menantunya.
"Arum, aku mau bicara sama kamu." Suara Aline berhasil menghentikan langkah Arum yang hendak menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Masalah apa?" tanya Arum datar dan dingin.
"I- ini masalah Mas Arka."
Arum tersenyum penuh Arti mendengar ucapan sahabatnya.
"Oke, tapi aku mandi dulu. Sekalian nunggu Mas Arka." Wanita itu melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments